
Keputusan Ameera disetujui si dokter yang menjamin semua aman terkendali. Gadis itu akhirnya menetap di rumah sakit tetapi karena jadwal dokter yang menangani cukup padat sampai sore hari, maka pemeriksaan akan dilakukan pada malam harinya. Sehingga mau, tak mau harus berdiam diri di dalam ruangan yang sudah ditetapkan.
Menghilang dari peradaban walau hanya sesaat membuat Ameera menikmati kesendirian tetapi hatinya tak tenang. Entah kenapa tiba-tiba mengingat Zoya yang pasti selalu merindukan dirinya. Tatapan mata terus mengedarkan pandangan hingga tak sengaja melihat kalender di sisi barat yang terpasang di dinding dekat poster pemandangan alam.
"Astagfirullah," Ameera terkejut hingga langsung menepuk keningnya sendiri, "Kenapa aku lupa tanggal? Bagaimana dengan Zoya. Dimana ponselku," tangannya sibuk mencari si benda pipih tetapi terlalu panik hingga lupa ia tak membawa ponsel karena pergi bersama Lee.
Kebingungan yang melanda membuat Ameera hanya fokus pada kesibukannya sendiri. Gadis itu sampai tidak menyadari ada yang datang membuka pintu tanpa permisi. Langkah kakinya berjalan pelan menghampiri sang gadis yang tampak tidak memiliki fokus sama sekali.
Posisi yang membelakangi membuatnya menyergap tubuh Ameera dengan tangan melingkar erat di perut wanita itu, "Assalamu'alaikum, kesayanganku."
Deg. Detak jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Suara lembut nan familiar mengubah rasa khawatir menjadi lega bersyukur. Lirikan mata turun ke bawah memperhatikan tangan putih dengan cincin setengah hati yang melingkar di jari manis tangan kanan. Cincin yang dijadikan sebagai tanda persaudaraan.
"Waalaikumsalam, Bungaku. Kemarilah, peluk aku dari depan."
Kebersamaan kakak beradik tampak begitu hangat melepaskan rindu yang terpendam. Pelukan erat dengan kecupan penuh kasih sayang membuat keduanya sibuk tenggelam dalam dunia sendiri hingga lupa masih ada orang lain yang menatap tanpa ekspresi berdiri di depan pintu.
Lee, pria itu pergi meninggalkan Ameera dan melakukan tugas dari tuan muda. Semua yang terjadi juga karena hasil laporannya yang mengatakan Ameera ingin pergi ke asrama Vaisali. Hal itu menjadikannya melakukan pencarian dadakan meski beberapa anak buah sudah ditugaskan untuk mengawasi satu-satunya anggota keluarga istri baru sang majikan.
Tak ingin mengganggu acara reuni. Lee pergi lagi tetapi kali ini hanya keluar menuju ruangan dokter yang merawat Ameera. Pria itu tidak ingin ada masalah dikemudian hari dan harus sangat teliti apapun yang berkaitan dengan istri tuan muda. Sebenarnya bukan kewajiban melainkan tanggung jawab pekerjaan.
Ruang Dokter Sashi Atmaja spesialis kandungan. Wanita lajang yang berusia dua puluh lima tahun itu memiliki gelar Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi atau dikenal juga Obgyn serta dokter kandungan.
Dimana seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam kesehatan reproduksi wanita, termasuk menstruasi, kehamilan, persalinan, dan menopause. Artinya, selain memeriksakan kandungan, Obgyn juga memiliki keahlian untuk mendiagnosis dan merawat wanita dari segala usia dan profil, mulai dari pubertas hingga dewasa.
__ADS_1
Selanjutnya adalah Obgyn yang menjadi konsultan atau ahli endokrin dan fertilitas. Dokter yang bergelar Sp. OG-KFER ini dapat diandalkan untuk konsultasi medis terkait infertilitas dan kelenjar serta hormon dari sistem endokrin.
"Siang, Dok. Boleh masuk?" tanya Lee tanpa mengetuk tetapi langsung masuk membuat si dokter yang baru saja menyelesaikan laporan mengalihkan perhatian kearahnya.
Senyum hangat menyambut pria yang selalu bertindak sesuka hati, "Kaku bener kamu, Lee. Masuk saja, emang siapa yang berani melarangmu berkeliaran di rumah sakit?"
"Ada, tapi jangan basa-basi. Katakan saja bagaimana hasil laporannya." jawab Lee seraya menutup pintu yang juga sengaja dikunci dari dalam.
Langkah kaki berjalan mendekati meja kerja Sashi yang membuat wanita itu semakin tersenyum lebar. Keduanya memang akrab sejak kenal dua tahun yang lalu. Hanya saja, kedekatan mereka tak seorangpun tahu karena sengaja dibiarkan tersembunyi. Semua karena satu alasan yaitu pekerjaan masing-masing.
Lee menarik kursi, lalu duduk menghadap ke arah Sashi. Tatapan mata serius menatap wanita yang juga membalasnya, "Sampai kapan kamu melihatku seperti itu? Aku perlu hasil laporannya." tegur Lee bersambut kekehan Sashi.
Wanita itu menarik laci paling bawah yang merupakan tempat khusus dari file keluarga Mahendra. Jangan salah sangka, meski baru menjadi dokter selama empat tahun. Pasiennya bukanlah orang sembarangan meski begitu bukan berarti menolak pasien lain. Hanya saja pihak yayasan selalu merekomendasikan ia ketika ada keluarga konglomerat yang ingin melakukan konsultasi.
Tatapan mata masih saling terpaut tanpa ingin melepaskan diri. Lee mengubah posisi duduknya, kemudian melipat kedua tangan bersedekap. Melihat itu, Sashi beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan memutari meja kerja. Ditariknya kursi sebelah Lee dan duduk dengan tenang tanpa rasa takut.
"Wanita itu membutuhkan perawatan intensif beberapa waktu agar siap mengandung. Program kehamilan harus diiringi dengan kesehatan baik dari luar maupun dari dalam, terutama tekanan batin. Hari ini pemeriksaan masih aman tapi kurasa moodnya naik turun karena banyak pikiran.
"Dari laporan pemeriksaan menyatakan wanita itu terkena endrometritis. Penyakit yang menyerang bagian dalam. Dia memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang agar bisa ditangani tepat waktu. Ya, hanya seperti itu, aku akan melakukan yang terbaik agar semua berjalan lancar." jelas Sashi begitu singkat, padat tanpa ada pengulangan kata.
Lee paham dengan penjelasan Sashi tapi sekarang bagaimana caranya melaporkan hal tersebut pada tuan muda? Jika datang sekedar mengatakan beberapa bait kata masalah tanpa solusi. Bisa jadi kepalanya berakhir di penggal. Terkadang ia sendiri heran kenapa betah bekerja sebagai kepala bodyguard.
"Apa ada cara lain agar dia bisa cepat hamil? Apapun itu, Sashi." tanya Lee mencoba bernegosiasi. Padahal anak merupakan rezeki dari Sang Pencipta.
__ADS_1
Sashi tersenyum getir. Sebagai wanita ia ikut prihatin karena Ameera terjebak dalam gemerlap dunia yang fana dengan atas nama cinta. Kehidupan sudah rumit tetapi semakin rumit ketika salah memilih pasangan. Seperti dirinya yang mulai kehilangan akal karena selalu berusaha memenuhi keinginan Lee.
"Pemeriksaan nanti akan ada sejumlah prosedur yang dapat dilakukan oleh spesialis obstetri dan ginekologi sebagai konsultan fertilitas dan endokrin atau yang disebut fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung, Inseminasi Intrauterin/Inseminasi Buatan (IUI), Suntik hormon hCG, dan sebagainya.
"Lee, minta tuan muda untuk sabar dan memberikan kebahagiaan pada istrinya. Buat wanita itu selalu dalam mode tenang dan nyaman agar proses penyembuhan berlangsung lancar. Untuk saat ini hanya itu yang bisa dilakukan."
Tahu rasanya serba salah? ya seperti keadaannya yang terjebak. Jujur saja pekerjaan semakin berat ketika Ameera datang memasuki kehidupan tuan muda. Tanggung jawab yang entah akan seperti apa, lalu di tambah pekerjaan lain yang memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Andai bisa memilih, maka ia berharap hidup sebagai seorang petani di pedesaan.
Akan tetapi hidup sebatang kara membuatnya enggan berdiam diri di kota kelahiran. Jadi bekerja dengan part sibuk yang mengubah seluruh jejak perjuangan menjadi pundi uang tanpa keluhan. Jangan tanya soal gaji karena semua bisa dibeli meski bukan kualitas pertama.
Sejak menjadi bagian dari para pekerja di kediaman Ryan Mahendra, hidup lebih mudah untuk melakukan sesuatu karena memiliki akses yang sengaja diberikan agar tugasnya bisa dikerjakan semaksimal mungkin. Terdengar memanfaatkan tapi nyatanya tidak karena itu fasilitas yang pantas untuk seorang kepala bodyguard sekaligus tangan kanan seorang tuan muda.
Dirasa sudah cukup informasi yang di dapat, Lee beranjak dari tempat duduknya. Akan tetapi tangannya tertahan, "Kita di rumah sakit, jangan aneh-aneh."
"Apanya yang aneh?" tanya Sashi ikut bangun hingga keduanya berdiri sejajar.
Tatapan mata masih saling terpaut menghantarkan kerinduan dari rasa yang terpendam. Ikatan hati akan selalu mengalir tanpa diminta, apalagi dipaksakan. Seperti sentuhan manja dari tangan yang berkelana menyatukan kedua bibir tanpa kata. Pagutan tak terelakkan mendekatkan keduanya menghapus jarak yang tersisa.
Deru napas saling berebut mencoba kembali tenang begitu bibir terlepas dari rampasan. "Gadis nakal, siapa yang mau tanggung jawab malam ini?" Lee mengeratkan tangannya merengkuh pinggang Sashi yang selalu membius tanpa perhatian.
"Datang saja padaku, bukankah kamu harus menjaga nona muda? Jadi kita bisa bersenang-senang sedikit, bagaimana?" tawar Sashi dengan kerlingan mata menggoda Lee yang kembali meraup bibirnya mencoba menguasai rasa yang ia persembahkan.
Hubungan tak selalu menjadi ikatan dalam kepastian. Terkadang beberapa hubungan hanya sekedar untuk senang-senang. Seperti yang dilakukan Lee bersama Sashi, keduanya menikmati masa muda tanpa memikirkan masa depan. Sementara di sisi lain kebahagiaan mengusai hati membuat wajah sepasang kekasih dipenuhi kebahagiaan dengan momen romantis yang menyatukan rasa.
__ADS_1
"Rindu denganmu sama seperti rinduku menatap alam semesta. Sungguh aku bersyukur memilih pria terbaik sedunia menjadi pendamping hidupku hingga sisa umurku nanti. I love you forever, always be mine." ucapnya tanpa melepaskan genggaman tangan dengan tatapan mata fokus ke depan melihat birunya langit dan juga gugurnya dedaunan tertiup angin.