
"woaah ini sangat ramai!" ucap Jean dengan kagum.
"benar, orang-orang ini mereka seperti sekumpulan semut yang mengerumuti gula... sangat banyak orang membuat ku sangat gugup" kata Joan tubuh nya sedikit mengeluarkan keringat dingin karena takut.
jean juga sedikit takut mereka berdua tak menyangka akan ada banyak orang disini.
walaupun penyakit mental mereka sudah lebih baik tetapi bukan berarti mereka tidak takut berinteraksi dengan banyak orang.
terkadang seperti saat ini melihat ribuan orang di satu tempat yang sama membuat mereka takut.
entah apa yang membuat mereka takut dan gugup namun semenjak kejadian dulu. mereka tak kan sanggup jika menghadapi orang asing (dalam artian berbicara kepada orang yang tidak di kenal). terlalu lama mengurung diri lah yang membuat mereka seperti ini.
zizi yang sudah mengetahui keadaan ke dua bocah kembar itu langsung menepuk-nepuk punggung ke dua bocah kembar tersebut.
merasakan sebuah tangan mungil menyentuh mereka. jean dan joan menengok ke belakang dan melihat zizi tersenyum menenangkan seakan berkata ' tidak ada yang harus di khawatir kan ada aku disini'.
jean dan joan membalas zizi tersenyum lalu saling berpandangan sebelum berteriak bersemangat.
"semangat!!!" teriak kedua nya yang cukup menarik perhatian banyak orang yang berada disana.
carl menepuk dahi nya sedangkan sambil menggelengkan kepala melihat tingkah ke dua bocah kembar itu. sedangkan zizi tersenyum biasa saja dan mark tak bereaksi apa pun.
"tuan mari kita masuk dan tunjukan kepada mereka kemampuan kita" kata Joan sudah berhasil mengatasi kegugupan dan ketakutan nya.
"benar mari kita tunjukan kepada mereka siapa pemenang yang sebenar nya!" kata Jean tak kalah semangat dari kembaran nya.
"ayo!" ucap ke dua nya sambil menyeret tangan zizi ke dalam kerumunan.
pameran ini akan di adakan selama 2 hari. hari pertama merupakan perlombaan sedangkan hari ke dua merupakan pameran.
__ADS_1
zizi tak buang waktu dan langsung menuju ruangan untuk perlombaan yang akan di ikuti oleh nya. lomba tersebut lomba sistem kederhana untuk membersih kan komputer atau yang lain nya.
meskipun sederhana tetapi justru perlombaan ini yang banyak di ikuti perusahaan terkenal.
"permisi bisakah kami minta formulir pendaftaran nya" tanya Carl
petugas pendaftaran itu langsung memberikan carl kertas formulir sedangkan zizi dan yang lain nya menunggu carl.
zizi duduk di sebelah seorang pria paruh baya. pria itu memperhatikan setiap gerak gerik zizi sejak pertama kali melihat zizi bersama teman-teman nya di luar gedung.
zizi yang di perhatikan dari tadi hanya diam. tetapi tidak dengan joan dan jean yang duduk di sebelah zizi. mereka sangat risih dengan pandangan pria itu yang sangat intens kepada zizi.
"tuan apa yang salah dengan nona kami?" tanya Joan
pria itu yang tadi nya fokus melihat zizi pun terhenyak dan refleks melihat ke arah joan.
hehehe... maaf kan saya nona. sungguh saya tidak bermagsud apa-apa" ucap pria tersebut canggung.
wajah pria itu sedikit memerah karena malu ketahuan memperhatian seorang gadis remaja. untung saat rekan nya tidak ada disini saat ini jika tidak bisa di olok-olok oleh mereka diri nya.
zizi dan yang lain nya yang mendengar tentang seorang yang mirip dengan zizi menjadi penasaran tetapi tak menghiraukan nya.
"tidak apa-apa tuan... maaf kan mereka tidak sopan kepada anda. perkenalkan nama ku lin mingzi tuan dapat memanggil ku zizi" kata Zizi memperkenalkan diri nya sambil mengulur kan tangan.
pria paruh baya itu terkesan dengan sopan santun zizi. biasa nya anak muda terkesan sangat sombong kepada generasi tua seperti nya. mereka semua sudah terpengaruh dengan budaya luar yang sembarang dan bebas. membuat budaya mengormati kurang di terap kan oleh mereka.
pria itu langsung menjabat tangan zizi.
"nama saya liu jiang, panggil aku paman liu dan maaf kan saya tentang yang tadi" ucap Liu jiang
__ADS_1
"tidak masalah paman liu. itu hanya kesalah pahaman tidak usah di perpanjang" kata Zizi sambil tersenyum kecil.
"nona zizi apa yang sedang kau lakukan disini? sangat jarang remaja tertarik melihat lomba seperti ini" tanya Liu jiang
"kami bukan hanya melihat, kami sedang menunggu teman kami mengisi formulir pendaftaran paman. perkenalkan namaku jean dan ini kembaran ku joan. dan kakak yang datar di sebelah kami nama nya mark. kami adalah orang kepercayaan nona zizi"ucap Jean
"wah benar kah? sudah lama sejak anak muda seperti kalian mengikuti perlombaan ini. paman doa kan semoga kalian bisa mendapat kan hasil yang terbaik" kata Liu jiang.
"terima kasih paman. kalau paman sedang apa di sini?" tanya Zizi
"paman hanya menonton. sistem keamanan perusahaan kami perlu di perbaharui dan kerja sama dengan perusahaan yang memprogram sistem tersebut sudah berakhir. jadi paman ke sini melihat... mungkin saja ada yang bagus" kata Liu jiang.
mereka mengobrol dengan akrab, zizi yang sangat ramah dan tau sopan santun kepada orang yang lebih membuat liu jiang tak sungkan mengobrol dengan zizi.
sedangkan disisi lain liu wei sedang melihat hal ini dengan seksama. rencana nya liu wei ingin duduk di sebelah zizi. melaksanakan rencana pendekatan nya. tetapi yang tidak liu wei tau rencana nya malah batal oleh ayah nya sendiri.
Liu jiang merupakan ayah liu wei. pemimpin kerajaan bisnis keluarga liu.
tuan liu memiliki sifat yang sama dengan liu wei. yang ramah di depan tapi cuek di belakang.
dan yang paling tuan liu tidak sukai adalah orang bar-bar. orang yang tak tahu sopan santun. apalagi tuan liu sering mengkritik tindakan anak muda sekarang yang terpengaruh oleh budaya luar. tidak mengerti etika dan hanya tau membentak tanpa berfikir panjang.
liu wei sangat takut jika zizi bersikap bar-bar di depan ayah nya. yang emosi nya suka tak terkendali melihat seorang yang tidak memiliki sopan santun.
liu wei tidak ingin saat nanti berhasil medapatkan zizi hubungan mereka malah tidak di setujui oleh ayah nya.
rasa akan sangat menyakit kan jika hal itu terjadi. liu wei sudah sedikit tau tentang sifat zizi. gadis ini menganut aliran sengol bacok. alias susah untuk di dekati, dan cenderung menutup diri.
tapi yang tidak liu wei sangka adalah ayah nya dan zizi mengobrol akrab bahkan tertawa membuat liu wei bingung dengan apa yang terjadi sebenar nya.
__ADS_1