
hari masih pagi. Shanti membereskan semua pekerjaan rumah dengan segera. ia ingin bersantai saat pulang dari rumah sakit nanti.
tak menunggu lama Mira juga sudah sampai kerumah. seperti janji tempo hari dia akan mengantar Shanti ke rumah sakit hari ini.
"Bu. aku ganti baju sebentar ya..."
"iya. ibu tunggu di depan. ibu mau pamitan dulu sama ayah."
"oke. "
Shanti menuju halaman dimana sang suami berdiri tengah sibuk menghitung sayuran yang masuk pagi ini.
"mas aku pergi dulu ya..."
"iya hati-hati ya dek... loh Mira nya mana?!"
"masih di dalam. sebentar lagi juga keluar."
"ya sudah pelan-pelan saja nanti di jalan nggak usah buru-buru."
"iya mas. ya sudah mas lanjutkan saja."
"iya."
Shanti berbalik menuju rumah untuk mengambil tas nya.
"sudah siap Mir?!"
"sudah Bu. ayo..."
dalam perjalanan menuju rumah sakit Shanti sedikit termenung. tiba-tiba saja dia teringat Rina dan Max. bukan kah hari pernikahan seharusnya sudah dekat."
"Mir. tanggal berapa ini?!"
"tanggal 30 Bu. kenapa?!"
"nggak apa-apa."
hanya itu percakapan yang keluar dari keduanya. Shanti kembali terdiam sejenak. tak terasa mobil sudah memasuki pelataran rumah sakit.
dia segera beranjak turun diikuti Mira mereka masuk.
ternyata antriannya tidak terlalu panjang pagi ini. syukurlah dia tidak harus menunggu terlalu lama jika begini.
setelah mendaftar dan mendapat nomor antrian Shanti duduk di ruang tunggu bersama Mira.
__ADS_1
dia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di lobi. tak sengaja pandanganya menangkap seseorang yang sangat dia kenal.
orang yang beberapa hari yang lalu menampar wajahnya. meski sedikit penasaran apa yang sedang dilakukan Rina di rumah sakit sepagi ini. tapi Shanti tak ingin menyapanya meski hanya sekedar basa-basi saja.
dia melihat sekeliling untuk memastikan sesuatu. apakah Rina bersama Max datang kemari? tapi sepertinya dia tak mendapati apa yang dia cari.
dia mengalihkan pandanganya ingin berpura-pura tidak melihat Rina. tapi sepertinya terlambat sudah. Rina sudah melihatnya juga sekarang.
ada rasa canggung saat mata mereka bertemu pandang. Rina sendiri juga sedikit terkejut mendapati Shanti juga ada di sana.
Rina perlahan berjalan mendekat ke arah Shanti dan sengaja duduk di sampingnya. Rina sejenak melirik ke arah Mira di yang asyik mengotak-atik handphone di tanganya tak memperdulikan sekitar.
"apa kabar mbak Shanti?"
Rina berbicara pelan tanpa melihat kearah Shanti. kini pandanganya lurus ke depan seperti enggan menatap lawan bicaranya.
"saya baik-baik saja."
meski sedikit gugup Shanti mencoba tenang. dia tidak ingin memancing perhatian Mira anaknya.
"sayang sekali jika mbak baik-baik saja. padahal saya berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi!"
Shanti diam saja mendengar perkataan Rina. dia sedikit menundukkan kepalanya menahan sesak yang tiba-tiba menggempur dadanya.
"pernikahan tinggal menunggu hari. aku harap mbak tidak akan mengacaukanya. dan jika perlu tidak usah datang meski ada undangan yang datang kerumah."
"kau takut jika Max melihatku di persta pernikahan kalian maka dia akan berpaling bukan.!"
meski bukan maksudnya ingin memperparah keadaan hubungan dia dan Rina. tapi perkataan Rina yang menyinggung membuat Shanti sedikit tersentil.
meski kemarin dia diam saja meski mendapat tamparan dari Rina. tapi untuk saat ini sepertinya kesabaranya sedikit menghilang.
Shanti sudah lama tidak menghubungi Max sejak kejadian di Fila tempo hari. begitu juga sebaliknya Max seolah menghilang di telan bumi.
"dengar Rina. Max lah Yang selalu ingin bertemu dengan ku bukan aku. jadi jangan salahkan aku."
"dia tidak akan mencarimu lagi jika kau tidak menemuinya. tapi sepertinya kau memang wanita kurang belaian sehingga mau berduaan di dalam kamar dengan laki-laki yang bukan suami mu!"
"jaga ucapan mu Rina!"
Shanti tanpa sadar meninggikan suaranya tidak terima dengan tuduhan Rina padanya.
"ada apa Bu?"
Mira terkejut mendengar ibunya berteriak pada seseorang. dia menoleh dan memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
sangat terasa atmosfer permusuhan antara ibunya dan wanita yang tidak dia kenal itu.
"tidak ada apa-apa Mira. ibu akan berbicara sebentar dengan teman ibu. kamu tunggu disini sebentar.!"
tanpa menunggu persetujuan Mira, Shanti telah menarik lengan Rina dan membawanya ke ujung koridor yang terlihat sepi.
"kau harusnya sadar diri. anak mu sudah besar-besar dan ku rasa tidak seharusnya kau mendekati pria lajang seperti Max. apalagi kau sendiri masih bersuami.!"
Shanti mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. mendengar perkataan Rina membuat dirinya semakin merasa geram.
"terima saja kalau hubungan kalian itu hanya masalah yang tidak perlu di kenang. itu sangat menjijikkan!"
Shanti sudah mengangkat tangannya ingin menampar Rina. tapi secepat kilat Rina menahan dan menghempaskan kasar tangan Shanti.
"jangan harap kau bisa menampar ku! dasar wanita tak tahu diri!"
Rina beranjak menjauh dari Shanti yang terpana. dia berhenti sejenak.
"jangan kau temui Max lagi. jika itu terjadi lagi aku akan pastikan kau takkan mendapatkan kebahagiaan mu lagi. tidak dengan Max atau juga tidak dengan keluarga mu!"
Rina benar-benar pergi setelah mengatakan itu. dia tak memperdulikan Shanti yang sejak tadi hanya diam saja.
Shanti terduduk lemas di lantai. air matanya mengalir tanpa komando. dia merutuki semua yang sedang terjadi.
dia mengusap kasar air mata di pipinya. dadanya bergemuruh seakan ingin meledak. dia tidak terima dengan semua yang dikatakan Rina.
ia mengepal erat tangannya dan ada senyum smirk sekilas di sana. entah apa yang difikirkan nya. dia seperti menderita penyakit bipolar saja, sebentar menangis, lalu dalam sekejap dia tersenyum.
"ibu sebentar lagi giliran ibu!"
Shanti terkejut mendapati Mira yang tiba-tiba sudah di sampingnya. dia segera bangkit dan menepuk-nepuk bokongnya.
"ibu tidak apa-apa? kenapa duduk di lantai?"
"ibu tidak apa-apa. terlalu lama mengobrol dengan teman ibu jadinya ibu duduk di lantai karena kaki ibu pegal."
Shanti mencoba senormal mungkin bicara dengan Mira agar dia tidak curiga terjadi sesuatu pada ibunya.
"ayo kita kembali ke sana."
Shanti berjalan mendahului Mira. tak lama kemudian giliranya di panggil.
setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan sedikit berbincang dengan dokter akhirnya Shanti dinyatakan sembuh dan tidak perlu kontrol lagi. meski begitu dia masih harus menjauhi makanan pedas dalam waktu satu bulan kedepan.
setelah mengambil obat di apotek Shanti dan Mira segera beranjak pulang. Shanti sudah ingin segera pulang dan cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya dan juga otaknya tentunya.
__ADS_1