Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 31#Keberadaan Lee


__ADS_3

Pernyataan Ryan tidak terbantahkan karena memang begitulah faktanya. Zoya mengalah mengingat situasinya yang salah memberi pertanyaan meski dari sudut hati terdalam menyadari, bahwa ia hanya berniat menyindir kakak iparnya saja. Malam semakin larut membuat kakak adik ipar itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Waktu kian beranjak meninggalkan kesunyian malam berteman arak awan. Sinar mentari menyapa bersambut irama kicau burung di angkasa. Detik berganti menit menjadi jam berganti hari. Tak terasa sudah seminggu Ameera menginap di rumah sakit dan pagi ini Dokter Sashi mengizinkan pasiennya untuk kembali pulang ke rumah.


Setelah menebus obat dan juga melakukan pemeriksaan terakhir, Ameera siap dibawa pulang suaminya yang menjemput bahkan memberikan buket bunga mawar putih sebagai hadiah pertama atas kebebasan istrinya itu. Zoya yang setia menemani sang kakak harus menahan diri selama beberapa hari melihat romantisme pasutri yang tidak bisa ia rasakan.


Sejak malam pertemuannya dengan kakak ipar. Lee tak menampakkan batang hidungnya bahkan sekedar mengirim pesan pun tidak tapi anehnya setiap hari selama dirumah sakit selalu ada yang mengirim pakaian ganti dan juga keperluannya. Ia yakin semua itu karena perintah sang suami.


"Zoya, kamu kenapa? Kok melamun." Ameera yang sedari tadi memperhatikan perubahan sikap adiknya merasa heran karena gadis cerianya itu terlihat begitu pendiam.


Zoya menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyum tulus. Ryan yang memahami isi pikiran adik iparnya tetap mengabaikan karena ia tak ingin ikut campur urusan rumah tangga Lee. Meski saat ini, hanya dirinya yang tau keberadaan pria satu itu. Kesulitan sang tangan untuk menghadapi gadis remaja lain yang suka berlari tanpa rasa takut.


"Sayang, mau langsung pulang atau jalan-jalan sebentar?" tanya Ryan mengalihkan topik pembicaraan membuat Ameera kembali fokus padanya, sedangkan Zoya sibuk memeriksa gawai yang sunyi senyap tanpa ada pesan.


Hubungan sah tapi rasa selingkuhan. Rasanya seperti cinta terlarang yang tidak bisa diterima oleh masyarakat. Padahal pernikahan terjadi karena pemaksaan hanya saja ia tak suka dengan cara Lee yang menghilang seperti ditelan bumi. Kemana suaminya itu pergi dan sedang melakukan apa?


Pertanyaan di dalam kepala yang memenuhi pikiran membuat Zoya mematikan data dari gawainya. Lalu memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celana, sedangkan pria yang mengusik pikirannya sibuk menjaga Yoshi di arena balap kuda. Lee terpaksa mengambil tanggung jawab penjagaan gadis remaja itu tanpa bantuan bodyguard lain.


Satu kesalahan yang lalu sudah cukup membuat ia lalai dalam pekerjaan. Fokusnya harus kembali tetapi sentuhan tangan Yoshi mengejutkannya hingga tanpa sadar melepaskan tangan gadis itu. Posisi yang belum benar membuat tubuh adik tuan muda limbung hampir jatuh ke belakang.


Melihat itu, Lee menyambar tangan Yoshi sebelum jatuh ke kolam, lalu menggenggam, kemudian menariknya hingga jatuh ke dalam dekapannya. "Nona tak apa?" tanyanya sopan tanpa ingin mengeraskan suara karena gadis satu itu tidak pernah dibentak oleh siapapun.


"Hmm, Ka Lee lagi ngelamun, ya?" sindir si gadis melepaskan diri dari pelukan asing yang mengusik ketenangan. Apalagi selama seminggu kurang pria muda itu selalu berkeliaran di sekitarnya tanpa mengingat waktu.


Padahal ia sudah meninggalkan kota Jakarta dan menetap di Bali sekedar untuk menghabiskan waktu liburan tapi siapa sangka. Kakak pertama mengirim Lee sebagai bodyguard sekaligus teman bahkan bodyguard yang dikirim oleh kakak kedua harus mundur dari tanggung jawab menjaganya.

__ADS_1


Satu langkah tindakan yang menjelaskan kekuasaan seorang Ryan lebih berpengaruh dari Arvind. Meski begitu, orang-orang kiriman kakak kedua tetap melaksanakan tugas meski harus menjaga dari jarak jauh dan hanya Lee seorang yang bisa di sebelah Yoshi tanpa jarak. Persaingan di antara pekerja seketika hangus mengingat status masing-masing.


"Sok tau kamu," Lee mengelak, lalu mengambil tas ransel milik Yoshi. "Mau jalan sendiri atau gendong?"


Tawaran yang menggiurkan tetapi ia masih sanggup meski harus berlari menyusuri pantai sembari menikmati hangatnya sinar mentari pagi. "Kakiku masih aman, Ka Lee. Kenapa kita cuma jalan, bagaimana jika kita balapan lari?"


"Apa hadiahnya?" Lee menyambut tantangan Yoshi dengan tangan terbuka. Kapan lagi ia bisa bertanding dengan atlet lari seperti adik sepupu tuan muda.


Yoshi Angela memang memiliki hobi lari tapi siapa tau hobinya menjadikannya sebagai salah atlet lari terbaik hanya saja gadis itu menolak mengikuti kejuaraan manapun dengan alasan tidak ingin menunjukkan kemampuan yang selalu menjadi kebanggaan sang kakak pertama.


Sejenak berpikir apa yang bisa diberikan pada tangan kanan kakaknya itu. Jika uang, rasanya percuma karena pasti sudah mendapatkan gaji lebih dari kata cukup. Fasilitas dari kakak pertama pun bisa di anggap tidak tanggung-tanggung. "Apa keinginan Ka Lee? Aku bingung mau kasih apa, jadi satu permintaan dari kakak pasti ku penuhi."


"Aku, Yossi Angela putri keluarga Mahendra berjanji akan memenuhi satu permintaan dari Ka Lee tangan kakak Ka Ryan Mahendra." Yoshi mengangkat tangan meletakkannya ke atas kepala Lee meski harus sedikit berjinjit.


Lee pembawa tas ransel berisi peralatan gym Yoshi. Akan tetapi gadis itu bebas dari apapun yang membebaninya. Langkah kaki terus menapaki pasir lembut bercampur deburan ombak yang mengantarkan aroma khas lautan. Pria itu menatap ke depan dimana Yoshi berlari tidak begitu cepat bahkan sangat pelan.



Ia memahami taktik dari gadis itu, sehingga mengikuti alur dengan berlari menyeimbangkan diri. Selama beberapa waktu keduanya terlihat berlari bersama dan bukan saling balapan melakukan pertandingan. Lima belas menit kemudian, Yoshi menambah kecepatannya.



Namun Lee masih tetap di kecepatan yang sama hingga gadis itu menoleh ke belakang seraya melambaikan tangan memintanya untuk cepat menyusul. Tentu saja ia mengangguk menerima ajakan meskipun hanya menggunakan isyarat tangan. Langkah kaki panjang menapaki pasir lembut lebih cepat dari sebelumnya hingga ia sampai di sebelah Yoshi.


__ADS_1


Selangkah melewati tubuh remaja itu tanpa kesulitan karena pertandingan masih berlanjut. Kini tidak ada lagi permainan selain mencoba saling susul menyusul hingga ke ujung pantai yang entah sampai di mana.


Lima belas menit telah berlalu hingga menuju menit ke-20 menit tapi masih tetap penuh stamina. Langkahnya yang sengaja dipelankan mengamati sekitar yang rupanya senyap, sepi tanpa ada kehidupan. Lee yang tidak mendengar suara lari di belakangnya berbalik menoleh menatap Yoshi.


Pria itu berlari tapi menghampiri Yoshi yang menghentikan langkah kaki, "Kenapa kamu berhenti?" Lee menatap si gadis dengan tatapan tanya, "Pertandingan masih berlanjut atau kamu sudah menyerah?"


"Hadeh, Ka Lee ini, mana ada seorang Yoshi mengalah. Tidak ada dalam kamus hidupku tapi cobalah lihat sekitar! Sepi banget tau, Ka. Yakin mau melanjutkan lari kesana? Gimana kalau nanti tersesat, mending kita balik ke villa dari apa stay di sini." jelas Yoshi membuat Lee menoleh ke sana kemari.


Benar saja yang dikatakan gadis itu. Dimana disekitar mereka memang tidak ada siapapun mungkin karena masih pagi atau tempat itu memang selalu sepi. Ia lupa karena sudah lama tidak berada di Bali. Selalu seperti keinginan sang adik tuan muda, mereka kembali ke villa yang memang jaraknya tak jauh dari bibir pantai.


Entah pria itu tidak tahu atau memang pura-pura saja, bahkan tempat villa didirikan dan juga area sekitar sudah menjadi milik Ryan. Wilayah itu menjadi pulau pribadi yang sengaja di bangun sebagai salah satu aset tak ternilai. Lee hanya tau villa itu salah satu tempat favorit tuan muda saat ingin menghindar dari dunia luar.


Keduanya terlihat akrab bahkan tidak ada jarak. Hubungan yang tampak seperti kakak adik yang sudah lama tidak saling jumpa. Lee benar-benar menjaga Yoshi seperti adiknya sendiri tetapi perhatian serta perlakuan pria itu justru menjadi rasa lain di hati si remaja. Perasaan yang mulai berkembang bahkan tanpa sadar mengharap lebih dari apa yang tidak bisa dikatakan.


"Ka Lee, bisa bantu buatin ayunan baru, tidak?" Yoshi merajuk menatap Lee penuh harap dengan puppy eyesnya.


Tatapan mata Yoshi sangat sulit untuk ditolak membuat pria itu mengangguk menyunggingkan senyum begitu manis. "Seperti keinginanmu, Tuan Putri. Katakan mau di sebelah mana? Kamar dalam, balkon, ruang tamu atau taman?"


Yoshi mengabaikan semua tawaran Lee. Gadis itu justru menarik tangan si pria agar ikut masuk ke dalam kamarnya. Dimana ruangan yang luas dengan fasilitas lengkap tetapi ayunan di sudut ruangan terlihat sudah usang. Sepertinya sang kakak lupa untuk mengganti.


Embusan semilir angin menyambut kedatangan kedua insan itu karena pintu balkon yang terbuka separuh dan juga memperlihatkan suasana luar ruangan yang terlihat indah menyambut pagi hari.


"Mendingan Ka Lee pesan dulu ayunannya. Aku mau ayunan yang terbaru ditambah hiasan bunga, kelambu warna putih, dan juga lampu hias berbentuk Bintang." ucap Yoshi memperjelas keinginannya yang di dengarkan Lee dengan seksama.


"Oke, pergilah mandi dan aku pesan semua sesuai keinginan tuan putri tapi mungkin membutuhkan waktu lama. Setidaknya satu jam setengah sampai barang diantar." timpal Lee menyanggupi semua harapan mudah adik tuan mudanya itu.

__ADS_1


__ADS_2