Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 40#Zoya vs Yoshi


__ADS_3

Ketika sebuah harapan tidak ada akhir yang bisa dikatakan sebagai kepastian. Maka sebagai manusia harus terus berusaha untuk berjuang mencari keadilan untuk ditegakkan. Seperti yang dilakukan Zoya, gadis itu hanya berusaha memberikan hak kebahagiaan untuk sang kakak tercinta.


Sehingga ia masih berada di rumah sakit seorang diri. Padahal keluarga yang lain sudah pergi sejak dua puluh lima menit yang lalu. Sesaat dia terdiam mencari tempat untuk duduk yang pada akhirnya berhenti di area taman. Sebuah bangku tunggal di bawah pohon mangga menjadi pilihannya.


Area taman rumah sakit terbilang cukup luas karena memiliki fungsi untuk sebagai tempat healing para penghuni gedung putih. Di mana terlihat beberapa suster yang membawa pasien menikmati udara bebas sebagai bentuk terapi pikiran. Kesehatan selalu di iringi dengan ketahanan mental.


Kesibukan orang-orang, membuat gadis itu termenung dalam diam. Sadar bahwa setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing. Meski masalah yang dihadapi tidak sama, tetap saja membutuhkan kesabaran serta perjuangan. Apalagi ketika sudah menyangkut beban hati yang lebih berat dari beban tanggung jawab.


Seperti dirinya, di mana di usianya yang masih begitu muda, ia tak menyangka akan menjalani kehidupan yang lebih rumit dari orang dewasa. Kebenaran yang selama ini tertutup rapat tiba-tiba mencuat, membuat keyakinan terhantam kenyataan pahit.


Ia merasa seperti tidak ada kebahagiaan yang sejati di dunia yang fana ini, tetapi semua berubah lebih baik. Jika bisa selalu melihat seulas senyum bahagia yang tersungging menghiasi wajah kakaknya. Satu kesadaran yang mengingatkan, bahagia itu sederhana.


Namun, sebagai seorang gadis muda tidaklah mudah mengimbangi permainan orang-orang dewasa yang sudah ahli. Padahal tujuannya cuma satu yaitu memberikan hak seorang istri pada kakaknya sendiri. Selama ini yang berjuang hanya satu sisi dan kini, ia juga ingin memperjuangkan keadilan.


"Maafkan aku, ya, Kak. Semua ini, pasti juga terjadi gara-gara aku." Suara lirih Gadis itu terdengar begitu sendu.


Sebagai seorang adik yang selalu berdiam diri tinggal di asrama. Zoya memang hanya memiliki dua tugas yaitu belajar dan menjaga diri karena Ameera berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan sebelum diminta. Kehidupan keduanya seperti bumi dan langit. Di mana satu sisi penuh kedamaian, sedangkan sisi lain tenggelam di dalam neraka dunia.


Kesendirian, membuat gadis itu, tidak tahu harus melakukan apa. Apalagi ia merasa semua masalah menjadi satu seakan tidak bisa dipisahkan. Belum lagi pikiran yang terus sibuk tenggelam menjabarkan masalah. Di mana ia juga merasa heran atas kepergian Lee, sang suami kontrak.


Setelah melakukan perjanjian, justru pria itu hilang bak ditelan bumi. Apa segitu sibuknya karena pekerjaan? Atau justru ada hal lain yang menjadi penghalang. Jujur saja, ketika mengingat situasi yang ada, ia merasa sang kakak ipar tahu, kemana perginya Lee.


Namun, pernikahan mereka hanya hitam di atas putih. Lalu, bagaimana caranya bertanya? Ketika sadar bahwa hubungan mereka berdua hanyalah sebatas status semata. Rasa penasaran yang membelenggu hati karena Lee sendiri tidak pernah memberikan kamar sejak kepergiannya di malam sehari setelah pernikahan.


Apa mungkin, pria itu menganggap dirinya sebagai pajangan saja? Jika memang iya, maka itu berarti Lee sengaja membuatnya menandatangani kontrak dan mendapatkan keinginan tanpa harus lebih memberi tekanan. Hanya saja, terlalu kejam sebagai hukuman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan.

__ADS_1


Sebenarnya, ia tak mempermasalahkan kepergian Lee, tetapi pria itu, telah ingkar dari janji yang sudah disepakati. Sekarang bagaimana caranya bertemu dengan Arvind? Padahal ingin segera memulai rencana dari langkah kedua. Serba salah, apalagi kini tidak ada teman sebagai tempat untuk berbagi.


Di tengah lamunan memikirkan masalah yang ada, tiba-tiba ia ingat bahwa hari ini adalah weekend. Hari yang ditunggu setiap kali berada di asrama. Sayangnya bukan waktu yang tepat untuk melakukan janji temu. Sudah pasti Ayesha masih sibuk menimba ilmu, sedangkan dirinya sibuk menemukan jawaban dari ujian kehidupan.


Sunyi, sepi, senyap yang memenuhi ruang hati, membuat Zoya beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu tampak begitu lelah, lemas tak berdaya. Seakan sinar mentari mencairkan hati yang membara. Lagi-lagi emosi hanya bisa memeluk kebisuan dalam kesendirian.


Langkah kaki yang baru saja melangkah harus dihentikan karena getaran ponsel dari balik saku celananya. Tanpa memperhatikan siapa yang menelpon, gadis itu langsung mengangkat panggilan. Kemudian mendekatkan si benda pipih ke telinga. "Assalamu'alaikum, siapa?"


Saking tidak fokusnya hingga Zoya tidak memperhatikan siapa yang meneleponnya. Helaan napas dari seberang, membuat gadis itu mengernyit. Perasaan di dada bergejolak menyadari suara lirih kerinduan dari kesunyian yang ada di antara mereka. Bibir kelu tak mampu berucap atau sekedar menyebutkan nama yang mencuri ketenangannya.


Hening selama beberapa saat yang langsung berakhir pemutusan panggilan secara sepihak. Untuk apa seseorang menelpon? Jika ujungnya saja hanya diam tak mau berbicara. Alih-alih merasa kesal, Zoya justru mengalihkan panggilan ke nomor lain.



Suara dering ponsel tersambung bahkan tidak menunggu lama langsung terdengar suara sapaan dari seberang, "Assalamualaikum, Ayesha. Aku kangen kamu, kapan kita bisa ketemu?"



Obrolan singkat yang berakhir persetujuan. Di mana Zoya harus pergi berkunjung ke rumah Ayesha. Pertemuan yang entah akan membicarakan tentang apa, tapi setidaknya bisa lebih tenang dan juga memiliki tempat untuk berbagi rasa. Ia juga ingin tahu, kenapa sang teman berada di rumah. Padahal seharusnya tinggal di asrama.


Setelah panggilan berakhir, Zoya meninggalkan rumah sakit dengan memesan taxi online. Gadis itu terlihat bersemangat untuk menemui Ayesha, sedangkan di sisi lain akhirnya Lee menggendong Yoshi. Di mana gadis itu terlelap seperti bayi. Wajah cantik yang kini mulai terbiasa ia lihat tuk temani harinya.


Debaran di dada dengan rasa yang mulai membelenggu hati, membuat pria itu sadar bahwa kehadiran Yoshi sama seperti bumbu kaldu untuk masakan. Terkesan sepele dan diremehkan tetapi selalu dibutuhkan sebagai pelengkap agar mendapatkan rasa yang sempurna.


Pemikiran yang mengubah jalur kehidupan. Akan tetapi selama beberapa puluh menit masa penantian, rupanya Lee tidak sadar akan tindakan Yoshi. Gadis itu, berpura-pura tidur dan mendengarkan semua keluh kesah dari prianya yang membongkar kenyataan hidup tanpa keraguan.

__ADS_1


Awalnya memang terkejut karena harus mendengar dengan telinganya sendiri. Hati berusaha tetap tegar menerima fakta atas pernikahan Lee dengan gadis lain. Gadis yang tidak tahu siapa dan kini ada di mana. Selain itu, ada hal yang terus mengusik pikiran yaitu nama dari si gadis yang memiliki hak atas kekasihnya.


Ketika Lee dengan pelan menyebutkan nama Zoya. Hati tak mau menerima menghadirkan rasa gelisah karena nama itu, merupakan nama dari teman penanya. Apakah mungkin istri dari Lee adalah sang teman atau hanya kebetulan saja?


Dilema hati tak bisa ia akhiri karena tanpa bukti dan saksi, maka tak bisa menyudutkan kesalahan untuk mendapatkan kebenaran mutlak. Akan tetapi berkat pengakuan Lee, pikiran kian terkontaminasi ke jalur yang tidak baik. Rasa yang tak bisa dijelaskan berusaha ia tepis.



Satu pertanyaan sudah cukup mematahkan hati yang baru saja bisa merasakan arti dari kehangatan cinta. Pertanyaan yang mampu mengubah posisi menjadi pernyataan pasti. Bagaimana jika teman penanya benar-benar istri dari Lee?


Selama berteman dengan Zoya, ia tak pernah menyebutkan marga keluarga karena banyak yang mundur untuk dekat dengannya. Semua tahu bahwa keluarga Mahendra sangat menjaga pergaulan dan tidak mudah menerima kehadiran orang luar. Meski begitu, ia hanya khawatir akan status dari posisinya saat ini.


Jika Lee sudah menikah sebelum berlibur dengannya, kenapa pria itu tetap melanjutkan hubungan di luar batas? Padahal saat itu yang mabuk hanya dirinya seorang dan Lee sepenuhnya dalam keadaan sadar. Kebenaran dan keyakinan terhimpit cinta. Dimana ia harus memahami harapan mana yang sedang dirajutnya.


Setiap kebenaran itu, pasti akan ada titik pencapaian yang membuat siapapun bisa memberikan keputusan final. Akan tetapi, ketika itu menyangkut semua harapan yang ada di dalam genggaman tangan. Maka, tidak ada kata menyerah. Justru semangat kian berkobar untuk memperjuangkan hak kepemilikan.


Pasti akan berpikir egois, tapi keras kepala itu diperlukan hanya saja ada hal yang lebih diutamakan yaitu cara bertindak di waktu yang tepat untuk mendapatkan keinginan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, apalagi usaha.


Ia tak tahu, cinta itu apa, tapi siap berkorban agar tetap bisa bersama Lee. Meskipun hubungan mereka tak ubahnya kekasih gelap. Di mana ia yang menjadi seorang perebut atau lebih dikenal sebagai pelakor. Satu pertanyaan untuk memastikan statusnya. Apa arti pelakor?


Sebagai seorang wanita, Yoshi cukup bisa mengendalikan emosi dan juga tindakannya. Apalagi Lee benar-benar menghargai keberadaannya selama mereka berdua tinggal bersama. Lagi pula, prianya selalu siap sedia menemani, dan juga menghabiskan waktu tanpa merasa jenuh.


Setiap detik yang dihabiskan bersama, membuat Yoshi selalu memberikan terbaik untuk hubungan mereka dan begitu juga dengan Lee. Pria itu siap sedia menjadi teman, sandaran, ayah, kakak sekaligus musuh perdebatan. Jauh di lubuk hati lebih sadar diri bahwa semua yang terjadi karena pengaturan dari kakak pertama.


__ADS_1


*Ka Lee, kamu bukan hanya miliknya. Aku ada untuk mendapatkan hatimu dan jika gagal, maka kubuat kau candu denganku.~ucap hati Yoshi semakin mendekap membenarkan posisinya yang terlelap di pangkuan sang kekasih hati*.


__ADS_2