
Sejatinya kebahagiaan itu sederhana. Tidak ada kata sulit hanya saja berbalik pada keinginan hati yang pastinya tidaklah sama. Setiap raga yang bernapas memiliki ambisi, ada pula yang menikmati rasa syukur tanpa mengeluh. Pada intinya, bahagia itu tergantung pada diri kita sendiri.
"Ratuku, apa kamu tidak merindukan mereka?" Ryan bertanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Laura.
Mereka yang tak lagi bisa dipandang karena suatu kejadian mengerikan. Kisah yang menjadi awal dari pertemuan dua insan dalam kesedihan hati nan mendalam. Semua itu mengingatkan akan masa pilu dalam suka yang tak kunjung terobati. Kebersamaan yang saling menguatkan tanpa disadari.
Kisah itu bukanlah kisah sederhana. Dimana kehidupan hanya tentang mencari nafkah, lalu istirahat dengan tenang. Keluarga Atmaja merupakan salah satu pebisnis yang cukup dikenal sebagai pengusaha suku cadang mesin kendaraan dari berbagai negara. Bisa dikatakan termasuk keluarga berada.
Keluarga itu beranggotakan empat orang. Tuan dan nyonya Atmaja dengan kedua anak yang terpaut usia dua tahun yaitu Laura si gadis putri bungsu dan juga Laurent si putra anak sulung. Keluarga yang harmonis tetapi karena masalah bisnis mengubah kehidupan menjadi neraka yang datang merenggut kebahagiaan.
Semua bermula ketika Tuan Atmaja mendapatkan pemesanan borongan dari sebuah perusahaan tetapi surat kontrak yang ditandatangani merupakan bentuk lain dari pemerasan. Sebagai pebisnis jujur, ayah Laura memilih jalan damai setelah melakukan sidang di pengadilan.
Namun satu laporan yang dibuat pria itu justru menjadi akhir kehidupan seluruh anggota keluarga Atmaja. Dimana keluarga itu mengalami pembantaian di malam sidang pengadilan terakhir yang bisa dipastikan akan menghapus noda dari nama tuan Atmaja dalam dunia bisnis.
Pada malam itulah jejak keluarga Laura tidak ada lagi karena rumah juga dibakar hingga hanya menyisakan serpihan debu pengantar duka. Hanya saja para pembantai tidak menyadari jika putri bungsu keluarga Atmaja tidak ada di rumah. Gadis itu memang pulang pagi setelah menginap di rumah teman.
Gelapnya langit dengan arak awan hitam menetapkan luka sayatan begitu dalam membuat Laura terdiam membatu menatap nanar jejak terakhir keluarga yang sangat dia cintai. Siapa sangka kepergiannya kemarin siang menjadi hari terakhir kebersamaan bersama orang tua dan sang kakak.
Di hari yang sama, Ryan juga mendapat kabar buruk dari seseorang yang selalu mengawasi pergerakan orang-orang disekitarnya. Langkah kaki yang selalu tegak seketika lemas karena kebenaran justru menghapus semua jejak kepercayaan. Takdir membawa keduanya ke tempat yang tak seharusnya.
Kenangan mana yang yang diragukan? Ketika rasa sakit masih membelenggu jiwa. Dunia mengajarkan keegoisan menjadikan kedua insan itu hanya memiliki satu sama lain. Keputusan tidak bisa diubah, bukan suatu permasalahan tapi jalan tetaplah seperti keinginan mereka berdua.
Laura menoleh menatap Ryan yang selalu berusaha menjaga dirinya seperti seorang ratu. "Mereka sudah tenang, apa harus kita membahas ini? Kamu tahu arti mereka dalam hidupku hanya saja pembahasan ini berujung pada rasa sakit yang tidak bisa aku ikhlaskan."
__ADS_1
"Maafkan aku, Ratuku." Ryan melepaskan genggaman tangan, lalu merengkuh tubuh Laura membiarkan sang istri bersandar mendengarkan irama detak jantungnya. "Jangan pernah merasa kamu sendirian karena aku akan selalu di sisimu."
Pengakuan yang menjadi pernyataan tak akan mengubah keraguan yang mulai menyusup ke dalam hati Laura. Jujur sebagai seorang istri, ia masih tak rela melihat Ameera masuk ke dalam pernikahannya. Apalagi waktu Ryan semakin berkurang, meski ia tahu sang suami akan mengutamakan dirinya di setiap keadaan.
"Hubby, bagaimana jika aku dan dia bertukar tempat?" tanya Laura tanpa melepaskan pelukan Ryan karena hanya itu yang slalu menjadi obat penenang.
Tidak perlu memperjelas pertanyaan karena ia pun sudah paham dengan maksud dari istrinya. "Apa kamu yakin? Di luar sana banyak pria yang melihat wajah ini sebagai wanita malam. Aku tidak mau kamu mendapatkan masalah hanya karena wajah baru."
"Aku membuatmu sama seperti dia hanya untuk membawamu keluar seperti saat ini, jadi jangan gegabah. Bagaimanapun kamu hanyalah istriku seorang. Paham?" Ryan menegaskan keputusan final yang bertujuan untuk kebaikan Laura sendiri tentu tanpa meninggikan suaranya.
Hanya bisa menghela napas panjang tanpa ingin memberikan jawaban. Mengerti, memahami bukan sekedar mengenal saja. Yah, seperti itulah hubungan mereka. Tidak harus mengedepankan ego tetapi mengutamakan cinta yang membara. Setiap rasa akan semakin indah karena kebersamaan.
Sang waktu berlalu meninggalkan peraduan dalam ketidakpastian. Hari yang melelahkan membawa pasutri itu kembali ke mansion tepat sebelum acara makan malam. Para pelayan menyambut hangat dengan tatapan mata menunduk membiarkan sang majikan berjalan ke ruang makan.
"Bi, dimana Lee?" tanya Ryan yang tidak melihat keberadaan tangan kanannya sejak memasuki mansion.
"Ya sudah, kita makan saja. Kalian bisa pergi!" usir Ryan yang terdengar keras membuat para pelayan membubarkan diri.
Makan malam yang biasa saja menjadi luar biasa karena sikap posesif dan manja kedua pasangan itu. Ryan memangku Laura sambil menyuapi setiap sendok makanan, sesekali bergantian hingga seporsi makanan tandas tanpa sisa. Begitu dekat hingga membuat siapapun yang melihat luluh ingin ikut disuapi.
Setiap kebersamaan akan selalu menjadi kenangan. Layaknya ukiran pena di atas kertas putih tanpa noda. Cinta nyata dengan rasa yang sama tak bisa dirasakan Ameera. Dimana wanita itu sedang menahan diri untuk tetap tenang sebelum masuk ke ruang pemeriksaan. Usapan tangan terus dirasakannya bersambut tatapan hangat dalam kekeluargaan.
"Ka, mau minum gak? Biar Zoya ambilkan." Remaja itu ikut merasakan kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang mengusik ketenangan sang kakak.
__ADS_1
Ia tak menyangka bahwa setelah melakukan pencarian dibeberapa tempat yang memungkinkan justru seorang pria datang dan memintanya untuk ikut. Awalnya menolak tetapi ketika menyebut nama Ameera, tentu saja ia langsung ikut. Pertemuan yang membuatnya harus melihat kelemahan sang kakak tercinta.
Setelah bercengkrama selama beberapa jam. Barulah ia tahu akan pernikahan yang dilangsungkan tanpa kehadirannya. Kecewa bahkan ia merasa tak dianggap. Akan tetapi penjelasan sang kakak semakin membawa rasa yang tersisa. Keadaan memaksa setiap insan untuk memilih jalan masa depan.
Pernikahan sudah terjadi, lalu apa yang bisa dilakukannya? Tentu saja menerima mencoba ikhlas dengan harapan sang kakak bahagia bersama pasangannya. Tidak ada hal lain yang menjadi keinginan hati selain melihat hidup orang terkasihnya dilimpahi keberkahan dan cinta.
Ameera menggelengkan kepala, "Zoya, bukankah malam ini kamu harusnya sudah kembali ke asrama? Kakak lupa untuk mengabari pihak panti, bisa pinjam ponselmu?"
"Tentu saja bisa, Ka." Diambilnya ponsel dari atas nakas, lalu diserahkan ke Ameera. "Sekalian hubungi Ayesha ya, Ka. Takutnya mereka khawatir karena tiba-tiba aku menghilang."
Permintaan sang adik berbalas kedipan mata. Kemudian mulai mencari nomor kepala asrama yang memang di wajibkan untuk disimpan oleh semua murid di asrama tersebut. Dunia yang semakin canggih menjadi candu tetapi bagi segelintir orang hanya bisa melihat tanpa memiliki.
Obrolan singkat antara Ameera dan kepala asmara dibiarkan bergulir tanpa ingin mengganggu. Zoya merasa tenggorokannya kering hingga memberi kode meminta izin keluar mencari minuman. Langkah kaki berjalan menjauh meninggalkan brankar, lalu keluar dari dalam ruangan.
Lorong rumah sakit tampak sepi tetapi sesekali berpapasan dengan suster jaga yang sedang berkeliling memeriksa setiap ruang pasien. Semakin jauh berjalan mencari tempat yang bisa memberinya seteguk air sebagai pelepas dahaga. Zoya terlihat santai tanpa memperhatikan kemana arahnya berjalan tapi tiba-tiba ...
Tatapan mata terpatri memperhatikan pemandangan yang terpantul dari pintu kaca di depan sana. Pelukan hangat antara dua insan di pojok ruangan. Tidak ada rasa penasaran hanya saja langkahnya tetap maju mendekat meski berjalan begitu pelan. Semakin dekat hingga sayup-sayup terdengar obrolan serius yang membuat alisnya terangkat.
Percakapan yang semakin lama membuat kesadarannya datang menyapa mengingatkan diri untuk berhati-hati. Apakah semua yang didengarnya itu benar? Jika iya, bagaimana akan membongkar tanpa menimbulkan masalah? Serba salah tapi tak ingin ketahuan sehingga ia bergegas meninggalkan tempat yang tidak baik mengingat dirinya hanya seorang diri.
Langkah kaki cepat berjalan menyusuri lorong yang sama tanpa menoleh ke belakang. Gadis itu tidak jadi mencari minuman dan kembali memasuki ruangan sang kakak berada. Tatapan mata tanya menyambut kedatangannya. Tak ingin membuat khawatir sehingga ia berusaha menetralkan perasaan di hati seraya menyunggingkan senyum manis yang terlihat palsu.
"Zoya, kamu kenapa? Katakan padaku, apa ada yang memarahimu?" tanya Ameera tak melepaskan tatapan matanya dari sang adik yang berjalan menghampiri brankar tempatnya duduk menikmati penantian panjang.
__ADS_1
"Tidak ada, Ka. Aku cuma khawatir karena kakak tidak ada yang jaga," timpal Zoya begitu yakin tanpa menunjukkan keraguan di dalam pikirannya.
Aku hanya bisa diam untukmu, Ka. Entah sampai kapan tapi setelah malam ini, aku ingin selalu di dekatmu sebagai bayangan. Tetaplah bahagia karena kamu pantas bahagia.~batin Zoya menghamburkan diri ke dalam pelukan Ameera yang dengan senang hati membalas tanpa diminta.