
tengah malam Shanti terbangun karena perutnya keroncongan.
ia mengerjakan matanya, ia ingat sore tadi ia tertidur di sofa. tapi kini ia ada di dalam kamar.
ia menoleh ke samping malihat suaminya yang tertidur lelap disampingnya.
ia hanya menatap sejenak wajah teduh itu lalu beranjak turun perlahan dari kasur. ia tak ingin mengusik suaminya yang tertidur lelap seperti bayi.
ia menuju dapur dan memeriksa isi kulkas. kira-kira apa yang bisa ia makan tengah malam begini.
akhirnya ia memutuskan membuat nasi goren kampung saja. selain enak masakan itu lebih cepat karena perutnya yang sudah tidak tahan dengan kelaparan yang melanda.
"sedang masak apa?!"
tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang nya membuat Shanti terlonjak.
"mas... bikin kaget saja!"
ya. Ridho pemilik lengan itu. ia mencium wangi makanan dan melihat istrinya tak ada lagi disampingnya. jadilah ia menyusul Shanti ke dapur.
"aku masak nasi goreng mas. perut ku lapar lupa makan soalnya tadi."
"ya wajarlah kamu lupa makan. karena tidur dari sore. mana di sofa lagi tidurnya!"
"iya mas.. aku ketiduran di sofa. soalnya capek banget hari ini banyak kerjaan!"
"owh begitu... "
Ridho hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pernyataan Shanti. sebenarnya ia ingin bertanya kenapa Shanti menangis hingga tertidur. tapi ia tak berani.
selain takut menyinggung perasaan Shanti ia juga takut kalau Shanti mungkin tak akan berkata jujur pada dirinya.
terbukti perkataan Shanti tadi yang mengatakan bahwa ia tertidur karena kelelahan.
"mas mau juga nasi gorengnya?!"
"enggak ah. mas sudah kenyang tadi makan bareng sama anak-anak."
"owh.. ya sudah. tidur lagi sana kalau nggak mau makan."
"nanti ah. mas mau temenin kamu dulu.."
"owh... to twiiit... (so sweet)"
Shanti lalu memindahkan nasi goreng kepiting dan membawanya ke meja makan dengan tangan Ridho yang masih betah di pinggak Shanti.
sengaja Ridho masih menempel pada Shanti dan mengikutinya kesana kemari. karena menurutnya saat seperti ini tak bisa ia lewatkan begitu saja.
bagaimana tidak. seharian ia disibukkan dengan urusan gudangnya. hanya malam hari saja ia bisa berdekatan dan bercengkrama bersama keluarganya, terutama istrinya.
__ADS_1
Ridho ikut duduk di kursi maja makan di samping Shanti. ia hanya memperhatikan Shanti yang makan dengan lahap.
ia memperhatikan wajah istrinya yang memang akhir-akhir ini terlihat sedikit tirus.
"apa kamu sampai nggak sempat makan karena banyak pekerjaan rumah yang harus kamu selesaikan dek?!"
"enggak kok mas... aku makan teratur kok. kan makan selalu bareng sama mas..."
"iya sih... tapi kamu kok kelihatan agak kurusan sih?!"
"ah itu perasaan mas aja mungkin. aku makan teratur kok. jadi nggak mungkin aku kurusan mas..."
"ya sudah yang penting kamu jaga kesehatan. jangan semua pekerjaan rumah kamu kerjakan sendiri. ajak juga anak-anak supaya mereka juga bisa mandiri."
"iya mas... aku cuma kasian aja sama Mira dan Meri mas. kalau mereka pulang sekolah terlihat lelah."
"iya sih... tapi bukan berarti kamu tidak mengajari mereka tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri!"
"Hem... lagian dirumah ini kan cuma aku yang pengangguran heehee"
mereka terus mengobrol sambil Shanti mengunyah nasi goreng buatannya hingga habis tak tersisa di piringnya.
selesai makan Shanti membereskan perkakas yang ia gunakan untuk memasak dan makan.
Ridho hanya memperhatikan kegiatan istrinya yang kesana kemari. menurutnya sangat menggemaskan.
"iya mas... ayo."
pagi menjelang. suasana pagi yang berembun dan kabut yang masih menyelimuti, membuat suasana menjadi sedikit remang dan dingin.
Meri sejak tadi sudah siap untuk berangkat sekolah. ia sedang duduk di meja makan bersama ayahnya menunggu sarapan yang disiapkan Shanti selesai.
"mbax mu mana Mer?! apa tidak sarapan?!"
"entah lah Bu. tadi masih asik menelpon di kamar."
terang Meri dengan mengetikkan bahunya.
"kamu panggil sana! ini sarapannya udah siap. nanti kalian kesiangan."
"oke dech...!"
ia segera berlari menuju kamar Mira dan mengetuknya.
"mbax, udah siap belum?! ibu nyuruh sarapan tu!"
"iya. ini udah siap kok. ayok kita kesana!"
mereka pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya di meja makan.
__ADS_1
"ini sarapannya. buruan dimakan nanti kalian kesiangan!"
"iya bu!"
jawab mereka kompak.
"Mira, kenapa kamu lama sekali siap-siapnya?!
Sampek nggak bantuin ibu menyiapkan sarapan?!"
Ridho yang bertanya pada Mira. karena memang tak biasanya Mira bersikap seperti itu.
"paling juga tadi telponan dulu sama pacarnya yah.!"
Meri yang menjawab perkataan Ridho. karena memang tadi ia mendengar kakaknya sedang berbicara di telepon dengan entah siapa.
"apa benar itu Mira?!"
kali ini Shanti ikut menyauti.
"bukan kok Bu. itu cuma teman ku yang nanyain apa aku udah bikin tugas AA belum..."
"bohong Bu! masak iya teman kok panggilnya mesra banget. 'iya beb' gitu!"
Meri masih saja nimbrung sambil menirukan suara Mira saat menelepon tadi.
"Mira ibu nggak mau ya kamu udah main pacar-pacar an! kamu itu harus tamat sekolah dulu dan kuliah meraih cita-cita mu! jangan sampai kamu harus berhenti sekolah Karen pacaran-pacaran nggak penting begitu!"
semua yang ada disana merasa terkejut dengan tingkah Shanti yang tiba-tiba marah seperti ini.
apalagi Mira, menurutnya ia masih menjalani pacaran nya dengan sangat hati-hati dan tidak pernah ia melalaikan sekolahnya.
"tuh kak dengerin ibu!"
"kamu juga Meri! jangan sekali-kali kalian berdua membuat ibu kecewa! ibu ingin kalian tamat sekolah dengan baik dan bisa berkuli dan meraih cita-cita kalian! jangan seperti ibu yang hanya sekolah tamat SMA saja!"
" iya Bu..."
Meri tertunduk menanggapi ibunya yang ternyata sangat marah itu.
"ibu ingin kalian menjadi kebanggan ibu! ibu juga tidak ingin kalian kehilangan masa muda kalian karena terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik. ibu ingin kalian bisa menikmati masa muda kalian yang indah....!"
sedang Ridho hanya mendengarkan dan meresapi setiap perkataan yang keluar dari bibir istrinya itu. ia tak mampu berkata apa-apa. ia sedikit terkejut karena Shanti begitu marah mendapati Mira yang berpacaran.
padahal menurutnya wajar saja di usia Mira yang sudah 17th untuk menjalin asmara meski masih sebatas cinta monyet.
tapi ia tak menyangka jika istrinya akan sangat tidak menyukai itu.
"ingat ya Mira, Meri! ayah dan ibu bekerja keras banting tulang untuk membuat kalian bahagia. supaya kalian bisa sekola dengan baik, memakai pakaian yang baik, memakai kendaraan yang baik, dan tidak di permaluka oleh orang lain! dan yang paling penting agar kalian bisa meraih cita-cita kalian! jangan seperti ibu yang harus meninggalkan semua itu dulu!"
__ADS_1