Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 34#Pengaruh Wine, Kesendirian Zoya


__ADS_3

Suara bisikan lembut yang keluar dari bibir Yoshi membuat Lee tercengang, mendadak ia menghirup napas dalam-dalam tetapi aroma tubuh gadis itu yang justru memenuhi rongga hidungnya. Ia lupa saat ini berdekatan dengan ceruk leher yang tampak putih mulus di depan mata. Kesadaran masih ada hingga fokusnya teralihkan.


Yoshi yang mengunci tubuh Lee membanting pria itu hingga terbaring berganti posisi. Deru napas yang terasa hangat mengubah suasana hatinya, tanpa sadar bibir mendarat memberikan sentuhan hasrat. Ia mabuk tapi sadar atas apa yang tengah dilakukannya. Nahkan keterkejutan Lee dibiarkan terbungkam karena sentuhan tangan nakalnya.


Beberapa saat pria itu terdiam merasakan tangan dan bibir liar yang berusaha menguasai dirinya. Rasa ingin dalam diri Yoshi membuat Lee bingung harus melakukan apa. Pikiran menolak tetapi raganya menikmati sentuhan si gadis remaja. Pertarungan dalam dirinya hanya sesaat sampai ia memutuskan membantu Yoshi cara bermain ranjang sebagai orang dewasa.


Bisikan lembut memprovokasi Yoshi yang dengan senang hati melakukan seperti keinginannya. Tangan mungil yang bergerak liar meraih apapun yang bisa dimainkan hingga tak sabar mengeluarkan si otong dari sarang persembunyian. Gadis itu memperhatikan bentuk yang terlihat seperti sosis jumbo.


"Ka Lee, harus aku apakan ini?" racau Yoshi menoel si otong dengan gemas membuat Lee tersiksa.


Pria itu menarik tangan Yoshi hingga jatuh menimpa dadanya, lalu meraup bibir ranum tanpa kata. Pagutan yang menuntut sebagai hukuman pertama karena telah menyiksa batinnya, tetapi gadis yang ia kuasai hanya mengikuti alur permainan tanpa keluhan. Jelas sekali menikmati setiap sentuhan tanpa penyesalan.


"Ka Lee aku mau ...,"


Entah apa yang diinginkan Yoshi, kini Lee yang berkuasa membenamkan raga yang siap menerima segala sakit berujung kenikmatan. Pria itu benar-benar menerbangkan adik tuan muda dalam permainan ranjang hingga meronta meminta penyatuan. Namun tak semudah itu karena ia juga membutuhkan kepuasan.


Alhasil bibir mungil gadis itu harus ikut bekerja menikmati otong yang tidak mudah ditaklukkan. Mata terpejam bersahutan lenguhan manja penuh kegilaan. Hurry pleasee ...," rintih Lee membuat Yoshi semakin mempermainkan aset pria itu.


Malam kian menjelaga berteman arak awan tanpa bintang. Suara derit ranjang bergema bersambut lenguhan manja dari kedua insan yang dibutakan hasrat semata. Yoshi yang penasaran dengan pergulatan panas disambut hangat Lee yang membutuhkan belaian kasih sayang.


Lengkap sudah penyatuan keduanya hingga terdengar jeritan keras bersama sensasi hangat yang mengalir di bawah membuat Lee mengumpat di dalam hati. Ia tak menyangka akan kebablasan sampai membobol gawang adik tuan muda. Niat hati menyudahi pergulatan tapi tangan di punggung menahannya.

__ADS_1


"Ka kenapa berhenti? Aku baik-baik saja kok." lirih Yoshi yang pasti menahan sakit akibat ulahnya.


Ketika hasrat sudah menguasai akal pikiran, maka tidak ada lagi tempat kewarasan. Lee memejamkan mata sambil melanjutkan permainan meski harus perlahan karena takut Yoshi akan menjerit kesakitan lagi. Ia pikir perlakuannya harus lembut tanpa penuntutan tapi gadis itu ikut membantunya agar lebih cepat lagi.


Pergulatan selama empat puluh lima menit berakhir dengan genggaman tangan dengan tubuh kejang melepaskan benih kenikmatan. Lee tak sadar membiarkan hasil derit ranjang masuk memenuhi rahim Yoshi. Sementara gadis itu mendapatkan kepuasan meski tubuhnya terasa remuk redam tak bertulang.


"Ka Lee, aku ngantuk." lirihnya merengkuh tubuh Lee dengan mata terpejam karena kelelahan.


Lee sendiri menatap hasil dari jejak percintaannya yang mewarnai tubuh Yoshi. Stempel merah yang terlihat sejauh mata memandang menyadarkan ia akan kegilaan barusan. Ingin mengumpat tapi semua sudah terjadi meski ia juga paham, Yoshi menginginkan untuk dipuaskan.


Apa alasan gadis itu? Ia sendiri tidak tahu hanya saja mengingat kehormatan gadis itu hilang karena ulahnya. Sekarang bagaimana? Disingkapnya selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka. Warna merah di bawah sana menjadi bukti perenggutan kehormatan yang dilakukan tanpa paksaan.


Maafin aku, Zoya.~batin Lee mengingat ia juga merenggut kehormatan gadis lain hanya saja berbeda situasi.


"Mas, besok saja, ya. Aku masih ngantuk." gumamnya dengan merendahkan suara hingga terkesan benar-benar tidak kuat lagi untuk tetap terjaga.


Ryan yang mendengar itu menarik tangannya lagi, lalu beranjak dari tempatnya. Tentu ia tak ingin memaksakan kehendak sehingga memilih pergi meninggalkan kamar utama. Suara pintu yang terbuka, kemudian tertutup membuat Ameera menurunkan selimutnya.


Matanya tak bisa lagi terpejam karena hati merasa bersalah. Sejak kembali ke rumah sakit setelah melakukan hubungan terlarang bersama Yoseph. Pikirannya justru bercabang, hati sadar mencintai sang suami tapi kenapa ia juga menginginkan sang sahabat juga. Disisi lain, ia khawatir akan sesuatu mengenai masa depan nanti.


Bayangkan saja jika ia hamil, tapi sudah berhubungan dengan dua pria. Pertanyaannya anak siapa yang ia kandung? Meski pikiran dengan keras menepis hubungannya dengan Yoseph tidak akan membuahkan bukti perselingkuhan sehari. Rasa takutnya juga bertambah karena jika identitas bisa dipertanyakan, bagaimana ia memastikan masa depan?

__ADS_1


Dilema yang tidak bisa dihindari membuat Ameera hanya termenung menatap atap langit, sedangkan di kamar lain hanya terdengar suara musik pelan mengiringi pengantar tidur. Sudah hampir tiga jam musik diputar, sayangnya mata masih menyala tanpa mengenal rasa lelah. Seharian ini juga, ia merasa ada yang tidak beres.


"Ayolah, Zoya! Kamu harus tidur." bujuknya pada diri sendiri.


Kegelisahan bukannya semakin mereda tapi pikirannya entah berlari ke arah mana. Bingung sendiri karena memang tidak bisa tidur. Cemas akan sesuatu yang ia sendiri tidak bisa mengatakan karena apa. Alih-alih berusaha memejamkan mata kembali, gadis itu bangun, lalu turun dari atas ranjang.


Rasanya engap berada di dalam kamar sehingga ia berjalan meninggalkan ruangan mewah yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan ternyaman. Tanpa ada teman, Zoya menyusuri area mansion tanpa arah tujuan tapi ia ingat sebuah tempat yang bisa menjadi tujuan malamnya.


Tanpa peduli tatapan para bodyguard yang menjaga di beberapa sudut ruangan. Gadis itu trus melangkahkah kaki hingga berpindah memasuki area kolam renang yang dihiasi lampu taman menambah nuansa romantis seakan pemilik rumah menyukai hal-hal berbau cinta. Duduk di tepian seraya memasukkan kedua kaki ke dalam air menikmati sensasi dingin yang masih aman.


"Apakah aku akan selalu sendiri tapi sampai kapan?" tanyanya pada diri sendiri.


Rasa sepi di hatinya kian terasa karena kini tidak ada teman untuk diajak bercerita. Ayesha yang biasanya selalu menjadi tempat berbagi keluh kesah sudah jauh darinya. Sementara sang kakak masih dalam masa pemulihan. Kakak ipar sibuk bekerja dan memiliki suami hilang di telan bumi.


Kata terakhir yang menyangkut di kepala menyadarkan Zoya akan kesepakatan di antara ia dan Lee. Sudah seminggu berlalu tapi tidak ada perkembangan bahkan jejak kepemilikan suami paksanya itu sudah memudar dari tubuh. Lee benar-benar mengecewakan dan pantas mendapatkan hukuman tapi tetap saja, dimana pria itu saat ini?


"Hubby, apa hubungan rumit ini bisa dilanjutkan?" Laura menatap Ryan yang berbaring di pangkuannya.


Setelah mendapat penolakan dari Ameera. Pria itu kembali pada istri pertamanya tetapi bukan dengan raut wajah sedih, melainkan tersenyum bahagia memiliki alasan untuk berdua bersama wanita pujaan hatinya. Meski istri muda tidak menyadari bantuan yang dilakukan, ia tetap bersyukur bisa menghabiskan malam bersama Laura.


"Hubungan yang mana, Ratuku?" tanya Ryan memastikan arah dari perbincangan yang dimulai istrinya itu.

__ADS_1


Bagaimanapun ia tidak ingin ada salah paham yang bisa mengakibatkan keretakan dalam rumah tangganya. Saat ini yang didepannya adalah istri pilihan dan bukan istri pengganti. Apapun yang terjadi, baginya Laura yang utama karena ia tahu wanita itu selalu menjadi kehidupannya.


"Hubungan kita semua, Hubby." tegas Laura tanpa ingin menyembunyikan apapun dari suaminya.


__ADS_2