
dengan wajah juteknya Shanti meninggalkan Ridho yang masih berdiri mematung di halaman.
ia segera beranjak masuk ke dalam rumah dengan perasaan jengkel dan dongkol yang teramat pada suaminya itu.
Ridho pun tak tinggal diam ia segera mengikuti Shanti masuk ke rumah dari belakang. ia masih bingung kenapa tiba-tiba saja istrinya itu marah tidak jelas
"kamu itu kenapa sih dek kok pulang-pulang langsung marah-marah nggak jelas?!"
Shanti tak menjawab. ia membuka lemari es dan meraih minuman dingin dari sana. ia meneguk habis minuman itu mencoba mendinginkan kepalanya yang panas terbakar api cemburu.
"kamu marah karena mbax Mirna?!"
Shanti meletakkan gelas ke meja dengan kencang. membuat Ridho terperanjat kaget.
"kamu tuh ya. segitunya sama dia mas pakek manggil-manggil dia dengan begitu mesra!"
"mesra gimana sih dek?! aku biasa saja kok!"
"alah biasa saja kok kayak gitu! mlongo ngeliatin dia!"
Ridho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. pasalnya dia aneh melihat sikap istrinya yang tiba-tiba saja menjadi seperti ini.
padahal bukan hanya Mirna saja janda yang pernah mengobrol atau lebih tepatnya berbisnis denganya dan tak sekalipun Shanti bersikap seperti itu.
tapi kali ini dengan Mirna sikapnya menjadi aneh. cemburu nggak jelas seperti anak ABG.
ia berjalan menghampiri Shanti yang masih berdiri di depan lemari es. ia memeluk mesra dari belakang dan menjatuhkan kepalanya di pundak Shanti.
"kamu kenapa sih dek?! lagi datang bulan ya?!"
"apa hubungannya dengan datang bulan!"
"ya abisnya kamu marah-marah nggak jelas gini sama aku. padahal kan aku nggak ngapa-ngapain dek sama mbax Mirna. orang dia kesini mau jual kentang kok."
dengan sabar Ridho memberi pengertian pada Shanti. mencoba untuk berdamai dengan kecemburuan Shanti.
"ya biasa aja ngeliatin ya kan bisa mas! mana dia juga senyum-senyum nggak jelas lagi sama kamu!"
"istriku ini kalau lagi cemburu kok kayak gini sih?!"
"nggak usah mengalihkan pembicaraan mas!"
"enggak kok. siapa yang mengalihkan pembicaraan orang mas lagi merayu orang yang lagi cemberut ini!"
__ADS_1
"ih mas ah! nyebelin!"
Shanti mencoba keluar dari dekapan suaminya.
"tuh kan... coba sini lihat mas!"
Ridho membalikkan tubuh istrinya agar menghadap kepadanya.
"nih lihat. bibirnya manyun kayak ikan lohan, pipinya gembung kayak ikan kudu, terus hidungnya merah kayak buah ceri, matanya melotot Segede jengkol."
"kamu tuh ya mas malah ngeledek aku!"
"tuh malah tambah lucu kalau begitu!"
"mas! sudah lah! memang susah ngomong sama kamu!"
Shanti ingin beranjak dari sana. tapi urung terlaksana karena Ridho telah lebih dulu memeluknya dengan erat.
"sayang... aku itu nggak mungkin mencintai orang lain selain kamu . dan lagi pula aku memang nggak tertarik sama Mirna itu. dia kesini cuma mau jual kentang. dan besok baru mau di bongkar. aku juga tadi ngobrol biasa aja kok nggak ada yang aneh-aneh. lagian juga kan nggak mungkin aku nolak dia datang dek. sedangkan memang kebetulan besok nggak ada kentang masuk kalau mas nggak ambil punya dia."
panjang lebar Ridho menjelaskan pada Shanti yang hanya diam saja menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.
"kamu ngerti kan sayang?! mas nggak mungkin mau menduakan kamu yang sempurna ini."
Shanti tak menyangka jika Ridho amat mencintai dirinya. samapai berkata bahwa ia yang paling sempurna.
meski terdengar seperti rayuan. tapi Shanti dapat merasakan ketulusan suaminya itu.
sejenak fikiranya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu saat ia bersama Max di Fila.
flash back on
"Max... ku mohon hentikan. jangan sampai kita melakukan hal yang lebih jauh..."
Max tak mendengarkan Shanti. ia terus saja mencumbui leher jenjang Shanti yang wangi dan membuatnya sedikit gila.
"emhh Max..."
******* yang coba Shanti tahan malah lolos begitu saja ia merasakan getaran hebat dalam cumbuan Max.
ia mencoba menolak tapi tubuhnya bergetar hebat dan merasa ingin lebih. ia memejamkan matanya kala ciuman Max semakin turun.
entah sejak kapan kemeja yang ia kenakan sudah terbuka kancingnya dan tangan Max sudah meraba punggung mulus Shanti. ia mencari-cari pengait di sana dan ingin membukanya.
__ADS_1
setelah ketemu Max langsung membukanya dan dengan sendirinya kaitan itu terlepas tanpa di sadari Shanti yang tengah memejamkan matanya meresapi sentuhan Max yang memabukkan.
perlahan ia menarik keatas penutup dada Shanti dan meremasnya dengan gemas benda itu.
saat itu juga mata Shanti terbuka dan kesadaran ya kembali penuh. ia menampar pipi Max dan mendorong nya. ia mencoba turun dari pangkuan Max dan bergegas menjauh.
"Max ini sudah keterlaluan.!"
dengan nafas terengah ia mencoba merapikan pakaiannya yang sudah tak karuan itu.
"Shanti..."
Max yang sudah berada di ujung nafsu itu hanya menatap Shanti dengan wajah sendu dan mata berkabut gairah.
pipinya memerah. bekas tamparan Shanti terasa begitu panas di wajahnya. ia tak menyangka Shanti akan melakukan itu.
padahal sesaat yang lalu ia dapat mendengar suara Shanti yang mendesah nikmat karena perbuatanya.
"Max sebaiknya aku pulang. jika terus berada di sini aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti.!"
"kenapa Shan?! kenapa kau takut? apa yang kau takutkan sebenarnya?!"
ia menatap Shanti dengan wajah bergelayut damba. nafsunya sudah di ubun-ubun tadi. tapi harus terhempas begitu saja.
"tentu saja banyak hal yang aku takutkan Max. bahkan aku juga takut tak bisa mengendalikan diriku dan melakukanya lebih dengan mu. walau bagaimanapun aku adalah seorang wanita yang telah bersuami."
Shanti membalikkan tubuhnya menghadap meja rias membelakangi Max. dapat ia lihat wajahnya di pantulan cermin di hadapannya.
wajahnya nampak merah dan bibirnya sedikit bengkak. belum lagi lipstik nya sudah belepotan tak tentu arah.
"itu artinya kau juga sebenarnya menginginkannya kan Shanti?!"
Shanti terdiam seribu bahasa. perkataan Max menohok membentur kerongkongannya.
memang betul sesaat yang lalu ia terbuai dan menginginkan lebih dari ini. tapi saat kesadarannya pulih wajah suaminya yang pertama kali terbayang di kepalanya.
ia melihat ke arah Max dari pantulan cermin. ia tak berani menatap wajah tampan itu saat ini. ia takut akan kembali mengulangi kegiatan panas barusan.
Max beranjak dari duduknya dan memeluk Shanti dari belakang.
"aku takkan memaksa mu jika kau tak menginginkannya. maafkan aku benar-benar hilaf tadi."
sejenak pandangan mereka bertemu dari pantulan cermin. Shanti tak menjawab. ia hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Max mencoba mengerti keadaan Shanti saat ini. dan ia pun berfikir mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal yang lebih dengan pujaan hatinya ini.