Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Keluarga


__ADS_3

Hari sudah hampir petang, tapi Ridho belum juga menunjukan tanda akan pulang.


Shanti terus saja melihat ke arah halaman. berharap mobil Ridho ada di sana. ia sangat gelisah menunggu suaminya.


semalam ia sudah memikirkan bagaimana ia akan menjelaskannya pada Ridho. ia juga sudah menyiapkan kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan di hadapan Ridho nanti.


Meri yang melihat gelagat aneh ibunya lantas menghampirinya.


"Ibu sedang apa?!"


"Meri... bikin kaget saja" Shanti memang tak mendengar kedatangan Meri karena ia sangat fokus dengan fikiran-fikiran di kepalanya.


"dari tadi Meri lihat ibu terus melamun sambil melihat ke halaman?!"


"apa ibu sedang menunggu seseorang?!"


"tidak ada. ibu hanya sedang bosan saja di hari libur begini..."


"iya Bu. aku jga... ini lagi Ayah pagi-pagi sudah menghilang! padahal janji mau pergi ke rumah nenek!"


memang kemarin Ridho sudah berjanji akan mengajak anak-anak dan istrinya berkunjung kerumas mertuanya.


sudah menjadi rutinitas mereka di setiap hari Minggu mereka akan jalan-jalan bersama. atau sekedar berkunjung ke rumah orang tua mereka.


"Ayah pergi kemana sih Bu dari pagi?!"


sambil cemberut Meri terus menyakan kemana Ayah nya pergi.


"Ayah pergi lomba memancing di kolam taman katanya..."


bohong Shanti. ia tak ingin anaknya tau bahwa sebenarnya Ayah nya sudah pergi sejak semalam karena mereka bertengkar.


"is.... Ayah nggak biasanya ingkar janji begini!"


"sayang... kamu jangan ngambek gitu dong... mungkin ayah merasa tidak enak pada teman-temannya jika tidak datang..."


dengan lembut Shanti membujuk Meri agar ia tak terus merajuk.


"Ayah itu biasanya kalau libur kemana-mana pasti ajak kita kan Bu?! tapi ini? malah asyik pergi sendiri!"


"begini saja. bagaimana kalau kita masak saja untuk makan malam?!"


"siapa tahu nanti ayah pulang bawa hadiah lomba?!"


"is... ibu! iya kalau ayah menang!"


"makanya kita doakan saja..."


"hemz.... iya dech..."


"anak ibu memang paling baik...hmmhnm"


diusapnya kepala sang putri. lalu ia pun beranjak dari duduknya.


dengan langkah lunglai dan sedikit malas Meri mengikuti ibunya yang sudah lebih dulu pergi ke dapur.

__ADS_1


rupanya didapur sudah ada sang kakak Mira yang sedang membereskan barang belanjaannya dari pasar.


siang tadi ia tak sempat membereskannya karena sudah letih berkeliling di pasar memburu belanjaan pesanan sang ibu.


"katanya kakak capek kok udah ada di dapur aja?!" Shanti menyapa Mira yang sejak tadi memang sedang sibuk sendiri tak menghiraukan kehadirannya dan Meri.


"iya Bu... tadi udah tidur kok. jadi sekarang Mira udah seger..."


"udah mandi juga... jadi udah semangat lagi"


sambil tersenyum Mira menoleh kearah ibunya.


"kita masak apa ya sore ini?!"


sambil berfikir Shanti melihat-lihat belanjaan yang belum semuanya tertata di kulkasnya.


"masak pecel ayam aja Bu yang gampang tapi enak"


Meri langsung menyambar pertanyaan sang ibu.


"em... sepertinya memang enak pakek sambal terasi dan cah kangkung"


sambil membayangkan makanan itu Meri tersenyum pada ibunya.


" iya Bu... pasti enak tu ide adex..."


"udah lama juga aku nggak makan cah kangkung"


rengek sang kakak yang ikut menyetujui usul sang adik.


akhirnya Shanti menyetujui usul kedua anaknya itu.


setelah hampir satu jam mereka berkutat di dapur. akhirnya ayam goreng bumbu bacem, sambal terasi lengkap dengan tahu, tempe goreng dan satu lagi jangan lupa cah kangkung sudah terhidang di meja.


benar-benar menu yang menggugah selera.


"akhirnya kita makan enak..."


seru sang kakak penuh semangat.


"apa kita tidak menunggu ayah dulu Bu?!" Meri yang memang lebih dekat dengan ayahnya itu kembali merindukanya.


belum juga sempat Shanti menjawab tiba-tiba ada orang yang mengucap salam dari arah luar.


"assalamualaikum..."


setelah pintu terbuka, nampak lah Ridho yang masuk.


"wa alaikumssalam..." jawab mereka kompak.


"ayah..!!!"


segera saja Meri menghambur kepelukan ayahnya yang sudah seharian ini ia rindukan.


"ayah kenapa pagi-pagi sekali sudah pergi?!"

__ADS_1


"juga ayah kenapa tidak jadi mengajak kita pergi ke rumah nenek?!


"apa ayah lupa sama janji ayah?!"


serentetan pertanyaan terus saja muncul dari bibir kecil Meri. membuat sang ayah gemas sekaligus bingung akan menjawab apa.


"sayang... ayah masih lelah nak... kenap banyak sekali pertnyaanmu?!"


"oh iya ayah... kata ibu ayah pergi mengikuti lomba memancing?! apa ayah menang dan dapat hadiah?!"


bukanya menjawab pertanyaan sang ibu. Meri malah kembali bertanya pada ayahnya.


Ridho merasa bingung atas pertanyaan terakhir Meri. ia tidak merasa mengikuti lomba apa pun hari ini. ia pergi karena sedang jengkel dan marah pada sang istri.


ia lalu melirik ke arah Shanti yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.


Shanti hanya menganggukkan kepala saja sebagai tanda kepada Ridho.


"oh iya tadi memang ayah ikut lomba... tapi ayah kalah"


"lagian ayah tu udah lama juga nggak mancing ngapain juga ikutan lomba-lomba begituan?!


Mira yang menanggapi jawaban ayahnya.


"yah pagi tadi mas Roni jemput ayah. ayah nggak enak kalau menolak..."


jawab Ridho sambil berjalan ke arah meja makan yang sudah tertata rapih. karena memang ia sangat lapar.


"wah... makanannya enak nih... apa kalian tidak mengajak ayah makan?!"


sambil tersenyum ia menanyai kedua anaknya.


"Huhh ayah... kalau makanan aja cepet!"


Mira menghampiri ayahnya dan duduk di sebelahnya. setelah itu disusul Meri dan Shanti yang duduk bersebalahan juga.


makan malam yang nikmat dan dipenuhi dengan canda tawa keluarga kecil itu sejenak menghilangkan rasa gugup dan canggung yang dialami oleh Shanti.


meski ai masih sedikit merasa bingung dengan sikap Ridho yang kembali kerumah dengan ekspresi yang biasa saja seperti tak ada yang terjadi di antara mereka.


tapi setidaknya itu juga membuat hatinya lega. karena mungkin amarah Ridho sudah mereda.


Ridho sendiri hanya sesekali melirik kearah Shanti yang duduk dihadapannya.


entah apa yang sedang ia fikirkan. yang jelas suasana hangat yang tercipta di meja makan ini membuat ia bahagia dan tenang.


setidaknya anak-anak yang sangat ia sayangi begitu perduli pada dirinya.


Meri yang merengek dan Mira yang terus saja mengganggunya meski sedang makan, membuat suasana kian ramai dan sejenak melupakan masalah yang sedang mereka hadapi.


setelah makan malam penuh canda itu. Shanti sengaja menyibukkan dirinya di dapur dengan membereskan meja, mencuci piring dan sebagainya.


ia sengaja mengulur waktu bertemu dengan suaminya yang sudah lebih dulu masuk kekamar mereka.


ia masih gugup dan takut jika hanya berdua saja dengan suaminya. ia juga masih bingung harus memulai dari mana ia menjelaskan permasalahan mereka semalam.

__ADS_1


__ADS_2