Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

beberapa hari telah lewat. Shanti sejak hari itu tak pernah mendengar kabar Max. dia tak pernah mengirimkan pesan juga tak pernah menelepon nya.


begitu juga dengan Shanti. ia bahkan tak berani melakukan itu. mengingat pertengkarannya dengan Max tempo hari.


kini hari sudah malam. diluar hujan turun sangat deras.shanti sedang menyiapkan makan malam di dapur.


"Bu... besok jangan lupa datang ke final."


tiba-tiba Meri datang menghampiri nya dan mengingatkan bahwa besok adalah pertandingan final bola voli sekolahnya.


"iya ibu nggak lupa kok! sudah panggil kakak mu dan ayah, makanan sudah siap!"


"oke!"


Meri segera beranjak dari sana. dan tak berapa lama anak-anak dan Ridho datang menghampiri nya ke meja makan.


"dek besok nggak papa kan kamu pergi sendiri. soalnya besok pak galih mau datang!"


memang jika bukan hari Minggu Ridho selalu sibuk tak bisa pergi ke manapun.


"iya mas nggak papa. harusnya kamu tanya sama Meri mas. nggak papa ayah nggak bisa ikut Mer?!"


Shanti beralih bertanya pada Meri.


"nggak papa Bu. lagian aku ngerti kok ayah sibuk. ada ibu aja udah cukup kok."


"anak baik..."


Ridho mengusap kepala Meri dengan sayang.


"jam berapa besok pertandingannya di mulai Meri?!"


kali ini Mira yang bertanya.


"jam 9 mbax...!"


"yah... mbax belum selesai ujian dong...!"


"nggak papa mbax nggak bisa datang juga. kna udah ada ibu..."


"iya Mir... yang penting kamu sekolah aja yang bener, kamu udah kelas 3 Lo. lagian kan ujian nasional juga udah dekat.!"


"iya Bu... Mira ngerti..."


"yang penting doanya mbax... biar aku menang besok!"


"amiiin....!!" semua serentak mengaminkan doa Meri.


"ya sudah kita makan aja dulu ayah udah laper banget soalnya..."


"iya. " Shanti segera mengisi piring Ridho dengan nasi dan berbagai lauk pauk yang ada. begitu juga dengan anak-anak nya.


mereka menikmati makanan dalam diam. tak ada lagi pembicaraan yang keluar hingga sesi makan malam hangat itu berakhir.

__ADS_1


sementara itu di rumah Max keluarga mereka sedang menerima tamu yaitu calon besan keluarga pak Nugroho.


orang tua Rina sengaja datang untuk membicarakan penetapan hari pernikahan Max dan Rina.


selepas makan malam mereka duduk di ruang keluarga untuk membahas hari yang selalu mereka tunggu. tidak ada Rina dan Max di sana. karena memang seperti itu adatnya.


calon pengantin tidak boleh ikut dalam menentukan hari pernikahan mereka.


"jadi begini pak Nugroho, Bu Dira. tujuan kami datang kesini bersama pak imam ingin berembuk tentang hari pernikahan anak-anak kita."


ayah Rina mengawali pembicaraan. apa yang menjadi tujuan merek datang kemari.


"iya pak Ilyas. kami juga sudah menunggu kedatangan kalian kemari."


"jadi kira-kira kapan kita akan melaksanakan acara pernikahan Rani dan Max pak?!"


"lebih cepat lebih baik pak Ilyas. karena sepertinya Max dan Rina juga semakin dekat sekarang..."


"betul pak... lagian untuk apa juga kita menunda-nunda peristiwa baik ini. kan tidak baik heehee"


"iya betul heehee..."


"jadi kapan kira-kira tanggal yang baik untuk pernikaha mereka pak Ilyas?!"


kali ini ayah Max yang balik bertanya.


"lebih baik kita tanya pak imam saja pak Nugroho. karena beliau ahlinya."


"wah betul itu. "


"jadi kira-kira tanggal yang mana yang baik pak imam?" sambungnya.


"semua tanggal itu adalah tanggal baik pak Nugroho. tapi kita bisa memilih tanggal yang lebih baik dari semuanya pak."


"pak imam. saya sih kepengennya jangan lama-lama lagi. bila perlu bulan depan saja supaya nggak kelamaan pak. betul begitu Bu Hana?!"


kali ini ibu Dira yang ikut bersuara.


"betul Bu. saya juga setuju kalau bulan depan."


"jadi bagai mana pak imam?!"


"boleh saya pinjam kalender nya Bu Dira?!"


"boleh pak. tunggu sebentar saya ambilkan."


Bu Dira segera beranjak dari sana dan mengambil kalender yang ada di atas rak TV.


lalu segera menyerahkan nya pada pak imam.


pak imam diam sejenak sambil mengamati kalender yang diberikan oleh Bu Dira padanya.


"saya menemukan tiga tanggal baik bulan depan pak, Bu...tanggal 5,10, dan 28. jadi kalian bisa memilih sebaiknya kalian ingin di tanggal berapa hari pernikahan Max dan Rina diadakan!"

__ADS_1


"begitu ya pak imam. kalau saya maunya tanggal 10 saja supaya tidak terlalu lama. kalau pak Ilyas dan ibu bagaimana?!"


"kami setuju saja pak Nugroho..."


"kalau begitu sudah di putuskan ya tanggal 10 bulan depan acara ijab qobul dan resepsi pernikahan kita adakan ya pak Ilyas?!"


"iya pak... kami setuju. nanti untuk acara dan lain-lain nya kita bicarakan lebih lanjut ya pak!"


"baiklah kalau begitu. oh ya saking seriusnya kita ngobrol sampai lupa minumnya di anggurin. silahkan pak Ilyas, pak imam, dan Bu Hana dinikmati hidangannya."


semuanya pun kompak mengangguk. setelah itu pembicaraan ringan perkara ***** bengkel dan segala hal yang perlu disiapkan untuk acara pernikahan pun terus didiskusikan dengan santai.


hingga tak terasa malam semakin larut dan keluarga pak Ilyas beserta pak imam telah berpamitan.


took took took...


ibu Dira mengetuk kamar Max. mereka ingin segera memberi tahu kabar gembira yang mereka diskusikan tadi dengan keluarga Rina.


"Max kau belum tidur kan nak?! ayah dan ibu ingin bicara!"


tak lama pintu terbuka menampilkan sosok Max yang berdiri dengan wajah bantalnya di ambang pintu


"mau bicara apa lagi Bu?! ini sudah malam dan Max sudah ngantuk...!"


"sebentar saja sayang..."


"huhh... apa nggak bisa besok saja Bu?!"


ibu Max tak menjawab ia hanya menggeleng saja.


"huh baiklah..."


dengan sedikit lesu Max mengikuti langkah ibunya yang berjalan di depannya menuju ruang keluarga. dimana ayah Max duduk sendiri belum beranjak sejak tamunya pulang.


sesampainya di sana Max langsung duduk di sebelah ibunya.


"Max. tanggal pernikahan mu dan Rina sudah di tentukan."


ayah Max langsung saja berbicara pada intinya karena melihat wajah Max yang sepertinya sudah mengantuk berat.


"iya ayah aku tau!"


"tau apa?! kamu nguping pembicaraan kami tadi Max?!"


ibu Max terkejut dengan pernyataan Max.


" bukan Bu... aku tahu kalau tadi keluarga Rina datang untuk menetapkan tanggal pernikahan.! kan ibu yang bilang sore tadi."


"owh... ibu kira kamu sudah hobi jadi tukang nguping Max!"


"ya enggak lah Bu! ibu itu terlalu banyak fikir."


"ya lagian kamu tu ngomongnya nggak jelas. jadi ibu salah sangka!"

__ADS_1


"ya sudah-sudah malah jadi berdebat!"


ayah Max menengahi perdebatan antara ibu dan anak itu.


__ADS_2