
Sumpah yang keluar dari bibir Zoya tercetak membekas sampai ke sanubari Lee. Tubuhnya diam tak bergeming menatap gadis yang sibuk memunguti pakaian di lantai, lalu berlari masuk ke kamar mandi. Suara bantingan pintu yang terdengar begitu keras menghempaskan kenyataan yang menjadi angan tak menentu.
Sadar benar bahwa Zoya menolaknya. So gadis remaja tidak ingin hidup dengan pria seperti dirinya. Apa salah jika ingin bertanggung jawab? Ia tahu telah melakukan sesuatu yang tak termaafkan karena tanpa hati melanjutkan olahraga ranjang tanpa peduli perasaan si gadis remaja.
Namun bukan berarti ia sebrengsek itu hingga lepas dari tanggung jawab. Pemikiran yang tak seimbang bersambut ego yang terluka. Penolakan sudah dilakukan, lalu kenapa harus merendahkan diri hanya untuk melakukan hal yang sudah ia pikirkan.
Bukankah tadi Zoya bilang tidak sudi menikah dengannya, maka tidak ada salahnya jika membuat keadaan menjadi lebih baik dari satu keinginan hati. "Kamu sudah menjadi milikku, jangan salahkan aku untuk membuatmu bertekuk lutut berada di sisiku."
"Namamu harus menjadi Zoya Lee Bramasta. Menikahi seorang iblis atau hidup menjadi neraka tanpa kepastian," Seringai tipis tersungging menghiasi wajah Lee, membuat pria itu tampak kikuk.
Keteguhan hati Lee bukan karena cinta tapi ego yang terluka. Pria itu tersenyum devil memikirkan rencana yang melintas seperti roket. Melesat begitu cepat bahkan tanpa diminta, sedangkan di sisi lain Zoya terus menggosok kulitnya di bawah guyuran air shower. Gadis itu merasa jijik pada dirinya sendiri.
Bayangan wajah Lee yang sibuk menjelajahi tubuhnya dengan penuh semangat semakin menambah rasa jijik di hatinya. Muak mengingat hal yang kini menari di pelupuk matanya. Jejak merah yang menantang semakin menekan sisa kesadaran. Ia merasa takdirnya begitu malang hingga dilec3hkan tanpa perasaan.
Jangankan membayangkan, memikirkan hal itu saja ia tidak pernah. Jeritan hati hanya dirinya yang mendengar tetapi jeritan suara bergetar menggema memantul ke seluruh ruang kamar mandi. Tangannya lelah menggosok tapi jejak sang iblis tidak bisa terhapus.
Rasa sesak di dada kian terasa menghantam jiwa yang penuh luka. Apa gunanya ia hidup? Setelah semua yang terjadi, lalu siapa yang akan menerima dirinya apa adanya? Pikiran negatif datang menyapa, membuat gadis itu gelap mata. Tangan meraih stainless tempat sabun cair, lalu berusaha menguatkan diri dengan niat bodohnya.
Tiba-tiba suara keras mengejutkannya, seketika stainless yang ia genggam terdorong hingga menyayat pergelangan tangan tetapi rasa benci menghadirkan ketidakpekaan. Tatapan mata nyalang menusuk menatap pria yang mendobrak pintu kamar mandi. Tidak ada kata yang bisa dijabarkan.
"...,"
"Diam! Apa kamu sudah gila?" Lee berlari menghampiri Zoya. Pria itu menatap pergelangan tangan si gadis remaja yang terluka, tanpa basa basi menggenggam berniat mengobati tetapi justru ditepis kasar.
Zoya melangkah mundur membiarkan Lee menatapnya dengan tatapan khawatir berselimut rasa bersalah. "Iblis tidak pantas memiliki hati. Untuk apa kamu kesini? Masih belum puaskah semalam? C!h menjijikkan, bagaimana bisa orang sepertimu lahir ke dunia ini."
Sindiran Zoya terdengar panas membara, ingin sekali membalasnya tapi mengingat situasi dengan darah yang mengalir. Ia memilih mengalah, kemudian berjalan mundur selangkah. Berharap tindakannya memberikan kepastian bahwa ia tak akan melakukan sesuatu di luar kendali lagi.
Sayangnya ketika kekecewaan terbesar sudah menghancurkan kemanusiaan. Maka tidak ada lagi yang tersisa, sama halnya seperti keadaan dan perasaan yang Zoya rasakan. Gadis itu tertawa hambar melihat Lee yang seolah mengalah, kenapa tidak semalam?
__ADS_1
Ironis yang menjadi kepribadian seorang Lee membuat Zoya tak memiliki penilaian lebih selain satu kata. Iblis berwajah manusia. Tidak peduli jika pria itu berlutut meminta ampunan, ia tidak ingin memberikan kesempatan dengan kata maaf yang mengubah kebencian menjadi pilihan.
"Zoya, please kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Bersihkan dirimu, ganti pakaian, dan kita bicara di luar dari hati ke hati." bujuk Lee tak ingin frontal karena tatapan Zoya tak mau redup meski hanya sedikit.
Apapun yang ia rencanakan hanya bisa terjadi jika Zoya mau diajak ngobrol bersama, tapi jika gadis itu tetap keras kepala maka menjadi penghalang. Bagaimana mencapai tujuannya? Semua pasti berakhir sia-sia tanpa kesepakatan bersama.
Si gadis remaja mencebikkan bibir, ia tahu Lee tidak bisa dipercaya. Pria itu penuh tipu daya. Sekali saja diberikan kesempatan, bukan tidak mungkin nyawanya yang melayang. Suudzon? Tidak, ia hanya membicarakan fakta. Dimana dari pengamatan jelas saja tangan Lee berlumuran darah orang lain.
Keyakinan itu masih hanya sekedar pemikiran tanpa bukti, tapi lebih dari semua itu. Hidupnya tak lagi bisa diharapkan hanya saja sekilas ingatan datang membawa kesadarannya kembali menunjukkan jalan keputusan final.
Zoya bersandar ke dinding belakangnya membiarkan tubuh basah tanpa sehelai benang terpampang jelas. Lirikan mata jatuh menatap tetesan warna merah yang tidak bisa dia rasakan sakitnya. Tatapan mata kosong menatap goresan luka di pergelangan tangan kirinya.
"Apa yang bisa kamu berikan. Harta, nyawa atau enyah dari kehidupanku?" tanyanya beralih kembali menatap Lee yang membalas tatapannya dengan intens.
Pertanyaan sekaligus penyataan tegas dari Zoya membuat Lee menyadari bahwa gadis itu tidak selemah yang ia kira. Baru beberapa detik yang lalu berniat mengakhiri hidup tapi sekarang siap menerkam lawannya tanpa ampunan. Jelas sekali tatapan mata menantang tak ingin dikalahkan.
Tak ada jawaban, Zoya sibuk menatapnya menelisik mencari pembuktian. "Kamu bisa mengujiku, jika mau tentunya."
Terlalu percaya diri hingga kembali menghadirkan tawa hambar yang membuat senyum pipit Zoya terlihat jelas menyembul di pipi. Bagaimana bisa ada pria yang memiliki tingkat pede maksimal seperti Lee. Tak habis pikir tetapi setidaknya sekarang sudah jujur tanpa niat terselubung.
Alih-alih langsung menjawab, Zoya melangkahkan kaki berjalan maju mendekati Lee. Langkah pelan tetapi pasti tanpa mengalihkan tatapan mata yang masih terpatri. Guyuran air shower semakin menyadarkan ia akan apa yang harus dilakukan.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu? Bagaimana jika tiba-tiba berkhianat, siapa yang akan menjamin?" Zoya mengalungkan tangannya ke leher Lee. Kini jarak semakin terkikis hingga bisa mendengar suara deru napas masing-masing.
Ia tak bermaksud menggoda si iblis tetapi tujuannya jauh lebih besar dan apa yang sudah terjadi. Biarlah menjadi alarm agar tetap berhati-hati, "Sebagai iblis kamu terbiasa membakar harapan orang lain. Akan tetapi aku ingin kamu mengembalikan kehormatanku. Bisa?"
Permintaan Zoya sangatlah berat bahkan di dunia kedokteran saja tidak ada yang namanya mengembalikan keperawanan. Lee berpikir keras mencoba mencari solusi tetapi sampai ujung dunia pun, tidak bisa menemukan titik pencerahan karena memang tidak ada. Pria itu berpikir terlalu sempit.
Lee tidak menyadari bahwa yang dimaksud Zoya adalah tentang masa depan. Sembilan puluh persen pria di dunia ini akan mempertanyakan wanita sepertinya. Kehormatan yang berasal dari mahkota seorang wanita tetapi lebih mengarah pada penerimaan tulus tanpa niat terselubung.
__ADS_1
Pria itu memang sudah dewasa tapi zero dalam menilai kehidupan seorang wanita. Diamnya Lee, membuat Zoya terkekeh menertawakan ketidakpekaan si iblis. "Kau hanya tau caranya merebut tapi tidak tahu cara memperbaiki." Zoya melepaskan tangan seraya mendorong tubuh sang iblis yang tersentak karena ulahnya.
Tangan terangkat menghentikan Lee yang berniat menjawab pernyataannya. "Jangan berpikir iblis sepertimu bisa berbuat seenaknya. Jika kau memang ingin aku melupakan pemaksaan mu semalam, ok, tapi penuhi semua syarat dariku."
"Akan ku lakukan. Katakan apa syaratmu?" tanya Lee yang lelah ditebak, apalagi memikirkan setiap kemungkinan. Sadar bahwa Zoya merupakan salah satu gadis dengan kepribadian susah ditebak.
Perdebatan itu berakhir dengan senyum tipis yang menghiasi wajah Zoya, sedangkan di sisi lain perhatian manis menghantarkan kebahagiaan nyata. Tangan yang sibuk mengupas buah apel tetapi tatapan mata sesekali menoleh seraya menyahut obrolan ringan tanpa rasa.
"Terima kasih," Sepotong buah apel diterimanya, lalu menggigit mengecap rasa manis menyegarkan. "Cobain juga deh, Mas." sisa potongan buah ia ulurkan, membuat pria yang duduk di depannya ikut menikmati sepotong apel bersama.
"Manisnya pas tapi lebih manis istriku, maaf ya karena baru bisa datang. Lain kali jangan menyembunyikan apapun dariku. Kuharap kekasihku paham rasa khawatir bisa menyebabkan serangan jantung juga." ujarnya mengingatkan sang pasien yang mengenakan seragam rumah sakit meski tidak mendapatkan selang infus.
Perhatian yang sangat ia rindukan hanya mampu merengkuh kebersamaan. Terkadang takut jika kembali ke kediaman mereka, maka suaminya berubah lagi dan hanya sibuk bekerja. Rasa kesepian semakin terasa ketika malam datang tanpa kehadiran prianya.
"Mas Ryan, bisakah kita tinggal di rumah sederhana saja?" tanya Ameera menatap Ryan yang masih menyibukkan diri mengupas kulit apel.
Yah, rasanya lebih baik kembali ke masa sebulan lalu. Meski hanya hidup berdua, justru selalu bersama. Egoiskah? Entahlah karena itu sekedar ungkapan hati terdalamnya.
Tidak sulit meski ingin tinggal di luar negeri sekalipun. Mau menjadi nyonya, atau orang biasa? Kehidupan selalu tentang pilihan tapi kekuasaannya bisa menjadi perisai di saat rencana tak sesuai harapan. Sayangnya Ameera itu terlalu polos sampai tidak sadar orang-orang slalu memanfaatkan keluguannya.
"Bisa, tapi ku harap kamu ingat sebelum kita pindah ke kota. Kamu sendiri yang meyakinkan aku untuk datang kembali ke dunia yang memang hanya tentang kesibukan. Semua ini agar hubungan kakak dan adik tidak terputus, lalu apa yang terjadi sekarang? Apakah fasilitas yang sudah disiapkan tak sesuai harapan?
"Ameera, aku bukan tidak ingin tapi sekali dunia tahu Tuan Muda Ryan Mahendra kembali, maka mereka tahu akan ada badai yang siap memporak-porandakan ketenangan banyak orang. Bukannya Lee sudah menjelaskan seperti apa anggota keluarga Mahendra?
"Jangan berpikir tentang semua ini karena dokter mengharapkan pasien lekas sembuh. Begitu juga dengan aku, makanlah! Aku ingin ke toilet sebentar." Ryan meletakkan piring buah ke pangkuan Ameera, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Langkah kaki menjauh membuat Ameera mengembuskan napas panjang. Setiap kata yang suaminya ucapkan terkesan menghindari kebersamaan. Entah kenapa ketenangannya tidak lagi ada. Apakah ia salah menilai atau hanya rasa takut kehilangan saja?
Pintu ditutup, kemudian mengambil ponsel dari saku celana. Lalu mengetikkan beberapa huruf yang terangkai menjadi perintah darurat. Barulah di kirim, "Sorry, tapi kamu hanyalah wanita yang menjadi calon ibu dari anakku tetapi bukan prioritasku."
__ADS_1