Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 24#Ryan, Laura, Ameera


__ADS_3

Persetujuan telah didapatkan membuat Dokter Sashi harus melakukan pekerjaannya. Dimana wanita itu akan memulai program bayi tabung tetapi melihat keadaan Ameera, maka jadwal dari penetapan program kehamilan akan ditunda selama seminggu ke depan.


Tujuh hari kedepan harus berusaha memulihkan kondisi si pasien agar bisa menjadi tempat pembuahan dari dua sel pasutri yang ingin meminjam rahimnya. Hal itu akan dilakukan secara diam-diam tanpa memberitahu si ibu pengganti. Syarat dan ketentuan sudah disepakati jadi hanya menunggu waktu yang tepat saja.


Sementara itu Ryan tak ingin terlalu memikirkan tindakan Laura. Ia tahu bahwa istrinya hanya ingin memberikan keturunan dari darah daging sendiri tetapi kali ini terlalu beresiko meski jika Ameera hamil, tetap saja ia yang menjadi suami. Pikiran tak tenang ketika ia berusaha ikut masuk ke dalam rencana dadakan sang ratu hati.


"Ratuku, sebaiknya kamu pulang. Ini sudah siang dan Ameera bisa terbangun kapan saja. Jangan sampai dia melihatmu disini." tegur Ryan melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang.

__ADS_1


Tangan yang sejak satu jam hanya sibuk berdiam diri merengkuh raga kekar itu enggan beranjak dari tempat ternyamannya. "Pulang sendiri? Tega bener sih, Hubby. Padahal sejak semalam aku blum makan tapi ya sudahlah."


"Aku pergi dulu," Laura melepaskan diri, lalu menyambar ponsel di atas meja. Niat hati ingin beranjak tetapi pergerakannya di tahan Ryan yang mengunci dengan kedua tangan. "...,"


Tak ada kata selain s3s4p4n manja yang menuntut. Bibirnya tak kuasa menahan serangan Ryan yang menghujam penyatuan rasa tanpa aba-aba hingga tanpa sadar tangan ikut berkelana menjelajahi raga dengan liar. Satu persatu dilepaskan tetapi ada tangan yang menahan pergerakannya.


"Hubby, kita di ruangan istri mudamu. Yakin mau buat dia skot jantung?" tanya Laura menggoda Ryan. Suaminya terlihat frustasi karena penolakannya, tetapi ia masih waras. Maka dari itu menghentikan pergerakan tangan nakal sang suami.

__ADS_1


Kedua insan itu beranjak pergi meninggalkan kamar Ameera. Langkah kaki menjauh tanpa berpikir hal lainnya lagi. Lagi pula siapa yang akan melarang suami istri bermesraan? Apalagi ketika Cinta, obsesi, kasih sayang, kepemilikan menjadi satu, maka yang terjadi hanyalah hak tanpa kepuasan.


Beberapa saat setelah kepergian pasutri itu, Ameera terbangun tetapi ruangannya kosong. Rasa bahagia yang ia bawa dari alam mimpi seketika hilang meski masih terekam jelas di dalam memorinya. Dimana ia melihat cawan dalam mimpi. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa mimpi tersebut biasanya menjadi pertanda akan segera mendapatkan kabar baik.


Cawan atau vas memiliki bentuk yang menyerupai rahim wanita. Oleh sebab itu kedua benda ini sering menjadi simbol awal kehidupan serta kesuburan. Mimpi yang baginya menjadi harapan baru tapi tak ada tempat berbagi. Kesendirian kembali menyapa membuat wanita itu melepaskan selang infus yang masih menancap ditelapak tangan kirinya.


"Sebaiknya aku jalan-jalan saja, berbaring terus cape." ujarnya tak mempedulikan rasa sakit di tangan bahkan tetesan warna merah yang jatuh ke lantai.

__ADS_1


Blazer yang tergeletak di atas nakas di ambilnya, lalu ia kenakan untuk menutupi pakaian rumah sakit. Langkah kaki berjalan mendekati pintu masuk dengan sisa rasa yang kini tidak tahu kearah mana. Jujur saja hati mulai ragu tetapi pikiran berusaha tetap positif. Ia tak bisa terus menerus bergelud seorang diri tanpa ada teman yang bisa di ajak berdebat.


Aku harus menemui dia karena semua ini sudah melebihi batas perasaanku.~batin Ameera tanpa menyurutkan niat hatinya berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


__ADS_2