Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Rina 1


__ADS_3

Rina terus berjalan menapaki perkebunan teh sendiri. karena memang hari sudah magrib jarang orang yang berlalu-lalang di sana.


sejak keluar dari Fila Max ia tak tahu harus kemana. tak mungkin ia pulang kerumah orang tuanya dalam keadaan kacau seperti sekarang.


perasaan yang begitu remuk dan tangis yang tak kunjung mereda membuatnya semakin tak ingin bertemu siapa pun saat ini.


dia terus memikirkan semua yang di katakan Max siang tadi. ternyata cintanya untuk Max memang sebuah sebuah kesalahan menurutnya.


max dengan lantang mengakui semua tuduhan atau lebih tepatnya prasangkanya terhadap Max dan Shanti.


flash back on


"Rina! beraninya kau?!"


Max berjalan cepat ke arahnya dan juga menampar pipinya karena telah berani menampar Shanti.


"Max! kau lebih membela wanita itu?"


sementara Shanti sendiri telah berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"kau yang telah lancang menamparnya!"


"aku hanya memberi pelajaran kepada orang yang telah berani merusak hubungan kita Max!"


"memangnya apa hubungan kita Rina?"


Max terlihat sangat marah. darah telah mendidih di ubun-ubun nya segalanya menjadi kacau karena tiba-tiba Rina datang. padahal tak sekalipun dia memberitahu bahwa dia sedang di Fila saat ini.


entah lah wanita itu tahu dari mana keberadaanya. yang pasti itu membuat Max sangat marah dan semakin membenci hubungannya dengan Rina saat ini.


"kau tak mengakui aku sebagai tunangan mu max?"


"heh... tunangan! persetan dengan hubungan ini."


Max menjawab dengan sinis. meski nadanya terbilang lirih tapi kata-katanya itu membuat Rina meradang.


"jadi kau lebih memilih wanita yang kau cintai meski dia sudah memiliki suami dan anak Max?! apa kau sangat mencintainya hingga matamu buta? atau kalian sudah tidur bersam?!"


"jangan pernah membicarakanya!"


Max menatap tajam kearah Rina dengan telunjuk mengacung tepat di wajah Rina yang sudah mendarah menahan amarah.


"kau benar-benar konyol Max. kau mengabaikan aku demi wanita yang sudah bersuami. kau tak mau membalas cintaku hanya demi wanita yang tidak tahu malu masuk kedalam kamar berdua dengan laki-laki lain yang bukan suaminya! dia lebih pantas disebut ******!"


plak....

__ADS_1


satu lagi tamparan mendarat di pipi Rina. kali ini ada sedikit darah di sudut bibirnya membuatnya sedikit pusing dan kepalanya berputar sejenak.


ia pun terduduk di lantai karena tak kuat menahan bobot tubuhnya yang terasa melayang akibat tamparan Max yang sangat kuat.


sedang Max menatap tak percaya dengan apa yang dia lakukan. dia telah berani dan tega memukul Rina dengan emosinya.


"kau jangan terus membuat kesabaranku hilang Max!"


Rina mengepalkan tangannya sekuat tenaga ia mencoba bangkit dengan wajah penuh dengan rasa dendam.


"baik lah jika memang ini yang kau ingin kan Max. tak apa aku akan menerimanya. tapi satu hal yang harus kau ingin Max, pernikahan kita akan tetap berlangsung meski kau tidak menyukainya!"


setelah mengatakan itu Rina melangkah pergi meninggalkan Max dengan sejuta kekecewaannya.


'aku pasti akan membuat hidup kalian berdua hancur! kita lihat saja nanti!'


dalam hati Rina bersumpah dan terus mencaci Max dan Shanti. ia tak lagi memperdulikan rasa cintanya pada Max. yang ada saat ini adalah dendam yang teramat dalam tertanam di hatinya.


flash back off.


disini lah Rina saat ini di pinggiran perkebunan teh sendiri menangis meraung dan meluapkan segala kekesalannya.


sekuat apa pun dia sedendam apa pun hatinya tapi tak bisa memungkiri perasaannya sebagai seorang wanita yang begitu lemah dan rapuh.


"hai mbax? sedang apa di sini sendiri gelap-gelapan?"


Rina hanya mendongak mencoba menatap siapa orang itu. tapi sorot lampu mobil membuat matanya silau dan berkunang-kunang.


tak menunggu waktu lama pandanganya menjadi gelap dan akhirnya Rina terjatuh tak sadarkan diri di sana.


"hey mbak... mbak... bangun mbak! kenapa tidur di sini!"


dengan sedikit bingung Jojo berjongkok mencoba memeriksa keadaan Rina. apakah dia pingsan atau justru jangan-jangan dia sudah mati.


itu lah fikiran yang saat ini berkecamuk di benak Jojo.


ia menempelkan jarinya kebawah hidung Rina meraba apakah masih ada nafas di sana. dia juga mencoba memeriksa pergelangan tangan Rina memastikan nadinya masih berdenyut.


"huuhhh... sepertinya dia pingsan."


tak menunggu waktu lama ia langsung mengangkat tubuh Rina ke arah mobilnya dan membawa Rina pergi dari sana.


bagai mana Rina tidak pingsan. ia berjalan sudah lebih dari dua jam dengan air mata tak berhenti mengalir. belum lagi Max menamparnya dua kali dan jangan lupa juga hawa dingin membuatnya semakin kehilangan kesadarannya.


Jojo melajukan mobilnya menuju rumah kediamannya dan menghubungi Jingga temannya yang bekerja sebagai bidan di dekat rumahnya.

__ADS_1


sesampainya di sana rupanya Jingga sudah menunggunya di depan pintu. sepertinya dia juga baru sampai.


"Jo kenapa kamu menghubungi ku? apa kamu sedang sakit?"


"bukan aku Ji, tapi orang ini"


Jojo menunjuk Shanti yang terkulai di kursi belakang.


"bantu aku buka pintu rumah Ji. aku aka mengangkat dia masuk ke dalam."


Jojo menyerahkan kunci rumah kepada Jingga. dan segera bersiap membawa Rina masuk ke rumah.


Jingga dengan sigap membuka pintu dengan lebar dan menahannya hingga Jojo berhasil masuk dengan menggendong Rina.


Jojo membaringkan Rina di kamar tamu dan tak lama Jingga menyusul masuk ke dalam.


dengan cekatan ia menyiapkan peralatan untuk memeriksa keadaan Rina.


dia memperhatikan dengan seksama wajah pucat dan dingin itu. pipinya terlihat memar dan sudut bibirnya sedikit robek, juga matanya yang bengkak karena sepertinya terlalu banyak menangis.


"siapa dia Jo?"


Jingga sedikit heran dengan keadaan wanita yang sedang ia obati ini. kenapa penampilannya sangat menyedihkan.


"aku juga tak tahu siapa dia Ji. aku menemukannya pingsan di pinggir jalan di perkebunan saat aku lewat mau pulang tadi. apa dia sangat parah?"


"dia seperti telah mengalami kekerasan. kau lihat sala lebam di pipinya dan bibirnya juga robek."


"kau benar Ji. aku baru memperhatikany sekarang."


"tapi bukan kau kan pelakunya?"


Jingga melirik tajam penuh selidik kearah Jojo.


"kau jangan sembarang menuduh aku pria baik-baik. lagian juga aku tidak mengenalnya jadi untuk apa aku memukulinya.!"


"syukurlah kalau itu bukan kau!"


Jingga acuh tak acuh mendengar jawaban Jojo. karena dia memang tak berniat menuduh Jojo. hanya iseng saja bertanya begitu.


"dia sepertinya kelelahan dan kelaparan jadi pingsan."


Jojo hanya menyimak dan menganggukkan kepalanya saja.


"aku sudah mengoleskan salep. aku akan memasang infus dan memberinya vitamin. sebelum itu aku ikanengganti bajunya dulu karena ini sepertinya basah"

__ADS_1


"lakukan saja. aku tak akan mengganggu.!"


__ADS_2