
Lee hanya mendengarkan jawaban Yoshi dengan serius. Gadis itu tidak seperti gadis lainnya yang bisa dikendalikan hanya karena rasa takut. Darah jiwa pemberani akan selalu memiliki tekad pantang menyerah. Apalagi ketika sadar bahwa perjuangan tak pernah lepas dari kata pengorbanan.
Berbeda cara yang membuat setiap kata lebih bermakna dalam penyampaian. Ketika seseorang marah, lalu meluapkan, maka orang itu bisa tenang lagi meski menyakiti sekitarnya melalui kata-kata. Akan tetapi, orang dengan ketenangan tak membutuhkan kata karena mereka melangkah menunjukkan bukti mampu melewati setiap ujian.
"By the way, apa Ka Lee tahu, kalau Zoya itu sahabat penaku? Senang sekalian bisa melihat, bahkan bertemu dengannya secara langsung. Dunia memang sempit, ya? Gadis itu, rupanya adik ipar kakak pertama. Secara kekeluargaan, kami sekarang satu keluarga kan?
"Tunggu dulu, deh. Disini aku jadi bingung, bagaimana hubungan kita? Apa kupanggil dia adik ipar, atau Zoya seperti biasa. Ka Lee, bantuin pilihin panggilan untuk ikatan rumit ini," Yoshi merajuk dengan mata mengerjap seakan benar-benar itulah keinginan hatinya, membuat Bagas menahan napas melihat ketenangan di dalam badai.
Apalagi langkah kaki terus berjalan kesana kemari dengan topik pembicaraan panjang kali lebar hanya untuk mengalihkan pembicaraan utama. Seulas senyum simpul tersungging menghiasi wajah Lee dengan langkah kaki mendekati Yoshi. Apa arti obrolan tentang cerita masa kemarin, hari ini, dan esok?
Satu tarikan tangan mengembalikan tubuh Yoshi ke dalam pelukannya hingga tak ada jarak yang sisa. Tatapan mata kembali terpaut dengan kuncian tangan mengunci semua pergerakan gadisnya itu, "Kamu tahu, kan. Jika Zoya adalah istriku?"
Ucapan Lee langsung to the point, membuat Yoshi menghapus keceriaan mengubah raut wajahnya dengan tanpa perasaan luka. Kini tatapan matanya meredup dengan bibir bungkam tanpa ekspresi. Perubahan itu menyadarkan Lee, bahwa adik tuan muda sudah tahu segalanya.
Jika demikian, kenapa Yoshi masih berusaha bersikap biasa saja? Seolah-olah tidak terjadi apapun. Sikap gadis itu lebih membuatnya khawatir dibandingkan pemberontakan yang bisa saja dia rendam. Sejenak mengingat sekilas penolakan yang mengembalikan kesadaran akan cara Yoshi memilih action.
Gadis itu memiliki cara yang lebih baik daripada melampiaskan amarah terhadapnya. Seperti biasa ia berusaha untuk meyakinkan diri mencoba membawa Yoshi ke dalam obrolan yang bisa dijadikan kebersamaan untuk mendapatkan solusi terbaik. Akan tetapi, gadisnya tetap bungkam tak ingin mengatakan apapun. Padahal ia sudah berbicara dari satu kebenaran ke kebenaran lain.
__ADS_1
"Yoshi Angela! Apa kamu mendengarkan aku?" tanya Lee yang sedikit melonggarkan kuncian tangan seraya menepuk pipi Yoshi.
Merasa ada kesempatan untuk terbebas. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, gadis itu tiba-tiba mendorong dada Lee menjauh darinya. Sayang tangan si pria masih kuat menahan serangannya hingga hanya mengubah jarak beberapa detik saja.
Tatapan mata kian tajam tak pernah bisa dibayangkan begitu mengintimidasi dalam kediaman. "Lepas!"
"Lepas?" Lee menyunggingkan smirk evil dan dengan senang hati melepaskan tangannya dari pinggan Yoshi.
Jarak kembali ada, membuat Yoshi berbalik berniat untuk mencuci muka karena lelah dengan perdebatan yang tidak ada ujungnya. Langkah kaki berjalan menghampiri kamar mandi tanpa memperdulikan tatapan Lee yang trus menatap ke arahnya. Ia sadar pria itu pasti merencanakan sesuatu.
Dunia menyebut hasrat dan obsesi adalah kegilaan. Lalu, bagaimana dengan cinta dan pengorbanan? Siapa aku, bagimu? Dirimulah yang tahu, Ka Lee, my dream boy.~batin Yoshi seraya mengikat rambutnya menjadi satu hingga menampilkan leher putih nan mulus sejauh tatapan mata memandang.
Suara deru napas yang memburu menyadarkan gadis itu akan kedatangan siapa, "Ka Lee mau cuci muka juga?" tanya Yoshi dengan santai, lalu berbalik membalas tatapan mata yang tertuju padanya.
Bukannya menjawab, Lee justru melakukan sesuatu hingga membuat Yoshi tertegun diam di tempat. Akan tetapi, hati tak boleh goyah. Sehingga ia memilih untuk duduk di atas meja yang ada di dalam kamar mandi. Tindakan sang pria cukup menguras mental agar ia terpengaruh.
"Kemarilah!" Lee melambaikan tangan mengharapkan Yoshi datang mendekat, tapi yang diharapkan justru tersenyum tipis. "Yoshi, apa kamu ...,"
__ADS_1
"Aku normal. Apa Ka Lee mau tanya itu?" Yoshi menyela perkataan Lee yang pasti akan memulai perdebatan dengannya lagi. Lalu, ia turun dari atas meja, kemudian berjalan menghampiri prianya.
Kelegaan yang terpancar dari sorot mata Lee terlihat begitu jelas. Senang bisa membuat seorang pria dingin bertindak sejauh itu hanya untuk membuktikan diri. Akan tetapi, semua itu tidaklah penting karena ia memerlukan action dan bukan sekedar bukti sekilas.
Perlahan, tapi pasti tangannya merengkuh tubuh polos yang pasrah ia mainkan. Tatapan mata terpejam mengikuti alur permainan. Suara decak mulai memenuhi ruangan dengan langkah kaki terus berjalan mengimbangi dorongan pertarungan.
Sentuhan Yoshi, membuat Lee menyadari bius candu yang gadis itu tawarkan. Permainan lembut mengajarkannya lebih bersabar dalam pergulatan hingga tiba-tiba sensasi dingin jatuh membasahi tubuh mengejutkan bersambut perpisahan dari pagutan nan memabukkan.
"Aku, Yoshi Angela Mahendra. Remember it!" tegas gadis itu dengan langkah kaki menjauh dari Lee.
Speechless ketika ia pikir bisa merayu gadisnya dengan menghabiskan waktu bersama. Ternyata itu hanya tipuan belaka. Bibir manis yang menyapa menjadi pengalihan yang sempurna. Gemericik air shower benar-benar menghancurkan sisa harapan dalam keinginan tuk mempertahankan hubungan.
Speechless ketika ia pikir bisa merayu gadisnya dengan menghabiskan waktu bersama. Ternyata itu hanya tipuan belaka. Bibir manis yang menyapa menjadi pengalihan yang sempurna. Gemericik air shower benar-benar menghancurkan sisa harapan dalam keinginan tuk mempertahankan hubungan.
Pria itu berpikir Yoshi benar-benar marah dengannya. Padahal yang ia pikirkan justru tersenyum menikmati waktu sendiri di dalam kamar sembari menunggu kedatangannya. Sudah pasti pria seperti Lee heran karena sikap pengabaian dari gadis remaja labil yang tampak polos.
Yoshi sendiri tahu, bagaimana menangani Lee agar membuat pria itu mengerti akan setiap keinginan tidak semanis permen. Apalagi setelah pertemuan singkat antara ia dan sang kakak, kini bisa dibilang seluk beluk dari sepak terjang si pengawal sudah tercetak di kepalanya.
__ADS_1
Langkahnya bukan untuk memaksakan perasaan, tetapi meluluhkan hati sebagai seorang kekasih. Meski begitu, tidak ingin terlalu terburu-buru hanya untuk menyatukan harapan dan juga impian. Lagi pula jika ia tetap menjalin hubungan dengan Lee saat ini, apa jaminannya untuk bahagia?
Status Lee sudah jelas menjadi suami dari Zoya. Lalu, jika dirinya tetap masuk ke dalam hubungan sepasang suami istri, bukankah ia dipanggil pelakor. Panggilan yang tidak ingin ia sandang meski hati mengharapkan memiliki sang pria sebagai pasangan hidup.