
matahari semakin terik dan panasnya sangat menyengat membakar kulit. Ridho berjalan masuk ke arah rumah yang begitu sepi.
biasanya saat makan siang seperti ini ia akan di temani oleh sang istri dan melayaninya menyiapkan makanan. tapi kini ia harus makan sendiri karena Shanti belum kembali.
diambilnya nasi dan lauk yang sudah disiapkan Shanti pagi tadi memenuhi piringnya. ia duduk sendiri di kursi itu.
ia menatap kosong ruang makan yang biasanya ramai dan riuh karena kegaduhan kedua putrinya. dan dengan sabar Shanti akan melayani nya di sana. meski bukan baru kali ini ia harus makan sendiri. tapi entah mengapa saat ini perasaanya sedikit tak tenang.
ia amat merindu istrinya dan selalu terbayang wajahnya. ada sedikit perasaan resah. tapi beberapa saat yang lalu SMS dari istrinya yang mengatakan bahwa akan pulang terlambat karena sedikit urusan membuat nya enggan berfikir banyak.
ia menghabiskan dengan cepat makanannya dan segera kembali lagi ke gudang. bergantian dengan anak buahnya yang akan beristirahat dan juga makan siang.
"eh itu mas Ridho nya mbax Mirna. silahkan tanya saja sendiri pada beliau."
sayup-sayup dari kejauhan ia mendengar orang yang sedang membicarakan dirinya.
"ada apa Bim?!"
ia menghampiri dua orang itu yang ternyata Bimbi dan Mirna yang sedang berdiri di pintu gudang seperti menunggu kedatanganya.
Mirna adalah seorang janda muda yang tak memiliki anak. suaminya menceraikannya karena sudah 5th menikah tak jua di karuniai seorang momongan.
ia hidup sendiri sudah hampir 2th dan mengelola ladangnya sendiri untuk memenuhi hidupnya.
meski begitu Mirna terbilang seorang janda kaya. harta gono-gini nya bersama suami jatuh kepada nya semua karena sang suami yang ketahuan berselingkuh darinya.
" ini mas Ridho, mbax Mirna mau jual kentang tapi belum di bongkar masih di ladang."
"iya mas Ridho, kalau mas Ridho bisa ambil semuanya saya akan bongkar besok."
"memangnya berapa banyak kentangnya mbax?!"
"perkiraan saya sih mas ada sekitar 10ton."
"wah banyak itu mbax... memangnya di ladang mana mbax kentang nya?! jauh tidak?!"
"nggak jauh mas Ridho... ladang yang di belakang rumah itu lho mas.!"
"owh disana. mobil bisa masuk langsung berarti ya.?;"
"iya bisa mas."
"ayo masuk dulu mbax biar saya hitung dulu baru nanti saya lihat ke lahan!"
"baik mas Ridho."
__ADS_1
mereka beranjak dari sana dan masuk ke dalam gudang untuk membicarakan harga dan lain sebagainya.
"silahkan duduk dulu mbax Mirna.!"
Mirna mengambil tempat duduk berhadapan dengan Ridho.
dengan serius Ridho mengotak-atik kalcucator di hadapannya menghitung dan kemudian ia catat di kertas bon.
"mbax biaya bongkar muatnya mau saya yang tanggung atau gimana mbax?!"
masih dengan pandangan tertuju pada kertas di tangannya Ridho bertanya pada Mirna.
tapi lama ia menanti jawaban dari Mirna tak kunjung ada. entah kenapa Mirna malah diam saja.
Ridho mengangkat kepalanya dan di tatapnya Mirna dengan sedikit heran. pasalnya wanita itu malah melamun dan pandanganya tertuju pada dirinya.
"mbax Mirna?! dengar saya tidak?!"
Ridho mengibaskan tangannya di hadapan wajah Mirna.
"e... eh... mas Ridho tadi ngomong apa ya?! maaf saya nggak dengar."
Mirna menjawab tergagap. ia sedikit malu pasalnya ketahuan sedang melamun.
"mikirin apa sih mbax Sampek segitunya melamun? jarak cuma beberapa jengkal kok saya ngomong mbax Mirna nggak dengar?!"
ia tertunduk. wajahnya bersemu merah. siapa yang tak malu jika ada dalam kondisi seperti ini. seorang janda yang hidup sendiri selama dua tahun ketahuan melamun di depan laki-laki tampan seperti Ridho.
jelas saja ia merasa ingin tenggelam saja ke dasar bumi untuk menyembunyikan malu yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"saya tadi bilang biaya bongkar nya mau saya yang tanggung atau gimana?!"
Ridho kembali mengulang perkataan nya tadi.
"biasanya gimana mas?! soalnya baru kali ini kan saya mau jual sama mas Ridho jadi nggak tau gimana biasanya."
"ya saya sih fleksibel aja mbax. kalau mau biaya bongkar nya saya tanggung ya nanti akan saya hitung ulang. tapi kalau nggak mau ya saya akan kasih harga ini untuk mbax Mirna"
Ridho menyodorkan kertas yang sudah berisi harga dan jumlah keseluruhan kentang yang akan ia beli.
"ya ini saja mas. nanti biar saya yang tanggung biaya bongkar. soalnya anak buah ladang saya yang kebetulan akan mengerjakan nya besok."
"oke lah kalau begitu saya tinggal terima beresnya berarti ya mbax?!"
"iya mas."
__ADS_1
setelahnya mereka diam sesaat. sedikit merasa canggung karena Mirna yang tak henti melirik ke arah Ridho.
tak terasa sudah hampir satu jam Mirna berada di sana. ia melirik jam di dinding gudang sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. akhirnya ia pun berpamitan.
"ya sudah mas. saya permisi dulu kalau begitu."
"eh. iya mbax. besok pagi biar saya kesana"
Mirna tak lagi menyahut. ia hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak dari kursinya. ia berjalan menuju pintu keluar. sebelum ia mencapai pintu Ridho kembali memanggilnya.
"eh mbax. lupa minta no HP nya saya. biar gampang menghubungi nya besok."
dek. Mirna diam mematung sesaat. mencerna ucapan Ridho yang sedikit ambigu baginya.
Mirna kok baper ya cuma karena Ridho meminta nomor HP nya. padahal kan ia meminta nya untuk memudahkan mereka berkomunikasi dalam bisnis jual beli saja.
sambil berfikir keras dan baper banget dia kembali menghampiri Ridho dan menuliskan no hpnya ke kertas yang di sodorkan Ridho padanya.
"sudah mas. itu no HP saya. besok tinggal telepon saja."
"ok mbax. terimakasih."
dengan senyum ramah Ridho kembali membuat si Mirna baper abis. untung nggak mimisan dia!
setelahnya ia kembali melangkah keluar menghampiri motornya yang terparkir di luar di ikuti oleh Ridho di belakangnya.
"saya permisi dulu mas Ridho"
Mirna tersenyum manis seraya beranjak pergi mengendarai motor matic nya dengan kecepatan sedang.
Ridho hanya mengangguk saja.
"ngapain itu janda kesini mas?!"
tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan nya.
"ya ampun dek. kamu itu bikin kaget saja!"
"aku itu disini sudah dari tadi masak kamu nggak tau!"
"orang kamu datang nya tanpa suara gitu ya aku nggak tahu lah."
"alah ngomong aja lagi tergoda sama si Mirna janda kaya itu kan?!"
"loh kamu kok datang-datang langsung marah sih dek?!"
__ADS_1
Shanti diam saja. cemberut dan memalingkan wajahnya. ia merasa kesal saat melihat suaminya nya mengobrol dengan seorang janda. padahal kan diantara mereka ada urusan bisnis saja.
tapi ya namanya juga perempuan sudah marah-marah duluan sebelum bertanya apa kebenaran nya.