
Pernikahan merupakan impian terbaik dari setiap gadis ketika menikahi pria yang menjadi tambatan hati tetapi bagaimana ketika harus menjadi istri seorang iblis yang sudah merenggut kehormatan sebelum sah dan berhak atas raga yang menjadi simbol penyatuan rasa dalam mahligai rumah tangga.
Sepertinya hal itu tidak berpengaruh karena situasi memang sudah menjebak. Jujur saja hati ragu dengan apa yang terjadi karena kebetulan saja. Rumah yang mewah tiba-tiba saja ada razia jalanan seperti disengaja. Padahal rumah itu jarang ditempati, lalu bagaimana orang luar bisa tahu apa yang dilakukan di dalam rumah?
Zoya yang memang tidak tahu tentang dunia luar hanya bisa berpura-pura percaya mengiyakan semua perkataan pihak kepolisian. Apalagi kini pernikahan sudah sah di mata agama dan negara meski tanpa restu sang kakak. Serba salah dengan kondisinya saat ini.
Setelah ikrar janji suci, Lee mempersilahkan semua orang meninggalkan rumahnya. Pria itu meminta pelayan untuk berkumpul, ia juga bingung ketika beberapa polisi tiba-tiba saja datang. Sementara ia tak mungkin meminta bantuan sang majikan dengan posisi terdesak akhirnya menyanggupi menikahi Zoya.
Pernikahan yang terjadi telah melanggar pasal dua ayat lima dalam surat perjanjian mereka berdua. Menikah memang kabar baik tetapi hubungan sah itu menjadi penjara yang harus siap dilewatinya. Dimana ia harus rela menerima keputusan Zoya untuk ke depannya nanti tanpa bisa menggugat.
"Dramanya sudah selesai kan?" Zoya beranjak dari tempat duduknya seraya melepaskan earphones dari telinga. Lalu menyingkap kebaya yang membuat napasnya tertahan. "Aku lapar, lanjutkan saja pekerjaanmu."
Langkah gadis itu berjalan menjauh dari sofa tempat ijab kabul. Kemudian tanpa memperdulikan siapapun melenggangkan kaki pergi menuju ruang makan. Sikap seenak hati yang ditunjukkan hanya dibiarkan Lee. Kemarahan, kekesalan gadis itu masih bisa dimaklumi karena memang murni tragedi yang tidak terduga.
Setidaknya sekarang bisa tenang dengan status baru meski harus ekstra membuat Zoya mau melupakan misi yang pasti bersangkutan dengan sang majikan. Ia tidak ingin gadis itu menjadi wanita dengan tangan berlumuran darah. Bagaimanapun dunia tak sebaik yang pikiran kira.
Sikap Zoya tak berpengaruh karena ia sadar, saat ini gadis itu membutuhkan waktu. Akan tetapi berbeda dengan perasaan geram yang menggebu-gebu di hati Yoseph. Lelaki itu merasa Ameera terlalu lembut dan berubah tidak bisa menjaga diri sendiri. Apa wanita itu lupa dengan janji yang sudah diucapkan sebelum mereka berpisah ke jalan berbeda?
Wajah menunduk, tatapan mata lelah, helaan napas pelan tanpa senyum tersungging yang memperindah pesona sang gadis impian. Sesulit itukah? Sampai jatuh tak bisa berdiri lagi, tanpa sadar tangannya terangkat menarik tubuh Ameera tenggelam ke dalam dekapannya. Rasa sakit di hati menyadarkan akan cinta yang masih diam di tempat.
"Apa kamu ingin berpisah dari suamimu?" Yoseph mengusap kepala Ameera lembut dengan perasaan terdalamnya, sedangkan pertanyaan yang terlontar dari bibir hasil dari kekesalan hati.
Pernikahan baru saja mau berjalan dua bulan, lalu bagaimana bisa memikirkan perpisahan? Ia hanya ingin Ryan kembali seperti kemarin. Hati memiliki ego tetapi ia merasa posisinya hanya sebagai istri di dalam rumah saja. Bukan berpikir negatif hanya ingin memperjelas situasi di dalam kehidupan yang saat ini menjadi dunianya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berpisah, Ka. Sebenarnya Aku datang untuk berbagi kisah saja," Ameera melepaskan diri dari dalam dekapan Yoseph, lalu menatap pria yang duduk di depannya dengan seulas senyum. "Lagi pula, aku menanti anak kami lahir dan pasti akan mengubah kehidupan kami selanjutnya."
"Apa kamu yakin?" tanya Yoseph memastikan karena ia tak ingin wanitanya mengalami kesulitan hanya karena masalah rumah tangga.
Anggukan kepala pasti, lalu mengalihkan perhatian ke arah lain, kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah ke atas ranjang. "Senja, kamu mau istirahat?"
Bukannya menjawab, tangan Ameera menepuk sisi tempatnya berbaring. Isyarat yang membuat si pria menggelengkan kepala, ia tak ingin melakukan kebiasaan masa lalu yang bisa saja berakhir khilaf. Sehingga ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan ranjang tetapi baru saja melangkah beberapa langkah suara panggilan menghentikannya.
"Ka! Kamu takut?" Ameera memejamkan mata tanpa ingin melihat kepergian Yoseph yang ingin menjauh darinya.
Takut? Sampai kapanpun tidak ada dalam kamusnya tetapi posisi Ameera saat ini bukanlah seorang wanita malam. Gadis itu istri dari pria lain yang menikah sah secara agama dan negara. Meski ia tahu yang bisa membantu kepuasan pertama seorang Ameera adalah dirinya sendiri.
"Apa maumu?" Yoseph bertanya tanpa ingin membalikkan badan karena itu bisa mempengaruhi keputusannya.
Entah apa yang tengah keduanya perdebatan seakan bisa menjadi akhir sebuah hubungan. Keras kepala Ameera bertemu ketegasan Yoseph. Keduanya tampak masih berargumen selama beberapa waktu hingga lelaki itu berbalik, lalu berjalan menghampiri ranjang. Tangannya tanpa basa-basi merengkuh tubuh Ameera yang berbaring santai di atas tempat tidurnya.
"Sttt!" Ameera tak ingin mendengar sepatah katapun dari bibir Yoseph. Deru napas yang kian terdengar memburu membuatnya melanjutkan kenakalan yang bisa menstimulasi indra di setiap tubuhnya.
Sekeras hati lelaki itu menahan diri menerima perlakuan liar Ameera yang menjadikannya sebagai percobaan treatment sang gadis malam. Tubuh yang kini mulai kehilangan penutupnya hingga menyisakan dada bidang putih bertato elang. Sentuhan demi sentuhan yang meningkatkan adrenalin keduanya.
"Aaarrgghhh, Senja ...," lenguhan manja lolos begitu saja membuat Ameera membuka mata hingga terpatri melihat pahatan tubuh di depannya.
Seulas senyum terkembang sempurna, "Giliranmu, aku lupa bagaimana memulainya."
__ADS_1
"Senja, jangan aneh-aneh ... eempptt ...,"
Bibirnya terbungkam tenggelam menikmati pagutan lembut nan menggoda. Tak bisa lagi menahan diri, tangannya ikut m3m3m4s bukit kembar yang berbalut penutup selembar kain. Permainan baru dimulai, keduanya tampak berusaha saling menyeimbangkan pergulatan. Ameera yang tak mudah terangsang begitu mudahnya jatuh ke dalam pelukan Yoseph.
Pergulatan ranjang yang kian menjelajahi jalan mulus melewati lembah, bukit hingga turun menyapa gua keramat yang masih tampak sama. Tatapan mata berkabut bersambut gerakan tangan yang memaksanya untuk meneruskan permainan. Bibir menenggelamkan diri menyusuri pintu gua keramat nan mulus tanpa akar serabut.
"Aa@hh, Kaaa ...," jerit nikmat Ameera dengan mata terpejam menikmati sensasi memuaskan dengan ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya.
Tubuhnya bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan dari gua keramat yang membuat Yoseph melepaskan diri dari gua kenikmatan dunia. Tatapan mata teralihkan pada raga yang kini terpampang jelas memiliki jejak darinya juga. Akan tetapi kini ia memiliki tugas lain yaitu menetralkan si otong yang tegak berdiri menginginkan jatahnya.
Ia masih waras sehingga melangkahkan kaki mundur menjauhi Ameera, "Biar aku bermain solo saja, kamu istirahat."
Ucapan lelaki itu masih bisa didengar membuat Ameera mengubah posisinya. Kepergian Yoseph memasuki kamar mandi mandi jelas untuk menuntaskan permainan yang hanya untuk memuaskan dirinya saja. Lelaki itu memang yang mengajari arti sentuhan raga tetapi tidak sekalipun berusaha memiliki hubungan penyatuan kecuali satu malam kecelakaan yang menjadikan jarak.
Entah kenapa ia merasa Yoseph sangat menjaga diri agar tidak melakukan hubungan kedua kalinya bahkan setelah memberikan pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Suara erangan dari dalam kamar mandi seperti nyanyian bagi Ameera. Ia tahu, lelaki itu bisa memilikinya tanpa penolakan tetapi memilih menyiksa diri dengan bermain solo.
Bayangan tangan yang menggenggam benda panjang tegak bermain maju mundur seperti film live streaming. Ia tak tega sehingga beranjak dari tempat ternyaman nya. Lalu berjalan menghampiri kamar mandi yang terbuka sedikit. Tatapan mata terbelalak ketika tak sengaja melihat aset milik Yoseph yang lebih besar dari milik suaminya.
Dibukanya pintu secara perlahan dengan langkah pasti. Yoseph yang memejamkan mata tak menyadari kedatangannya, tetapi sentuhan tangan menyentak pria itu yang terkejut akan perlakuannya. Ingin komplain tetapi tak kuasa ketika si otong menikmati r3m4s4n tangan lembutnya nan bertenaga. Sensasi panas dingin kian meningkat membuat raganya berkeringat.
"More, hurry, honey ...," rintih Yoseph seraya memutar kran hingga air shower jatuh membasahi tubuh keduanya.
Kegilaan di dalam kamar mandi semakin meningkat begitu pintu kaca itu tertutup sempurna tampak pemandangan kedua insan saling bercumbu menikmati sisa cinta yang pernah ada. Pergulatan yang sebenarnya baru saja di mulai hingga suara jeritan pelan terdengar keluar hingga ke kamar.
__ADS_1
Dua jam kemudian, tubuh berbalut handuk dengan rambut basah duduk di tepi ranjang menikmati sentuhan hangat tangan kekar yang sibuk mengeringkan rambutnya. "Ka, terimakasih."
"Hmm, kau tau resikonya. Kuharap ingat itu." balas Yoseph tak ingin meneruskan argumen yang memang sudah berakhir dengan apa yang terjadi barusan.