
Kabar gembira baru saja didapatkan. Meski bersamaan dengan berita tak mengenakkan. Setidaknya bayi yang dinanti selama beberapa bulan lahir kedunia tanpa kesulitan. Sentuhan tangan menggandeng lengan mengalihkan perhatiannya, tubuh yang lelah menunggu selama enam jam karena proses persalinan, membuat kedua insan itu stay di rumah sakit tanpa bisa melakukan hal lainnya.
"Hubby, bisakah kita melihat bayinya?" tanyanya lirih tetapi masih bisa didengar oleh sang dokter.
Keluarga pasien tampak tidak sabar melihat bayi laki-laki yang terlahir dengan bobot tiga setengah kilogram, memiliki kulit putih, hidung mancung, bibir mungil, alis tebal dengan netra mata biru menenangkan. Bayi yang begitu tampan sejak dilahirkan. Program bayi tabung yang sukses.
"Tentu saja boleh, bayi itu, putra kalian. Mari, saya antarkan ke ruang sebelah!" Dokter mempersilahkan membuat langkah Ryan dan Laura mengikuti dari belakang.
Ruangan dengan pintu kaca menjadi tujuan ketiga insan itu, dimana bersambut deretan box bayi kosong karena hari itu tidak begitu banyak bayi dilahirkan dirumah sakit tersebut. Akhirnya tujuan dari impian mereka terwujud, hari di dalam bisa melihat anak mereka sendiri. Ryan dan Laura tak sabar mendekati sebuah box berwarna putih dengan selimut bermotif bunga.
Hati ikut berdebar menunggu momen. Setelah sekian lama, malam ini mereka bisa bertemu dengan putra pertama mereka. Sungguh mimpi yang telah menjadi kenyataan. Tatapan mata terpaut bertemu dengan netra mungil yang berusaha mencari cahaya dalam keremangan.
Siapa yang menyangka? Jika hari mustahil bagi Laura justru menjadi kenyataan. Tangan gemetar menyentuh wajah dari putranya sendiri yang selama beberapa bulan telah ia nantikan. Begitu juga dengan Ryan yang sangat bahagia melihat anak mereka baik-baik saja dalam keadaan sehat.
Di tengah kegembiraan, Dokter menjelaskan bagaimana cara merawat anak yang baru lahir dan juga memberikan beberapa contoh agar pasutri itu memahami. Apalagi bayi yang baru saja lahir dalam keadaan lahir operasi caesar karena mengalami insiden tak terduga.
Ketika bayi lahir umur delapan bulan, orang tua selalu mengatakan bahwa bayi itu bayi muda. Beda lagi jika lahir tujuh bulan, maka bayinya tua. Sehingga dokter mewanti agar pasutri itu harus lebih hati-hati demi kebaikan bersama. Semua penjelasan didengarkan dengan seksama tanpa melewati satu nasehat pun.
Kebahagiaan Ryan dan Laura sampai melupakan Ameera. Wanita yang saat ini masih tidak sadarkan diri, dimana tengah menikmati mimpi karena pengaruh obat bius. Persalinan seharusnya masih bulan depan, tapi takdir berkata lain.
Dimana setelah menikmati kehidupan manis penuh kebahagiaan selama berbulan-bulan. Tiba-tiba ia tak sengaja mendengarkan suara percakapan dari kamar lain yang membuatnya terlepas rasa kedamaian. Semua terjadi begitu saja, sungguh ia tak menyangka Ryan bermain di belakang dengan wanita yang dianggap sebagai sahabat.
Sebagai seorang wanita dalam keadaan hamil tua dan memiliki suami dengan badan wajah sempurna. Tidak mengherankan ketika ada wanita lain yang berusaha mendekati, tetapi hal itu menjadi mimpi buruk. Dimana ia tak menyangka orang yang pernah ia tolong justru mencoba menusuknya dari belakang.
__ADS_1
Laura, gadis itu terlihat begitu polos, kalem, manis dan juga baik hati. Lalu dengan mata kepala sendiri melihat pemandangan yang menyayat rasa. Duduk dipangkuan Ryan sembari menikmati pagutan manja yang memabukkan. Sahabatnya menjadi pelakor.
Itulah yang dipikirkan Ameera sebelum mengalami insiden yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Pemikiran wanita itu hanya separuh dari kebenaran yang justru terbalik dari kenyataan. Andai ia tahu dan menyadari bahwa bukan Laura yang menjadi perebut, melainkan dirinya yang menjadi istri kedua dari Ryan Mahendra.
Kebalikan dari fakta itu, membuat Ameera merasa tersakiti. Lalu, bagaimana jika wanita itu mengetahui yang sebenarnya. Jangankan peduli dengan apa yang dirasakan sang istri kedua. Ryan hanya selalu menatap Laura, apalagi setelah mendapatkan tujuannya.
Bersyukur memiliki anak yang merupakan darah dagingnya bersama sang istri pertama. Apa yang ia harapkan lagi? Meski hati sedikit dilema karena mengingat hari esok, ia bingung mau membawa Ameera pergi ke mana. Sudah pasti tidak mungkin untuk membiarkan sang istri kedua tetap bersamanya.
Tidak ada rasa cinta karena selama ini, baginya Ameera hanya tangga. Benar, tidak ada hati sebagai tempat berteduh untuk istri keduanya. Akan tetapi, sebagai seorang ibu dari anaknya. Ia merasa memiliki kewajiban untuk memberikan hak dengan fasilitas yang cukup bayi wanita itu.
Sadar akan satu kenyataan, dimana putranya akan selalu memiliki ikatan batin dengan Ameera. Lamunan yang mengambil kesadaran, membuat Laura mengusap lengannya dengan tatapan tenang tanpa keegoisan. Sang istri bisa merasakan kegelisahan di dalam hatinya.
"Jika kamu memang ingin dia tetap bersama kita. Maka, ceraikan Ameera dan jadikan dia pengasuh putra kita, tapi jika kau memang kasihan dan tidak ingin ada drama. Kirim dia ke tempat yang jauh dan jangan pernah membawanya kembali pulang."
Ameera masih berada di rumah sakit saat ini, meski begitu harus memikirkan hari esok. Sehingga sudah memutuskan akan melakukan sesuatu yang membuat Laura dan putranya tetap bersamanya. Satu keyakinan mungkin akan mengubah segalanya, tapi kebenaran tak akan berubah.
"Apakah di sini ada bayi yatim piatu yang baru dilahirkan?" tanya Ryan, membuat si dokter mengernyitkan dahi karena bingung.
Kenapa tiba-tiba bertanya tentang bayi lain, sedangkan saat ini baru saja memiliki bayi yang begitu tampan. Laura yang mengerti arah tujuan sang suami bisa paham, kenapa ada pertanyaan seperti itu. Ia membiarkan obrolan dilanjutkan antara Ryan dan si dokter membahas tentang bayi.
Seperti biasa, Ryan mendapat solusi di setiap permasalahan dengan lebih cepat. Sebagai istri, ia memilih diam menyimak membiarkan Ryan dan si dokter memutuskan langkah selanjutnya. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya menemukan seorang bayi yang juga laki-laki. Status anak itu yatim-piatu karena kedua orang tua mengalami kecelakaan.
Malam ini adalah malam kebahagiaan keluarga Ryan dan Laura yang menjadi lengkap dengan kehadiran seorang putra. Sesuai dengan impian, kini tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka. Meskipun dunia berusaha untuk memberikan kepalsuan.
__ADS_1
Ryan telah memutuskan akan melakukan langkah terakhir. Dimana ia akan membiarkan dunia mengetahui siapa istri dari seorang Ryan Mahendra dan di sisi lain surat perceraian sudah disiapkan. Tentu surat tersebut sudah ditandatangani oleh Ryan juga.
Tentu saja hal itu sudah sesuai rencana dan kini kehidupan berjalan ke arah tujuan masing-masing agar sesuai dengan harapan satu sama lain. Sementara itu, di Indonesia Zoya baru saja mendapatkan kabar bahagia atas kehamilannya. Meski ada tanya yang menyapa, siapa ayah dari si jabang bayi?
Masalahnya selama beberapa bulan terakhir, ia begitu sembarangan membuat dua pria sekaligus memberikan kehangatan ranjang. Sehingga ia tak tahu, benih siapa yang berhasil tumbuh di rahimnya. Semua kekacauan dalam hidupnya berkat kepergian sang kakak ke luar negeri.
Kehidupan bebas meski memiliki suami. Apa yang bisa dia lakukan, pasti sudah dilakukan. Hasil tespek yang masih ia genggam coba hanya dipandangi nanar seraya mencoba mengingat waktu ke belakang. Dimana ia menghabiskan malam bersama siapa dan tanggal terakhir berhubungan.
Seperti yang dikatakan dokter bahwa usia kandungan baru memasuki minggu kelima. "Apa aku harus beritahu Lee atau Arvind?"
"Beritahu saja! Siapa yang melarangmu, Zoy?" sahut seseorang yang duduk dengan wajah tertutup koran.
Zoya menoleh menatap ke arah sumber suara. Tatapan mata jengah melihat keberadaan Yoshi, tapi kenapa gadis itu juga ada di klinik khusus ibu hamil? Tanda tanya yang membuatnya curiga karena selama dua hari Lee menghilang entah kemana. Sadar benar bahwa kedua insan itu bisa menghabiskan waktu bersama tanpa mengingat status yang ada.
"Mrs. Lee, silahkan masuk ke dalam ruangan!" seru suster pendamping yang bertugas mencatat nama dan urutan pasien untuk membuat janji temu dengan si dokter.
Tangan memegang pegangan kursi, ia berdiri dengan perlahan seraya memegang perut yang masih rata. Hal itu menarik perhatian Zoya. Apakah mungkin sang mantan sahabat pena hamil anak Lee? Tidak. Pasti semua itu hanya kebetulan, bagaimana jika justru memiliki penyakit mematikan?
"Zoya, selamat ya, akhirnya kamu hamil juga. But please, pastikan dulu anak siapa! Baik itu anak Lee atau Ka Arvind, keduanya tetap sama, menjadi keluarga. Jaga kesehatan dan makananmu, sampai bertemu di waktu yang membuat kita sadar. Siapa istri dan siapa pelakor."
Apa Yoshi baru mengancamnya? Sudah jelas yang menjadi istri Lee adalah dirinya. Kenapa gadis itu bersikap seperti berhak mendapatkan posisi yang selama ini menjadi nama di dunia baru? Heran hingga terlalu larut berpikir hal sampai jauh tak karuan.
"Entahlah, aku merasa semua akan baik. Sudahlah, Zoya. Mending pulang trus makan!" Zoya beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
__ADS_1