Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 20#Obrolan Dua Rasa


__ADS_3

Setiap manusia selalu memiliki tujuan masing-masing. Baik itu dengan niat ataupun hanya mengikuti kesempatan yang ada. Seperti halnya yang dilakukan Zoya, gadis itu memiliki kesempatan untuk mempertemukan kenyataan, kebenaran dan juga takdir yang harus dipersatukan. Apa yang terjadi padanya tidak mungkin untuk diubah lagi, tetapi ia bisa membantu kehidupan sang kakak agar mendapatkan hak yang pantas didapatkan.


Sebagai seorang adik, ia tahu sang kakak bukanlah wanita egois yang akan merebut hak milik orang lain. Akan tetapi keadaan menjadikannya seperti boneka yang bisa dimainkan orang lain sesuka hati. Terlalu sadis dunia yang memiliki niat memanfaatkan sang kakak.


Sementara Lee harus memperhitungkan segala sesuatunya. Apakah ingin tetap mempertahankan Zoya yang sebentar lagi akan menjadi istri atau justru selalu mengikuti perintah sang majikan. Apalagi syaratnya sangat mudah yaitu membawa ia masuk ke dalam keluarga Ryan sebagai adik ipar.


Gadis itu dengan tegas mengatakan ingin selalu berada di dekat Ameera tapi agar bisa mendekati sang kakak tanpa menimbulkan kecurigaan, maka hanya memiliki satu kapan yaitu menjadi bagian keluarga Mahendra. Kesempatan itu dia dapatkan setelah menemukan informasi tentang Arvind Mahendra.


Jadi tugas Lee yang kedua adalah mempertemukan ia dan Arvind seperti kesepakatan yang telah disepakati. Namun sebelum itu harus melakukan kesepakatan pertama yaitu Lee harus membawa Ameera meninggalkan rumah sakit dengan syarat lain. Dimana Lee juga harus mencabut sekolah asrama di ganti dengan homeschooling.


Terdengar sangat menguntungkan bagi Zoya saja, sedangkan Lee? Awalnya pria itu menolak tetapi setelah melihat syarat lain yang berpihak pada dirinya sendiri, ia menerima kesepakatan tanpa ragu. Inti dari kesepakatan itu adalah kini Zoya menjadi miliknya, meski harus memberikan tenggat waktu selama satu tahun.


"Zoy, bersiaplah! Aku akan mengantarmu kembali ke asrama sekarang juga." tukas Lee seraya merapikan kertas perjanjian yang akan ia serahkan pada pengacara.


Namun, kali ini bukan pengacara keluarga Ryan karena dia sendiri tak ingin orang lain tahu tentang kesepakatan itu. Zoya bangun dari tempat duduknya, gadis itu menurut tanpa memandangnya berlalu pergi kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang tertunda.


Sontak saja, Lee memesan pakaian ganti untuk mereka berdua. Setidaknya sang partner bisa mendapatkan fasilitas yang pantas demi kenyamanan kenyamanan. Lagi pula gadis milik seorang Lee harus mendapatkan yang terbaik.


Satu jam kemudian hanya ada keheningan ketika keduanya berada di dalam mobil. Perjalanan kali ini tidak sulit tapi hanya perlu memutar arah agar sampai di seberang, tapi mereka tidak ingin ke rumah sakit. Melainkan ke asrama untuk mengutarakan niat pemindahan sekolah.


Tentu saja Lee sudah mengirim pesan meminta Tuan Muda untuk mempermudah urusannya karena memang itu rencana awal sang majikan juga. Hari ini ia membawa Zoya kembali ke asrama. Dimana gadis itu memilih untuk kembali masuk ke kamar begitu sampai di depan asrama.

__ADS_1


Zoya langsung menemui Ayesha yang juga merindukannya. Sementara ia sendiri pergi ke ruang kepala sekolah yang merupakan pemilik Yayasan sekaligus juga pendiri beberapa LSM kepedulian sosial.


"Selamat pagi, Bu. Boleh saya masuk?" Lee menyapa setelah mengetuk pintu ruangan utama yang berada di asrama.


Wanita berjilbab dengan kacamata tebal menganggukkan kepala mempersilakan. "Apakah Anda wakil dari Zoya?" tanyanya sopan tanpa menatap Lee berlebihan karena dia seorang guru agama yang juga menjaga pandangan mata.


Meski usianya sudah empat puluh lima tahun atau mungkin lima puluh tahun kurang. Wanita itu tetap saja seorang wanita muslimah yang akan selalu menjaga pandangan terhadap lawan jenisnya. Lee mengangguk, lalu menyerahkan sebuah berkas yang ia letakkan ke atas meja.


Berkas itu merupakan laporan yang selama ini dia dapatkan dari asrama secara diam-diam. Ibu kepala yayasan membuka berkas, kemudian membaca dengan teliti seraya mengangguk-anggukkan kepala paham. Kini ia paham dengan apa yang diinginkan Lee, lalu tanpa basa-basi mengambil sebuah file dari salah satu lemari kaca yang berada di belakang tempat kerjanya.


File informasi yang sebagai jejak sejarah Zoya sejak memasuki asrama dan juga dengan dengan hasil rekap nilai selama gadis satu itu menjadi murid di asramanya. Informasi tersebut akan mempermudah Lee menemukan guru pembimbing yang tepat agar kemampuan Zoya yang memang di atas rata-rata bisa semakin dikembangkan.


Lee menerima dengan senang hati tetapi ia masih belum memeriksa karena harus menyelesaikan formalitas pendidikan milik Zoya. Setelah surat-surat ditandatangani dengan seksama. Ibu yayasan menyimpan dokumen pemindahan ke laci kanan meja kerjanya.


"Zoya akan kami sekolahkan homeschooling. Sehingga kami bisa memantau setiap perkembangan tanpa harus merasa khawatir. Kami juga telah menyiapkan guru terbaik agar gadis itu mendapatkan nilai yang lebih bagus lagi. Selain itu keluarga kami ingin selalu bersama dan keputusan ini pilihan yang terbaik untuk kita semua.


"Kalau gitu, saya permisi, Bu. Semua formalitas sudah selesai." Lee berdiri tapi lalu kembali duduk, "Sebelum saya pergi, saya ingin tahu satu hal. Bagaimana jika Zoya ingin kembali ke asrama suatu saat nanti. Apakah masih bisa?" tanya Lee hanya untuk berjaga-jaga.


Ia ingin tahu jawaban pasti dari ibu kepala asrama sendiri. Pertanyaan itu jelas menyiratkan sesuatu. Meski ia tak tahu apa yang dimaksud oleh Lee. "Jika memang Zoya ingin kembali boleh saja, tapi bukankah sebentar lagi gadis itu akan lulus. Jadi bagaimana bisa kembali ke asrama? Sepertinya Anda melupakan itu."


Seketika kenyataan datang menyapa. Ia benar-benar lupa saat ini Zoya kelas berapa dan memang beberapa waktu lagi akan ada ujian. Sepertinya ego terus memikirkan diri sendiri. Ia hanya menginginkan si gadis remaja itu tidak jauh darinya.

__ADS_1


Egonya memang semakin meningkat di setiap detik yang menjadi menit bahkan berganti jam. Sementara di sisi yang lain Zoya memeluk Ayesha begitu erat membuat sang sahabat kebingungan karena sikap tak biasanya. Gadis yang selalu kuat mendadak seperti hilang arah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ayesha khawatir. Apalagi dia merasakan punggung Zoya naik turun dengan sensasi basah yang jatuh ke pundaknya. "Please, Zoy, katakan padaku apa yang terjadi! Semua baik-baik saja kan? Jangan membuatku merasa takut dengan semua yang kamu lakukan ini."


Zoya diam tak ingin menjawab. Ayeshalah yang selama ini selalu menjadi sandaran tempatnya berbagi keluh kesah tapi kali ini hanya bisa terdiam menitipkan air mata mengingat kejadian semalam. Kenangan itu membekas begitu jelas menggores hati yang berdarah tanpa warna. Ia takut, jangan sampai semua itu terulang.


Namun kehidupan tetap berjalan dan ia tak ingin kalah oleh keadaan. Apalagi menyerahkan diri hanya untuk kepuasan seseorang. "Aku baik-baik saja hanya ingin memelukmu terakhir kali sebelum pindah dari asrama ini," Zoya melepaskan pelukan, lalu menghapus air mata karena tak ingin melihat kesedihan di mata Ayesha.


"Aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan dariku , Zoy. Apapun itu, ketika kamu siap untuk menceritakan semuanya. Maka cukup telepon aku dan jangan pernah ragu untuk meminta bantuanku. Kita ini sahabat bahkan aku menganggapmu sebagai saudariku.


"Jangan pernah ragukan itu, ya Zoy." pinta Ayesha membuat Zoya semakin merasa tersudut karena tidak bisa menjelaskan apapun.


"Aku tahu itu, Ay, tapi sungguh aku tidak apa-apa. Lagian setelah hari ini aku akan tinggal bersama Ka Ameera dan hal itulah yang selama ini aku harapkan." balas Zoya terus terang meski menyembunyikan kebenaran di balik kenyataan tersebut.


Kebahagiaan berbalut sorot maka luka yang membuat Ayesha tidak lupa akan arti bahagia bagi seorang Zoya. Dimana sorot mata yang berpendar dari netra sang sahabat ketika menyebutkan nama kakaknya selalu penuh bunga bermekaran. Akan tetapi hari ini, yang ia lihat justru kesedihan, kekecewaan dan juga ragu yang menyelimuti aura sang sahabat.


Entah masalah apa yang tengah dihadapi oleh Zoya. Ia hanya ingin gadis itu kuat agar bisa menghadapi masalah yang menghadang. "Alhamdulillah, sekarang kalian bisa hidup bersama. Jadi tidak ada lagi yang mengeluh kapan liburan tiba hanya untuk bisa bertemu sang kakak tercinta."


"Zoy, aku turut bahagia mendengar itu tapi jangan pernah lupakan masih ada aku yang juga membutuhkanmu setiap waktu dan akan selalu merindukanmu." timpal Ayesha lalu kembali memeluk Zoya. Tetapi kali ini ia sendiri yang merasa sedih karena harus berpisah secepat waktu yang berubah tanpa pemberitahuan.


Kedua gadis itu saling berbagi kehangatan sebelum kembali ke kehidupan masing-masing yang pasti belum tentu ada pertemuan lagi. Ayesha tidak tahu, setelah keluar dari asrama kehidupan Zoya bisa saja menjadi neraka atau surga. Siapa yang tahu hari esok?

__ADS_1


Kedatangan Lee yang berdiri di depan pintu memaksa Zoya harus sadar diri untuk segera berpamitan pada Ayesha. "Aku menyimpan sebuah kado untukmu di lemariku. Ambillah ketika hari ulang tahunmu tiba. Assalamu'alaikum, Ayesha."


__ADS_2