Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
cuma bercanda


__ADS_3

"kalau sama dia tu langsung aja di bayar lunas. nggak usah bolak-balik! nggak enak dilihat tetangga!"


Shanti semakin sewot saja membuat Ridho semakin bingung.


'loh kok jadi ngambek?' gumamnya dalam hati menahan keanehan Shanti.


"dek kamu kenapa sih sewot begitu?"


"siapa yang sewot! orang biasa aja kok!"


Shanti berlalu meninggalkan Ridho yang masih kebingungan dengan tingkahnya.


'lagi datang bulan kali. pms.'


Ridho mengedipkan bahunya dan beranjak mengikuti Shanti ke ruang makan.


"Mira pecak ayah tadi mana?"


"ini yah. duduk saja disitu biar Mira siapkan di piring."


Ridho pun menuruti anaknya dan duduk di kursi meja makan sambil menunggu pecalnya siap di hidangkan.


Shanti sendiri hanya diam saja. dia menyiapkan gorengan dan bakso pesanan Meri juga bubur ayam untuk dirinya sendiri.


memang sejak pulang dari rumah sakit Shanti belum di perbolehkan makan nasi. dia hanya boleh makan bubur sampai dua hari lagi menjelang kontrol ke dokter.


"dek kamu kontrol hari apa?"


"hari Selasa mas."


"pagi apa sore?"


"kayaknya pagi saja lah mas. kalau sore kita harus ke tempat prektek dokter kan malah tambah jauh mas."


"ya itu tadi kalau pagi sepertinya aku nggak bisa antarin kamu."


"ya biar aku sendiri saja nanti mas. nggak apa-apa kok."


"memangnya sudah sanggup bawa motor sendiri?"


"kenapa nggak sore saja sih Bu biar diantar ayah. ibu kan belum pulih banget."


Meri ikut nimbrung sambil menyantap bakso di mangkoknya.


"enggak ah ibu malas kalau sore tu terlalu ramai."


"ya jangan pergi bawa motor juga. bisa bahaya nanti kalau ditengah perjalanan ibu kenapa-kenapa gimana coba?"


kali ini Mira tak ingin ketinggalan. sambil menikmati pecal dan bakwan yang terhidang di meja.


"atau gini saja Bu. tunggu Mira pulang deh. besok hari Selasa kan Mira cuma separuh pelajaran karena ada acara di sekolah."


"lah emangnya mbak nggak ngikutin acara itu?"


"enggak lah Mer. kelas dua belas kan sudah tidak dilibatkan lagi dalam kegiatan apa pun yang sifatnya di luar pelajaran."

__ADS_1


"owh... ya sudah ibu sama Mira saja kalau begitu."


sudah di putuskan Shanti akan pergi bersama Mira sepulang dia dari sekolah.


sarapan pagi sudah selesai. Mira membantu Meri membereskan meja makan sedangkan Shanti dan Ridho berlalu ke ruang TV untuk sekedar bersantai ria.


jika biasanya di hari Minggu akan dihabiskan dengan jalan-jalan keluarga, tapi tidak kali ini. mengingat kondisi Shanti yang belum sepenuhnya pulih membuat mereka berfikir ulang untuk sekedar jalan-jalan.


"sudah minum obat dek?"


"ini baru mau minum. obatnya tadi ketinggalan di sini."


Shanti meraih plastik berisi obatnya dari rumah sakit dan menyiapkan nya untuk diminum.


"sini mas bukakan bungkusnya?"


Ridho dengan telaten membuka satu per satu bungkus pil obat dan menyerahkannya pada Shanti.


"tinggal sedikit lagi ini dek."


"iya. mungkin pas kontrol sudah habis mas."


"iya.kamu nggak bosen makan bubur terus?"


"ya bosen sih mas. tapi mau bagaimana lagi..."


"makanya makan cabe tu yang kira-kira jangan kayak orang kesetanan."


Ridho meletakkan kembali kantong plastik berisi obat Shanti di atas meja.


"ya kamu itu kalau nggak di bilangin begitu manalah mau nurut."


"iya sekarang aku nurut nggak makan pedes lagi!"


meski sedikit jengah mendengar setiap hari itu-itu saja yang di bahas oleh Ridho. tapi sebenarnya dia tahu kalau suaminya itu sebenarnya sangat menghawatirkan dirinya.


"besok juga kalau sudah sembuh ngulangin lagi."


"owh... jadi mas nyuruh aku makan sambal banyak-banyak lagi besok kalau sudah sembuh?!"


"ih siapa juga yang nyuruh mas kan cuma bilang doang!"


"itu namanya mas sok tahu!"


Shanti tak mau kalah menjawab setiap perkataan suaminya.


"heehee... gitu aja ngambek dek...!"


"ih siapa yang ngambek. orang biasa aja."


"Halah biasa aja kok tadi pas mbak Mirna pulang aku langsung di interogasi..."


lagi-lagi Ridho membuat Shanti bertambah sewot. padah tadi dia sudah lupa perkara janda yang selalu dia benci tanpa tahu dimana letak kebenciannya itu.


eh ini Ridho malah kembali membahasnya. pakek acara ngeledek lagi. gimana coba Shanti nggak tambah gedek.

__ADS_1


"loh kok jadi ke Mirna sih ngomongnya?!"


"yah penasaran saja kenapa sikap kamu begitu tadi."


"kamu tuh yah mas jangan dekat-dekat sama janda ganjen itu. nggak enak di lihat orang!"


"nggak enak dilihat orang apa kamu cemburu?"


"siapa juga yang cemburu. enak aja!"


Shanti salah tingkah dengan perkataan Ridho. 'apa iya aku cemburu?'


'ah nggak mungkin. cemburu kok sama janda nggak level amat ya'. dia masih bermonolog sendiri di dalam fikiranya.


"beneran nggak cemburu kamu? ya sudah besok aku sendiri saja lah yang panen kol di ladangnya mbak Mirna."


"owh. jadi kamu nggak bisa nganterin aku kontrol gara-gara mau ketemuan sama dia?"


"ya nggak gitu juga dek. aku kan tadi cuma bercanda..."


'waduh salah ngomong aku!' Ridho menepuk dahinya sendiri. niatnya iseng ingin menjahili Shanti. eh malah dia marah beneran.


"bercanda mu nggak lucu mas!"


'capek dech!' gerutu Ridho dalam hati. melihat Shanti beranjak membuatnya tak mampu lagi berkutik. telah salah langkah dalam bercanda dengan istrinya itu.


Shanti beranjak meninggalkan Ridho. tapi baru saja beberapa langkah di kembali lagi.


"tunggu dulu mas, kamu bilang tadi apa? mau manen kol di ladang Mirna?"


"iya. itu sudah dari beberapa hari yang lalu dia telfon aku nawarin kolnya yang udah siap panen."


Ridho menjawab enteng pertanyaan Shanti. karena memang itulah yang sebenarnya.


"apa? jadi kalian sering telponan! dia yang telfon kamu apa kamu yang telfon dia duluan mas?"


'hadeh... beneran salah strategi aku ini tadi' Ridho hanya diam saja merutuki kebodohannya yang malah membahas hal yang tidak penting. begini deh jadinya.


"aku kan sudah bilang mas nggak usah lagi ambil barang dari dia!"


"lah kapan kamu bilang ? nggak pernah tuh mas dengar kamu ngelarang mas ambil sayuran dari mbak Mirna.!"


Santi sedikit gemas dengan suaminya itu. sudah tahu dia cemburu masih saja Ridho berhubungan sama Mirna.


padahal kan berhubungan karena bisnis ya... kenapa Shanti jadi nggak jels gini sih!


"barusan aku ngomongnya!"


dia segera berlalu kali ini benar-benar meninggalkan Ridho dengan kebengonganya di ruang TV.


terdengar suara pintu kamar yang di sengaja di banting dengan kencang oleh Shanti melepaskan kekesalannya pada sang suami.


"aneh. ck..ck..ck..marah kok cuma gara-gara bercanda."


Ridho menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2