Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 45#Di antara Hati dan Rencana


__ADS_3

Akhirnya mereka berlima memasuki mansion langsung disambut para pelayan yang terlihat canggung dan juga begitu menjaga jarak. Ameera bisa mengerti karena semua sama seperti di rumah suaminya yang serba diatur hingga tidak bisa sesuka hati. Setelah memasuki rumah mereka memilih untuk duduk bersama di ruang tamu sembari menunggu cemilan dan minuman.


Kecuali Yoshi, gadis itu pergi berlari meninggalkan semua orang kembali ke kamarnya sendiri. Arvind yang duduk di sofa single tampak sibuk memainkan gawai sehingga tidak mempedulikan tamu yang baru saja datang. Seperti biasa pria mudaitu bersikap sesuka hati.


Sementara Lee yang enggan berbicara memilih diam memeriksa pekerjaan dari dalam ponsel, sesekali memperhatikan suasana rumah yang terlihat lebih sunyi dari biasanya. Ia heran kemana perginya semua orang? Tuan dan nyonya yang memiliki kekuasaan di rumah tersebut. Apa masih berada di luar negeri atau di luar kota.


Baru saja memikirkan seseorang yang merupakan salah satu anggota keluarga Mahendra, tiba-tiba datanglah seorang wanita cantik yang meskipun sudah cukup umur tetap berpenampilan modis. Akan tetapi masih dengan riasan sederhana. Siapa lagi, jika bukan Nyonya Cassandra Mahendra.


Kedatangan wanita itu, membuat Arvind beranjak dari tempat duduknya, lalu menyambut kedatangan sang Mama dengan pelukan hangat seperti biasa. Ibu dan anak yang kompak memberikan kehangatan di setiap pertemuan setelah perpisahan.


"Wah, rame sekali, Nak. Kamu kedatangan teman-teman, ya? Coba kenalin sama mama!" pinta Mama Cassandra yang justru disambut garukan kepala sang putra.


Tanpa menunggu perkenalan. Wanita itu berjalan melewati Arvind menghampiri tiga tamu yang duduk di ruang tamu. Tatapan terfokus pada seorang wanita yang duduk diam menundukkan wajah dengan mata terpejam. Dialah, Ameera yang terlihat sedang kelelahan. Sesaat ia merasa pernah melihat Ameera, tapi dimana?


Pahatan wajah yang begitu familiar, membuat Mama Cassandra kian memperhatikan. Sayangnya kenangan dari masa lalu mulai terlupakan hingga ia menemukan wajah lain yang lebih menjadi bahan kekesalan. Keberadaan Lee seketika mengubah mood.


"Kau! Di sini?" tanya Mama Casablanca menatap Lee dengan tatapan sinis, tapi yang di tatap masih sibuk memainkan ponsel. Lima detik kemudian beralih menatap ke arahnya, "...,"


Tatapan mata saling bertemu. Ia tahu, bahwa wanita itu pernah mengaguminya, tetapi ia tak peduli akan hal itu. "Ya, aku di sini, Nyonya. Apa ada masalah?"


"Oh, tentu saja tidak. Kau bebas kemanapun pergi karena tidak ada yang melarang. Lagian seorang tangan kanan Ryan Mahendra, siapa yang berani menghalangimu?" Nyonya Cassandra menyindir Lee dengan begitu ketus, membuat si pengawal hanya tersenyum masam tak ingin mengambil hati.


Obrolan di antara kedua insan itu terdengar begitu panas, tetapi harus dihentikan ketika para pelayan datang membawa minuman dingin dan juga cemilan hangat. Apalagi Yoshi juga sudah turun kembali ke ruang tamu dengan berganti pakaian yang lebih santai. Gadis itu terlihat lebih netral dari sebelumnya.


Kecantikan yang alami seorang Yoshi menyadarkan Zoya bahwa sang sahabat pena memang memiliki paras sempurna seperti boneka. Jika dibandingkan dirinya, seperti bumi mengharapkan bintang di angkasa. Bukan hanya karena perawatan, tetapi pengaruh dari keturunan juga. Apalagi mata biru sedalam lautan begitu menenangkan.

__ADS_1


"Arvind, temani semua orang dan jangan biarkan mereka sendirian atau ajak saja keliling mansion supaya mereka tidak tersesat. Mama kembali ke atas," ucap Mama Cassandra berpamitan dengan langkah kaki beralih meninggalkan ruang tamu.


Wanita itu memang selalu sibuk dengan para kaum sosialita. Kehidupan dari setiap anggota keluarga Mahendra memanglah tak lebih dari sekedar pertemuan, lalu perpisahan. Semua itu karena kesibukan dengan rutinitas masing-masing.


Jadi wajar saja, jika Yoshi merasa kehidupannya tak lengkap. Apalagi sejak kecil selalu diabaikan oleh ayahnya sendiri. Sebagai orang dekat, Lee yang mengetahui semua itu, juga menyayangkan ada seorang anak yang selalu merindukan dan membutuhkan perhatian orang tua, tetapi selalu hidup mandiri dalam kesendirian.


Memang benar, ia memberikan harapan pada gadis itu, tetapi ia juga tak ingin mengecewakan Yoshi karena statusnya saat ini. Selain itu, satu fakta bisa dibenarkan dimana di dunia ini, seorang pria bisa memiliki pasangan lebih dari satu. Meski untuk itu, ia akan menerima konsekuensi yang lebih besar lagi.


Hanya saja, mengherankan ketika mengetahui sang mama pulang. Justru Yoshi terlihat biasa saja seolah menganggap wanita itu tidak ada. Sikap anak itu, benar-benar tidak biasanya. Bisa saja sudah terjadi pertengkaran yang membuat keluarga semakin renggang.


Lee hanya memperhatikan dalam diam. Ingin bertanya, tetapi melihat situasi tidak memungkinkan. Apalagi lirikan mata Zoya selalu tertuju padanya. Jalan yang ia pilih sudah terlanjur memiliki cabang hingga ia sendiri harus bersabar untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya.


Ditengah rasa penasaran, tiba-tiba ia ingat isi dari dalam surat perjanjian. Mengingat itu, Lee berusaha memikirkan sesuatu tanpa pikir panjang. Lalu, jemari tangan mengetikkan beberapa huruf dalam bentuk rencana dadakan yang ia kirim sebagai pesan singkat.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Zoya. Gadis itu memeriksa pesan yang ternyata dari Lee. Sesaat memperhatikan mencoba memahami rencana sang suami hingga perasaan mengerti menghadirkan seulas senyum yang menghiasi wajahnya.


"Yoshi, bisa bantu tolong antarkan Ameera untuk istirahat sebelum makan siang? Nona muda membutuhkan ruang dan waktu agar keadaannya tetap baik-baik saja. Apalagi tengah hamil muda, jadi tidak boleh terforsir.


"Aku tidak mau, kakakmu marah hanya karena istrinya tidak beristirahat. Bisa kan?" Lee menatap Yoshi begitu serius, membuat gadis itu tersenyum tipis seraya mengacungkan jempol.


Dia tidak mengerti apa yang akan terjadi, hanya saja apapun itu pasti sesuatu hal yang penting. Sementara Arvind kembali duduk di tempat semula hanya menyimak keheningan seraya menikmati cemilan yang dibuat oleh pelayan. Cemilan rasa pedas terasa panas menjalar hingga tiba-tiba seseorang mengulurkan es dingin ke arahnya.


"Thanks," capnya berterima kasih bergegas meneguk es jeruk untuk meredakan sensasi panas di lidah. Setelah merasa lebih baik, barulah menoleh menatap si pemberi gelas yang ternyata adalah Zoya. "Oh, rupanya kau. Apa kamu masih sekolah? Kulihat, usiamu pasti sama dengan Yoshi."


"Kami sahabat pena, jadi bisa dibilang begitu. Kebetulan aku baru keluar dari asrama dan sekarang homeschooling berkat kebaikan hati Kakak ipar," sahut Zoya dengan santai sambil memainkan minumannya dengan menggoyang gelas yang tergenggam ditangan kanan.

__ADS_1


Obrolan keduanya terlihat saling cocok karena selalu bisa menanggapi satu sama lain. Melihat itu, Ameera yang mulai tidak fokus hanya bisa menyimak hingga Yoshi mengulurkan tangan ke arahnya. Sudah pasti, gadis itu ingin ia ikut pergi meninggalkan ruang tamu.


Langkah kaki berjalan serempak menuju kamar bawah karena ia tidak berani mengajak kakak ipar kedua ke kamar kakak pertama. Tanpa izin dari Ka Ryan, tak seorang pun bisa memasuki kamar utama yang selama beberapa tahun selalu terkunci.


"Ka Ameera bisa istirahat di sini dan nanti saat semua makan siang siap. Aku sendiri yang menjemput kakak. Oh, iya, Kakak saat ini sedang hamil muda kan? Jadi harus istirahat dan jangan khawatir karena semua pengaturan siap tepat waktu.


"Tekan tombol interkom, jika Ka Ameera membutuhkan bantuan apapun. Di luar sana ada pelayan stand by dua puluh empat jam. Take care, Ka."


Penjelasan Yoshi cukup dimengerti. Apalagi sejak tahu dirinya hamil. Ia merasa beberapa hal berubah begitu cepat bahkan mudah mengantuk dan juga lemas.Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, ia membiarkan sang adik ipar pergi dari kamar.


Sementara ia sendiri merebahkan diri menikmati kasur lembut untuk beristirahat sejenak. Yoshi sendiri memastikan menutup pintu kamar rapat. Kemudian bergegas kembali ke ruang tamu tapi ia tidak menemukan siapapun. Kemana perginya semua orang?


Padahal baru saja ditinggal selama empat sampai lima menit. Mungkinkah secepat itu, semua menghilang? Niat hati ingin bertanya pada salah satu pelayan, tapi tiba-tiba ada getar di tangan. Ternyata sebuah pesan dari Lee yang memintanya untuk kembali ke kamar sendiri.


Gadis itu bergegas menaiki anak tangga yang menuju ke kamar utama di atas sana. Entah kenapa pria satu itu memanggilnya ke kamar. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu kamar. Baru terbuka sedikit tiba-tiba ada tangan yang menariknya masuk.


Tatapan mata bersambut kuncian pergerakan menyudutkan menjadi penghalang pintu yang juga dikunci oleh si pria penggoda. "Kakak, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang datang." Yoshi tersenyum seraya berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Lee.


Pria itu mencengkram tubuhnya tanpa menggunakan kekuatan penuh. Sehingga masih bisa berusaha melarikan diri, tetapi ia tak berniat kabur. Sehingga hanya melakukan pemberontakan sesaat yang membuat Lee mengeluarkan smirk menghadapi gadis seperti Yoshi.


Tatapan mata terus terpaut dari manik biru setenang lautan yang membuat pria itu merasa tak karuan. Perasaannya berubah lebih besar hingga tak tahu kemana hatinya berlabuh. Ia tidak tahu di antara Yoshi dan Zoya. Siapa yang lebih berarti tapi penolakan adik tuan muda justru membuat ia tidak rela diabaikan.


"Apa yang kamu pikirkan? Sampai berani menolakku." tukas Lee membuat Yoshi mengerjapkan mata dengan wajah polos seraya menggelengkan kepala pelan. Gadis itu tampak lugu seolah tidak berani melawan Lee. "Gadis polosku, apa kau pikir, aku ini bodoh? Kamu terlalu pintar dan cerdik untuk dikelabui."


Tangan Lee menyentuh wajah Yoshi dengan begitu lembut bermain di pahatan sempurna pemilik ketenangan nan memabukkan. "Aku tahu, kamu lebih pintar dari diriku dan juga Zoya, tapi ingatlah satu hal. Selama kau bersamaku, maka kamu hanya milikmu. Jadi jangan berusaha untuk mencari kekacauan di antara hubungan kita!"

__ADS_1


"Ka Lee, masalahnya itu bukan di aku, tapi di diri kakak sendiri." Yoshi mendorong dada Lee hingga terdorong ke belakang. Lalu berjalan dengan santai menuju tempat tidurnya yang besar dan juga mewah dengan desain ala kerajaan.


Kamarnya kini terlihat lebih berwarna dengan sebuah ayunan yang ada di sudut ruangan. Jika diamati lebih seksama benar-benar mirip dengan kamar di villa saat liburan di Bali. "Kakak yang meninggalkan aku dirumah ini, trus kenapa jadi aku yang dituding. Pernahkah Ka Lee memikirkan bagaimana perasaanku?"


__ADS_2