Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 30#Adik dan Kakak Ipar


__ADS_3

Dilema yang dialami Yoshi jelas karena serba salah akibat tekanan dari beberapa arah. Akan tetapi ia bisa apa? Jangankan memiliki koneksi untuk mempermudah langkah pergerakannya. Ia saja tidak hapal jalanan kota Jakarta, lalu bagaimana membuat perhitungan dengan papanya sendiri?


Serba salah tapi lebih tepatnya tidak tahu arah karena semua jalan terlihat buram. Tidak adakah yang sudi meminjamkan lampu untuk menerangi jalannya? Sungguh tak bisa lagi berargumen apalagi membuat keputusan. Kini di sisa kesadarannya, gadis itu kembali menyalakan mesin mobil tetapi hanya berkeliling jalanan kota yang tampak tidak begitu ramai.


Sementara di rumah sakit, Ryan yang baru saja keluar membeli makan malam berpapasan dengan Lee saat ingin masuk ke ruangan Ameera. Tangan kanannya itu membungkuk memberikan hormat, sedangkan Zoya hanya diam menatap tajam ke arahnya. Kemarahan, kebencian terpancar dari sorot mata di gadis remaja yang seusia Yoshi.


"Lee, ajak Zoya makan malam dulu! Ameera baru saja terlelap setelah dokter memberikan obat." ucap Ryan tanpa emosi membuat sang adik ipar memaksakan diri tersenyum.


Senyum tipis tanpa menunjukkan lesung pipi yang menjadi ciri khas dari gadis remaja itu, sudah cukup menjelaskan suasana hati benar-benar tidak baik. "Zoya, masuklah jika kamu meragukanku!" Tangan memutar knop pintu, lalu mendorongnya ke depan hingga menampilkan isi ruangan secara perlahan.


Lee menoleh ke samping, "Zoy, masuk dulu!" ulangnya agar sang istri melepaskan tatapan memangsa yang terarah pada Ryan.


Ia hanya takut gadis itu bertindak di luar dugaannya. Apalagi aura amarah mulai bisa dirasakannya. Jangan sampai pertemuan pertama antara kakak dan adik ipar justru berakhir argumen panjang kali lebar. Satu hal yang harus dihindari meski entah sampai kapan.


Tapi tiba-tiba Zoya berlari menghamburkan diri memeluk Ryan, membuat tuan muda tersenyum evil yang hanya dapat dilihat Lee. Pertarungan sejati adalah ketika sesama musuh berdamai di hadapan dunia tanpa arogansi. Pelukan yang terlihat penuh kasih sayang hanyalah ilusi dengan sumpah serapah di dalam hati.


Situasi ketiga insan itu memang canggung hingga pelukan terlepas. Barulah mereka masuk ke dalam ruang perawatan Ameera bersama-sama. Dimana wanita yang terbaring di atas brankar memang terlelap membuat Zoya duduk sambil menggenggam tangan kakaknya, sedangkan Lee dan Ryan duduk di sofa yang saling berhadapan.

__ADS_1


Tidak ada percakapan, Lee hanya bisa diam membiarkan tuan muda menikmati makan malam alakadarnya. Sebungkus foam yang berisi nasi goreng cabe hijau topping suwir jamur krispi. Selama lima belas menit menunggu hingga deheman Ryan memberikan izin agar ia memberikan laporan pekerjaan.


Obrolan antara para pria terdengar serius. Dimana Lee membahas proyek baru yang menanti deal dari beberapa pihak agar bisa dimulai secepat mungkin hanya saja ada kendala karena lawan kali ini tak lain dan tak bukan sang paman sendiri. Pria itu juga mengatakan bahwa nyonya Cassandra juga turut andil.


"Bagaimana dengan Arvind. apa dia ikut juga?" tanya Ryan to the point yang dijawab gelengan kepala pasti. "Rupanya pengaruhnya masih belum diakui sang ayah tiri. Atur pertemuan kedua bersama semua klien yang berniat andil dengan proyek kita tapi pastikan surat perjanjian dikirim bersama dengan undangan."


"Kita lihat siapa saja yang sanggup memenuhi syarat dan ketentuan perusahaanku. Satu lagi, kirim beberapa orang untuk lebih menjaga Yoshi karena adikku bisa berbuat nekat tanpa memikirkan keselamatannya." sambung Ryan membuat Lee mengernyit tidak paham kenapa tiba-tiba obrolan beralih ke adik sepupu sang tuan muda.


Sebagai tangan kanan yang biasa mendapatkan informasi pertama dari para anak buah, lalu kenapa ia ketinggalan info sepenting itu? Sungguh di luar kebiasaan tetapi suara dering notif pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Apalagi tuan muda mempersilahkannya untuk membuka pesan terlebih dahulu.


Sebuah pesan dari nomor asing yang mengirimkan beberapa foto kedatangan Yoshi di bandara internasional siang tadi. Gadis itu bahkan pulang sendiri dan naik taksi yang tidak tahu memiliki keamanan atau tidak. Satu kabar yang seketika menjadikan pria muda itu tersudut telah lalai melakukan pekerjaan utamanya.


Lirikan mata tertuju pada gadis yang duduk menghadap ke arah lain. "Cantik bahkan masih muda. Ingatlah pekerjaan dan hati tidak bisa disatukan. Aku diam untuk tindakanmu tapi jika itu melanggar aturan, kamu tahu akibatnya."


"Seperti yang Tuan Muda katakan. Tidak akan ada pelanggaran aturan, kalau begitu aku permisi untuk kembali ke basecamp. Selamat malam, Tuan Muda." Lee beranjak dari tempat duduknya, lalu membungkukkan setengah badan memberi hormat, kemudian melangkahkan kaki menjauh dari majikannya tanpa berpamitan pada Zoya.


Kepergian Lee semakin menambah kesunyian di dalam ruangan. Zoya yang merebahkan kepala menatap kakaknya tanpa berkedip seraya memikirkan semua peristiwa selama beberapa jam terakhir, sedangkan Ryan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Pria itu justru bersyukur karena memiliki adik ipar pendiam.

__ADS_1


Namun pikirannya sendiri kian tak menentu. Di saat satu rencana berujung pertemuan lain, lalu kedatangan Yoshi yang mendadak. Sikap Arvind yang menjauh dari proyek, kemudian sang tante ikut terjun kembali ke dunia bisnis. Kini ditambah Lee yang sudah menikahi Zoya. Semua gabung menjadi satu meski pernikahan kedua insan itu atas rancangan rencana dadakan yang tidak terdaftar.


Insiden antara Lee dan Zoya dengan cepat sampai ke telinganya sehingga ia memberikan keadilan tanpa harus bersusah payah. Sikap Lee yang ingin memiliki apapun selama itu bisa. Sikap itulah yang memicu dirinya memberikan hadiah pak penghulu sebagai balas budi. Meski tangan kanannya tidak tahu dialah penyebab berlangsungnya ikrar janji suci.


"Zoya, makan makananmu atau mau kupesankan yang baru?" tawar Ryan yang tau adik iparnya masih terjaga meski tanpa suara.


Suara panggilan yang menarik perhatian tetapi enggan tuk membalas. Akan tetapi suara nyanyian yang berdendang sesuka hati tidak bisa diajak kompromi. Sehingga dengan malas melepaskan tangan kakaknya, lalu bangun dari tempat yang selama beberapa jam menjadi sandaran tubuh lelahnya.


Langkah kaki menghampiri kakak ipar yang ternyata sibuk memainkan gawai. Wajah tampan dengan tubuh kekar. Sepertinya suami kakaknya suka pergi gym hingga memiliki badan proporsional dengan dada kotak yang menonjol karena kemeja yang dipakai tanpa dua kancing atas. Jika pria itu berjalan di luar sana, entah berapa banyak kaum hawa menjerit kagum.


"Terima kasih, Ka." Diambilnya kresek hitam yang berisi makanan dan sebotol air mineral.


Tangan sibuk membuka foam yang berisi makanan sama seperti yang dimakan sang kakak ipar. Kemudian berdoa barulah menyendok sesuap nasi goreng yang terlihat menggugah selera. Gadis itu mengabaikan lirikan mata yang menatapnya intens. Lebih baik berpura-pura tidak tahu karena dengan begitu bisa makan bebas tanpa rasa canggung.


Dua puluh menit kemudian, tinggal suapan terakhir tapi tiba-tiba botol yang ada di depannya diambil Ryan. Pria itu membantu membukakan tutup botol yang bisa dilakukan sendiri, lalu mengembalikan ke atas meja tanpa mengatakan apapun. Kenapa perlakuan sang kakak ipar begitu peduli padanya?


"Sekali lagi, terima kasih, Ka." Zoya tak ingin mempertanyakan apapun. Apalagi situasi masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan awal. "Kakak tidak pulang? Disini sudah ada aku, jadi ...,"

__ADS_1


"Ameera memang kakakmu tapi dia juga istriku. Apa masih ingin tanya hal lain?" tanya Ryan membalas ucapan Zoya tanpa hati mempertegas status hubungan mereka saat ini.


__ADS_2