Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Mirna Bertamu


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Shanti sudah pulang dari rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. ia hanya dirawat 3 hari saja dan sudah di perbolehkan pulang.


Seminggu sudah juga ia melupakan pertengkarannya bersama Max dan Rina. saat ini Shanti tengah duduk di kursi depan memandang ke arah gudang yang sepi karena ini hari Minggu. tak ada aktivitas jual beli di sana.


tak berapa lama sebuah motor berhenti di halaman depan. seseorang yang membuatnya kesal seminggu yang lalu datang kemari.


Mirna janda kaya itu datang lagi kemari. di hari Minggu lagi. apa dia tidak tahu kalau hari ini adalah hari libur tidak ada jual beli.


Shanti kesal sendiri tanpa sebab. entah apa yang membuat dia kesal jika melihat wanita itu.


"assalamualaikum mbak Shanti..."


Mira menyapa Shanti yang terlihat memperhatikany tapi sama sekali tidak menyapa dirinya sejak tiba. bahkan malah dia melihat Shanti yang bermuka masam.


"wassalamu'alaikum..."


Shanti menjawab dengan sedikit ketua dan seperti tak menginginkan kehadiran ya di sana.


"bagaimana kabarnya mbak? apa sudah sehat?"


"yah seperti yang kamu lihat! aku baik-baik saja. !"


"syukurlah kalau begitu mbak... saya ikut senang kalau mbak sudah sehat."


"emmh....!"


Shanti tak lagi menjawab. dia hanya berdehem dengan sangat enggan dan acuh tak acuh.


"mas Ridho nya ada mbak? saya ada sedikit keperluan?"


"nggak ada. mas Ridho lagi ngantar Mira kepasar!"


tanpa basa basi lagi Shanti menjawab dengan ketus wanita yang ada di depannya itu. dia semakin jengkel saja si janda genit ini pakek nanya-nanya suaminya lagi.!


"owh begitu. masih lama nggak ya mbak kira-kira?"


"ya aku nggak tahu. namanya juga orang kepasar manalah bisa dipastikan cepat apa tidaknya! memangnya ada perlu apa lagi sih kamu sama suami ku? bukanya masalah kentang kemaren sudah diselesaikan si Joni?"


Shanti dengan tidak sabar bicara panjang lebar pada mirna dengan nada yang semakin ketus saja.


hal itu tentu membuat Mirna sendiri kebingungan. kenapa Shanti malah marah-marah padanya. padahal seingat dia mereka tidak pernah bermusuhan.


Mirna menjadi semakin tidak enak dengan sikap Shanti itu. sejak tadi dia masih berdiri di depan teras tak berani beranjak.


jangankan di suruh masuk kerumah yang ada malah ditanya ini dan itu dengan nada ketus.


"kalau begitu saya permisi saja dulu mbak. nanti kalau mas Ridho sudah pulang biar saya kesini lagi."


dia segera berbalik melangkah meninggalkan Shanti tanpa menunggu respon darinya.


meski Mirna sedikit bingung dengan sikap Shanti tapi dia juga merasa tersinggung dengan perlakuan Shanti yang tidak menyambut dirinya sebagai tamu.


Mirna segera menghampiri motornya yang terparkir di halaman dan bersiap pergi. tapi sebelum itu sebuah mobil masuk ke halaman menampakkan Ridho dan Mira di dalamnya baru pulang dari pasar.

__ADS_1


"syukurlah..."


gumam Mirna lirih. dia bersyukur karena tidak harus repot-repot lagi untuk kemari mencari Ridho.


"mbak Mirna sudah dari tadi?"


Ridho menyapa Mirna sambil membantu Mira menurunkan belanjaan dari bagasi mobil.


"belum kok mas. baru saja sampai kok saya mas."


"ayo masuk dulu mbak!"


sejenak Mirna melirik ke arah Shanti yang tak memperdulikan mereka. dia sedang membantu Mira mengangkat belanjaan masuk kedalam rumah.


"disini saja lah mas nggak enak sama mbak Shanti."


"nggak enak gimana sih? biasa saja lah mbak. malah kalau di halaman nggak enak dilihat orang lewat nanti."


sebenarnya Mirna ingin sekali menolak masuk kerumah. karena masih segan dengan sikap Shanti sejak tadi.


tapi apalah daya. kedatanganya kemari ingin meminta uang kurangan kentang kemarin. jika dia menerima uang dari Ridho di luar rumah dan terlihat orang lain malah lebih tidak mengenakkan bagi dirinya.


"ayo mbak masuk! kok malah bengong? "


"eh... iya mas Ridho."


akhirnya dia pun mengikuti Ridho masuk ke dalam rumah.


"iya mas..."


beda sekali sikap Ridho dan Shanti menyambutnya. Ridho ramah dan bersikap sopan pada dirinya yang memang seorang tamu.


sedangkan Shanti menatapnya sinis seperti orang yang ditagih hutang saja. padahal dia kan bukan tukang krisis panci.


menyebalkan memang tapi yah mau bagaimana lagi. namanya kita yang butuh.


tak lama Ridho keluar membawa buku besar dan beberapa barang lainya.


"kamarin sudah separuh ya mbak yang di bayar sama Joni.?"


"iya mas. ini kwitansi pembayaran yang kemarin."


Mirna menyerahkan selembar kwitansi kehadapan Ridho untuk diperiksa.


"oh iya. saya yang membuat kwitansi ini kemarin. jadi kekurangannya sebanyak ini juga ya mbak yang belum saya bayar.?"


"iya mas.!"


"ini uangnya mbak Mirna silahkan dihitung dulu."


Mirna segera meraih plastik hitam berisi uang yang diberikan oleh Ridho. dia hanya membukanya sejenak memastikan isinya dan menutupnya kembali.


"nggak usah dihitung lah mas saya percaya sama mas Ridho."

__ADS_1


"yakin sekali mbak Mirna ini ya..."


Ridho hanya mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bercanda.


" oh iya mas itu kol jadi tidak di panen besok?"


"iya jadi mbak. tapi seperti biasa ya saya bayarnya setengahnya dulu."


"iya mas. nggak apa-apa. saya faham kok. ya sudah besok langsung ke ladang saja ya mas."


"iya. besok saya langsung kesana."


"terimakasih kalau begitu mas Ridho, saya permisi dulu."


"kok buru-buru sekali mbak Mirna?"


"iya mas. saya belum kepasar soalnya..."


"owh... maaf ini ya mbak Mirna nganggur saja."


"tidak apa-apa mas Ridho yang penting uangnya kok. heehee"


"haahaa mbak Mirna bisa saja. ya sudah hati-hati ya mbak!"


"iya mas. mari saya permisi. salam untuk mbak Shanti dan anak-anak."


"iya nanti saya sampaikan."


"assalamualaikum..."


"wassalamu'alaikum..."


sepeninggal Mirna dari rumahnya Ridho bergegas masuk ke rumah. perutnya sejak tadi sudah sangat lapar tapi terpaksa harus ia tahan karena tidak enak jika tamunya menunggu terlalu lama.


"ngapain sih itu janda datang lagi kesini mas?"


"Astagah!"


Ridho terlonjak mendapati istrinya yang tiba-tiba muncul di belakangnya seperti hantu.


"kenapa kamu kaget begitu? ditanya istri malah nggak jelas!"


"dia ambil uang kekurangan pembayaran kentang kemarin dek..."


"bukanya kemarin sudah di bayar lunas sama Joni?"


"belum dek, kamu kan tahu sendiri biasanya juga mas bayarnya setengah dulu. baru pelunasannya di hari Sabtu. tapi kemarin kebetulan mbak Mirna ya nggak ada dirumah makanya dia abil kesini tadi."


"kalau sama dia tu langsung aja di bayar lunas. nggak usah bolak-balik! nggak enak dilihat tetangga!"


Shanti semakin sewot saja membuat Ridho semakin bingung.


'loh kok jadi ngambek?' gumamnya dalam hati menahan keanehan Shanti.

__ADS_1


__ADS_2