
"Sssssst, sepertinya orang-orang itu sudah tidak berguna!" gerutu Alexsandro Perdana
"Habisi mereka! Aku tidak ingin menggunakan sampah-sampah itu!!" perintah Alex kepada anak buah nya yang terus memata-matai Cerry, Fara dan seorang pria tua.
"Fara...kenapa teman mu itu berkhianat..." ucap Alex seraya memeluk pinggang Fara yang terdiam kaku tidak berani bergerak.
"Kau tahukan apa akibatnya jika mengkhianati ku..." bisik Alex tepat di daun telinga Fara hingga membuat wanita itu bergidik.
Kembali ke keadaan Cerry di rumah sakit, saat ini wanita itu tengah di rawat namun tidak ada siapapun yang menjaga diri nya. Hanya ada dua orang polisi yang berjaga di depan pintu kamar nya.
Tiba-tiba seorang dokter datang dan berniat ingin mencek kondiri Cerry, dua orang polisi tadi menghentikan langkah dokter tersebut mereka mengkonfir identitas dokter itu dan ternyata dokter tersebut membawa kartu identitas khusus milik rumah sakit tersebut sehingga dia dengan mudah nya memasuki ruang tempat Cerry di rawat.
'Srettt'
Pintu di buka perlahan lalu dia kunci dari dalam,
"Selamat malam nona..." sapa dokter itu dan Cerry hanya mengangguk tanpa menaruh rasa curiga akan kehadiran dokter tersebut.
'Srettttt'
Sebuah pisau bedah keluar dari saku baju sang dokter,
__ADS_1
"Kamu pengkhianat!" ucap dokter itu tepat di hadapan Cerry
'Brukkk'
"Akhhhhhhh"
Cerry memegang tangan dokter yang telah menusuk dirinya tepat di bagian dada,
Sakit sangat sakit! Cerry hampir tidak mampu mengeluarkan suara nya karna mulut Cerry di bekap dan tusukan itu semakin dalam membuat kesadaran Cerry buyar.
'Tiiiiiiitttttttttt'
Keesokan pagi nya sosok mayat wanita di temukan terbaring di lantai dengan bersimbah darah, pelaku membunuh nya dengan pisau bedah. Kejadian ini membuat geger rumah sakit, pasalnya wanita itu sudah di jaga oleh dua orang polisi namun tetap saja pelaku pembunuhan itu bisa lolos.
"Kasus ini tidak main-main..." Alven berujar kepada ketiga teman-temannya.
"Maaf sudah membuat kalian terlibat" sahut Mr.Jony lagi, Mikka dan Fany saling pandang.
"Kami tidak keberatan, bukankah ini sudah kita duga dari awal..." sahut Mikka seraya menepuk pundak Alven dan Mr.Jony
"Apapun yang terjadi, misi kali ini harus kita tuntaskan" ucap Mikka menyemangati.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, mereka kembali bekerja untuk menyelidiki bos mafia itu. Dan pak tua pemilik toko parfum itu juga ternyata anak buah nya si bos mafia, saat pak tua itu di kurung di dalam sel tanpa mereka sadari ketika waktu nya untuk makan ada anak buah Alex yang menyelipkan benda tajam di dalam makanan nya.
"Hahh" pak tua itu terkejut saat melihat satu catatan yang bertuliskan 'Bunuh diri atau di bunuh!' surat ancaman itu membuat pak tua gemetar, dia sadar saat ini dirinya sedang di awasi dan jika tidak melaksanakan perintah maka hukuman untuk nya akan menjadi lebih kejam lagi.
Perlahan pak tua itu mengambil benda tajam dari dalam makanan, ketika para polisi lengah dan tidak memperhatikan pak tua itu. Dia menyayat urat leher nya hingga hampir putus,
'Sretttt'
Sayatan itu cukup dalam, lantai sel langsung banjir darah hingga membuat para polisi kembali terkejut.
Anak buah insfektur Alven langsung menghubungi nya, dan beberapa orang lagi berusaha membantu si pak tua itu. Namun na'as nyawa nya tidak tertolong karna sayatan di leher nya cukup fatal.
Insfektur Alven yang mendengar kabar itu spontan kembali di kejutkan dengan berguguran nya juru kunci mereka,
"Sial!! Rencana kita berantakan!!" gerutu Alven kesal
"Aku tidak menyangka jika anak buah nya bisa senekad ini!" sahut Mr.Jony
"Penjahat itu sangat kejam..." ucap Fany yang mulai ketakutan
Sedangkan Mikka masih diam seraya terus menata pikirannya,
__ADS_1
"Siapa target orang ini selanjutnya??" pikir Mikka yang berusaha menebak isi pikiran lawannya kali ini.
...Next......