
Di ruang kamar fila yang awalnya panas kini berubah menjadi dingin dan sepi. Bukan karena tak ada orang di sana. Tapi mereka tengah fokus dengan fikiran mereka masing-masing.
Shanti masih berdiri di depan cermin dengan Max yang juga masih memeluknya dari belakang.
Sejenak pandangan mereka bertemu dari pantulan cermin. Shanti tak menjawab perkataan Max barusan, ia hanya mengangguk saja.
Max mencoba mengerti keadaan Shanti saat ini. Dan ia pun berfikir mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal yang lebih dengan pujaan hatinya ini.
"Shan. Sebelum kau pulang aku akan mengatakan sesuatu padamu."
"apakah ini masih tentang perasaan ku padamu? atau perasaan mu pada ku?"
Mata Shanti berubah sendu. Sekuat tenaga ia menahan tangis yang rasanya ingin ia keluarkan jika Max kembali membahas tentang perasaan mereka.
"Buka Shan! ini tentang aku dan Rina..."
Shanti membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Max. Ia menatap wajah yang kini tertunduk dan bibir sedikit bergetar menahan kata yang nampak berat untuk di ucapkan.
"Apa kalian akan segera menikah?"
Max diam saja. Ia masih menundukkan kepalanya tak berani menatap ke arah Shanti.
Ia menyadari jika tebakan Shanti kali ini benar adanya. dan topik ini jugalah alasan kenapa ia membawa Shanti jauh-jauh ke fila keluarganya.
Shanti menarik dagu Max hingga wajahnya terangkat dan mata mereka saling berpandangan.
"apa aku benar kali ini?"
Max hanya mengangguk. tak tau ingin berkata apa.
"itu bagus Max. kau akan bahagia hidup bersama Rina."
Meski dengan nada yang ringan Shanti mengatakannya tapi entah mengapa berat di dalam hatinya.
Shanti berjalan sedikit menjauh memberi jarak antara ia dan Max. Ia juga membalikkan badannya kembali membelakangi Max.
air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah begitu saja di pipinya.
"Shanti aku mohon dengarkan dulu perkataan ku..."
"Baik lah kau bisa bicara saja dari sana. tak perlu berdekatan!"
__ADS_1
Shanti mencoba memperingatkan Max agar tak mendekat. ia tak mau Max melihatnya menangis saat ini.
"Kapan pernikaha kalian akan di gelar?"
"kurang dari satu bulan lagi."
Kali ini jawaban Max membuatnya diam seribu bahasa. Ia sudah menyiapkan diri jika nantinya Max akan bersanding dengan orang lain. Tapi ia tak menyangka jika itu akan datang secepat ini.
Ia menarik nafasnya dalam beberapa kali untuk mengurai sesak di dalam dadanya.
Ia juga menghapus air matanya dengan cepat dan membalikkan badannya menghadap Max.
"selamat Max... aku doakan agar kau berbahagia dan mendapatkan banyak keturunan. jika kau mengundang ku maka aku pasti akan datang."
dengan senyum yang ia buat semanis mungkin Shanti mengucapkan selamat pada Max. ia ingin Max tahu bahwa dia akan baik-baik saja.
"jangan tersenyum seperti itu Shan aku mohon..."
lagi-lagi Max memohon pada Shanti untuk ke sekian kalinya. hati Max terasa amat perih mendengar kata selamat dari bibir Shanti yang tersenyum kaku seolah terpaksa.
"Max percaya lah padaku. kau pasti akan melupakan cinta mu padaku suatu hari nanti. dan kau akan sangat mencintai Rina istri mu."
"tidak Max! kau harus membuka hati mu untuk cinta Rina istri mu sendiri..."
"diam lah Shan! kau membuatku semakin pusing! dia bukan istri ku!"
Max sedikit meninggikan suaranya. ia menatap Shanti gemas dan amarahnya serasa ingin meluap.
Max tak bisa terima jika Shanti akan mengikhlaskan dirinya menikah dengan orang lain. entah apa yang ada di dalam fikiranya. tapi yang jelas ia merasa tak ingin melepaskan Shanti.
"tapi dia tunangan mu Max! dan kalian akan segera menikah. wajar saja aku mengatakan jika dia adalah istri mu!"
Shanti tak kalah menaikkan nada suaranya di hadapan Max.
"masih calon dan belum tentu akan jadi!"
sejenak mereka berdua terdiam. perkataan Max membuat Shanti tak habis fikir. apa sebenarnya tujuan lelaki ini.
bukan kah sudah jelas bahwa Shanti telah memiliki suami dan anak. maka akan lebih baik jika dia juga memiliki istri dan melupakan kisah cinta masa lalu mereka berdua.
tapi Max nampak tak menginginkan semua itu.
__ADS_1
"jika ada kesempatan kedua maka aku pasti akan menikah dengan mu Shan..."
"sayangnya kesempatan itu takkan pernah ada Max!"
Shanti menatap sengit ke arah Max sekilas dan segera menyambar tasnya yang tergeletak di lantai.
Setengah berlari Shanti membuka paksa pintu yang terkunci itu dan segera keluar dari sana.
namun baru dua langkahnya keluar pintu matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri mematung di hadapannya.
entah sudah sejak kapan Rina ada disana. serasa dunia berhenti berputar membuat Shanti kehilangan segala isi kepalanya saat ini.
tak ada yang berbicara. mereka hanya saling menatap dengan perasaan yang entah berantah. ingin tak percaya tapi semua sungguh sangat nyata.
"Shanti aku sangat men..."
perkataan Max terputus begitu saja dan ia pun tak kalah terkejutnya dengan Shanti.
ia berdiri sambil menggenggam tangan Shanti dari belakang. Tapi kini ia sama mematung bersama Shanti dan Rina.
Shanti yang pertama kali menyadarkan dirinya dari keterpakuan itu. ia segera saja berjalan ingin melewati Rina begitu saja.
Tapi tanpa di duga Rina justru menahan tanganya. terpaksa ia harus menghentikan langkahnya lagi. Ia menoleh ke arah Rina dan
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipinya. seketika wajahnya menoleh ke samping. terasa amat panas dan perih tamparan yang di berikan Rina padanya.
pundaknya bergegas, nafasnya tercekat di tenggorokan. seketika air matanya kembali tumpah tak terbendung.
tak ada kata yang terucap. Shanti hanya malirik sejenak ke arah Max yang berdiri terpaku menyaksikan kejadian itu.
karena ia merasa Max tak memberi respon dan terkesan diam saja melihat dirinya di tampar oleh Rina. sambil sedikit terisak Shanti pun segera saja pergi dari sana meninggalkan Max dan Rina disana.
ia berlari ke luar fila mewah itu. setelah tiba di halaman ia mencoba mencari kendaraan yang bisa ia gunakan untuk pergi dari tempat terkutuk itu. atau lebih tepatnya mungkin melarikan diri dari situasi yang sangat amat tidak terduga.
tak sengaja ia pandanganya tertuju pada motor merah kesayangannya. ia sedikit bingung pasalnya ia ingat betul jika motor itu masih terparkir di balai pajak tadi.
tapi menepis semua kebingungannya ia segera berjalan menghampiri motornya dan segera pergi dari sana. ia takut jika Max atau Rina akan mengejarnya nanti.
untuk saat ini ia tak ingin bertemu dengan orang-orang itu dulu. karena entah apa lagi yang akan terjadi nanti jika pertemuan ini masih saja terus berlanjut.
__ADS_1