Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 36#Kegelisahan milik Ameera


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Ryan. Laura hanya akan menjadi seorang Ratu tanpa harus bersusah payah untuk mendapatkan apa yang wanita itu inginkan. Akan tetapi meski begitu, tetap saja kehidupan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Pada kenyataannya akan ada pengorbanan besar ataupun hanya sekecil duri yang siap menusuk.


Malam kian pekat menyudahi pertanyaan di tengah kebersamaan. Keraguan hati yang menyusur berganti keyakinan. Seperti putaran jarum jam, dunia tak berhenti berputar hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dua minggu telah berlalu dari hari kepulangan Ameera.


Satu hal yang begitu terasa, dimana sampai pagi ini tak ada kabar dari sang tangan kanan. Lee yang menghilang dari jejak keramaian dunia. Seakan tenggelam dalam kedamaian. Seperti kehidupan semua orang yang tampak normal tanpa suatu masalah serius.


Hari ini, istri tuan muda harus kembali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin yang ketiga kalinya. Akan tetapi, entah apa yang mengusik pikiran Zoya. Gadis itu diam-diam mencari dokter lain untuk memeriksa keadaan kakaknya tapi tak menyadari setiap pergerakan selalu ada yang mengawasi.



Jalan yang ia pikir sulit, justru begitu mudah dilewati. Semua keinginan hati terkabulkan. Dimana ia bisa meminta bantuan seorang dokter yang siap memeriksa keadaan Ameera tanpa mengisi data diri di rumah sakit yang sama. Semua terjadi seperti yang diharapkannya.


Namun sayang, pikiran gadis itu hanya satu kebenaran di dalam ilusi kabut kepalsuan. Zoya berpikir bisa mengelabui Ryan dan orang-orang yang berusaha untuk menyakiti kakaknya dengan cara begitu manis. Akan tetapi semua itu hanyalah permainan politik yang hanya berjalan dengan kekuasaan dan bukan rasa belas kasih.


Sebagai seorang adik, ia ingin menyelamatkan kakaknya. Sang kakak yang menganggap memiliki suaminya bagaikan dewa karena telah memberikan cinta kasih bahkan siap berkorban nyawa. Sisi lain Ryan yang masih ia genggam hanya menjadi alarm penjagaan semata.


Sementara bagi Ameera, kehidupannya sempurna. Suami penyayang dan begitu bisa memahami meski ia berulang kali hanya memberikan kekecewaan. Ia merasa setelah penolakan yang dilakukannya pada malam kepulangan, Ryan tidak marah atau mempertanyakan sikapnya.


Padahal setiap pria pasti tersinggung ketika ditolak istri yang ingin minta dilayani tetapi Ryan justru semakin manja dan mencintainya. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di seluruh dunia. Semua indah tanpa ada noda, lalu apa yang bisa diharapkan lagi?


Mirisnya kenyataan, ketika hati tidak mengenal orang terkasih bersembunyi dengan topeng sebagai kamuflase agar bisa mencapai keinginan yang sudah direncanakan. Seperti yang dilakukan saat ini, dimana mereka mendatangi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Seperti yang sudah dibicarakan, jika semua baik-baik saja maka langkah selanjutnya bisa dijalankan. Ryan memeluk Ameera meski keduanya duduk di kursi berbeda, "Sayang, semoga semua normal dan kamu tidak harus ke rumah sakit lagi."


Kedatangan Dokter Sashi yang membawa hasil laporan medis mengalihkan perhatian kedua insan itu. "Bagaimana keadaanku, Dok? Apa semua sudah baik-baik saja dan bisakah kami melakukan program hamil yang sudah disepakati?"


Pertanyaan beruntun dari Ameera membuat Dokter Sashi tersenyum lebar. Ia tahu, pasiennya tidak sabar ingin memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidup tuan muda. Kebahagiaan yang di dapat dengan memberikan keturunan tetapi wanita itu tidak sadar akan sesuatu yang berada di dalam lingkaran kehidupannya.


Alih-alih menjawab Ameera, sang dokter mengambil pulpen, lalu mencatat sesuatu di belakang hasil laporan. Catatan penjelasan yang memperjelas beberapa istilah medis. Setidaknya ia ingin pasutri itu bisa memahami isi dari laporan jika ingin membaca ulang.


"Dokter Sashi, kamu mendengar pertanyaanku bukan?" Ketika rasa penasaran tidak kunjung mendapatkan jawaban, ia merasa ada yang salah.


Dokter Sashi menggeser hasil laporan ke depan Ryan, "Alhamdulillah semua baik bahkan sempurna. Selamat ya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Nyonya Ameera Ryan Mahendra, berdasarkan hasil pemeriksaan semua sudah normal dan baik bahkan yang dilakukan oleh Tuan Ryan Mahendra sukses."


"Sebelumnya saya sebagai dokter meminta maaf karena telah melakukan program kehamilan yang disebut inseminasi buatan hanya dari izin suami Anda saja. Sekali lagi selamat," ucapnya meminta maaf atas tindakan di masa lalu yang kini membuat Ameera menoleh ke samping.


"Jadi saat ini, aku sudah hamil, Dok?" Ameera mengalihkan perhatiannya menatap Dokter Sashi yang menganggukkan kepala pasti tapi ia penasaran dengan program yang dimaksud si dokter. "Apa itu inseminasi buatan? Apakah dilakukan hanya pada pasangan suami istri atau ...,"


Pertanyaan Ameera terhenti ketika merasakan usapan lembut di lengan. Ia hanya ingin memperjelas keadaan situasi dirinya saat ini. Jika benar hamil, maka harus tau bagaimana prosesnya. Apalagi sejak keluar dari rumah sakit, tidak sekalipun ia dan Ryan menghabiskan malam bersama.


Meski pertanyaannya juga bukan hanya untuk satu tujuan saja. Hati tidak memungkiri rasa gelisah dan takut, bagaimana jika di dalam rahimnya juga terdapat janin lain? Pemikiran itu tidak bisa disingkirkan bahkan terus mengusik pikiran. Semua itu karena ia merasa ada yang aneh di dalam dirinya.


Ada hal yang tidak bisa dijabarkan dan setiap kali memikirkan tentang kehamilan. Justru bayangan pria lain yang terus datang memenuhi pelupuk mata tanpa niat pergi meninggalkannya seorang diri. Perasaan yang membelenggu selalu tersimpan rapat di dasar sanubari.

__ADS_1


Ia tidak tahu kenapa seperti itu, hanya saja apa yang terjadi padanya, semua itu nyata dan ia tidak bisa berbagi dengan siapapun meskipun itu Ryan ataupun Zoya, adiknya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengatakan pernah menikmati kehangatan ranjang bersama seorang pria yang selama ini menjadi kakak angkat sekaligus sahabat.


Jika kebenaran itu terbongkar, maka bisa dipastikan rumah tangganya akan langsung hancur berantakan. Bukan hanya itu tapi mungkin saja Ryan bisa menuntutnya atau justru menghabisinya karena telah melakukan pengkhianatan. Meski selama ini belum pernah melihat kemarahan seorang Ryan Mahendra.


Tetap saja setelah beberapa kali mencari informasi tentang suaminya ia baru sadar memiliki suami yang berkuasa. Kekuasaan yang bisa menghancurkan banyak hal di dunia tanpa bersusah payah. Tidak perlu menggunakan tangannya sendiri karena satu perintah sudah cukup menghancurkan musuh dari list pengacau kehidupan.


Terkadang kita sebagai manusia mengambil langkah buru-buru hingga ada hal yang terlupakan tapi tiba-tiba kenyataan menyapa menyodorkan apa yang kita lupakan menjadi sebuah kebenaran pahit. Tidak ada penjelasan melalui rangkaian kata selain sisa rasa yang hanya menjadi akhir cerita.


Ameera termenung menjelajahi kemelut hati dan pikiran. Meski berusaha menetralkan seluruh emosi yang terus bertarung melawan batin dan akal sehat, ia sendiri tidak tahu kemana arah tujuan dari semua yang dirasakannya.


Terkadang perasaan selalu mengedepankan emosi dan logika hingga hilang kendali. Tidak ada yang sama seperti pernyataan Dokter Sashi. Dimana pengakuan atas kehamilannya terdengar seperti petir yang menyambar tanpa hujan yang menyapa.


Satu pertanyaan terus terngiang di dalam kepala. Ketika sadar berdiri di antara dua kapal. Lalu, siapa yang harus dirinya lepaskan? Kedua pria yang bisa saja melakukan tindakan nekat, kemana ia akan pergi agar bisa menyelamatkan diri?


Tiba-tiba terasa usapan lembut di pundak yang kembali merenggut dan menyentak kesadaran. Sekali lagi menghela napas sambil menggelengkan kepala pelan. Ameera hanya mengusir rasa pusing yang mendera menyakitinya. '"Mas, bisakah kita pulang?"


.


...----------------...


Jangan lupa kepoin, Karya Othoor lainnya 🤗

__ADS_1




__ADS_2