
"SMP XXX pasti menang!"
"PASTI!"
"SEMANGAT!!"
"SEMANGAT!"
dari tengah lapangan terdengar gaduh, guru olah raga Meri memberi semangat pada anak didiknya yang akan menjalankan pertandingan babak final bola voli hari ini.
tim sekolah Meri akan berhadapan dengan sekolah SMP favorit dan akan memperebutkan gelar juara satu tahun ini.
para penonton di pinggir lapangan pun tak kalah riuh. bersorak dan saling sahut-sahutan memberikan dukungan dan semangat kepada yang bertanding hari ini.
meski bukan hari libur banyak juga yang menonton hari ini. selain para orang tua ada juga para guru yang sengaja datang menyaksikan anak didik mereka merebut kemenangan hari ini.
pertandingan yang terbilang meriah. meski hanya tingkat SMP. tapi karena melibatkan sekolah SMP sekabupaten tentulah terbilang acara yang besar.
selain itu tim sekolah pemenang juga akan ikut bertanding di tingkat provinsi nantinya. oleh sebab itu sangat penting untuk bisa memenangkan pertandingan ini.
Meri dan kawan-kawan sudah terlihat melakukan pemanasan di lapangan sebelum memulai pertandingan tentu ini hal wajib. untuk menghindari terjadinya cidera tentunya.
Shanti memperhatikan anaknya dari tribun penuh dengan rasa bangga. ia terus berdoa semoga Meri bersama kawan-kawan bisa memenangkan pertandingan hari ini.
"tes... tes..."
"a...a...a..."
suara MC percobaan microfon.
"selamat pagi semuanya..."
"pertandingan babak final akan segera di mulai. kami berharap pertandingan ini akan berjalan dengan lancar dan tidak ada kecurangan-kecurangan di lapangan..."
"pertandingan yang pertama bersama-sama kita akan saksikan tim sekolah SMP XXX akan berhadapan dengan SMP favorit..."
"kepada seluruh tim agar bersiap di lapangan... dan hadirin semua selamat menyaksikan..."
setelah bicara panjang lebar MC laki-laki itu pun mempersilahkan agar pertandingan segera di mulai.
pertandingan berjalan dengan sangat ketat. perolehan angka kedua tim saling berkejar-kejaran. strategi dan siasat terbaik terus saja di mainkan.
patut saja kedua tim ini bisa mengalahkan tim-tim yang lain sebelumnya dan masuk ke babak final. karena pertahanan dan serangan mereka begitu kuat.
__ADS_1
Shanti terus saja memberi semangat dan dukungan dengan penuh hari ini. meski dia sendirian tanpa suaminya tapi dia begitu antusias.
hingga babak terakhir pun berakhir. dengan skor 3-1 (25-23, 21-25, 25-15, 25-20) SMP XXX menang atas SMP favorit. meski perolehan skor tidak terlalu jauh di setiap babak tapi akhirnya tim SMP Meri menang telak atas SMP favorit.
perayaan dan selebrasi pun di adakan di lapangan itu juga. semua gembira dan bahagia. termasuk juga Shanti yang langsung berlari menghampiri anaknya di tengah lapangan memberikan selamat.
tapi acara pertandingan belum selesai. penyeraha piala dan sejumlah hadiah akan di adakan besok hari Senin di kantor bupati berbarengan dengan acara selebrasi pertandingan olahraga yang lainya tentunya.
"selamat ya sayang... akhirnya kalian menang!"
Shanti memeluk Meri penuh haru. bukan hanya ia sendiri. tapi banyak juga orang tua teman-teman Meri yang lainya.
"terimakasih Bu..."
"ayah pasti senang putri kesayangannya menang!"
"ya pasti dong Bu... aku kan bisa diandalkan! hehehe"
sambil tersenyum layaknya iklan pasta gigi Meri terus saja membanggakan kemenangan ia dan teman-temannya hari ini.
"apa setelah ini langsung pulang ?!"
kayaknya belum Bu. masih ada acara atau makan-makan kalau nggak salah tadi."
"enggak bisa Bu. soalnya tadi bapak kepala sekolah yang mau traktir katanya..."
"ya sudah kalau begitu gabung lagi saja sama teman-teman. ibu mau pulang aja langsung."
"oke Bu. ibu hati-hati ya dijalan."
"iya sayang..."
Meri segera meraih tangan sang ibu dan diciumnya dengan takzim.
"da.. da.. ibu..."
setelahnya berlari ke arah rombongan teman-teman nya yang lain tanpa menunggu tanggapan dari Shanti.
Shanti hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak.
setelah memastikan anaknya telah bergabung dengan teman-teman yang lainya Shanti pun segera beranjak dari sana menuju kamar mandi.
sudah sejak tadi ia menahan keinginannya untuk buang air kecil. karena tak ingin melewatkan apa pun di pertandingan tadi ia pun terpaksa menahan nya.
__ADS_1
tak berapa lama iya keluar dari sana. berjalan santai menuju parkiran dimana ia meninggalkan motornya tadi pagi saat tiba di sana.
tapi belum juga ia sampai di tempat motornya terparkir tanganya di tarik seseorang. ia ditarik sedikit paksa agar mengikuti langkah kaki orang yang menyeretnya ke arah mobil hitam yang terparkir di seberang parkiran motor.
meski dengan wajah yang masih terkejut Shanti berusaha mengimbangi laki-laki itu meski dengan langkah yang terseok-seok.
"Max! hentikan ini tempat umum!"
ya. lelaki itu adalah Max. sudah sejak tadi ia terus memperhatikan Shanti dari kejauhan tanpa sepengetahuan nya.
ia sengaja tak menjumpai Shanti di tempat pertandingan tadi. ia menunggu saat yang tepat untuk bisa berbicara berdua dengannya.
awalnya ia kira Shanti akan datang dengan suaminya hari ini. tapi ternyata Shanti hanya sendiri. tentu ini kesempatan bukan!
ia merasa Tuhan sedang baik padanya. memberinya kesempatan agar bisa berbicara berdua dengan Shanti.
Max hanya diam saja tak menjawab perkataan Shanti. ia terus saja berjalan menuju mobilnya. sesampainya di sana ia segera membuka pintu mobil dan memasukkan Shanti sedikit kasar ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman agar Shanti tak berusaha kabur.
tak lupa juga ia mengunci pintunya setelah itu. dan segera berlari memutari mobilnya ke arah bangku kemudi.
ia langsung tancap gas meninggalkan pelataran balai pajak dengan kecepatan tinggi. arus lalu lintas yang tidak terlalu ramai membuatnya leluasa mengebut di jalanan.
Shanti hanya duduk dan berpegangan pada sabuk pengamannya dan diam penuh dengan kehawatiran. ia takut melihat Max yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Max kenapa kau menyetir mobi seperti ini?! apa kau mau membunuh ku?!"
....
Shanti mencoba berbicara pada Max tapi tak mendapatkan respon apapun darinya.Max hanya terus konsentrasi menatap jalanan di depannya.
"sebenarnya kau mau membawaku kemana Max?!"
....
lagi-lagi tak ada jabatan dari Max. tapi tak berapa lama mereka memasuki sebuah pelataran Fila yang cukup mewah.
mungkin ini Fila milik keluarga Max. karena memang bisnis keluarga Nugroho adalah menyewakan Fila dan penginapan pada turis yang sedang berlibur di daerah mereka.
mobil berhenti tepat di parkiran belakang Fila.
Shanti masih diam kebingungan. Max segera keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah panjang menghampiri sisi pintu mobil Shanti dan membukanya.
ia masih tetap diam seribu bahasa. ia membuka sabuk pengaman Shanti dan menarik pergelangan tangan Shanti lalu membawanya turun dari mobil. mereka berjalan menuju pintu masuk Fila dari samping.
__ADS_1