
Sejak mengawal Yoshi, Lee hanya menggunakan ponsel khusus yang memang sudah disiapkan oleh Ryan. Hal itu dikarenakan demi menjaga keamanan sedangkan ponselnya sendiri tertinggal di Jakarta bersama tuan muda. Pekerjaan tunggal tanpa dibebani tanggung jawab lain selama masa liburan yang dijalani oleh adik bungsu sang majikan.
Satu jam sudah berlalu. Ayunan yang dihias sepenuh hati oleh Lee sudah siap untuk dicoba. Sementara Yoshi sedari awal hanya duduk diam di atas ranjang sembari mengamati setiap gerakan pria muda yang selalu membuatnya menarik perhatian. Hatinya berdebar dan meningkat setiap kali melihat seulas senyum yang menghiasi wajah sang pengawal.
"Kemarilah! Coba kita lihat apakah cocok untukmu atau tidak." Lee mengulurkan tangan yang bersambut tangan Yoshi. Gadis itu menggenggamnya dengan sepenuh hati.
Gadis itu menurut ketika dibimbing untuk duduk di ayunan, lalu ia memutar membantu menyenangkan hati Yoshi. Suara tawa yang terdengar bahagia dengan binar mata yang mempesona. Sesaat mengingat Zoya yang sangat ia rindukan. Istri kecilnya yang entah sedang melakukan apa.
Saat ini, ia tidak mungkin menghubungi istrinya karena posisi pekerjaan berbeda dari biasanya. Tiba-tiba terasa kaosnya ditarik yang mengembalikan kesadaran, ternyata Yoshi yang melakukan dengan tatapan mata semakin dalam menatap ke arahnya.
"Ka Lee, boleh aku tanya sesuatu?" tanya gadis itu membuat Lee mengangguk mempersilahkan untuk bertanya apapun padanya.
Saat iki tugasnya hanya membahagiakan Yoshi. Jadi secara tidak langsung waktu, raga dan jiwanya menjadi milik adik bungsu tuan muda. Selama waktu yang tidak bisa ditentukan, maka tanggung jawabnya hanya menjadi pengawal sekaligus teman dalam liburan.
Lagi-lagi melamun hingga tersentak karena Yoshi tiba-tiba menarik ayunan hingga tubuhnya ikut duduk di sebelah gadis itu. Kedekatan keduanya terlihat semakin intens membuat Lee merasa tidak nyaman. Akan tetapi ia sungkan menolak apalagi di saat Yoshi secara mengejutkan bersandar di pundaknya.
Entah apa yang menjadi pemikiran gadis itu, mungkin saja sedang mengalami masalah dan membutuhkan bantuannya. "Tuan putri, kamu kenapa? Apa ada masalah sekolah atau dengan teman main?" tanyanya basa-basi berusaha mencairkan suasana di tengah perasaan tak enaknya.
Yoshi menggelengkan kepala pelan, lalu mendongak menatap manik mata yang menatapnya. "Apa Ka Lee pernah jatuh cinta? Jika iya, siapa gadis yang beruntung itu?" Pertanyaan spontan dari adik tuan muda membuat Lee sedikit mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kenapa tanya itu? Kupikir belum atau angan-jangan Tuan Putri sendiri yang tengah jatuh cinta." Lee menggoda Yoshi tanpa niat apapun selain membalas candaan obrolan mereka.
Namun godaan itu bermakna lain bagi Yoshi. Gadis itu menanggapinya dengan hal lain. Dimana tiba-tiba saja tangannya merangkul leher Lee, tanpa kata menyatukan kedua bibir dalam pagutan kilat. Lee yang terkejut tak menyangka serangan seorang gadis remaja yang bersikap agresif.
Perlahan ia terbawa suasana menikmati sensasi lembut yang menuntut hingga sisa kesadarannya hadir melepaskan diri dari bibir gadis yang menatapnya kecewa. "Tuan Putri, ini salah. Tidak seharusnya kita berciuman."
"Apanya yang salah, Ka? Aku hanya mencium seorang pria kecuali jika kakak keberatan." Tatapan mata menatap lebih dalam hingga ia tak ingin melepaskan pria itu.
Setelah beberapa hari hanya bisa memperhatikan dari jauh dan hari ini bisa dekat tanpa ada jarak. Sementara Lee bingung ingin menjawab apa. Di antara mereka berdua tidak ada perjanjian yang bersangkutan dengan hati, apalagi melakukan sesuatu di luar batas
Tugasnya untuk menjaga bukan merenggut sesuatu yang bukan miliknya. Niat hati ingin beranjak dari tempatnya tetapi tangan Yoshi yang menahannya tak bisa diabaikan. Sekali lagi gadis itu merenggut bibirnya secara paksa hingga ia mencoba mengimbangi permainan agar tidak mengecewakan.
"Manis seperti kakak." ucap Yoshi begitu melepaskan diri dari kenakalan sambil mengelap bibirnya yang basah.
Gadis itu beranjak dari ayunan meninggalkan Lee yang terdiam dalam ketermenungan. Bagaimana tidak speechless ketika ia begitu menikmati permainan Yoshi. Padahal gadis itu bukan gadis nakal. Alih-alih memperbaiki akal sehat, Lee justru lupa diri tenggelam menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Tanpa sadar tangannya terangkat mengusap bibirnya sendiri mengingat ciuman Yoshi yang membuatnya kehilangan akal. Disisi lain gadis remaja itu memperhatikan sikap Lee dari pantulan cermin. Senyum nakal tersungging di bibir entah apa yang menjadi ide gilanya. Satu hal bisa dipastikan, apa yang ia inginkan pasti didapatkan.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa pagi berganti malam. Rembulan malam tanpa sang bintang tetapi suasana yang begitu hangat berteman api unggun yang menyala dengan kobaran. Semilir angin menyebarkan aroma lezat dari ikan bakar membuat perut kian meronta ingin segera mendapatkan asupan.
__ADS_1
"Yeay, ikanku matang, tapi panas." Yoshi bersorak gembira menerima ikan bakar dari Lee, "Ka, bantuin donk. Panas loh ini," Rajuknya membuat Lee harus sabar membantu gadis itu.
Lee mengambil piring milik Yoshi, lalu meniup ikan bakar yang masih mengepulkan asap putih. Setelah dirasa aman, barulah memotong ikan menjadi beberapa bagian menggunakan pisau serta garpu. Tangannya terampil melakukan pekerjaan sederhana.
"Silahkan, Tuan Putri. Pelan saja makannya!" tegas Lee tak ingin Yoshi mengalami masalah hanya karena makan buru-buru.
"Ukhuk, tumben Ka Lee perhatian. Yoshi jadi malu," goda gadis remaja itu hingga membuat Lee mengusap kepalanya. Tatanan rambut tak lagi rapi padahal sudah di tata selama lima belas menit, "Hadeh, Ka Lee. Jangan digituin, rapiin pokoknya!"
Sikap manja Yoshi benar-benar mengalihkan perhatian Lee setiap waktu. Gadis itu seperti bunga mekar yang selalu menggodanya. Ia tidak keberatan untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah. Rasanya dunia berubah menjadi milik mereka berdua.
Jika ada yang melihat, kedua insan itu seperti pasangan romantis yang baru saja saling dipertemukan. Sapuan tangan penuh perasaan mencoba merapikan rambut Yoshi tetapi semilir angin terus merusak usahanya. Lagi-lagi berantakan karena helai anak rambut tidak mau menetap.
"Tuan Putri, percuma saja dibenarkan. Aku ikat saja rambutmu, bagaimana?" tanya Lee memberikan ide tersimple sebagai seorang pria.
"Oke deh, Ka. Ikat saja tapi agak tinggian, ya, biar nggak ribet." timpal Yoshi membiarkan Lee menyingkirkan sibuk menata rambutnya, sedangkan ia sendiri mengunyah ikan bakar yang dibumbui asam pedas manis menggugah selera makan.
Aroma manis strawberry dari tubuh Yoshi yang menguap menyeruak menusuk hidung Lee. Tangan sibuk menyatukan helaian rambut menggelung, lalu mengikatnya tinggi tetapi aroma sang gadis menarik adrenalin. Tanpa kata ia mendekatkan diri menghirup aroma yang membuatnya ingin lebih dekat lagi.
Embusan napas terasa jatuh menerpa ceruk leher yang mengalihkan perhatian Yoshi. Seulas senyum tipis menghiasi wajah cantiknya, perlahan menyandarkan tubuh ke depan hingga membuat Lee semakin menikmati aroma tubuhnya. Ia tahu, pria itu terbawa suasana.
__ADS_1
Tahan saja, Ka. Aku ingin lihat sampai mana kamu bisa menahan diri. ~ucap hati Yoshi yang sengaja menjatuhkan sendok hingga mengembalikan fokus Lee.