
Perjalanan kembali dilanjutkan. Di mana Lee memilih memejamkan mata sejenak membiarkan seluruh pikiran yang membelenggu jiwa terbengkalai meninggalkan kenyataan dan juga kehidupannya. Ia membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk sendiri agar bisa mencerna semua yang sudah terjadi. Lalu menentukan langkah selanjutnya.
Apalagi ketika mengingat keadaan saat ini. Pasti tidak akan sebaik kemarin dan setelah ia pulang, maka Zoya memerlukan penjelasan. Terlebih lagi ketika menyangkut perjanjian yang seharusnya sudah mulai ke dalam tahap kedua, tapi nyatanya satu langkah pun belum dilakukan. Ia tahu, perjanjian itu sangat penting bagi sang istri hanya saja takdir berkata lain.
Saat ini, hubungan dan ikatan semakin rumit. Sadar akan hal yang tidak bisa dia tetapkan, tapi masih bisa diusahakan untuk mencapai tujuan. Sehingga untuk kali ini, ia harus sedikit mengundurkan langkah mengingat semua hal yang bisa menjadi susunan strategi. Setiap pergerakan untuk melangkah ke depan.
Sebagai salah satu orang lama dalam permainan taktik, ia bisa melihat potensi masa depan karena tindakannya. Dimana penyerangan bisa dilakukan oleh beberapa pihak, andaikan ia berusaha melakukan perlawanan. Sementara di tempat lain, Zoya yang baru saja sampai di rumah Ayesha.
Gadis itu langsung mengetuk pintu seraya mengucapkan salam yang membuat orang rumah bergegas membukakan pintu untuknya. Seperti biasa, ia disambut dengan hangat bahkan mendapatkan pelukan seorang ibu yang selalu ia rindukan.
"Ayo, langsung saja masuk ke kamar Ayesha. Anak bunda masih sibuk mengemas pakaiannya sejak pagi. Zoya, mau dibuatin minum apa?" tanya Bunda Ayesha dengan antusias karena begitu senang akan kehadirannya.
Apalagi sebenarnya, seminggu lagi, mereka akan pindah ke luar kota, bahkan Ayesha sudah meninggalkan asrama selama empat lima hari. Kepindahan mereka karena mengikuti pemindahan pekerjaan sang kepala keluarga. Sehingga mau, tidak mau pindah satu kelurga.
Zoya yang masih sungkan hanya menjawab singkat, lalu melangkahkan kaki meninggalkan si bunda untuk bergegas ke kamar Ayesha. Di mana pintu kamar si sahabat terbuka lebar hingga memperlihatkan bagian dalam yang semrawut seperti kapal pecah. Heran saja karena gadis itu biasanya sangat rapi dan saat ini justru begitu berantakan.
__ADS_1
"Aye, kamu mau jualan atau bagaimana, sih? Coba lihat pakaianmu di sana-sini!" Zoya menyapa Ayesa dengan teguran tegas, membuat sang sahabat menoleh menatap ke arahnya.
Si gadis hijabers melambaikan tangan mengharapkan ia datang mendekat. Langkah kaki sedikit berhati-hati sambil memungut beberapa pakaian yang berserakan di lantai. Mungkin semua pakaian sudah tidak dibutuhkan lagi.
Terlihat jelas kesibukan Aye yang membuat Zoya memilih diam sejenak memperhatikan pergerakan tangan dari sahabatnya itu. Apalagi dua koper tampak sudah berada di ujung dan tertutup rapat berdiri tegak. Koper besar yang siap untuk dibawa pergi dan kini sang sahabat di hadapkan dengan koper berukuran sedang.
Aye mulai meletakkan muatan yang berupa beberapa kaos longgar favorit. Hal itu menambah rasa penasarannya, "Aye, kamu sebenarnya mau ke mana, sih? Semua pakaian dikeluarkan. Apa mau diberikan kepada panti asuhan?" tanya Zoya penasaran yang membuat kesadaran Ayesha kembali kedunia nyata.
Dilepaskannya pakaian yang ia pegang, lalu beranjak dari tempat duduk, kemudian berpindah duduk di sebelah Zoya yang ada di atas ranjang. "Zoya, aku sudah keluar dari asrama karena ayah mendapatkan tugas di luar kota dan tidak mungkin untuk setiap waktu memiliki ruang bagiku."
Ketika hati membutuhkan tempat untuk berbagi rasa. Kenapa justru Allah memisahkan hubungan yang sudah dianggapnya sebagai keluarga? Takdir macam apa hingga merenggut semua hal yang bisa memberi semangat tanpa bagus berkata pahitnya kehidupan. Bukan berniat mengeluh hanya saja, semua yang terjadi benar-benar tak terduga.
Sampai detik ini, hanya Ayesha yang menjadi saudara di dunia nyata. Sungguh setiap kebenaran dan jalan kehidupan selalu datang menyapa, atau sekedar merenggut tanpa kata. Ia merasa setiap celah kemungkinan untuk mendapatkan pertolongan mulai terhimpit kesadaran dalam kesendirian.
"Kenapa secepat ini? Apakah semua baik-baik saja? Bukankah kalian tidak ada rencana pindah, lalu semua ini?" Rasa penasaran membuat Zoya khawatir karena takut keadaan keluarga sang sahabat mengalami masalah.
__ADS_1
Ayesha tersenyum seraya mengambil ponsel dari atas nakas. Gadis itu, menunjukkan sebuah rumah yang akan ditempati di kota lain yang memang sudah dikunjungi tiga hari yang lalu. "Lihatlah, rumah kami yang baru."
Bangunan bertingkat dua dengan dinding bercat pastel orange yang terlihat cukup kalem bahkan tidak mencolok. "Ayah bilang, kita bisa tinggal di sana dengan nyaman asal pekerjaan semua lancar. Jadi semua sudah diatur dan tidak mungkin untuk mengundurkan."
"Sebenarnya, rencana ini sudah seperti yang diharapkan ayah. Beliau mengatakan untuk bersiap karena kepindahan kita ke kota baru, insya Allah mempermudah semua urusan. Jadi, sahabat terbaikku jangan khawatir. Kami baik dan bersyukur karena ayah memiliki pekerjaan lebih baik."
Penjelasan Ayesha begitu panjang kali lebar dan bisa diterima dengan akal sehat. Hanya saja terjadi terlalu begitu cepat bahkan saling bersinggungan dengan keadaan hidupnya saat ini. Apa itu hanya firasanya saja atau ia yang terlalu banyak berpikir. Entahlah.
Satu hal pasti, dimana ia merasa tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ayesha. Sehingga menghadirkan rasa takut di dalam hatinya kembali bangkit. Padahal pertemuan di antara mereka berdua memberikan harapan serta kehangatan sebagai keluarga.
"Zoya, kita masih bisa telepon dan pastinya kita bisa bertemu karena aku juga pasti akan pulang kemari. Lagian, mana mungkin aku tinggal di kota lain untuk selamanya. Iya, gak?" Ayesha merengkuh tubuh Zoya ke dalam pelukannya.
Ia tahu, pelukan Ayesha hanya ingin memberikan kekuatan untuk saling mendukung satu sama lain sebagai seorang saudari tak sedarah. "Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jujur saja, semua ini, seperti ada yang salah, tapi apapun itu."
"Sungguh aku berharap keluargamu akan selalu bahagia di kota baru nanti dan jangan pernah lupakan diriku." Zoya berbisik membalas pelukan Ayesha.
__ADS_1