Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 27#Kegilaan Hasrat-Kembalinya Yoshi


__ADS_3

Peringatan yang diberikan Yoseph tak bisa mengubah kenyataan. Dimana mereka berdua sama-sama tenggelam dalam kenikmatan. Sadar melakukan penyatuan meski tahu benar hubungan bagaimana posisi status menjadi jawaban sederhana. Pengkhianatan pertama yang menghadirkan kepemilikan lain.


Ameera menahan pergerakan tangan yang sibuk memegang hairdryer, lalu membimbing pria itu agar duduk di depannya hingga mereka saling berhadapan menghujam tatapan mata tak terjabarkan. Sesaat terdiam mencoba menelusuri kepastian rasa yang tlah lama hilang dari peradaban hati.


"Aku tau resikonya adalah perpisahan tapi aku juga tahu," Sentuhan manja mengusap pipi sang lelaki yang menatapnya penuh cinta, "Kamu tidak akan membiarkan hidupku hancur kecuali aku sendiri yang memintanya."


"Kau ini, selalu memanfaatkan emosiku tapi benar. Setelah hari ini, aku tidak akan melepaskanmu." sahut Yoseph menarik tangan Ameera hingga tubuh gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. "Jangan menguji kesabaranku, atau hukumanmu bertambah."


Bukannya menurut, Ameera dengan sengaja mengecup bibir lelaki yang menggodanya itu. Sentuhan kilat yang tidak bisa ditoleransi bersambut jatuhnya handuk ke lantai. Tak ada paksaan di antara keduanya dalam kehangatan yang membakar rasa. Kegilaan ada dimana-mana. Termasuk suara derit ranjang yang terus menerus bergoyang bersahutan lenguhan manja kedua insan.


"Ouuuh my baby," Ger@kannya semakin tak karuan hingga membuat tubuh yang dikuasai terhentak mengikuti alur permainan. "A@arrgghhh ... Love you Laura ...,"


Pelep@san puncak yang membuat tubuh Ryan limbung memeluk tubuh istrinya. Suara deru napas ngos-ngosan saling berebut berusaha kembali untuk tenang meski tak semudah itu. Raga lelah setelah melakukan tiga r0nde tanpa henti dan kini waktunya istirahat agar bisa bangkit dari tempat tidur.


"Hubby, apa Lee tidak ada kabar?" Laura merenggangkan pelukan suaminya agar bisa bebas menghirup udara sekitar.


Pertanyaan itu mengingatkan Ryan akan si tangan kanan yang pasti kini sudah menerima hadiah darinya. Seulas senyum devil tersungging menghiasi wajah tampannya membuat sang istri mengernyit tak memahami apa isi pikirannya. Tentu saja tak akan mengerti karena siapapun yang berniat berkhianat akan jatuh ke dalam perangkap sendiri.


"Hubby, apa semua baik-baik saja?" tanya Laura tak bisa menunda rasa penasarannya, tetapi yang ditanya hanya diam kembali merengkuh tubuhnya ke dalam dekapan seraya mengusap wajah dengan penuh kasih sayang.


Sepertinya Ryan ingin diam tapi entah apa alasannya. Satu yang ia pahami adalah membiarkan sampai waktunya nanti, maka sang suami pasti datang untuk mengatakan apa yang sudah terjadi. Meski terkadang terlambat, ia tetap percaya kejujuran dari Ryan Mahendra.


Sementara di sisi lain hanya ada kehampaan. Padahal begitu banyak orang yang tinggal seatap tetapi tetap saja seperti hidup sebatang kara. Lihat saja menu makan siang yang tampak menggoda hanya saja tidak seorangpun anggota keluarga inti turun untuk menikmati sesi makan bersama. Meski begitu pelayan tetap menyajikan makanan seperti biasa.

__ADS_1


"Yuhuuu, apa ada orang?" Seru seseorang yang datang dengan wajah ceria tetapi yang menyambut hanya para pelayan.


Wajah yang menundukkan kepala tanpa kata memberikan hormat tapi semua itu sangat membosankan. "Kalian lupa nonton kartun atau bagaimana sih? Kaku bener jadi manusia. Dimana Mama dan Papa?"


Suara khas anak remaja dengan sikap manja tapi mandiri mendadak mengubah atmosfer di dalam mansion. Apalagi ketika langkah kaki berlari pelan menuruni anak tangga menyambut kedatangan sang adik tercinta yang tiba-tiba saja pulang tanpa pemberitahuan. Tangan merentang mendapatkan pelukan pertama dari gadis kesayangan keluarga.


"Hai, Dek. Apa kabarmu? Tumben pulang gak ngabarin kakak, biasanya kan minta jemput di bandara." Pelukan dilepaskan, tetapi tangan beralih mengacak rambut sang adik yang langsung memajukan bibir sepuluh senti.


Sontak ia tertawa hingga pukulan sayang mendarat ke perut sixpack yang terasa seperti cubitan semut. "Hehehehe, jangan ngambek Yossi Angela. Ayo, kita makan. Kakak kangen sama kamu."


"Ka, dimana mama?" tanya Yoshi menahan pergerakan tangan Arvind kakaknya.


"Mama, ya, masih di luar kota sama papa. Sudahlah, jangan bahas itu." Arvind hanya ingin kembalinya Yoshi ke tanah air tidak membuat gadis itu merasa sedih, apalagi prihatin karena kondisi keluarga yang semakin krisis.


Para pelayan bergegas melayani kedua majikan kecilnya yang memang selalu akrab setiap kali bersama. Obrolan ringan seputar dunia sekolah menemani kebersamaan mereka berdua. Yoshi yang selalu menjadi pribadi humble, ceria dan juga ceplas-ceplos benar-benar menghidupkan jiwa Arvind.


Obrolan itu trus berlanjut bahkan meski sesi makan siang sudah berakhir hingga terdengar suara dering ponsel yang mengalihkan perhatian si gadis remaja. "Ka, sebentar telepon dari temanku."


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, membuat Arvind hanya membiarkan seraya meminta pelayan untuk membersihkan ulang kamar adiknya agar lebih nyaman ditempati Yoshi nanti. Segala sesuatu harus dipastikan agar gadis kesayangan bisa tidur nyenyak nanti malam. kehidupan ke depan nanti pasti lebih berwarna meski entah berlangsung berapa lama.


"Ka Arvind, boleh pinjam mobil kakak, enggak?" tanya Yoshi yang berdiri agak jauh dari meja makan.


Tatapan mata gadis itu penuh harap meluluhkan siapapun yang tak tega mengatakan tidak. Akan tetapi mengingat adiknya tidak bisa menyetir, mana mungkin ia mengizinkan. "Tidak, tanpa aku yang menyetir."

__ADS_1


Kalau kakak ikut, bagaimana caraku bertemu Ka Ryan? Tapi jika mendadak kutolak, bisa jadi tanda tanya. Ayolah Yoshi pikirkan sesuatu.~ucap batin Yoshi merutuki tindakan gegabahnya.


Padahal mobil berderet ada di garasi dan ia bisa meminta salah satu supir bahkan bodyguardnya sendiri untuk ikut bepergian dengannya. Hanya saja tak semudah itu, inilah yang membuat ia tak suka di Indonesia. Peraturan rumah ketat dan di tambah keposesifan sang kakak tercinta. Lengkap sudah jeruji penjara sangkar emas yang menjadi dunianya.


Ditutupnya panggilan telepon, lalu kembali berjalan menghampiri sang kakak yang masih setia menatap ke arahnya. "Ka Arvind libur kerja, ya? Tumben sih, padahal biasanya sibuk sampai nggak kober hubungi Yoshi."


"Sekarang udah gak sibuk, Dek. Lihat aja jam segini masih di rumah. Lagian kamu itu baru sampe, mau kemana coba?" tanya Arvind yang tau benar jalan pikir adiknya.


Yossi Angela bukan adiknya saja tetapi adik dari kakak sepupu juga. Jika ia dan Ryan berselisih paham karena masalah kekuasaan di dalam keluarga Mahendra. Justru Yoshi tidak membedakan antara ia dan Ryan. Kasih sayang, perhatian yang selalu menjadi semangat baru meski ia tahu, Ryan sendiri juga menyayangi adiknya.


"Ish, Ka Arvind kepo. Ya udah mending Yoshi ke kamar dulu mau bersih-bersih." pamit Yoshi tak ingin menjawab pertanyaan kakaknya.


Langkah kaki berlari meninggalkan ruang makan meninggalkan sang kakak yang termenung menatap nanar ke arahnya. Ia tahu tatapan pria muda itu jelas menyadari akan niat hatinya. Sesederhana itukah ia? Sehingga tidak bisa menyembunyikan apapun dari paras imut yang menunjukkan usia remajanya.


"Huft, aman dari Ka Arvind. Eh, tapi gimana nasib Ka Ryan, ya?" Yoshi menepuk keningnya sendiri, lalu kembali mendial nomor lain yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah.


Suara nada dering ponsel tersambung tetapi kemana si pemilik nomor hingga tak menjawab panggilan darinya. Tangan terangkat sibuk menggigit kuku panjang nan terawat tanpa hiasan cat kuku, wajah imut pemilik mata ceria meneduhkan mengerjap membuat bulu mata lentik terus bergerak indah.


"Halo, akhirnya diangkat juga. Aku cuma mau bilang sudah ada di Indonesia. Kapan bisa bertemu secara langsung?" Yoshi bicara to the point meski logat bicaranya begitu cepat karena terbiasa menggunakan bahasa asing.


Hening tidak ada jawaban membuat gadis itu ikut termenung karena pendengarannya mendengar sesuatu yang lain dari seberang. Entah apa yang sedang dilakukan tetapi mendadak hening tanpa ada kata sambungan tetapi panggilan terputus begitu saja. Aneh karena untuk pertama kalinya orang yang ia hubungi mematikan obrolan tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Apa dia baik-baik saja?" tanyanya pada diri sendiri memikirkan seseorang yang menjadi sahabat penanya selama dua tahun terakhir melalui sebuah aplikasi jejaring sosial yang diadakan oleh salah satu sekolah swasta.

__ADS_1


__ADS_2