Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 23#Program Hamil


__ADS_3

Perasaan terbaik itu ketika hati merasa tenang di dalam pelukan orang terkasih. Keraguan, kekecewaan, pertanyaan dan rindu melebur menjadi ketenangan. Seperti emosi dan pikiran Laura yang kembali baik dengan perlakuan hangat Ryan. Inilah suaminya.


Kedua insan itu hanya diam sambil berpelukan menghadap ke pintu tapi tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatian. Ryan dengan cepat menggeser posisi sehingga keduanya bertukar tempat untuk menyembunyikan sang istri di balik punggungnya.


Di saat yang sama Dokter Sashi datang membawa hasil laporan. Wanita dengan jas putih itu berjalan tanpa melihat ke depan karena masih memeriksa catatan yang dibuatnya, takut salah ambil karena kurang tidur. Ryan yang menyadari itu, membisikkan sesuatu pada Laura.


"Dok, jalan yang benar." kata Ryan sedikit keras agar si Dokter kembali fokus ke depan.


Dokter Sashi mendongak menatap ke arah sumber suara, lalu tersenyum lebar. "Maaf, Tuan. Silahkan ambil laporan dari pasien, saya juga memerlukan tanda tangan untuk persetujuan program kehamilan yang sudah di pilih oleh istri Anda."


"Program kehamilan?" Ryan menatap Dokter Sashi penuh selidik karena Lee belum mengatakan apapun selain program perawatan Ameera.


Sentuhan tangan di pundak menahan rasa tak sabar dari dalam hati Ryan bersambut Laura yang keluar dari balik persembunyian, lalu menerima kertas yang sebenarnya bukan milik sang madu. Laporan yang diambil adalah hasil medis milik ia sendiri. Wanita itu sengaja datang ke rumah sakit untuk melakukan usaha terakhir sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Thank's, Dok. Kuharap semua bisa seperti yang kuinginkan." Laura mengulurkan tangan kanannya yang disambut hangat oleh si dokter. Kemudian menoleh menatap pria yang memandangnya penuh tanda tanya, "Aku ingin kita memiliki anak sendiri."


Kertas laporan di serahkan ke tangan Ryan, "Kita akan melakukan program kehamilan dengan bayi tabung. Bukankah kita sudah memiliki ibu pengganti? Jadi hubby, apakah kamu mau menandatangani surat perjanjian ini?"


Pengakuan Laura membungkam Ryan sebagai seorang suami. Rupanya sang istri masih berusaha untuk mewujudkan impian keluarga mereka dengan cara lain. Ia tak habis pikir tetapi keteguhan sang istri slalu membawa rasa baru untuk kehidupannya sendiri.


Namun apapun keputusan Laura, ia harus memastikan apakah semua aman bagi sang istri atau tidak. Pria mana yang tidak ingin keturunan dari wanitanya sendiri, tapi bukan berarti akan membahayakan nyawa istrinya hanya karena satu keinginan.


"Hubby," tangannya bergelayut manja sembari menatap sang suami penuh harap-harap cemas.


Ryan hanya berusaha untuk mengikuti satu keinginan demi keinginan wanitanya tetapi entah kenapa kali ini, ia merasa khawatir. "Dok, bisa jelaskan apa itu program bayi tabung!"


Dokter Sashi mengangguk, tetapi bicara sambil berdiri rasanya kurang sopan. Sehingga wanita itu mengajak Ryan dan Laura untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Ketiganya memilih duduk saling berhadapan menunggu penjelasan agar tidak salah jalan.

__ADS_1


"Jadi, program bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization) yaitu teknologi untuk mendapatkan kehamilan dengan cara mempertemukan ****** dan sel telur di luar tubuh manusia. Setelah terjadi pembuahan pada 1-2 embrio akan ditanamkan kembali ke rahim calon ibu.


"Bayi tabung dapat menjadi pilihan pertama maupun terakhir pada kasus-kasus pasangan yang mendambakan keturunan. Pada tindakan bayi tabung, dilakukan pertemuan sel telur dan ****** serta dilanjutkan dengan mengembangkan embrio di luar tubuh.


"Proses bayi tabung memerlukan obat untuk membesarkan sel telur dilanjutkan dengan petik sel telur yang dibutuhkan untuk dilakukan pembuahan. Proses bayi tabung memerlukan waktu kurang lebih selama 14 hari sampai kita melakukan transfer embrio ke dalam rahim. Jadi resiko lebih pada hasil akhir, apakah gagal atau berhasil." Dokter Sashi menyudahi penjelasannya yang bisa dikatakan cukup mudah di mengerti.


Namun situasi dan waktu mungkin memiliki jalan lain. Meski ia tidak bisa menolak permintaan sang istri. Sejenak berpikir, apa yang akan ia putuskan. Menjadikan Ameera sebagai ibu pengganti atau hamil anak mereka yang mungkin harus menunggu lebih lama lagi. Jika dipikirkan, pernikahan kedua hanya untuk mendapatkan keturunan.


"Hubby, tolak saja jika kamu ragu tapi jangan salahkan aku untuk mencari wanita lain atau lebih baik menculik pria baru yang bisa mewujudkan permintaan kecilku." pungkas Laura santai tanpa ada beban tetapi tangannya mengambil laporan yang tergeletak di atas meja.


Ryan yang memperhatikan setiap pergerakannya langsung menyambar laporan itu, dan tanpa berpikir lagi membubuhkan tanda tangan persetujuan. Ancaman yang tepat sasaran, membuat Laura tersenyum manis bahkan tanpa sungkan mengecup bibir suaminya di depan Dokter Sashi.


"Kamu memang suami terbaik di dunia ini, Hubby." ucapnya senang menghamburkan diri mendekap dada bidang Ryan yang menghela napa pelan menikmati rasa tak bertuan.

__ADS_1


__ADS_2