
Mikka mengambil handpone didalam tas nya,
"Astaga aku lupa menghidupkan nya!" gerutu Mikka saat melihat handpone nya mati dan sekarang tidak mau menyala lagi
"Apa sudah habis batrai?" tanya Mikka pada diri sendiri sambil mencek hp nya itu.
"Ck! Mamah pasti khawatir kalau aku gak pulang..." gerutu Mikka sambil menampol dahi nya sendiri, kemudian Mikka memanggil taxi didekat situ dan dengan cepat pulang ke rumah.
Hampir setengah jam Mikka baru sampai tapi dirumah nya tidak ada orang,
"Lohh mamah kemana?" tanya Mikka kemudian dia membuka pasword rumah nya dan langsung mencarget hp nya. Saat hp itu hidup berpuluh-puluh panggilan tidak terjawab dari mamah, langsung saja Mikka menelpon balik mamah.
Mamah yang sedang dijalan melihat Mikka menelpon dengan cepat mengangkat nya,
"Halo Mikka kamu dimana?" tanya mamah terdengar khawatir
"Mikka sudah dirumah mah.." jawab Mikka
"Huhhh kamu ini...mamah pulang dulu kalau begitu, tunggu dirumah!" perintah mamah
"Hmmm iya" sahut Mikka singkat
Kemudian telpon itu dimatikan, dan Mikka segera membersihkan diri ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian sebuah mobil memasuki pekarangan rumah, terlihat mamah keluar dari dalam mobil itu dengan sedikit tergesah-gesah.
Namun tidak lama setelah itu juga sebuah mobil hitam ikut memasuki rumah,
"Papah..." ucap mamah pelan
"Kenapa di luar rumah mah?? Mikka mana?" tanya papah, belum sempat pertanyaan itu dijawab oleh mamah. Mikka yang sudah mandi dan sudah bersih langsung menyambut kedua orang tua nya itu,
"Selamat datang papah mamah..." sambut Mikka disertai seutas senyum kecil
"Mikka..." ucap papah langsung merangkul anak nya itu dan membawa masuk ke dalam rumah, sedangkan mamah dicueki dan tertinggal di belakang mereka.
__ADS_1
Mikka duduk di ruang makan bersama papah dan mamah, satu persatu wajah itu ditatap oleh Mikka.
"Ternyata aku pernah sebahagia ini, sebelum tragedi itu terjadi..." gumam Mikka dalam hati, ada kesedihan didalam hati yang ia pendam dan tidak mampu Mikka ungkap kan. Karna semakin rasa sakit itu diungkapkan, maka akan semakin terpukul pula perasaan Mikka dalam menghadapi kenyataan.
Mamah yang melihat wajah teduh Mikka berubah seperti awan mendung yang dingin tidak seperti biasanya, namun mamah hanya diam saja tidak mau mempertanyakan kepada anak gadis nya itu saat sedang makan takutnya nafsu makan nya menjadi berubah.
"Mikka ayo makan yang banyak" ucap papah
"Mikka sudah kenyang pah..." sahut Mikka singkat
"Ayolah tambah sedikit lagi.." ucap papah seraya menambahkan sedikit sup dan nasi ke dalam piring Mikka
"Papah...." rengek Mikka membuat papah dan mamah nya tertawa menatap Mikka yang sedikit merengek seperti anak kecil.
Malam itu mereka menikmati makan malam yang indah disertai canda tawa yang renyah, dan tanpa sadar mamah melupakan Hanah yang masih mencari Mikka.
"Kemana tu anak" gerutu Hanah yang masih menyetir mobil nya mencari Mikka, beberapa kali Hanah menelpon Malisha mamah nya Mikka tidak diangkat-angkat.
"Ck! Kenapa Malisha tidak mengangkat telpon ku juga!" gerutu Hanah kesal
Beberapa menit kemudian Hanah sampai didepan pagar rumah Mikka, terlihat ada dua mobil hitam dan putih terparkir didepan.
"Sepertinya mereka sudah pulang semua" gumam Hanah sambil menekan bel di pagar itu karna pagar rumah akan terbuka jika menggunakan kata sandi yang Hanah saja tidak mengetahui nya. Suara bel menggema didalam rumah Mikka,
"Sepertinya ada orang didepan pagar..." ucap Mikka
"Biar Mikka saja yang membukanya..." ucap Mikka lagi seraya berlari membuka pintu rumah lalu menuju pagar rumah mereka.
Terlihat seorang wanita tengah berdiri menatap Mikka,
"Bibi Hanah??" sapa Mikka
"Sayang kamu sudah pulang, mamah mu tadi terus menelpon ku untuk mencari mu syukurlah jika kamu sudah pulang..." ucap Hanah terlihat khawatir, Mikka dengan cepat membuka pagar rumah.
"Masuk dulu bi.." ajak Mikka
__ADS_1
"Bibi mau pulang saja, ini sudah malam bibi ke sini hanya untuk memastikan Mikka sudah pulang atau belum..." jelas Bibi Hanah,
"Terima kasih bi..." ucap Mikka yang langsung memeluk Hanah
"E-ehhh" ucap Hanah bingung
Mikka menatap wajah cantik bibi Hanah nya itu seraya tersenyum tipis
"Terima kasih sudah membantu ibu ku..." ucap Mikka singkat, Bibi Hanah hanya memegang pundak Mikka lalu pergi dari tempat itu.
Mikka menatap mobil Bibi Hanah berlalu pergi dari tempat mereka,
"Terima kasih bi, sudah membantu Mikka saat itu..." ucap Mikka pelan hingga tanpa sadar dia sedikit meneteskan air mata, Mikka teringat ketika Bibi Hanah terus membela dirinya ketika ditindas oleh Alea. Namun ada hal yang masih mengganggu pikiran Mikka, kenapa sikap papah berubah setelah mamah meninggal? Apakah karna terpukul? Tapi kenapa dia menikah dengan Alea yang pada akhirnya malah memberikan kehidupan yang sangat buruk kepada Mikka.
Mikka langsung menggelangkan kepala nya, mencoba merangkai setiap peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup nya.
"Setelah mamah meninggal, satu tahun kemudian papah menikahi Alea lalu Welson berselingkuh dengan kakak tiri ku Fara hmmmmm..." pikir Mikka yang masih melamun didekat pagar rumah hingga tanpa sadar mamah menghampiri dirinya
"Mikka kamu kenapa masih disini? Siapa yang datang tadi?" tanya mamah penasaran
"Bibi Hanah mah..." ucap Mikka singkat
"Astaga aku lupa memberi tahu kepada nya kalau kamu sudah pulang..." gumam mamah tampak terkejut
"Ya sudah ayo kita masuk dulu..." ajak Mikka dan mamah hanya mengangguk saja.
Setelah mereka masuk Mikka langsung ke dalam kamar nya.
"Pah, mah, Mikka ke kamar dulu yaaa selamat malam..." ucap Mikka
"Iya sayang selamat malam..." sahut papah dan mamah bergantian.
Mikka duduk didepan leptop nya dan memeriksa riwayat pesan milik Alea dan juga Mr.R atau Mr.Robert bendahara di kantor mamah.
"Mungkin aku harus fokus kepada dua orang ini terlebih dahulu, setelah itu fuzzle-fuzzle kehidupan yang aku cari pasti akan terangkai sedikit demi sedikit..." gumam Mikka seraya mengotak atik leptop nya itu.
__ADS_1
...Next.......