
Setelah malam yang berlalu. Hari ini Ryan telah menyiapkan semua keperluan kepergiannya bersama kedua istri. Meski ia tak menyatukan jadwal keberangkatan karena Laura akan berangkat terlebih dahulu yang membuat ia harus lebih waspada untuk menjaga keamanan sang istri pertama.
Demi perjalanan pertama sang istri tanpa dirinya, bahkan terlepas dari genggaman tangan tanpa pengawasan. Pria itu telah menyiapkan beberapa pengawal yang merupakan orang-orang terpilih. Pengawal yang tidak tersentuh, Lee saja tidak ikut dalam tugas kali ini.
Sementara menunggu waktu ia dan Ameera akan tetap berada di Indonesia bersama yang lain. Sesuai rencana, Laura yang akan mengatur semuanya. Satu sisi hidup dalam dilema, sedangkan di dalam mansion mendadak tercipta suasana berbeda. Dimana Ameera mengajak semua pelayan menikmati makanan bersama
Nyonya muda yang menutup telinga karena omongan para pelayan beberapa kali di saat tak sengaja mendengar obrolan di balik dinding. Apa yang tersimpan di dalam hati, tak membuat Ameera bersikap kasar dan tetap membuat semua orang berkumpul menjadi satu.
Keramahan yang ditunjukkan oleh Ameera menghadirkan rasa nyaman di hati para pelayan. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya sesaat. Sejujurnya, mereka senang memiliki nyonya yang memang baik hati. Andai tak ada kenyataan, mungkin bisa mendemo tuan muda.
Sayang kebenaran akan slalu menghadirkan kenyataan, dimana wanita itu bukanlah nyonya yang utama di dalam mansion tersebut. Apa yang terjadi di dalam istana? Semua bibir bungkam dan tak seorangpun akan berani mengungkapkannya.
Siapa yang mau mempertaruhkan nyawa keluarga sendiri? Ketika yang dipertaruhkan hanya nyawa diri sendiri saja, semua orang sudah mundur demi keselamatan. Peraturan mansion hanya berlaku untuk para pekerja, termasuk Lee. Dimana ancamannya didapat akan selalu menyatakan satu keluarga tanpa ada tawar menawar.
"Pagi, Ka. Eh, tumben jam segini udah duduk di sini?" Zoya yang melihat kakaknya sedang sibuk mengupas buah ikut duduk berselonjor di sebelah Ameera.
Melihat adiknya yang baru bangun Ameera hanya tersenyum, lalu memberikan sepotong buah apel yang langsung diterima Zoya dengan senang hati. "Kamu baru bangun, De? Kok, tumben banget, loh."
Tidak ada niat untuk berkata jujur. Meski begitu tidak mungkin diam juga, sesaat tersenyum seraya menikmati potongan apel sebelum memberikan jawaban. "Ini manis, mau nambah lagi, Ka. Iya, nih, kebablasan. Semalam harus mengerjakan beberapa tugas jadinya lembur, hehehe."
"Jangan terlalu capek, De! Bukankah kamu sudah homeschooling, apa itu terlalu membebani mu? Jika iya, Kakak akan memindahkan sekolah di tempat lain yang memiliki banyak teman juga," timpal Ameera, membuat Zoya menggelengkan kepala dengan cepat.
Apa yang menjadi alasannya tidak di asrama. Bagaimana mungkin mengatakan itu pada sang kakak. Andai pindah sekolah, nyatanya semua sudah terlambat.
Obrolan kakak beradik itu masih berlanjut dan hanya didengarkan oleh para pelayan yang terlihat sibuk menerima potongan buah dari Ameera, sedangkan beberapa menyiapkan sambal untuk dijadikan bumbu lutisan. Di tengah kehangatan keluarga untuk pertama kalinya Ameera memberikan perhatian lebih dari cukup kepada Zoya, bahkan hari ini menjadi hari terbaik untuk keduanya.
Mereka berdua juga memanfaatkan waktu menikmati kebersamaan dengan sekedar berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. Tentu saja, hal itu tak luput dari pengawasan Lee yang memang diberikan tugas untuk menjaga keduanya secara bersamaan.
Di tengah rasa lelah dan lapar setelah berkeliling gerai. Akhirnya mereka memilih sebuah cafe untuk sekedar duduk menunggu makan siang. Pemesanan sudah dilakukan dan niat hati masih ingin duduk mengobrol, tapi tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri meja mereka.
Penampilannya begitu modis dengan rambut yang tergerai jatuh sepanjang pinggang dan gaun yang dikenakan begitu feminim berwarna peach berbalut jaket kulit hitam. Wajah cantik alami dan begitu terawat. Permasalahannya bukan bagaimana penampilan gadis itu, melainkan caranya memberikan sambutan hangat kepada Lee.
__ADS_1
Pelukan hangat dengan kecupan pipi kanan dan kiri yang membuat Lee terdiam membeku. Perlakuan romantis dari Yoshi benar-benar mencuri ketenangan si pria, sedangkan Zoya yang melihat itu penasaran. Sementara Ameera sekali lihat mengingat visual adik dari suaminya.
"Tunggu dulu, kamu adik Ryan kan? Yoshi Mahendra." tanya Ameera, membuat Yoshi mengalihkan perhatian menatap sang kakak ipar kedua.
Gadis itu mengulurkan tangan yang mendapatkan sambutan hangat dari Ameera. Wajah cantik yang ia tahu itu hanyalah istri kedua dari sang kakak pertama. "Yes, she is me. Apa kabar, Ka Ameera? All is right?" tanyanya dengan santai tanpa memberikan ketegangan apapun.
Sikap Yoshi terlalu polos bahkan begitu kalem, membuat Lee bernapas lega karena ua pikir gadis itu tidak tahu tentang masalah kakak pertama yang memiliki istri dua. Kini tidak perlu takut karena semua berjalan tanpa ada penghalang.
"Aku baik, De. Kapan kamu pulang dari luar negeri?" tanya balik Ameera bersambut seulas senyum yang menghiasi wajah Yoshi.
Apa penting mengatakan kapan ia kembali ke Indonesia? Rasanya tidak. Tak ingin memberikan penjelasan apapun, lalu menoleh mengalihkan perhatian ke arah Zoya. Tatapan mata meneliti mencoba mengamati garis pahatan wajah adik dari sang kakak ipar.
Beberapa saat tak mengenali hingga ia rasa merasa tidak asing bahkan familiar seakan pernah bertemu dengan Zoya. Akan tetapi di mana? Sekilas ingatan kembali pada pertemuan virtual yang pernah dilakukannya. Begitu dia mengingat siapa Zoya.
Si gadis yang berdiri di depannya dengan tatapan tak suka. Ia langsung menghampiri Zoya, kemudian menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya seraya memberikan ucapan selamat datang.
Zoya yang bingung dengan tingkah aneh Yoshi mencoba untuk memahami situasi. Apalagi setelah pelukan dilepaskan, barulah ia juga ikut mengamati wajah Yoshi yang tanpa permisi memeluk erat. Kesadaran tersentak begitu mengetahui gadis yang memeluknya adalah sang sahabat pena.
"Zoy! Are you okay? Kenapa malah melamun?Ya sudah, aku harus pamit karena masih ada urusan dan Ka Arvind sudah menungguku di luar atau kalian mau datang ke rumahku?" Yoshi dengan sengaja menawarkan diri mempersilahkan keluarga barunya agar mau ke rumah utama.
Ide yang menurutnya lebih baik, dibandingkan makan di luar dan membuang uang. Meskipun di rumah banyak makanan yang bisa dibilang seringkali tidak dimakan oleh penghuninya. Lalu, kenapa tidak menciptakan suasana keluarga bahagia?
Baru saja Lee ingin menolak. Tiba-tiba Ameera sudah menerima dan mengangguk setuju, tetapi meminta Yoshi untuk menunggu karena makanan yang sudah dipesan tidak mungkin dibatalkan. Apalagi makanan tersebut juga sudah dibayar. Tentu saja hal itu bukanlah masalah.
Bagi Yoshi semua baik selama bisa berusaha lebih dekat dengan tujuannya. Gadis itu ikut duduk dan tak lupa menghubungi Arvind untuk menunggu di parkiran sedikit lebih lama lagi. Penantian selama lima belas menit berakhir begitu pesanan datang dan sesuai kesepakatan yaitu dikemas dalam bingkisan.
Barulah mereka meninggalkan pusat perbelanjaan menuju tempat parkir. Di mana Arvind sudah berdiri di depan mobilnya. Pemuda yang tampan itu terlihat menatap Lee dengan tatapan benci, tapi sesaat teralihkan oleh kecantikan Zoya dan Ameera yang menurutnya hampir mirip
Yoshi dengan senang hati memperkenalkan Ameera sebagai istri dari kakak pertama dan juga Zoya sebagai adik ipar. Tak lupa, ia juga mengatakan bahwa teman penanya sudah ditemukan. Keceriaan di wajah sang adik, membuat Arvind tersenyum bahagia.
Pria satu itu juga diam menyimak seraya mengingat setiap nama baru yang menghadirkan senyum devilnya. "Jadi, katakan padaku. Kalian mau naik mobil ku atau naik mobil seorang pengawal?" Arvind mencoba mencari Kesempatan agar bisa mengenal lebih jauh kakak dan adik iparnya.
__ADS_1
Usaha Arvind terlihat tanpa penghalang, membuat Lee dengan langkah tegas berdiri di depan kedua wanita yang menjadi tanggung jawabnya. "Nona Ameera dan Zoya akan ikut denganku. Kalian berdua, masuk saja ke dalam mobil, sekarang! Yoshi, bagaimana denganmu? Mau ikut denganku atau kakakmu."
Sungguh sangat mengejutkan ketika Lee dengan sangat tegas memberikan pilihan yang membuat Yoshi sedikit dilema, tapi ia tak secepat itu untuk memutuskan. Sehingga memilih memutari mobil Arvind, lalu masuk ke dalamnya tanpa kata. Keputusan yang ia buat bukan untuk mundur, melainkan maju demi masa depan.
Melihat pilihan Yoshi, Lee dan kedua gadis lain masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Arvind. Kedua mobil itu saling beriringan menuju mansion utama keluarga Mahendra. Pergerakan Lee yang mengikuti keputusan Ameera, tak membuat pria itu lupa untuk mengabari Ryan.
Ia tidak ingin ada masalah hanya karena hal sepele. Perjalanan selama empat puluh menit dari pusat perbelanjaan yang cukup membuat mereka lelah duduk di mobil. Meski melihat pemandangan alam yang lebih baik dari perkotaan. Tampak jelas sorot mata Ameera menikmati perjalanan kali ini, sedangkan Zoya lebih banyak diam sibuk merenung.
Sementara Lee hanya fokus menyetir karena ia memang tidak membawa rekan kerja. Mobil Arvind yang sengaja berada di belakang dengan santai mengendarai mobilnya. Pria itu juga memberikan beberapa pertanyaan pada sang adik yang membuat Yoshi terpaksa menjawab.
Tak semua pertanyaan mendapatkan full jawaban pasti karena ia tahu, mana yanh bisa dikatakan dan mana yang harus disembunyikan. Pada kenyataannya Arvind sang kakak tidak akan pernah menyukai keberadaan sang kakak pertama Ryan Mahendra. Jika dikatakan ia lebih menyayangi Ryan mungkin saja.
Baginya, kakak pertama tidak pernah memberikan tuntutan bahkan setelah memberikan ultimatum padanya. Ryan tetap memberikan dukungan untuk keputusan yang sudah ia buat. Sebagai gantinya ia memiliki waktu untuk membuat satu harapan hati terwujud selama kurun waktu satu tahun yang pastinya itu sangat sulit.
Apalagi setelah melihat situasi, ia sendiri merasa seperti butiran debu di mata Lee. Sudah jelas bahwa istri dari prianya adalah Zoya, sang sahabat pena. Lalu, bagaimana ke depan nanti? Antara ia dan gadis itu, siapa yang lebih berharga untuk seorang Lee? Pertanyaan yang menjebak tanpa jawaban.
Kedua mobil yang melaju beriringan akhirnya memasuki gerbang mansion keluarga Mahendra. Terlihat beberapa orang yang sibuk bekerja langsung menghentikan pekerjaan mereka. Kemudian membungkukkan setengah badan menyambut kedatangan tuan rumah.
Para pekerjaan tampak menjaga pandangan, bahkan terlihat jelas tak seorang pun berani menatap ke arah anggota keluarga Mahendra. Melihat itu, sesaat Ameera mengingat hari pertama ia pindah ke mansion Ryan. Ternyata sama saja penghuninya.
"Rumah kalian sangat mewah, tapi lebih mewah punya Kakak ipar Ryan. Katanya, ini rumah utama?" tanya Zoya dengan enteng, membuat Arvind mengepalkan tangan geram.
Perkataan Zoya terdengar seperti sindiran. Ia tidak bisa menerima karena di dalam rumah tersebut yang berkuasa tentu saja bukan Ryan. Akan tetapi, ia juga tidak bisa menyalahkan Zoya yang memang tidak tahu apapun. "Sebaiknya kalian lihat dulu sebelum menilai!" tegasnya menekankan setiap kata.
Kekesalan Arvind yang tampak jelas, membuat Yoshi mengusap lengan kakaknya. Ia tak menyangka akan sindiran Zoya. Padahal selama ini, tidak sekalipun gadis itu berbicara kasar yang bisa menyinggung hati orang lain. Apa yang sudah terjadi?
"De, jangan begitu! Bagaimanapun rumah tetap saja tempat berkumpulnya keluarga." Ameera menegur adiknya yang berbicara begitu menohoh sampai menyakiti si pemilik rumah.
"Sudah, sudah," Yoshi menengahi perdebatan tak menyenangkan hati itu, "Rumah Ka Ryan memang lebih besar dari rumah utama. Aku tidak heran karena kakak pertama seorang pebisnis yang memiliki beberapa perusahaan."
"Wajar saja kalau rumah Ka Ryan memiliki semua fasilitas yang lebih memadai dan rumah utama tidak akan pernah direnovasi kecuali memang diperlukan. Meski begitu lahan di area mansion termasuk wilayah di depan dan belakang masih menjadi milik keluarga kami."
__ADS_1
Bukan berniat pamer, tapi gadis itu harus menjelaskan sesuatu yang di mana orang lain tak tahu. Lee sendiri hanya menyimak karena tak ingin ikut perdebatan apa yang sudah membuatnya sangat bosan. Sehingga diam jalan terbaik.