Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 47#Tindakan Semua Orang


__ADS_3

Sesaat, ia mengingat perdebatannya beberapa waktu sebelum mengambil keputusan. Dimana sang kakak Ryan mengajak bertemu di sebuah tempat khusus untuk berbicara dari hati ke hati. Suasana pantai yang begitu indah dengan deburan ombak yang menawan menyatukan kebersamaan kakak beradik.


Tatapan mata seorang kakak yang begitu lembut menyadarkan ia akan cinta yang sebenarnya. Selama ini, Ryan selalu memberikan yang terbaik. Meskipun dalam keadaan jarak terpaut begitu jauh, bak bumi dan langit tak pernah bersatu. Pria itu akan menjaga dari balik layar serta pelindungan tanpa ada peluang.


Satu perintah menggunakan kekuasaan yang dipunya. Maka apapun akan terjadi sesuai keinginan, tetapi pertemuan kali ini hanya antara dua insan tanpa keluhan. Ryan yang menyerahkan sebuah arsip seketika membuat Yoshi terdiam bingung. Apalagi wajah tampan terlihat begitu serius tanpa ekspresi.


Sedikit waktu digunakan untuk memeriksa dan juga mencermati isi arsip dari sang kakak. Awalnya menolak karena tidak tertarik, hingga sang kakak menyebutkan nama lengkap Lee. Barulah tangan cekatan mengambil arsip mencari kebenaran di balik dunia kegelapan.


Rasanya itu, seperti tahu segalanya tetapi disambut terjangan badai ombak hingga membuat seluruh keindahan bercampur menjadi kekacauan. Yoshi merasa kebenaran dari sang kekasih begitu menjadi bumerang yang meluluh lantakkan keyakinan. Enggan tuk kembali bangkit.


Namun uluran tangan seorang kakak memberikan kekuatan. Ryan sangatlah tegas mengatakan, bahwa apapun keputusannya. Tak seorangpun bisa mengusik, apalagi ikut campur dan sebagai kakak akan membantu tanpa syarat. Ketetapan itu menjadi janji kakak untuk adiknya.


Jujur saja, keseriusan Ryan, membuatnya berpikir sekali lagi. Apa yang akan dilakukan dirinya, jika di posisi seorang wanita yang memiliki suami, tapi berhubungan dengan wanita lain. Semua wanita tidak ada yang menyukai hal tersebut dan pasti mencoba untuk merebut suaminya kembali.


Namun, bagaimana jika hubungan suami istri memang hanya sebatas perjanjian hitam di atas putih? Tidak memiliki ikatan karena pernikahan terjadi atas dasar paksaan. Apa bisa dibenarkan kemunculannya sebagai pelipur lara dan kesepian dalam kehampaan di diri Lee?


"Yoshi, ingatlah satu hal ini, Lee bukan orang yang bisa kamu tundukkan dengan obsesi. Pria seperti dia terlalu ambisius dan apapun yang dia inginkan pasti akan ia raih. Meski begitu, Lee sadar diri tidak akan melewati batas sesuai dengan batas aturanku.


"Jika kamu mau, aku bisa menyatukan kalian dalam hubungan pernikahan, tapi apa kamu sanggup dan siap menjadi istri keduanya? Disini, kita harus paham. Lee berbeda dari pria diluaran sana.


"Tangan kananku itu memiliki sisi lain kehidupan yang harus kamu pahami dan tidak untuk diperdebatkan. Jika aku menjadi Lee, mungkin saja dia akan melakukannya sama seperti yang tengah kulakukan. Permasalahan ini sederhana yaitu apa pria pilihanmu begitu mencintai adik tunggalku?"


Ucapan sang kakak membuatnya kehilangan selera makan karena terus terngiang-ngiang pertanyaan yang menyudutkan. Antara ia dan Lee yang tersaji tatapan mata dari keduanya hanyalah alasan untuk memuaskan satu sama lain. Dia sadar selama ini apa yang mereka lakukan sebatas kehangatan di atas ranjang.

__ADS_1


Namun, baginya hubungan hati tak bisa dipungkiri. Ada rasa yang mulai terbenam, membuat sebuah taman bunga bermekaran menjadi keyakinan. Satu pertanyaan yang menjadi keraguan, apakah pria itu juga memiliki rasa yang sama atau hanya sekedar memberikan kehangatan seperti pikirannya.


Cinta sedalam lautan? Agaknya hanya sebuah kiasan bagi para pujangga cinta tanpa pasangan. Benarkah demikian? Tak ada rasa lelah dalam puisi cinta karena yang tersisa hanya bait tak berirama.


Waktu yang diberikan sang kakak, membuat dia benar-benar mempertimbangkan dari sisi baik dan buruk atas hubungannya dengan Lee. Keyakinan dari sang kakak yang akan selalu memberikan dukungan, itu sudah cukup. Sehingga kini harus berpikir keras untuk mengubah permainan.


Jika kakaknya memiliki istri kedua hanya untuk mendapatkan keturunan dan harus berkorban terpisah oleh jarak dari kakak ipar pertama. Lalu, bagaimana dengannya? Dimana posisinya hanya wanita lain di dalam hubungan Lee dan Zoya. Sudah jelas tidak bisa dibenarkan untuk melakukan hal di luar batas.


Setelah berpikir sekali lagi. Sebuah keputusan telah dibuat, ia akan tetap mempertahankan Lee hanya saja bukan untuk permainan. Sebagai gadis dari keluarga terhormat, maka ia ingin hubungan yang normal dan diakui oleh semua orang.


Keputusan itu membawanya pada waktu detik saat ini, dimana ia berada didalam kamar menghindar dari Lee untuk memperkuat diri tak terpengaruh oleh godaan yang membuatnya bisa hilang keyakinan. Ia tahu, dirinya bukan gadis yang memberikan segala rasa untuk setiap pria.


Namun, baginya, Lee harus mengerti bahwa dirinya bukanlah sekedar pemuas hasrat, tetapi juga memiliki hati untuk dijaga. Jika memang membutuhkan kehangatan ranjang. Maka bisa mendapatkan dari Zoya sebagai istri sah. Bukan gadis yang hanya pernah tidur beberapa kali saat liburan.


Hak atas raga akan ia berikan ketika pria itu sudah memberinya hak sebagai seorang pasangan halal. Ambisi hanya kata karena action menjadi tujuan utama. Kedekatan di antara mereka, kini memiliki jarak. Dimana jarak itu hanya bisa disingkirkan oleh Lee sendiri.


Alasannya hanya untuk menunjukkan beberapa barang yang membuat Zoya setuju tanpa rasa ragu. Zoya dengan santainya meneguk minuman berwarna putih yang dia pikir itu adalah air putih biasa dan sengaja disimpan di kulkas hingga tak ada perdebatan hanya karena minuman.


Minuman yang tandas tak tersisa menghadirkan sensasi aneh di lidah, tapi terasa menyegarkan. "Arvind, minuman soda kah ini? Kenapa rasanya begitu aneh, ya." Gelas dikembalikan pada si tuan muda dengan pandangan masih aman.


"Zoy, apa kamu tidak pernah minum?" tanya balik Alvin,.membuat Zoya mencoba mencerna ucapannya.


Melihat reaksi dari gadis itu, kini Arvind sadar bahwa Zoya bukanlah gadis yang terbiasa menikmati minuman beralkohol. Gadis itu benar-benar mulus dan masih terjaga, hingga sebuah pemikiran licik datang menyapa. Sekali lagi, dia menuangkan sampanye ke dalam gelas, lalu memberikan ke Zoya untuk diminum kembali.

__ADS_1


Kesibukan Arvind memberikan minuman kepada Zoya entah sudah berapa kali hingga membuat gadis itu mulai limbung. Hawa panas yang menyergap tak bisa ditahan lagi. Tangan tak kuat menggenggam gelas yang langsung ditangkap oleh Arvind


"Di sini panas sekali," racau Zoya seraya menaikkan rambut yang diikat secara acak.


Perbuatan Arvind, membuat Zoya kelabakan hingga tak sadar apa yang tengah dilakukannya. Apalagi pria itu justru diam memperhatikan setiap pemandangan yang tersaji di depan mata seraya meneguk minuman dari gelas bekas si gadis remaja.


"Kenapa wajahmu tidak jelas? Satu, dua, eh, empat," Zoya menggelengkan kepala berusaha tetap sadar, tetapi hawa panas semakin menjalar menguasai raga. "Kenapa aku jadi seperti ini? Berikan aku obat ...,"


"Zoy, apa kamu yakin dengan permintaanmu?" tanya balik Arvind meletakkan gelas ke atas meja. Lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan tangan yang hanya ditatap Zoya. "Come! Aku beri kau obat termujarab."


Pikiran tak lagi berpikir jernih, wajah Arvind mulai memudar dan berganti seorang pria yang sudah merenggut kehormatannya. Adrenalinnya benar-benar meningkat hingga menghadirkan rasa balas dendam. Tangan yang ia tarik hingga jatuh ke samping tempat duduknya.


"Apa kamu tahu, sakit rasanya saat pemaksaan malam itu, sekarang kamu harus membayarnya." Zoya meracau membuat Arvind bingung hingga tiba-tiba tarikan tangan menyentak kesadaran bersambut pagutan penuh tuntutan.


Sentuhan frontal Zoya begitu liar bahkan sangat agresif ingin menguasai permainan. Sesaat membiarkan gadis mabuk melampiaskan semua emosi pada tubuhnya yang mulai kewalahan mendapatkan serangan. Ada yang salah dengan gadis itu, meski begitu ia tak ingin melepaskan kesempatan untuk membalikkan keadaan.


Suara lenguhan manja bergema memenuhi kamarnya, membuat Arvind kian terbakar rasa ingin memiliki. Satu gerakannya berhasil mengunci tubuh Zoya. Dimana gadis itu hanya tersenyum bahkan tidak memberikan penolakan di saat jemarinya mulai memainkan squash nan kenyal.


Kamu mengujiku dengan permainan di atas ranjang. Jangan salahkan aku, jika setelah ini, kamulah tempatku mendapatkan kenikmatan.~batin Arvind menenggelamkan diri dalam kenikmatan.


Hari yang begitu melelahkan dengan semua perbuatan orang. Dimana disatu sisi ada mimpi indah yang membuai kenyataan, di sisi lain hanya tersisa penghakiman tanpa sentuhan. Sementara di sisi lain, lagi terjadi perpisahan yang mengantarkan kerinduan meski hanya dalam keheningan.


Dunia selalu sama dengan kepalsuan dan juga kebenaran yang menjadi satu. Hari ini, semua melakukan tindakan yang mereka anggap benar dan juga membenarkan kesalahan yang mereka lakukan. Dunia selalu menjadi tempat pelampiasan orang-orang yang merasa kekurangan.

__ADS_1


Seperti cinta kasih dalam hubungan yang membuat hati siapapun meragukan pasangan karena mempertanyakan kesetiaan. Bagaimana tidak? Ketika yang tersisa hanyalah penghianatan. Sehingga beberapa orang merasa dunia begitu kejam, tetapi yang lebih kejam adalah keputusan yang menyerupai tindakan dalam ketidakadilan pada sebuah hubungan.


Delapan bulan kemudian suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan. Dimana seorang dokter keluar meninggalkan pasien dengan kabar bahagia menghampiri keluarga pasien. "Selamat, ya, Tuan. Bayi Anda selamat semoga semuanya baik-baik saja, tapi maaf saat ini ibunya dalam keadaan kritis karena kehabisan banyak darah. Semoga, Tuan mau bersabar."


__ADS_2