Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 43#Malam Penyatuan


__ADS_3

Pertemuan antara Ayesha dan Zoya masih berlangsung. Dimana keduanya sengaja menghabiskan waktu bersama untuk memberikan kenang-kenangan terakhir sebelum perpisahan. Kali ini tidak ada kesedihan selama beberapa jam. Justru yang ada hanya suara canda tawa bahkan menikmati makanan yang dimasak khusus oleh bunda sang sahabat. Begitu juga dengan sang ayah dari Ayesha dengan senang hati mengajarkan beberapa hal pada Zoya.


Kebahagiaan keluarga selalu terletak pada setiap senyum dari anggotanya. Sementara Zoya yang tidak memiliki orang tua menyadari kehidupan Ayesha Lebih baik dibanding kehidupan miliknya sendiri. Meski begitu, ia tak pernah mengharapkan lebih dari apa yang ia punya saat ini karena pada dasarnya semua harus bersyukur atas nikmat yang sudah ditakdirkan.


Waktu begitu cepat berlalu hingga tidak terasa hari berganti malam. Gadis yang sejak siang menghilang akhirnya sampai di mansion sang kakak ipar. Suasana masih sama karena tidak ada kehebohan selain keheningan dan pengawasan para penjaga yang memang membiarkan ia masuk. Lagipula, semua tahu, dia penghuni baru.


Baru pukul delapan malam saat sampai di ruang tamu, tapi suasana benar-benar seperti kuburan. Satu pertanyaan yang terlintas ke dalam benaknya yaitu untuk apa orang membangun istana sebesar itu? Jika tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi bersamaan.


Kemudian ketika ia mengingat keluarga Ayesha yang menempati rumah sederhana tapi selalu penuh kasih sayang. Di dalam hati mencoba merangkai harapan. Apakah dia bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cinta keluarga yang sama?


Rasanya tak tahu harus melakukan apa begitu sudah sampai di rumah yang menurutnya begitu asing. Termasuk situasi malam ini, bagaimana tidak? Setelah tinggal bersama kakaknya ia sangat jarang bisa memiliki waktu bersama Ameera. Sang kakak yang lebih sibuk mengurus suami sehingga terkadang melupakan keberadaan dirinya yang juga tinggal seatap.


Bukannya dia mau mengeluh, hanya saja sekedar untuk duduk berdua dan memiliki waktu bersama kakaknya saja seperti tinggal beda pulau. Harapan yang selama ini menjadi mimpi perlahan mulai sirna. Sebagai seorang adik, ia menyadari hati kakaknya lebih Ryan dibandingkan mencintai dirinya.


Ryan memang suami yang bisa memberikan kepalsuan cinta dan kenyataan harta, sedangkan dirinya? Selalu menjadi beban. Tidak ada niat untuk menilai, apalagi membedakan atau merasa iri hati. Namun fakta menjadi bukti. Padahal yang dirinya butuhkan hanya sedikit waktu dari Ameera.



Waktu yang bisa dihabiskan sebagai bentuk kebersamaan karena mereka berdua kakak beradik. Bukankah harapan itu sangat sederhana? Langkah kaki terhenti dengan biar hati ingin pergi ke dapur, tetapi rasa lelah yang mendera membuat langkahnya kembali berangsur menaiki anak tangga menuju ke kamar sendiri.



Perut memang merasa lapar, tapi jika hanya seorang diri menikmati makan malam. Rasanya pasti hambar. Sehingga ia memilih untuk membersihkan diri dan setelah itu, bisa menjemput mimpi. "Akhirnya, sampai kamar juga."



"Mending aku mandi langsung," Zoya melepaskan tas, lalu melemparkan bawaannya itu ke atas ranjang.



Tas yang ia bawa dari rumah Ayesha berisi beberapa buku dan catatan yang memang dibutuhkan dan sang sahabat memberikannya sebagai kenang-kenangan. Tak menunggu lama, gadis itu memasuki kamar mandi tanpa memperhatikan sekeliling kamar.


__ADS_1


Dimana seorang pria sudah menatap kedatangannya tanpa berkedip. Ia terdiam hanya menjadi penonton memperhatikan setiap gerakan Zoya yang terlihat masih sama begitu aktif dan selalu bersikap santai. Meski, jika berbalik, lalu melihat keberadaannya sudah pasti akan berbanding terbalik menjadi gadis yang dingin.



Penantian selama hampir empat puluh lima menit dengan pemandangan di depan mata yang cukup membuat dagu naik turun menghantarkan rasa panas ke sekujur tubuh. Darahnya melonjak tinggi dengan debaran dada tak karuan melihat keindahan pahatan tubuh Sang Pencipta.



Pemandangan itu, sudah lama ia lupakan, tapi malam ini, sekali lagi tergoda. Zoya yang masih sibuk membenarkan handuk bahkan sesekali melepaskan penutup tubuhnya. Gadis itu masih tidak menyadari keberadaan pria di dalam kamarnya. Sehingga menampilkan seluruh badan tanpa ragu karena merasa lebih bebas.


Tatapan mata mengikuti setiap pergerakan si gadis dengan rasa di dada bahkan semakin lama diam. Si junior kian meronta, Zoya tak melihat tatapan inginnya yang siap menerkam. Meski masih terdiam di sudut ruangan menunggu waktu permainan.


Langkah kaki yang begitu pelan berjalan menghampiri almari, lalu membuka, kemudian memilih gaun yang akan ia kenakan. Dari beberapa gaun yang terlihat, semua terlalu membosankan dan enggan untuk dijadikan teman mimpi indahnya. Ditengah kesibukan tiba-tiba ada meraih sebuah gaun hitam.


"Pakailah!" titah suara parau seorang pria dari belakang yang membuat Zoya diam membeku.


Tubuhnya tidak siap menerima perintah dari pikiran hingga terdiam membiarkan gaun itu tetap berada di tangan kekar yang pasti mengharapkan penerimaan. Istrinya kaku seperti patung, membuatnya tanpa sungkan menyusupkan wajah menikmati aroma wangi sabun nan menggoda.


Tanya lain mengunci pergerakan Zoya agar sang kekasih tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Kecupan hasrat menjadi awal perjalanan kebersamaan tanpa ada kata permisi. Sehingga Zoya memejamkan mata diam membiarkan Lee menguasai dirinya.


Gadis itu terbius karena permainan baru Lee sampai tidak tahu kenapa mengikuti arah yang jelas-jelas hanya ingin memuaskan hasrat di atas ranjang. Apa semua hasil dari kepergian Lee yang menghilang tanpa kabar? Ia tidak bisa memahami kenapa terbawa suasana.


Setiap kali pikiran menolak sentuhan tangan Lee yang terus berusaha untuk menguasai dirinya. Justru raganya mengharapkan lebih. Perebutan kekuasaan diatas ranjang tak secepat peraduan malam membuai kedua insan di tengah kehangatan. Semua yang terjadi tak luput dari perhatian seseorang.


Laura yang sedikit menyamarkan hasil CCTV hanya tersenyum sinis karena melihat tindakan Lee terhadap Zoya. Pria itu lebih ganas dari apa yang ia pikirkan. Sungguh tidak pernah menyangka akan kenyataan dari sang tangan kanan suaminya itu. Ditengah kesibukan karena memiliki tanggung jawab banyak, Lee masih bisa terjebak dengan dua gadis sekaligus.


"Ratuku, matikan saja! Biarkan pasangan itu berbulan madu secara gratis. Bukankah baru saja menikah. Jangan ganggu kesenangan pasutri itu!" perintah suara dari arah belakang yang sibuk memainkan jemarinya menyapa punggung mulus sang istri di antara ditengah kerinduan malam.


Laura yang masih memikirkan apa yang akan dilakukan oleh mereka nantinya sibuk dalam kegalauan. Jujur saja, ia senang karena Ameera berhasil mengandung anaknya dan Ryan, tetapi apa yang akan terjadi nanti?Mungkinkah semua akan baik-baik saja.


Ketika hubungan ia menyadari akan adanya banyak pertentangan yang bisa menjadi masalah besar. "Hubby, apakah kamu serius akan membawa Ameera ke luar negeri selama proses kehamilannya?" Laura bertanya yang langsung menghentikan pergerakan Ryan.


Pria itu beralih merengkuh tubuh wanitanya hingga bersandar di dada. "Apa lagi yang menjadi masalahmu, kali ini, Ratuku? Bukankah sudah kukatakan. Semua akan kulakukan hanya untuk mewujudkan setiap impian rumah tangga kita."

__ADS_1


"Lagi pula, bukan hanya aku dan Ameera saja yang akan pindah ke luar negeri. Kita bertiga, sedangkan yang lain akan tetap di Indonesia. Apa kamu tidak ingin tinggal bersamaku selama di London?


"Atau kamu masih mengharapkan sesuatu yang lain agar kita bisa menjadi keluarga yang utuh? Apapun harapanmu, katakan saja! Asal jangan selalu meragukan setiap tindakan yang sudah aku ambil." Ryan merengkuh dagu sang istri hingga membuat ratu hatinya membalas tatapan mata hingga saling menyatu terpaut dalam kebisuan sesaat.


"Laura Ryan Mahendra. Aku sangat mencintaimu, Ratuku. Perasaan ini, tidak akan pernah bosan untuk selalu kuutarakan. Ryan hanya mencintai Laura seorang sampai napas terakhirnya."



Sebagai suami, ia tahu benar. Sorot mata tenang berselimut kegelisahan itu masih memiliki banyak pertanyaan, tetapi tidak tahu harus bagaimana untuk menyampaikan rasa yang terpendam. Begitulah Laura, wanita yang selalu mudah cemas di saat hati merasakan tak nyaman akan situasi yang menegangkan.


"Hubby, aku tidak meragukan cinta darimu. Akan tetapi, ketika takdir merubah waktu. Maka siapapun tidak bisa kembali ke jalan yang sama. Sebagai manusia tentu kita tahu sendiri hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Disini aku masih berusaha untuk menjaga milikku.


"Apa itu salah? Maaf, Hubby. Aku rasa kamu benar dan pikiran di dalam benakku terlalu penuh sampai lupa tujuan utama kita. Baiklah, kau bisa persiapkan semua untuk kepergian kita ke luar negeri dan aku sendiri yang akan mengatur tempat tinggalnya.


"Hubby, bisakah kita memulai sesuatu dengan cara yang lain? I means ...," Laura tidak melanjutkan ucapannya karena bingung harus mengatakan apa untuk menyampaikan keinginan hati yang mungkin akan langsung ditentang oleh Ryan sendiri.


Sentuhan lembut di pipi kembali merengkuh kesadaran bersambut tatapan mata yang terus menatapnya menanti kelanjutan ucapan. Ia sadar bahwa Ryan sedang mengharapkan keseriusan dari dirinya. Suami yang selalu mengerti, memahami kebutuhan seorang Istri sebelum diminta.


"Hubby, aku ingin kita tinggal bersama saat di London nanti tanpa harus bersembunyi. Aku tahu, tidak semudah itu, tapi tidak bisakah kita menyamar menjadi keluarga, sahabat lama, atau rekan kerja agar tidak perlu main kucing-kucingan seperti saat ini," rajuk Laura memberanikan diri memberi saran yang pasti menjadi bahan pertimbangan darurat.


Jika memikirkan secara matang, lalu membandingkan keadaan. Lelah saja dengan kehidupan yang terus-terusan bermain petak umpet hanya untuk membagi waktu antara istri pertama dan istri kedua. Apalagi selama sembilan bulan waktu kehamilan, pastinya Ameera lebih membutuhkan Ryan.


Sudah pasti masa kehamilan pertama yang harus selalu dipantau. Ryan memikirkan sejenak atas saran Laura. Bukannya tidak mau memberikan kebebasan untuk sang istri, tapi jika sampai ada yang mengenali Laura. Maka, bukan tidak mungkin keluarganya sendiri bisa melakukan serangan tak terduga.


Selain itu, keadaan bisa semakin runyam. Meski membenarkan pernyataan sang istri benar adanya. Sampai kapan akan trus bersembunyi? Ia juga tak berniat membuat istana emas hanya untuk dijadikan pajangan.


"Ratuku, aku memiliki sebuah rencana yang setidaknya akan meminimalisir semua resiko. Rencana ini bisa kita jalankan asal kamu setuju." Ryan memutuskan sesuatu setelah sejenak diam memikirkan baik dan buruk hingga sebuah ide datang menyapa.


Laura mengangguk begitu yakin dan pasti tanpa keraguan, "Hubby, katakan saja! Aku siap melakukan apapun itu asal tidak menentang hati nurani." Persetujuannya membuat Ryan tersenyum lalu mendekatkan diri menghantarkan aroma tubuh maskulin.


Suara pelan dengan bisikan yang menggoda didengarkan begitu serius. Laura terdiam menyimak setiap kata yang diucapkan oleh Ryan. Sang suami yang selalu memiliki taktik dan cara bertindak lebih cepat dari siapapun. Dimana setiap pergerakan selalu lima belas langkah ke depan tanpa ingin menunda sesuatu yang dianggap bisa mencapai keberhasilan.


"Wow, agree, tapi ingatlah bahwa sandiwara ini akan selalu sama dan akhirnya tetap kembali pada tujuan kita! Hubby, semuanya akan seperti itu, kan?" Laura berusaha memastikan untuk terakhir kalinya sebelum membuat jalan lain dari dalam kehidupan mereka berdua.

__ADS_1


Bukannya jawaban yang diterima Laura. Justru Ryan membawanya untuk mengunjungi nirwana yang selalu menghangatkan rasa, menggetarkan jiwa dan raga. Malam kian menjelaga berpeluk kehangatan dalam goyangan derit ranjang. Kedua pasutri yang saling memberikan sisa harapan dalam kebersamaan menghabiskan malam.


__ADS_2