
"Akhhhhhhhhhhh aaaaaaa lepaskan!!! Lepaskan aku!!" teriak seorang wanita seraya meronta-ronta dan mengamuk kepada semua orang.
"Fa-fara ini aku.." bujuk Welson seraya terus membuat Fara ingat kepada diri nya
"Apa yang terjadi pada nya sus?" tanya Welson kepada suster yang juga ikut memegangi tubuh Fara
"Sepertinya nona Fara frustasi tuan" jawab salah satu suster menebak kondisi Fara saat ini.
Tidak lama kemudian dokter mendatangi ruangan tersebut dan memeriksa keadaan Fara,
"Tuan Welson mari ke ruangan saya" ucap dokter tersebut membuat Welson gugup dengan hasil kesehatan Fara.
"Saya harap tuan bisa menerima keadaan nona Fara saat ini, karna dia mengalami Post Traumatic Stress Disorder atau yang biasa dikenal dengan sebutan PTSD yaitu kondisi masalah mental yang terjadi karena seseorang mengalami kejadian traumatis. Penyebab PTSD itupun karna kecelakaan, pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan lainnya yang membuat korban merasa tertekan." jelas dokter membuat wajah Welson pias seketika.
"Itu artinya Fara mengalami penyakit mental?" tanya Welson gugup
"Iya" sahut singkat dokter
"Apa dia bisa sembuh?" tanya Welson lagi
"Jika di lihat dari kondisi nya saat ini tidak memungkinkan jika nona Fara akan kembali seperti semula" sahut dokter yang merasa tidak yakin akan kondisi Fara
"Mustahil jika aku menikah dengan Fara jika begini" batin Welson
"Aku tidak akan hidup selamanya dengan wanita tidak waras itu" gumam Welson lagi dalam hati dengan wajah pucat dan pias karna merasa malu dan takut.
Di sisi lain, Alven sedang berhadapan dengan Alex yang merupakan buronan nya selama ini. Namun hal yang tidak terduga Alex juga masih memiliki hubungan darah dengan dirinya.
"Bodoh!" gerutu Mikka saat melihat wajah polos Alven yang tersenyum kikuk di hadapannya, Alven menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal persis seperti orang bodoh di hadapan Mikka. Namun sikap itu hanya karna Alven ingin menghibur Mikka, bahwa apapun yang terjadi 'semuanya akan Baik-baik saja'.
Mikka masih dalam keadaan berlutu, mata Alven tertuju ke arah tabung yang sudah berhenti di isi air.
"Mungkin aku hanya memiliki waktu lima menit untuk menyelamatkan Mikka dan ibu nya" Alven membatin seraya mencari cara agar Alex lengah lalu kemudian Mr.Jony yang akan beraksi.
__ADS_1
"Lepaskan Mikka! Karna aku yang harus nya berhadapan dengan mu" ucap Alven dengan tatapan dingin nya ke arah Alex.
Alex tersenyum smirk menatap Alven dengan penuh kebencian,
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Alex seraya menodongkan senjata nya tepat di rahang Mikka
"Apa mau mu!" gertak Alven lagi berusaha untuk bertukar posisi
"Hah, hahahahaha!" suara tawa Alex kembali pecah hingga air mata jatuh karna tawa nya yang terlalu keras.
"Kau bertanya apa mau ku?" ucap Alex mengulang pertanyaan Alven tadi
"Aku mau kebahagiaan ku! Aku mau ibu ku kembali! Aku mau semua hak-hak ku yang telah kalian renggut!" tegas Alex dengan wajah yang seketika berubah menjadi dingin
"Dan juga aku mau kalian mati!!" teriak Alex seraya membalikkan senjata nya ke arah Alven dan menembak tepat di perut pria itu.
'Dorrr!!!'
Suara tembakan membuat mereka semua terkejut,
'Dorr!!'
Suara tembakan kembali terdengar dan mengenai pergelangan Alex sehingga pistol nya terjatuh ke tanah.
Untung saja Mr.Jony bergerak cepat jika tidak Alven akan kembali tertembak oleh Alex, saat kesempatan sudah di dapat Mikka juga bergerak cepat dia dengan sigap nya memukul Alex lalu menendang bagian perut pria itu hingga Alex terlempar ke dinding.
Kemudian Mikka memutar tubuh nya dan menjatuh kan Alex dengan sekali banting, Mr.Jony keluar dari persembunyian lalu mengambil bargol dan dengan cepat mengunci Alex tanpa memberikan peluang lagi untuk nya.
"Alven!!" teriak Mikka mencoba menyadarkan Alven agar tidak pingsan.
Darah bercucuran dari tubuh Alven dan Mikka berusaha menutup luka tembakan tersebut.
"Alven bertahanlah" ucap Mikka dengan rasa cemas saat melihat wajah Alven yang memucat.
__ADS_1
Tiba-tiba....
'Plokk!! Plokkk! Plokk!'
"Sungguh pemandangan yang manis!" teriak Alea dari atas balkon membuat semua mata tertuju pada nya karna ada sosok wanita yang lemah di seret oleh Alea, sosok itu adalah ibu Mikka.
Mikka mengepalkan tangan nya karna sudah muak akan drama wanita itu,
"Kalian semua kalah!" ucap Alea lagi sambil menyeringai, Alea menodongkan pistol ke arah Malisha ibu nya Mikka kemudian akan mendorong nya hingga jatuh ke lantai bawah.
'Tak! Tak!Tak!'
Suara langkah kaki seorang wanita muda di sertai nafas yang terus ngos-ngosan, wanita muda itu akan menghentikan kekacauan ini.
"Tu-tunggu!!!" teriak nya dengan keras membuat Alea menghentikan aksi nya
"Fany..." ucap Mr.Jony pelan namun Fany tetap mendengar nya dan dengan senyum nya yang merekah menatap pria itu.
"Nona Alea anak mu Fara telah mengalami kritis" ucap Fany membuat Alea mematung sebentar
"Pria bajingan itu telah menyiksa Fara hingga Fara mengalami penyakit mental!" jelas Fany membuat tubuh Fara bergetar hebat seraya menatap Alex yang kini tersenyum sinis ke arah Alea.
"A-apa benar?" ucap Alea dengan nada suara serak
"Iya Alex tidak memberikan kehidupan yang layak untuk putri mu! Dia melecehkan dan melakukan kekerasan fisik!" ucap Fany tegas
"Akhhhh anak ku!! Dasar pria bajingan!!" gertak Alea seraya melepaskan Malisha dan mendatangi Alex lalu menarik pelatuk pistol yang dia pegang dan 'Dorrrr' suara tembakan menggema di seluruh ruangan.
Tanpa sempat menghentikan Alea sudah menembak Alex tepat di kepalanya, Mr.Jony menangkap Alea dari punggung belakang nya berusaha menghentikan Alea untuk kembali menembak Alex.
"Pria brengsekkkk!!!" teriak Alea yang kini terus mengamuk saat tau kehidupan putri nya tidak sesuai ekspektasi awal nya.
'Kau tahu kawan! Bagi seorang ibu, anak nya itu adalah salah satu kelemahan yang tidak bisa dia abaikan!'
__ADS_1
...Jangan Lupa Next.......