Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 25#Antara Dua Hati


__ADS_3

Ameera meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan orang lain bahkan termasuk Ryan maupun Lee. Wanita itu hanya ingin mendapatkan kejelasan dari hasil pemikiran absurd yang semakin membuat hatinya gelisah tak menentu. Meski untuk itu ia harus bermain kucing-kucingan dengan menghindari pertemuan bersama suster maupun dokter yang melewati lorong yang sama.



"Taksi!" panggilnya begitu sampai di luar gerbang rumah sakit dengan tangan melambai membuat sebuah mobil taksi yang datang dari arah kanan berhenti di depannya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu sedikit keras agar rapat tanpa harus mengulang.



Tatapan mata menoleh ke belakang melihat wajah cantik sang pelanggan tetapi ketika penutup luar tersingkap tampaklah pakaian rumah sakit, "Nona lari dari rumah sakit?"



"Gak, Pak. Tolong antar aku ke jalan Gelatik nomor tiga rumah bercat ungu muda dengan pohon belimbing wuluh di depan halamannya." Ameera menjelaskan secara detail alamat yang ingin dituju. "Jangan khawatir, Pak. Aku cuma mau pinjam uang ke temen buat bayar biaya obat, hehehe."



Wajah polos dengan tatapan mata sendu membuat Pak supir taksi manggut-manggut mengiyakan tanpa ingin ikut campur. Pria berusia empat puluh tahun itu hanya ikut merasa kasihan karena didunia ini masih banyak orang tidak memiliki kehidupan yang berkecukupan.



Sebagai sesama manusia ia hanya bisa menolong dengan cara mengantarkan si gadis ke alamat yang disebutkan. Pria itu tidak tau jika Ameera merupakan istri seorang pengusaha yang terkenal bahkan bisa membangun perusahaan taksi sendiri. Meski begitu terkadang lebih baik menjadi orang biasa tetapi hidup tenang.



Perjalanan selama tiga puluh terasa begitu cepat hingga tak terasa mobil taksi berhenti di depan sebuah rumah bercat ungu muda sesuai deskripsi yang diberikan Ameera. Wanita itu turun dan meminta si supir untuk menunggu karena memang tidak memegang uang sepeserpun. Langkah kaki berjalan menghampiri rumah tanpa pagar yang ada di depan mata.



Entah sudah berapa lama tidak datang tetapi hari ini kembali ke tempat dimana semua kehidupannya bermula. Tanpa ingin menunda, ia mengetuk pintu mengikuti irama kode yang selalu menjadi simbol kehadirannya. Benar saja tak perlu menunggu lama terdengar suara kunci pintu dibuka, lalu bersambut kepala yang menyembul dari kegelapan.


__ADS_1


"Bagi uang, aku belum bayar taksi." pinta Ameera tanpa basa-basi membuat orang yang ada di dalam rumah mengambil dompet kemudian diserahkan padanya. "Tunggu sebentar."



Wanita itu menyelesaikan urusan dengan si supir taksi, lalu bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Rumah sederhana yang bisa memberikan segalanya meski bukan kemewahan. Tatapan mata mengedarkan pandangan menelusuri ke setiap sudut ruangan yang bisa di jangkau mata tanpa kesulitan.



"Masih sama seperti dulu, pergilah ke kamar dan ganti pakaianmu!" titah suara dari dapur yang entah sibuk membuat apa tetapi begitu perhatian terhadap Ameera yang pasti beranjak dari ruang tamu menuju kamar.



Sesaat berhenti mengaduk minuman segar yang baru saja dibuatnya. Helaan napas panjang mencoba menetralkan perasaan yang terasa berkecamuk meronta tak menentu. Sudah lama tak berjumpa dengan Ameera tapi tiba-tiba wanita itu muncul di depan pintu mengenakan pakaian rumah sakit. Apa yang terjadi hingga keadaan terlihat memburuk.



Tak terasa waktu terus berjalan hingga tiba-tiba tepukan di bahu bersambut senyum hangat meluluhkan semua rasa penasarannya. "Minuman milikmu," segelas milkshake alpukat dengan topping ice cream vanilla di berikan ke tangan Ameera. "Mau ngobrol dimana?"


Keduanya berjalan seirama dengan tangan menggengam minuman segar tetapi hanya Ameera, sedangkan orang yang di gandeng tidak menginginkan apapun selain menunggu curahan hati si gadis impian yang kini memiliki banyak kehidupan. Tidak membutuhkan waktu lama hingga sampai ke kamar tuan rumah karena memang rumah itu hanya memiliki lima ruang saja.



"Aromanya masih sama, seperti bau tubuhmu, Ka." Diletakkannya gelas ke atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, kemudian mengambil bantal yang digunakan sebagai sandaran punggung. "Nyamannya, bagaimana kamar kakak?"



"Ok, kamu sendiri? Jangan bilang ok kalau dateng kesini saja pake seragam pasien." Lirikan mata menoleh ke arah atasan dan bawahan pakaian biru yang tergeletak di atas bangku depan meja rias.



Apa yang harus disembunyikan olehnya ketika keadaan saja memang sudah tidak bisa lagi di toleransi. Baginya kepercayaan itu hanya untuk pria yang ia anggap sebagai kakak, dimana pria itu kini memalingkan muka tak ingin menatap ke arahnya. Ia tahu kekecewaan masa lalu masih membekas di hati.

__ADS_1



Tangan kekar yang bersedekap, ia lepaskan. Lalu digenggam seraya mengusap dengan penuh kasih sayang, "Ka Yoseph, maafin aku tapi kakak tau keadaanku pada saat itu. Please jangan seperti ini karena kamu yang bisa menjadi tempatku pulang."


"Senja, aku tidak ingin mendiskusikan apalagi berdebat tentang masa itu. Katakan saja kenapa kamu kemari karena aku tidak sesabar itu hingga ingin ... Sudahlah. Silahkan bicara," Yoseph menahan diri meski gemuruh di hati jelas ingin berargumen menegaskan masa lalu tak bisa dilupakannya.


Namun ia bukan pecundang yang tega mengedepankan ego seorang pria hanya untuk memenangkan hati seorang wanita. Apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua, bisa dikatakan kesalahan satu malam tetapi tidak akan pernah terlupakan. Satu pertanyaannya, apakah Ameera menganggap itu kesalahan atau hanya angin lalu.



"Sebenarnya aku bingung mau mulai dari mana, Ka." kata Ameera membuat Yoseph menoleh menatapnya lekat bahkan tak berkedip. Tatapan serius menghunus rasa yang terpendam. "Ini masalah pekerjaan yang dulu dan rumah tangga baruku."



Hening tak ada respon selain pengalihan tatapan yang kembali menatap dinding kosong di depan sana. Suara deru napas teratur menandakan semua masih normal tanpa ada penekanan. Melihat itu, si wanita mulai menceritakan kisah yang menurut dunia tak baik tetapi kehidupan selalu tentang perjuangan.



Yoseph menyimak tanpa menjeda, apalagi memberikan pertanyaan. Pria itu hanya menjadi pendengar setia sampai melupakan waktu hingga dua jam telah berlalu tetapi Ameera belum selesai dengan kisah hidup yang terdengar cukup runyam. Sementara di tempat lain mendadak terjadi kehebohan yang membuat pasangan baru harus menghalalkan hubungan saat itu juga.



Siapa sangka tiba-tiba ada razia yang mengubah rencana cantik menjadi penderitaan biduk rumah tangga. Tidak berniat terjebak dalam hubungan sekarat hanya saja, tidak mungkin menentang keadaan yang sudah menyudutkan posisi keduanya. Mau, tak mau harus melangsungkan pernikahan tanpa persiapan.



"Saya terima nikah dan kawinnya ...,"



Suara ijab mendadak hilang tak lagi bisa terdengar begitu volume musik dibesarkan. Biarkan saja janji suci itu didengar orang lain yang membutuhkan pengakuan hubungan, "Aku pengen ke toilet tapi kapan selesai semua ini?"

__ADS_1


__ADS_2