Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Dona dan Diwan


__ADS_3

"ya bibik rayu dong om Ridho biar mau... aku masak iya nanti dia beda sendiri..."


"lagian kamu Fris ada-ada saja permintaan nya..." kata Dona.


"ya abis warna pink kan memang warna kesukaan aku tau Don..."


"iya lah terserah ibu ratu saja... yang penting acara nya lancar dan membawa kebahagiaan..."


akhirnya Shanti mengalah. berdebat dengan keponakan nya yang satu ini memang tak akan ada habisnya entak hingga kapan.


mereka masih saja terus bercerita dan mengobrol ini dan itu hingga hari beranjak siang.


"Dona ini sudah siang kamu nggak siapkan makan untuk suami mu?!" ibu Shanti mengingatkan Dona yang masih saja asyik bercerita dengan bibik dan saudara sepupunya itu.


"iya nek. aku siapkan..." Dona pun segera beranjak dan menuju dapur.


"biar aku bantu".kata. Diwan suaminya...


"ya sudah ayo... Friska sama bibik tolong bereskan tempat ini ya..."


"oke..." jawab mereka kompak.


setelah kepergian Dona bersama Diwan dan juga ibunya Shanti baru sadar dengan keadaan teras tempat mereka bercengkrama tadi.


sisa cemilan yang berserakan, kulit kuaci dan kacang di bawah meja dan kursi tak menentu.


"pantesan di milih nyiapin makanan..."


sambil menggelengkan kepalanya Shanti mengomel.


"Bu mil harus banyak istirahat bik..." jawab Friska mengingatkan bahwa keponakan satunya itu memang hanya bisa mengerjakan sesuatu yang ringan untuk saat ini.


" iya ya... lupa... ya sudah bibik ambil tempat sampah dulu ya. kamu kumpulin sampahnya jadi nanti gampang bibik tinggal serok"


ia menyerahka sapu kepada Friska.


"iya bik..." Friska meraih sapu yang diserahkan oleh Shanti dan memulai mengumpulkan sampah yang berserakan itu.


Shanti segera berlalu ke dapur untuk mengambil tempat sampah.


sesampainya di pintu dapur ia berhenti sejenak disana. ia memperhatikan pasangan suami istri yang sedang sibuk menyiapkan makan siang.


ia sedikit merasa iri pada Dona keponakanya itu. suaminya memperlakukannya dengan lembut dan romantis. dan satu hal lagi yang paling membuatnya iri adalah karena Dona dan Diwan adalah pasangan yang saling mencintai.

__ADS_1


itulah hal terbesar yang paling membuatnya iri. Dona beruntung bisa menikah dengan suami yang amat ia cintai. sedangkan ia sendiri harus meninggalkan orang yang ia cintai karena suaminya sekarang.


meski Ridho memang tak pernah memperlakukan nya dengan semena-mena dan justru suaminya itu amat mencintai nya, tapi entah mengapa Shanti hingga saat ini pun belum bisa balas mencintai suaminya itu.


ia masih merasa karena kehadiran suaminya itu sehingga ia tak bisa menikah dengan orang yang ia cintai. meski itu sudah berlalu 18th lamanya.


bahkan mungkin orang yang saat ini ia fikirkan sudah tak memiliki lagi kenangan tentang cinta mereka. karena memang mungkin ia sudah menikah.


"kamu ngapain bengong di situ Shan?!"


ibu Shanti yang sejak tadi sudah duduk di meja makan memperhatikan anaknya itu yang hanya mematung saja di depan pintu.


"eh ibu... enggak Bu aku mau ambil tong sampah di dapur"


Shanti sedikit terkejut karena memang ia tak menyadari bahwa ibunya ada disana.


ibu Shanti pun sedikit melongok kearah dapur dan melihat apa yang sedang di perhatikan anaknya itu.


"owh... mereka itu tak usah kamu hiraukan. memang seperti itu kelakuan Diwan kalau dirumah. meski ada orang disekitarnya mereka masih saja bermesraan..."


pasangan Diwan dan Dona memang terkesan cuek bila di luar rumah. tapi jika mereka berada di rumah. mereka akan lupa bahwa sebenarnya dirumah itu juga orang lain tinggal.


mereka tidak akan malu bermesraan walau ada neneknya disana.


" bibik ini tong sampahnya"


"eh iya..."


Shanti sedikit gugup dan kikuk. karena telah ketahuan sedang memperhatikan kegiatan mereka.


ia pun segera berlalu dari sana dan menghampiri Friska yang terlihat sudah selesai mengumpulkan sampah dan menyapu teras.


"kenapa lama sekali bik?!"


iya tadi nenek ngajak ngobrol dulu..."


"owh... ya sudah sampahnya sudah selesai aku kumpulkan. sekarang tinggal dimasukkan ke dalam tong sampah dan di buang..."


"oke..." ia pun segera meraih sapu dan serok di tangan Friska dan memasukkan sampah itu pada tempatnya.


"bik. didalam tadi liat orang lagi bermesraan nggak?!"


"kamu kok tahu?!"

__ADS_1


"ya tahu lah... aku kan tiap hari kesini. makanya aku tahu..."


"pantesan... mereka itu romantis sekali ya..."


"iya... Dona beruntung banget punya suami yang sangat mencintainya dan juga dia sangat mencintai suaminya mas Diwan..."


"em... bibik juga sempat iri padanya..."


"HM...?! bibik iri pada Dona?! kenapa?! bukanya om Ridho juga sangat mencintai bibik?!"


"hemmm... entah lah..."


tiba-tiba wajahnya berubah sendu dan entah mengapa perkataan Friska membuatnya terdiam dan tak mampu memikirkan apapun.


"bibik justru sangat beruntung memiliki om Ridho yang sangat mencintai dan juga menyayangi keluarga bibik. dan lagi bibik juga punya dua anak tanpa harus susah payah berobat kesana kemari seperti Dona dan mas Diwan..."


"entah lah Fris..."


"coba bibik fikir. mereka memang saling mencintai. tapi cobaan mereka dalam memiliki anak jauh lebih sulit karena harus melakukan banyak program hingga saat ini Dona dinyatakan hamil..."


"yah... kamu benar... ya sudah lah tak perlu di bahas lagi. bibik mau buang sampah ini dulu ke bak seberang..."


ia pun meraih tong sampah yang sudah penuh itu dan membawanya berlalu ke seberang jalan tempat bak penampungan sampah yang ada di lingkungan rumah ibunya.


sambil berjalan banyak hal yang ia fikirkan. termasuk juga perkataan Friska tadi.


haruskah ia bersyukur atau meratapi nasibnya yang tak bisaenjkah dengan pria yang sangat ia cintai.


meski sudah 18 tahun lamanya ia berumah tangga dengan Ridho bahkan mereka kini juga telah memiliki dua putri yang sangat ia cintai. tapi terkadang fikiranya melayang memikirkan orang lain yang saat ini tak tau dimana.


sejak perpisahannya di taman setelah lulus SMA. dia tak pernah lagi bertemu atau bahkan sekedar menerima kabarnya.


dalam hatinya bertanya " Mex kau sedang apa?!"


karena terus melamun dan tak memperhatikan jalan Shanti menyeberang jalan dengan sembarangan.


ia mengira kendaraan saat itu sepi, hingga tiba-tiba sebuah motor merah melaju dengan kencang dari arah kiri membuat ia terkejut dan gugup.


kakinya tak mampu melangkah karena gemetar dengan hebat. kepalanya pun tak mampu berfikir jernih karena panik.


ia justru hanya mematung di tengah jalan dan memejamkan matanya menunggu maut menjemputnya.


Untung saja pengendara motor itu menyadari bahaya dan ia segera mengerem dan sedikit berbelok keluar aspal.

__ADS_1


ia mengarahkan motornya ke trotoar dan hampir saja ia menabrak bak sampah yang ada disana.


beruntung motor segera berhenti dan membuatnya selamat.


__ADS_2