
Mikka membuka leptop nya dan kembali melihat setiap detail riwayat pesan milik Alea dan Robert,
"Apakah ada yang terlewatkan?" pikir Mikka
"Map yang di sembunyikan oleh Alea itu pasti bukti kotor tentang penggelapan dana kantor mamah! Aku harus mendapatkannya sebelum bukti itu musnah.." gumam Mikka lagi lalu mengotak-atik seluruh data yang dimiliki oleh keduanya.
Belum selesai pekerjaan yang Mikka lakukan tiba-tiba seorang pria yang sangat Mikka kenal menghampiri nya.
"Mikka, kemana saja kau? Kenapa aku sangat sulit menemukan mu?" tanya Welson yang tampak kesal, Mikka tidak mengubris pertanyaan Welson karna sibuk dengan leptop nya itu.
"Mikka, ak...." belum selesai Welson berbicara Mikka langsung berdiri menatap datar pria itu
"Berapa kali aku harus menjelaskan agar kau paham?!" ucap Mikka tegas membuat Welson terdiam
"T-tapi aku perlu alasan kenapa kau memutuskan hubungan kita?" sahut Welson dengan nada bicara penuh penekanan
"Welson kau itu seperti pengemis yang terus mengemis cinta terhadap ku!" tegas Mikka
"Apakah aku perlu menjelaskan nya lagi bahwa aku sudah tidak mencintai mu?!" ucap Mikka datar membuat Welson sedikit terkejut dengan ucapan gadis didepannya ini
"K-kenapa?" tanya Welson masih bersikukuh, Mikka hanya diam menatap datar pria yang telah mengkhianati nya dahulu.
"Aku tidak mencintai mu lagi Welson!" tegas Mikka sekali lagi lalu pergi meninggalkan Welson yang merasa dicampakan beberapa kali oleh Mikka, wajah Welson merah padam karna menahan rasa malu dan juga emosi nya. Welson mengepalkan kedua tangannya dengan erat,
"Mikka..." ucap Welson pelan dan terlihat sangat geram
Mikka dengan santai nya berjalan keluar dari kampus dan menatap jam dilengan nya,
"Apa aku kembali ke kantor mamah saja?" pikir Mikka karna dia harus segera bertindak dan menemukan semua bukti-bukti kejahatan yang disembunyikan oleh Alea dan juga Robert.
Tidak lama setelah itu, Mikka sudah sampai kantor mamah tapi dia harus mencari waktu yang tepat agar bisa masuk diam-diam ke dalam ruang kerja Alea.
"Dalam kehidupan ku sebelum nya, semua ini tidak pernah terjadi andai kata aku belum tahu jika Alea itu sangat picik, walaupun kejadian nya sangat melenceng aku harus tetap bisa menemukan bukti kuat lalu menuntut Alea." gumam Mikka dalam hati karna menurut nya banyak waktu yang sudah terbuang untuk menyelidiki Alea dan belum ada pembalasan atas semua tindakan yang Alea pernah lakukan terhadap Mikka.
Sebelum Mikka masuk ke dalam ruang kerja milik Alea, dia harus memastikan tidak ketahuan oleh pihak bersangkutan.
"Kenapa kantor tampak sepi? Ini bukan jam istirahatkan?" tanya Mikka pada dirinya sendiri dan tanpa sengaja bertemu dengan Hanah yang sedang memegang sebuah dokumen.
"Bibi Hanah? Kenapa tergesah-gesah?" tanya Mikka penasaran
__ADS_1
"Kantor lagi ada masalah Mik, bibi harus cepat mengantar dokumen ini sama mamah mu diruang rapat" sahut Bibi Hanah seraya berjalan menuju ruang rapat
"Wahh pas sekali.." gumam Mikka seraya tersenyum tipis
Kebetulan saat ini kantor Malisha sedang ada rapat dan itu kesempatan bagus untuk Mikka beraksi, Mikka bergegas ke ruang Alea yang tentunya saat ini sedang kosong.
"Setelah menemukan map itu, aku harus meminta rekaman cctv agar memperkuat bukti ini" gumam Mikka lagi
'Srettt!!'
Pintu dibuka perlahan oleh Mikka, dengan cepat gadis itu menuju sebuah lemari.
"Sial malah terkunci!!" gerutu Mikka kesal
"Dimana kuncinya!!" ucap Mikka pelan
'Brukkk!!'
Mikka menampar meja milik Alea tidak terlalu keras tapi berbunyi cukup nyaring,
"Akhh sial!!" ketus Mikka karna tidak menemukan kunci lemari tempat Alea menyimpan map atau dokumen yang berisi data lengkap keuangan kantor dan tentunya bukti tentang penggelapan dana ada dalam dokumen itu juga.
'Brukkkk'
Bunyi setumpuk dokumen di lemparkan oleh Malisha ke atas meja,
"Kenapa kalian bisa seceroboh ini?!" tegas Malisha
"Data sepenting itu bisa hilang, apa kalian tidak bertanggung jawab atas semua tugas yang aku berikan?" tanya Malisha
"Aku sebagai pimpinan perusahaan kita merasa malu karna telah memberikan tugas ke orang ceroboh.." ketus Malisha, wanita yang terbilang lembut itu sedang naik pitan di hadapan semua karyawannya yang berjumlah 6 orang.
"N-nona Malisha, maafkan kelalaian kami.." sahut Robert sebagai bendahara kantor Malisha, Malisha memijit keningnya yang terasa sakit.
"Kenapa dokumen ku itu bisa hilang, padahal semua kerangka fashion untuk acara show dua hari lagi...." pikir Malisha
"Apa ada orang yang sudah membocorkannya?" Malisha terus memijit keningnya yang terasa sakit
"Baiklah rapat hari ini kita akhiri sampai di sini!" ucap Malisha saat dia ingin pergi, Malisha menatap Alea lalu beralih ke Robert.
__ADS_1
"Robert bawa catatan keuangan kantor ke ruangan ku!" perintah Alea
"Baik nona..." sahut Robert singkat, setelah semua orang pergi meninggalkan ruang rapat.
"Apa data nya sudah kau copy?" tanya Robert
"Sudah, ayo ke ruangan ku" sahut Alea datar, Robert dengan Alea menuju ke ruang kerja milik Alea dan tanpa mereka ketahui jika Mikka masih berada di sana.
"Dimana Alea menyembunyikan kunci itu!" gerutu Mikka sambil menjentik-jentik jari nya, tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki menuju ruangan Alea disertai suara samar-samar dua orang yang sedang berbicara. Mikka dengan cepat mencari tempat sembunyi,
"Sial ruangan Alea tidak ada tempat untuk sembunyi!" ucap Mikka geram dan tanpa sengaja Mikka melihat sebuah jendela yang menuju taman belakang, Mikka dengan cepat membuka jendela lalu melompat dan bersembunyi di bawah jendela itu.
'Sretttt'
Alea membuka pintu yang tidak terkunci
"Kenapa kau tidak mengunci ruangan mu?" tanya Robert
"Ck! Kau diam saja" ketus Alea
"Ruangan ku tidak terkunci bukan berarti benda yang ku selipkan di sini tidak aman!" ucap Alea seraya tersenyum smirk dan dia mengambil sebuah kunci kecil yang disembunyikan di bawah kalender.
"Kau tahu Robert ruang terbuka seperti ini tidak akan gampang di curigai..." ucap Alea lagi yang merasa rencana mereka untuk menyembunyikan bukti telah berhasil. Namun tanpa Alea ketahui jika Mikka sedang menguping pembicaraan Alea dengan Robert, Mikka menatap tajam kedua orang yang telah menghancurkan hidupnya itu dan diam-diam Mikka telah mengetahui dimana letak kunci lemari yang sedang dia cari tadi.
"Hahh ku kira Alea sangat pintar...." gumam Mikka pelan
"Nanti malam kita ke sini lagi tepat pukul 8" perintah Alea seraya menyodorkan map hijau yang berisi catatan keuangan namun itu yang telah mereka palsu kan. Robert mengangguk lalu pergi dari tempat itu,
"Hahh Malisha akhirnya kau akan mengalami kehancuran" gumam Alea pelan namun tetap terdengar oleh Mikka.
Mikka mengepalkan kedua tangannya untunglah dia pintar beberapa kali Mikka sudah merekam semua aksi jahat Alea dan Robert.
"Kalian tidak akan bisa mencelakakan ibu ku, karna kalian akan membekam di penjara selamanya!" gumam Mikka dalam hati, lalu Mikka pergi dari tempat itu karna dia sudah mengetahui semuanya.
Tepat pukul 8 malam, Mikka sengaja berpura-pura tidur lebih awal dan mengunci pintu nya meminta kepada papah dan mamah agar tidak mengganggu dirinya malam ini.
Padahal rencana Mikka akan terus menyelidiki Alea dan Robert yang berencana akan melakukan pertemuan di kantor malam ini, Mikka sudah sedari tadi mempersiapkan semuanya sendiri.
"Apapun yang terjadi malam ini aku harus memenjarakan mereka berdua!" pikir Mikka seraya mencek rekaman dan bukti-bukti lain milik Alea dan Robert.
__ADS_1
...Next.......