
Gadis itu baru saja berjalan beberapa langkah, tetapi suara dari arah belakang seketika membuat tubuhnya mematung. Apalagi terdengar panggilan sayang yang membakar hati hingga terasa panas tak karuan. Tak ingin menoleh ke belakang hanya saja rasa penasaran tidak ingin dilupakan.
Dengan perasaan was-was, ia berbalik melihat siapa yang ada di belakang sana. Di mana mata tak sanggup untuk memastikan bahwa apa yang ia pikirkan adalah benar. Akan tetapi sayang, semua itu benar-benar nyata dan membuat hati kian semakin terluka.
Ia ingat sudah banyak panggilan yang dilakukan bahkan puluhan chat terkirim. Tak sekalipun ada jawaban karena selalu diabaikan. Kemudian tiba-tiba ia melihat alasannya sendiri di rumah sakit justru bersama wanita lain. Pria yang menganggap dia sebagai istri, tetapi justru memeriksa kandungan Yoshi. Apa tidak salah tempat?
Meskipun hanya melihat sepintas karena pria yang ada di depan sana langsung masuk ke ruangan. Bukan berarti ia tidak bisa mengenali suaminya sendiri. Jujur saja hal ini membuatnya semakin menyadari bahwa hubungan mereka benar-benar tidak ada gunanya.
Dirinya sendiri sadar bahwa semua terjadi atas keinginan dan kehendaknya juga. Selama pernikahan hanya menjalankan satu kewajiban yaitu memberikan hak di atas ranjang. Bagaimana dengan hati? Ia tak bisa menerima Lee karena masih mengingat pemaksaan di awal hubungan.
Sehingga hubungan semakin renggang dan tanpa sepengetahuan Lee, ia bermain belakang. Jika suaminya tidak tahu, mana mungkin mengabaikan dirinya. Ya, pasti pria itu tahu tentang perselingkuhan yang sudah terjadi sejak awal pernikahan.
Kini yang tersisa hanya ada kesendirian karena Lee sering meninggalkan rumah, bahkan tidak memiliki waktu sekedar untuk duduk bersamanya. Semua kekacauan terjadi begitu cepat hingga tidak ada waktu untuk mempertanyakan. Apa yang membuat mereka melakukan tindakan masing-masing?
Jarak yang semakin jauh, bahkan hati mereka berdua tidak saling bertemu untuk mendapatkan kepercayaan dan belas kasih. Sungguh rumah tangga yang totalitas kekacauan menjadi landasan hubungan sakral. Siapa yang memulai dan kapan semua itu akan berakhir?
Rasanya hancur sebagai istri karena merasa tidak dihargai. Jika membenarkan sudah pasti ia memiliki hati. Andai semua orang tidak meninggalkan dirinya. Mereka yang pergi bahkan tanpa mau menoleh ke belakang atau sekedar bertanya. Zoya, apa kamu baik-baik saja tanpa kami?
Miris bukan? Kini ia kehilangan hati untuk peduli, bahkan seberapa banyak sang kakak mengirimkan pesan atau melakukan panggilan, ia tak mengharapkan apapun lagi. Satu rasa yang tersisa adalah kecewa. Kenapa orang-orang hanya menganggapnya seperti sebuah tempat sampah?
Setiap saat selalu terabaikan. Padahal hanya menginginkan satu hal sederhana di dalam hidupnya. Dimana bisa tinggal bersama-sama dengan keluarga, tapi ternyata tak ada satupun yang menganggap dirinya ada di dunia.
Di sinilah ia berada di lorong rumah sakit berdiri sendiri menikmati kehampaan hati. Sunyi hingga tak kuasa menahan rasa yang ia sendiri tidak tahu, apa itu amarah, kecewa atau hanya rasa sesal di dada. Satu hal pasti adalah ia menjalani hubungan yang gagal.
Tanpa pikir panjang, gadis itu mengambil ponsel dari dalam saku celana. Lalu, menghubungi Arvind untuk melakukan pertemuan. Seperti biasa pemuda itu akan menerima ajakannya tanpa memikirkan waktu tempat atau apapun itu. Tentu selama mereka masih bisa berdekatan.
Singkat cerita Zoya menuju sebuah villa yang merupakan milik Arvind sendiri. Villa tersebut memang begitu luas, bahkan beberapa pelayan yang menyambutnya sudah sangat hafal dengan wajah cantik yang selalu mengunjungi sang tuan muda.
"Halo, Non, bagaimana kabarnya? Tumben baru nengokin Tuan Ar. Padahal sudah seminggu nggak ke sini," tanya Si bibi menyambut kedatangan Zoya yang hanya tersenyum seraya menyerahkan paper bag berisi makanan ringan.
"Apa Ka Ar ada di kamarnya, Bi? tanya balik Zoya hanya untuk memastikan dan sekedar basa-basi karena Arvind sendiri sudah mengatakan akan stay di villa hari ini.
Bibi mengangguk, lalu mempersilahkannya untuk pergi tanpa harus menunggu izin dari siapapun. " Langsung saja ke kamar Tuan, bibi mau lanjut nyuci dulu, Non."
Langkah kaki berjalan menyusuri lantai hingga menaiki anak tangga satu per satu. Zoya membawa hati yang terluka dengan perasaan berkecamuk. Selalu satu tujuannya dimana setiap kali bertemu Arvind. Pria yang siap mendengarkan semua ceritanya.
Kegalauan hati yang dirasakan hanya bisa dipahami oleh Arvind seorang. Villa adalah tempat yang tepat untuk menikmati kehidupan bebas. Disinilah ia akan merasa menjadi diri sendiri dan menganggap semua baik-baik saja. Perlahan memutar knop pintu, lalu mendorongnya.
__ADS_1
Di dalam kamar bernuansa klasik yang menyambut kedatangannya. Gadis itu mengedarkan pandangan mata melihat ke sekitar mencoba menelisik mencari si pemilik kamar yang tidak terlihat batang hidungnya. "Ka Ar, are you here?"
"Bee, masuk saja! Aku masih di kamar mandi." seru Arvind yang memang tak mengunci pintu kamar mandinya karena memang menunggu kedatangan Zoya.
Setiap kali Zoya datang, maka akan langsung masuk ke kamar. Jadi lebih baik untuk menjaga-jaga agar tidak membuat si gadis panik karena kesibukannya tengah melakukan ritual mandi. Sementara itu, Zoya dengan senang hati merebahkan tubuhnya ke atas ranjang nan empuk.
Gadis itu menatap langit kamar seraya merenung memikirkan semua permasalahan hidupnya. Untuk pertama kalinya, ia ingin mendapat jawaban dari setiap pertanyaan. Apa yang akan dilakukannya untuk kedepan nanti?
Hubungan antara ia dan Arvind semakin jauh bahkan bisa dibilang saling membutuhkan. Padahal sejak awal hanya ingin mendekati pria itu untuk membantu sang kakak, tapi ketika ia menyadari kenyataan bahwa Ryan akan memberikan kebahagiaan pada Ameera. Sungguh permainan berubah haluan.
Sehingga ia lupa arah tujuan dan kenapa harus memperhatikan orang yang siap melupakannya? Pikiran semakin tak karuan tanpa arah tujuan, membuat gadis itu tanpa sadar menyambut rasa kantuk. Perlahan melupakan beban pikiran merenggut sisa kesadaran.
Begitu banyak beban pikiran yang menekan membuatnya benar-benar kehilangan perasaan. Kini hanya ada kegelapan yang menyapa membiarkan alam lain datang tuk mengubah suasana. Lembutnya kasur menjadi tempat ternyaman tuk mendapatkan ketenangan.
Mata mulai terpejam tanpa mempedulikan langkah kaki yang keluar dari dalam kamar mandi. Melihat Zoya yang hampir terlelap, pria itu hanya tersenyum seraya melemparkan handuk ke sembarang arah mempertontonkan tubuh polos. Akan tetapi, pesonanya terabaikan hingga tak mengubah keadaan.
Zoya memilih tidur dengan mata terpejam menyambut mimpi indah. Melihat itu, Arvind tidak menyerah. Justru memiliki kesempatan yang harus dimanfaatkan. Kapan lagi bisa merengkuh kenikmatan tanpa perlawanan?
Selama ini selalu ada saja yang membuatnya harus melakukan sesuatu sebelum mendapatkan kenikmatan tetapi hari ini. Dia mendapatkan segalanya tanpa harus berjuang keras untuk memulai olahraga ranjang. Sentuhannya tak mengusik mimpi indah si gadis, Zoya bahkan terlihat menikmati permainannya.
Senang rasanya karena di dalam ketidaksadaran orang yang selalu membuatnya tergila-gila jatuh ke dalam rasa yang ia ciptakan. Pergulatan panjang yang baru mencapai setengah, tiba-tiba terhenti sesaat. Di mana Zoya yang terbangun tak menyangka sudah mendapatkan serangan yang menyentak raga.
Seperti biasa ketika terdengar suara bergema. Mereka memilih melakukan pekerjaan di luar villa yang bisa membuat otak tetap jernih, tetapi meski begitu mereka tak melupakan tanggung jawab untuk membuat makanan. Hanya saja harus menjaga diri agar tetap akan dan tidak terkontaminasi.
Sementara di sisi lain. Yoshi dan Lee baru saja keluar dari bangunan rumah sakit dengan senyum bahagia di wajah keduanya. Setelah menanti selama satu bulan terakhir. Akhirnya penantian mereka berdua bisa terwujud dengan berita bahagia yang semakin menambahkan perasaan cinta di hati keduanya.
Meski dokter meminta Lee untuk menjaga kesehatan dan juga memperbaiki pola hidup Yoshi, termasuk sedikit mengurangi olahraga ranjang pada tiga bulan pertama masa kehamilan. Apapun akan dilakukan agar ibu dan si bayi selalu bisa sehat sampai hati persalinan.
"Ka Lee, bisakah kita tinggal serumah? Aku bosan ditemani pelayan trus," Yoshi merajuk dengan wajah imut nan menggemaskan tetapi tetap menerima uluran tangan Lee yang memintanya untuk hati-hati masuk ke dalam mobil.
Lee tidak langsung menjawab. Pria itu berlari memutari mobil, lalu ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi. Kemudian memasangkan sabuk pengaman dengan begitu perhatian. Setelah selesai, barulah memperhatikan sang istri menautkan tatapan mata yang masih menanti jawabannya.
Gadis itu dengan penuh cinta selalu mengulurkan kebahagiaan tanpa syarat bahkan di tengah problematika kehidupan hanya dia yang siap menghancurkan diri demi kebaikan bersama. Rasanya berbeda memiliki pasangan yang bisa memahami kebutuhan tanpa kata. Yoshi Angela, sang istri kedua yang membuat ia merasa bangga.
"Incees, kita akan tinggal serumah dan tentu saja kamu akan slalu menjadi nomor satu. Apa itu yang membuatmu bahagia? Aku rasa tidak. Aku tidak akan menyatukan kalian berdua di bawah satu atap, apalagi dengan kehamilanmu.
"Bagaimana jika Zoya melakukan sesuatu pada anak kita? Aku rasa itu sangat berbahaya dan lebih baik kamu tetap di tempat yang aman. Jangan berdebat lagi, apa kamu paham, Incess?" Tatapan mata Lee tak surut menghantarkan kelembutan.
__ADS_1
Pria itu mencoba memberikan pemahaman pada Yoshi agar tidak keras kepala dan terus-menerus meminta untuk pindah rumah. Padahal di tempat tinggal yang disediakan sudah cukup lebih mewah dan juga fasilitas memadai, bahkan para pelayan pun tersedia. Ya, begitulah yang ia pikirkan.
Sementara bagi Yoshi, bukan tentang di mana ia tinggal dengan siapa dan seberapa lengkap fasilitas yang ia punya. Ia hanya ingin selalu berada di dekat sang suami di tambah lagi berada di fase kehamilan. Akan tetapi, apa yang Lee katakan tidaklah salah.
Siapa yang akan menyangka perubahan dari karakteristik seseorang yang mereka pikir gadis lugu, tiba-tiba mulai menjadi wanita tanpa emosi. Sebulan pertama pertemuannya dengan sang sahabat pena, ia merasa gadis itu cukup membuat hati siapapun mudah jatuh cinta.
Anehnya semakin lama mengenal justru tingkah Zoya bertambah aneh dan terlihat lebih mendominasi. Jujur, sebagai sesama wanita, dia ingin melepaskan Lee agar tidak mengusik hubungan rumah tangga sahabat sendiri. Hingga satu kebenaran membuatnya kembali bertekad merebut Lee dari sang istri sah.
Apa yang ia ketahui tak disimpannya sendiri karena langsung sampai ke telinga Lee agar pria itu mencari tahu kebenarannya. Sebulan lamanya masalah berangsur-angsur mulai membaik hingga akhirnya Lee melamar dan mengajak menikah. Sebenarnya Lee mulai menyesal telah memaksakan Zoya dalam hubungan sakral.
Namun, pria itu tidak bisa melepaskan Zoya mengingat tanggung jawabnya karena telah merenggut kehormatan si gadis untuk yang pertama kali. Sakit mendengar kebenaran itu, tetapi sebagai wanita yang menyadari kepentingan dari kehormatan seorang wanita. Maka, ia tak berhak menolak keinginan Lee.
Lagipula, selama menikah dan menjadi istri Lee selama dua bulan terakhir. Pria itu berusaha untuk adil sebagai seorang suami dari kedua istrinya. Meski harus melakukan banyak hal di waktu bersamaan, Lee tetap berusaha yang terbaik.
Dua hubungan yang memiliki sisi koin berbeda. Pernikahan pertama hanya berlandaskan rasa kasihan dan juga tanggung jawab akan tindakannya di masa lalu, sedangkan pernikahan kedua benar-benar sehat dengan saling percaya dan terbuka satu sama lain.
"Aku paham, Ka Lee. Baiklah, lakukan seperti keinginanmu, tapi bisakah kita mampir ke kedai? Alu sangat lapar," Yoshi mengalihkan topik pembicaraan karena ia sadar benar sang suami tak ingin melanjutkan obrolan yang bisa merusak suasana.
Diusapnya kepala sang istri dengan perasaan hangat, "Siap sedia, Nyonya Lee. Kedai mana yang mau incesss datangi?" Lee mulai fokus ke jalanan begitu menyetujui keinginan Yoshi.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah sakit mengikuti arah haluan jalan untuk ke daerah Jakarta Pusat yang membuat mereka harus bersabar mengingat situasi jalanan yang cukup macet. Di tengah perjalanan terdengar suara dari ponsel dari benda pipi milik Lee yang membuat Yoshi penasaran.
Akan tetapi, ia tak pernah sekalipun bertindak sesuka hati mengingat beberapa hal memiliki privasi. Meski rasa penasaran ada, ia tak mengikuti keinginan hati. Sama seperti Lee yang juga tidak pernah memeriksa ponsel miliknya karena pria itu memberikan kepercayaan.
"Incess, angkatlah! Aku tidak bisa melakukan panggilan karena tidak memakai earphones." Lee memberi izin Yoshi untuk memenuhi permintaannya, tetapi gadis itu tampak ragu. "Sayang, tidak baik menyetir sambil telponan kan?"
"Aku memikirkan kesehatan kita bertiga. Jadi, angkat saja!" Lee meyakinkan Yoshi untuk menerima panggilan yang entah dari siapa.
Suara panggilan masih berdering, hingga Yoshi menggeser icon hijau tanda menerima panggilan. Lalu tak lupa menekan tombol loudspeaker agar bisa didengar oleh Lee juga. Suara dari seberang ternyata memberi informasi penting, sehingga Lee langsung menginjak rem tetapi tangannya terentang menahan tubuh Yosi.
"Minum dulu! Aku akan menerima panggilan sebentar," Diambilnya ponsel, lalu mengulurkan sebotol air mineral. Dirasa keadaan Yoshi baik, barulah ia mematikan speaker panggilan. "Katakan sekali lagi!"
Entah apa jawaban dari seberang hingga membuat Lee cemas. Jemari tangan kanan sibuk mengetuk stir mobil. Sesekali melirik kearah Yoshi, dimana gadis itu menikmati udara luar dengan membuka kaca sampai bawah. Ia merasa tak bisa berkomentar apapun saat ini.
"Good job, kumpulkan semua bukti dan mulai proses yang harus dilakukan. Satu lagi, pastikan semuanya sesuai rencana karena aku tidak ingin ada masalah apapun!" Lee memberikan perintah terakhir tanpa basa basi dengan suara tegas menarik perhatian Yoshi yang kembali memasukkan tangan ke dalam mobil.
Tatapan mata tanya dengan alis saling bertautan menatap keseriusan bercampur kekecewaan yang jelas mengubah ekspresi sang suami. "Ka Lee, apa semua okay?"
__ADS_1
"Yes, ini hanya menyangkut pekerjaan saja. Jangan cemas karena semua akan membaik. Sebaiknya kita pikirkan saja, bagaimana menjaga anak di dalam rahimmu. Jangan ikut membebani pikirkan dengan masalah!
"Kalian berdua harus selalu sehat dan tetap bahagia. So please, gak usah mikirin hal lain yang menyebabkan darting. Ayo, kita mau ke kedai bukan. Bagaimana jika kedai ice cream?" tawar Lee, membuat Yoshi tersenyum seraya mengangguk menyetujui keinginan sang suami.