Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 50#Rumit


__ADS_3

Lee membawa sang istri ke tempat di mana gadis itu bisa merasa bahagia. Selama masa kehamilan yang dia harapkan semua akan baik-baik saja dan tentunya siap melakukan apapun untuk menjaga Yoshi dan si jabang bayi. Hanya saja, ia juga sedang memikirkan pekerjaan yang saat ini mulai terasa begitu sulit.


Semua itu karena perintah yang baru saja ia dapatkan. Bagaimana dirinya tidak pusing ketika tuan muda meminta mereka harus segera pindah ke negara lain. Pindah negara? Statusnya memiliki dua istri, lalu bagaimana caranya mengatakan pada salah satu diantara mereka agar tetap di Indonesia.


Meski hal itu hanya berlaku untuk Zoya. Ia hanya bisa membawa satu istri yang bisa menjadi pendamping hidup. Yoshi memang bukan istri pertama, tapi gadis itu menjadi yang utama, sedangkan Zoya? Tanpa perlu bukti, ia tahu bahwa saat ini, sang istri pertama tengah bersenang-senang di dalam pelukan Arvind.


Satu kenyataan berbalut kebenaran selalu datang di waktu yang tidak tepat atau memang itulah kehendak Sang Pencipta. Apa yang tidak bisa diselesaikan harus segera terselesaikan. Saat ini, pemikirannya begitu semrawut, sehingga tidak bisa memutuskan mana yang benar dan mana yang salah untuk langkah selanjutnya.


Kebenaran lain mengembalikan rasa di hati dimana ia selalu merasa begitu damai setiap kali melihat Yoshi. Sang istri kedua yang mengajarkan arti cinta tak bersyarat. Sungguh ia tak menyangka akan mendapatkan istri seperti yang ia inginkan.


Meski begitu, kesadaran diri membuatnya tidak lupa tentang Zoya. Sebagai seorang suami yang gagal. Jujur saja, ia ingin melihat gadis itu bahagia mendapatkan pasangan yang layak. Setidaknya bisa menerima tanpa harus menerkam dengan sorot mata kebencian.



Sebenarnya, ia sudah berniat ingin melepaskan hubungan pernikahan yang saling menyakiti satu sama lain. Semua sudah terjadi, tapi masa depan masih bisa dirubah. Bukankah demikian?


Pemikiran itu, membuatnya Lee melamunkan sesuatu yang ia pikir sudah pasti dan tidak bisa untuk diharapkan. Sementara di sisi lain, sebuah kapal pesiar sudah meninggalkan pelabuhan. Suara peluit terdengar begitu nyaring.


Perjalanan panjang baru dimulai, dimana di dalam salah satu kamar khusus. Seorang wanita terbaring lemah tak berdaya dengan mata terpejam ditemani beberapa petugas medis yang tengah sibuk memeriksa persediaan obat-obatan dan terdengar suara tangisan bayi tetapi terabaikan.


Empat anggota tim medis yang sibuk melakukan aktivitas masing-masing terlihat berdiri membelakangi brankar sehingga tidak menyadari pergerakan tangan si pasien. Kelopak mata mulai terbuka secara perlahan berusaha menyesuaikan cahaya di sekitarnya.


Wanita itu berusaha untuk mengingat apa yang terjadi ketika mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Serpihan ingatan yang mengisi kepala bersambut hawa panas di dalam raga. Amarah yang sempat terlupakan kini kembali merenggut ketenangannya.


Debaran detak jantung begitu cepat dengan napas memburu mengalirkan hawa panas yang menyebar menyergap kesadarannya. Hati tak sanggup mengingat, ia merasa semua hanya mimpi buruk. Tangannya terangkat mencoba untuk memeriksa apakah keadaan bayi yang ada di dalam kandungan baik-baik saja, tetapi perutnya sudah datar.


Bibir kelu tak sanggup berbicara, padahal ia ingin sekali bertanya. Kekecewaan yang kian menenggelamkan diri teralihkan karena suara tangisan bayi yang terdengar lebih kencang. Tubuh terasa begitu lemah terkalahkan tekad tuk beranjak dari tempatnya.


Tangan dengan sadar menarik selang infus hingga rasa perih menambah kesadarannya. Langkah kaki berjalan perlahan menghampiri box bayi tanpa memperdulikan luka di tangan. Entah ia tinggal dengan siapa karena tidak seorangpun memperhatikan bayinya.


Direngkuhnya tubuh mungil yang terus meronta menangis menahan rasa haus. Melihat itu, tanpa kata ia menggunting pakaian biru rumah sakit yang menghalangi ladang sumber asupan si bayi. Bibir mungil yang senang mendapatkan hak setelah diabaikan terlihat begitu bahagia.


Tatapan mata yang terpatri membuatnya ikut tersenyum. Bayi itu begitu tampan bahkan ia merasa begitu dekat dengan sang putra. Hati berkata malaikat kecilnya sudah datang menyapa. Kedekatan antara mereka berdua sungguh menghadirkan ketenangan, ia lega karena bisa memeluk bayinya sendiri.


Itulah yang dipikirkan oleh Ameera hingga wanita itu tak menyadari apa yang sudah terjadi dan di mana ia berada. Setelah sepuluh menit, suara tangisan bayi yang mulai berhenti karena mendapatkan asupan pertama darinya membuat dokter menoleh ke belakang.


Mereka terkejut karena Ameera sudah sadar dan menggendong bayi yang baru saja lahir. Sebagai dokter melihat pasien dalam keadaan baik, tentu mereka juga senang. Rasa syukur yang bisa mengurangi pekerjaan mereka tapi tatapan salah satu suster terpana terpatri menatap kaki si pasien.

__ADS_1


"Dok, wanita itu mengalami pendarahan!" serunya membuat dokter yang menjadi kepala tim bergegas menghampiri Ameera dan dokter lain mengambil alih bayi yang begitu tenang bahkan terpejam menikmati sentuhan seorang ibu.


Langkah kaki semua orang terburu-buru, mereka berusaha menyelamatkan Ameera yang memang dalam kondisi tidak stabil. Pendarahan yang terjadi untuk kedua kalinya, membuat seluruh tim medis bekerja keras menyelamatkan wanita itu. Perjuangan yang cukup berat selama beberapa jam hingga akhirnya melewati masa kritis.


Tidak semua orang merasa dunia ini memiliki keindahan. Bukankah memang benar? Semua insan yang bernyawa tak ada yang bisa memungkiri kebenaran ini. Ketika kita berjalan pagi melihat sinar mentari, maka itu sudah merupakan keindahan dari bukti ke Sang Pencipta.


Namun dari semua itu, manusia melupakan fakta bahwa dunia penuh tipu muslihat. Sehingga terkadang apa yang kita lihat baik, rupanya justru tidak baik, begitu juga sebaliknya.


Seperti kehidupan milik Ameera senja Claudia. Wanita itu memiliki kehidupan yang rumit. Dimana ia harus menghidupi seorang adik dengan menjadi wanita malam. Lalu, menikah dengan Ryan yang ternyata seorang putra dari keluarga berada.


Kemudian mendapatkan bukti pengkhianatan sang suami bersama sahabatnya sendiri. Apalagi yang tersisa? Kehidupan sudah menaburkan garam di atas luka batinnya. Kini setiap rasa yang ia anggap pemujaan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.



Waktu yang bergulir begitu cepat hingga semua kenangan itu tenggelam dalam memori yang tidak diharapkan lagi. Dua tahun telah berlalu tak terasa kehidupan berubah drastis. Dimana hari kemarin semua terlihat sempurna baik dunia dengan keindahan pelangi di angkasa.



Namun sekarang, semua hanya tentang kehangatan sederhana. Dimana langkah kaki mungil berjalan menyusuri rerumputan hijau, membuatnya merentangkan tangan tanpa memudarkan senyum manis yang menghiasi wajah polos tanpa make up nya. Ia menunggu kehadiran sang putra yang berjalan ke mendekat.


Pemandangan yang selalu memberikan semangat baru untuk berjuang melawan kejamnya kehidupan. Ia tak peduli dengan apa yang orang miliki karena selama bisa hidup bersama sang putra, maka itu sudah cukup. Kehidupan akan selalu tentang perubahan.


Rasa yang selalu menghantui setiap malamnya, hingga ia menemukan tempat dengan orang-orang sederhana yang cukup menyayangi ia dan sang putra dengan setulus hati. Harapan akan kebersamaan seketika buyar begitu mendengar suara sapaan yang familiar.


"Selamat pagi, Sayang. Tumben kalian sudah di sini? Padahal baru jam enam pagi. Ayo, katakan kalian mau makan apa?" Seorang pria dengan kepala tertutup topi hitam yang dipasang terbalik menawarkan barang dagangannya pada wanita dan seorang anak nan menggemaskan.


Tampilannya mirip mamang penjaga rumah. Ameera tersenyum menoleh ke arah sumber suara. Lalu beranjak dari tempatnya, tak lupa menghampiri sang putra merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.


Langkah kaki berjalan mengitari bangku taman yang hanya ada tiga hingga berhenti di depan sebuah gerobak yang bertuliskan makanan ringan Mang Ujang, "Si Mamang masih pagi, loh. Udah godain aja, awas ntar mpok sebelah jewer telinga mamang."


"Dikit, loh, Yank. Lagian, kamu itu dipanggil sayang sama aku, tapi gak pernah bales jawab yang manisan. Coba lain kali, jawabnya, iya sayang. Eh, malah ujungnya panggil Mang Ujang lagi," Mang Ujang tampak sedikit kesal, tapi tidak berniat hal lain. "Bayangin aja, gagal keren gegara panggilan nama amang."


Keluhan si penjual, membuat Ameera terkekeh. Lucu karena ekspresi pria itu sangatlah hidup, bahkan sang putra ikut tenggelam mendengar obrolan yang pasti masih belum dimengerti.


Seperti sinar matahari, kini kehidupannya begitu sederhana. Meski semua yang dipunya hanya apa adanya. Jujur saja, ia merasa lebih hidup tanpa ada ikatan hubungan yang saling mengekang. Seperti hubungan di antara mereka semua seperti seorang saudara tanpa hubungan darah.


Ameera hanya salah satu penghuni dari rumah susun di daerah tersebut. Akan tetapi, siapa sangka kedatangannya banyak orang yang justru tertarik melihat putranya. Balita tampan yang ia selalu menjadikan semangat dan cambuk untuk hidup lebih baik lagi.

__ADS_1


Putra yang memiliki wajah dengan pahatan bule, pemilik bulu mata lentik dan senyum nan penuh pesona dengan lesung pipi yang terlihat begitu jelas ketika tersenyum. Ia sengaja memberikan nama Elang Putra Ameera.


Nama yang diharapkan agar menjadi pribadi cerdas, tanggung dengan pikiran tajam serta pandai membawakan diri di depan umum. Ia ingin Elang memiliki kehidupan lebih baik dan untuk itu, ia siap berjuang mewujudkan semua keinginan sang putra.


Sejak tinggal bersama, ia tak pernah memikirkan tentang dendam. Baginya kehidupan cukup dengan menyiapkan Elang untuk masa depan, dimana didalam kehidupan nanti ia ingin sang putra mendapatkan semua hak yang memang harus didapatkan sebagai putra seorang Ryan Mahendra.


Pada hari itu, di saat dirinya turun dari sebuah kapal pesiar dan diantar oleh beberapa dokter. Orang-orang berjas putih itu memberikan koper yang ternyata berisi uang dan juga sebuah alamat. Kebutuhan dan keadaan tak memungkinkan ia untuk mencari pekerjaan berat sehingga hanya menerima uang.


Sementara alamat yang sempat ia baca dibuang begitu saja. Meski begitu, semua akan selalu tersimpan di dalam memory dan kehidupan saat ini lebih baik setelah menyingkirkan semua kenangan masa lalu. Apalagi ketika hati melepaskan rasa cinta dan menganggap Ryan tidak pernah ada dalam hidupnya.


Menjalani kehidupan sebagai single mom. Wanita itu berusaha selalu kuat di setiap fase kehidupan hingga kini memiliki usaha yang cukup untuk memberikan kehidupan dengan kata cukup. Bahkan tak jarang ia masih berusaha membantu orang-orang disekitarnya yang memang memerlukan bantuan.


Sementara di sisi lain, kehidupan Ryan dan Laura begitu bahagia memiliki putra dari anak mereka sendiri. Balita pemilik netra biru nan menawan, membuat kedua orang tua itu selalu waspada. Fasilitas terbaik diberikan sebagai bentuk kenyamanan.


Usia Elang dan putra asli dari Ryan sama yang membedakan hanyalah waktu kelahirannya saja. Meski sama, kenyataan tak akan sama karena kehidupan Raymond Anggara Bryan Mahendra benar-benar menjadi putra tunggal yang biasa dipanggil prince baby.



Raymond begitu menggemaskan hingga selalu diawasi setiap kali berada di luar rumah. Wajahnya tak terekspos oleh media, begitu juga dengan Laura. Meski secara publik, anak dan istri sudah diakui sehingga tidak ada yang bisa merenggut posisi kedua orang terpenting dalam hidup Ryan.



Secara tidak langsung, Raymond adalah pewaris tunggal dari keluarga Mahendra. Lebih dari itu, anak itu sudah cukup memiliki kemewahan karena memiliki seorang papa yang pebisnis handal dengan banyak perusahaan ternama.


Kembali ke masa kini, dimana Ameera menghentikan tawanya begitu tak sengaja mendengar berita seorang pebisnis hebat. Siapa lagi, jika bukan Ryan Mahendra. Berita yang tentu saja menyebar begitu cepat, membuat semua orang takjub.


Beberapa membayangkan ingin menjadi bagian dari kehidupan di dalam rumah keluarga Mahendra. Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Ameera, hanya saja ketika melihat cuplikan berita terbaru dari pria masa lalu. Rasanya seperti sayatan tajam menusuk hati.


Sakit yang ia pikir tak lagi ada, rupanya masih menyesakkan dada. Saat ini, ia berusaha untuk menerima kehidupan tanpa ingin membahas masa lalu, "Mang Ujang, kok tumben lihatnya berita bisnis? Biasanya juga nonton sinetron."


Ameera berusaha santai dan berpura-pura tak tahu siapa pria yang pernah dibicarakan di dalam berita, membuat si mamang tersenyum. Lalu, menunjukkan isi dompet di mana ada sebuah potongan koran bekas yang menunjukkan sebuah alamat gambar sebuah villa ternama di kotanya.


"Kamu itu, loh. Masa nggak tahu pemilik Villa Grand Moon yang ada di ujung kota. Sebenarnya, aku pengen banget kerja di sana. Ya, siapa tahu bisa merubah nasib, eh, tapi mending gini aja. Jualan setiap pagi bisa lihat kesayangan yang cantik.


"Hidup sempurna, nah kurang apa lagi?" Mang Ujang menjelaskan dengan kenarsisannya yang terbiasa menggoda Ameera.


Pengakuan Mang Ujang cukup terus terang tanpa ada beban, "Dunia tidak ada yang sempurna, Mang."

__ADS_1


*Andai pria ini tahu, Ryan bukanlah pria yang baik bahkan tega mencampakkan istri dan anaknya sendiri ke negeri orang. Apalagi hanya untuk mendapatkan kehidupan baru bersama selingkuhannya. Kira-kira apa mamang masih mau tinggal di sana?~batin Ameera bermonolog pada dirinya sendiri karena ia tak mungkin mengatakan itu secara langsung di depan Mang Ujang*.


__ADS_2