
Pukul 7 pagi di kantor polisi sudah begitu ramai oleh orang-orang sekaligus para wartawan,
"Wahh wahh wahh siapa yang kita tangkap ini apakah seorang penjabat atau artis?" tanya insfektur Alven seraya menatap ketiga orang tersangka kasus kejahatan yang belum jelas.
Kemudian ditengah kerumunan orang-orang datanglah sebuah mobil berwarna putih, dan terlihat dua orang wanita keluar dari dalam mobil itu.
Para wartawan dengan cepat mengerumbuni dua orang wanita itu,
"Wahh dia cantik sekali!" puji salah satu wartawan kepada seorang gadis berbaju putih dan bercelana jins yang tentunya itu adalah Mikka Anderlson dan Ibunya Malisha Anderlson.
"Mahh aku tidak suka dengan kerumbunan ini!" ketus Mikka kepada mamah yang juga sedang di teror oleh para wartawan
"Biarkan saja mereka tidak perlu mengatakan apapun di depan publik..." sahut mamah singkat kepada Mikka,
"Menarik jika kasus ini sampai ke publik" gumam Mikka dalam hati yang merasa cukup puas dengan kehidupan nya sekarang.
Kemudian Mika dan ibunya masuk ke kantor tanpa mengatakan apapun kepada publik, walaupun banyak pertanyaan yang wartawan lontarkan kepada mereka.
'Sretttt'
Pintu kantor polisi di bukakan oleh salah satu rekan satu tim insfektur Alven,
"Selamat pagi nyonya Malisha.." sapa insfektur Alven seraya tersenyum ramah
"Selamat pagi juga insfektur Alven" Malisha balik menyapa namun berbeda dengan Mikka yang tampak acuh tak acuh dengan keberadaan insfektur Alven.
"Panggil saya Alven saya nyonya.." ucap insfektur Alven lagi mencoba meluluhkan hati Malisha dengan keramahan dan kesopanan yang dia miliki.
"Baiklah Alven..." sahut Malisha ramah
"Silahkan duduk di sini" ucap Alven lagi dan hanya di angguki saja oleh Malisha, namun tatapan mata Alven masih terpaku pada Mikka mencoba menyelidiki gadis berwajah datar itu.
"Apa kita bisa mulai introgasi nya sekarang?" tanya Mikka yang akhirnya membuka suara nya
"Baiklah..." sahut Alven
__ADS_1
Kemudian mereka duduk di dalam ruang kerja Alven, Mikka, Malisha, Alea, Robert dan Pak Jonatan serta beberapa polisi yang menjaga agar tidak ada yang kabur sebelum introgasi nya selesai.
"Siapa yang akan menceritakan awal dari permasalahan ini?" tanya Alven seraya mencatat dan merekam suara mereka semua ketika di introgasi.
"Saya saja." ucap Mikka yang langsung mengajukan dirinya
"Hehh sejak kapan gadis itu pandai berbicara" gerutu Alea dengan tatapan tidak suka terhadap Mikka
"Baiklah silahkan dimulai..." sahut Alven yang langsung menyetujui nya.
"Aku sudah menyelidiki semua tindakan kejahatan yang Alea lakukan, semua bukti sudah aku kumpulkan dan ku rasa kalian bisa melihat nya sendiri." ucap Mikka seraya menyerahkan rekaman cctv, dokumen penggelapan dana dan rekaman suara tentang rencana Alea dengan Robert. Bukti-bukti itu membuat mamah tercengang,
"Sejak kapan kamu mengumpulkan nya?" tanya mamah tidak percaya
"Sejak aku kembali..." gumam Mikka pelan namun tidak ada yang mendengarnya karna mereka sibuk melihat isi rekaman dan juga mendengarkan rekaman suara itu.
"Bu-bukan, ka-kami tidak melakukan apapun! Itu bohong!" ucap Alea gugup dan ketakutan karna rencana nya terbongkar, namun Alea semakin ketakutan karna langsung di tatap oleh Mikka dengan tatapan yang tajam dan dingin.
"Sial! Gadis ini benar-benar serius!" gumam Alea sangat panik hingga wajah nya menjadi pucat walaupun sudah ditutupi oleh make up tebal.
"Ck sial! Kenapa aku harus ikut terlibat!" gerutu Pak Jonatan saat Mikka menatap orang itu dingin.
"Aku tidak tahu siapa orang tua ini, tapi yang jelas dia ikut terlibat untuk menjatuhkan ibu ku!" gumam Mikka
"Baiklah kalau begitu mari putuskan ke pengadilan atas tindak pidana yang mereka lakukan" sahut insfektur Alven tegas.
"Tunggu!!!" teriak seorang wanita yang langsung masuk kedalam kantor polisi dengan perasaan sangat marah.
"Kalian tidak bisa begitu saja mengatakan jika ibu ku bersalah! Siapa tahu jika gadis ini memalsukan bukti-buktinya!!" ketus wanita itu seraya menunjuk-nunjuk jari tangannya ke arah Mikka.
"Wahh bukankah dia Faradilla Skicher, model majalah yang sedang booming!" ucap salah satu wartawan yang dengan cepat hendak menghampiri wanita itu tapi di cegah oleh polisi yang berjaga di depan pintu.
"Mohon maaf nona Fara kasus ini tetap akan kita angkat ke pengadilan, karna tidak ada tanda-tanda pemalsuan atau editan di setiap bukti yang nona Mikka berikan" sahut insfektur Alven tegas.
"Aku keberatan! Andai saja semua bukti itu palsu, aku akan menuntut balik karna telah mencemarkan nama baik ibu ku dan juga aku!!" tegas Fara yang terlihat sangat arogan, Mikka langsung berdiri berhadapan dengan Faradilla Skicher.
__ADS_1
"Ini dia wanita brengsek yang sudah merebut Welson dari ku, tapi tak apa laki-laki itu sudah lebih dahulu aku buang jadi siapapun sekarang boleh memungutnya." gumam Mikka seraya tersenyum tipis tanpa bicara di depan Faradilla
"Aku penasaran sejak kapan mereka menjalin hubungan?" pikir Mikka lagi masih dalam posisi menatap dingin Fara
"Apa yang di lihat gadis ini!" gerutu Fara dalam hati namun tidak dia utarakan rasa itu karna tatapan Mikka yang sulit di artikan oleh nya.
"Jika bukti ku asli maka aku akan pastikan ibu mu membusuk di penjara!" ucap Mikka datar tepat di daun telinga Fara yang langsung terkejut dengan ucapan Mikka itu dan membuat dia sangat tegang.
"Brengsek kau!!" teriak Fara seraya ingin menampar Mikka namun tangannya langsung di cegat oleh seseorang.
"Jangan membuat keributan di kantor ku! Atau kau juga ingin menjadi tahanan?!" tegas insfektur Alven seraya mencengkram kuat tangan Fara membuat Fara tidak berkutik lalu dengan paksa melepaskan tangannya yang di cengkram oleh insfektur Alven.
Suasana menjadi sunyi karna ketidak nyamanan atas apa yang terjadi, namun berbeda dengan Mikka dia terlihat tenang-tenang saja.
"Gadis yang menarik tampak tenang di permukaan, namun tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya itu...." sekali lagi insfektur Alven tampak kagum dengan Mikka yang berekspresi datar dalam hal apapun itu.
"Baru kali ini aku melihat seorang gadis dengan wajah balok ice.." gumam nya lagi hingga tanpa sadar tersenyum karna isi pikiran nya sendiri.
"Pak?" bisik salah satu rekan insfektur Alven membuat lamunannya terhenti seketika,
"Kenapa?" tanya insfektur Alven lalu rekannya itu membisikkan sesuatu kepada nya. Insfektur Alven tampak mengangguk-anggukan kepala lalu menatap semua orang dengan datar,
"Kasus ini tidak akan di angkat ke pengadilan" ucap insfektur Alven, membuat semua orang melongo tapi berbeda dengan Mikka dia seolah-olah telah paham apa yang terjadi.
Sesekali Insfektur Alven menatap ke arah Mikka melihat bagaimana reaksi gadis itu, namun untuk yang kesekian kalinya wajah gadis itu tetap sama.
"Bukti-bukti itu kuat dan lengkap maka tidak ada yang perlu di perdebatkan lagi, karna itu kami sudah mendapatkan surat keputusan penangkapan terdakwa Alea, Robert dan Jonatan yang akan menjalani 15 tahun perjara!" ucap tegas insfektur Alven seraya menyerahkan surat penangkapan membuat Alea, Robert dan Jonatan terdiam lemas dengan wajah pias.
Mikka tersenyum sinis menatap ketiga nya, namun senyuman itu hampir tidak terlihat dan hanya orang yang bermata jeli saja bisa melihat senyum Mikka yang sangat tipis.
"Akhirnya aku bisa kembali tenang...." gumam Mikka dalam hati seraya menutup mata nya singkat dan pemandangan itu terlihat sekilas oleh Alven.
"Rasa sakit seperti apa yang pernah dia derita hingga mengubah seluruh pandangannya??" pikir Alven
"Apakah ini yang namanya mati rasa??"
__ADS_1
...Next......