Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 39#Jerat Karma, Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Hati merasa semakin tak tenang menyadari setiap tindakan yang sudah dilakukan ia bersama gadis yang saat ini terlelap bersandar di dadanya. Bingung dengan keputusan yang terlihat memberatkan sebelah tetapi jika tak melanjutkan hubungan mereka. Pasti akan menjadi bumerang.


Dilema yang ia rasa terus menggerogoti keyakinan menghadirkan rasa ragu atas tindakan yang sudah dia lakukan. Faktanya ia tidak memungkiri kesenangan itu bahkan masih membekas terekam jelas di dalam ingatan. Lalu bagaimana memutuskan perpisahan?


"Yoshi, andai kamu tahu, jika aku sudah menikah. Apakah semua ini akan terjadi pada kita? Aku benar-benar tidak berniat untuk melakukan lebih denganmu tapi semua itu terjadi begitu saja."Lee sibuk memainkan anak rambut gadis yang berhasil membuat dirinya sibuk selama beberapa minggu terakhir.


Pria itu merasa dunia terbelah menjadi tiga bagian. Dimana satu bagian kehidupan sebagai seorang tangan kanan dari tuan muda Ryan Mahendra yang memiliki banyak tanggung jawab dengan pekerjaan yang sudah cukup menyita waktu. Lalu kehidupan bagian kedua memiliki istri dari hasil pemaksaan yang ia lakukan sendiri sebagai bentuk keegoisan hati dan bagian kehidupan ketiga karena hadirnya Yoshi.


Hubungan yang menjebak berubah menjadi lingkaran ikatan tanpa arah tujuan. Jika orang tahu semua itu pasti mengatakan hubungan mereka complicated. Apalagi ketika menjabarkan dari satu hubungan ke hubungan lain yang saling bersinggungan. Bayangkan saja ketika hidup di sebuah keluarga yang memiliki dua istri.


Kemudian memiliki anak buah yang menjalin hubungan gelap dan juga ikatan lain membuat keluarga dan orang-orang sekitarnya seperti terjebak di dalam jerat karma yang tidak bisa untuk dipisahkan. Permasalahannya saat ini bukan hanya tentang posisi pekerjaan atau tentang suasana hati dari setiap orang.


Situasi sekarang akan menjadi babak baru dalam kehidupan. Entah siapa yang akan mengakhiri atau memulai sebuah hubungan hingga keadaan sedemikian rupa dalam ketidakpastian yang benar-benar rumit. Tak seorangpun bisa dipercaya meski saling berusaha menunjukkan cinta.

__ADS_1


Seperti halnya dia yang merasa selalu sendiri meski sudah menjadi seorang istri. Hati tidak memungkiri rasa tak nyaman dengan kesedihan yang semakin menyiksa batinnya. Apalagi waktu terus bergulir dalam penantian yang cukup lama. Jenuh tanpa ada teman obrolan.


Dua puluh menit telah berlalu hingga seorang wanita berjas putih ke luar dari dalam ruangan. Lembaran kertas yang tergenggam di tangan kanan menarik perhatian tapi ia berusaha menahan diri hingga si dokter duduk menatap ke arahnya tak berkedip. Rasanya tak sabar ingin menanyakan semua hasil pemeriksaan hanya saja bibir terasa kelu tak bisa digerakkan.


"Dek, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat, keringat dingin lagi. Ayo, aku periksa sekalian saja!" Si dokter yang merasa keluarga pasiennya juga sakit tanpa sungkan menawarkan diri untuk melakukan pemeriksaan sebagai tindak pencegahan.


Namun gadis yang duduk di depannya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala menolak ajakannya. "Baiklah kalau tidak mau, sepertinya adek ini cuman gugup saja. Jadi tak lanjut ke laporan hasil pemeriksaan. Disini semua terlihat baik dan benar sudah ada perkembangan di dalam rahim pasien."


"Selain itu kakak adik juga memerlukan tempat yang nyaman agar bisa merasa selalu bahagia karena kali ini cukup beresiko dengan perawatan yang baru saja dilakukan. Maka kemungkinan dari resiko semakin bertambah. Adik tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


"Overall she is fine." Dokter menyerahkan hasil laporan kepada Zoya yang membuat gadis itu memeriksa lebih teliti setiap tulisan yang tertera di atas kertas putih bertinta merah.


Beberapa menit fokus membaca dan semua memang baik hanya saja terasa aneh ketika ia memperhatikan warna merah tinta seperti tengah salah uji coba saja. Jujur saja setiap hal yang terjadi membuatnya berpikir hal lain yang meragukan hati dan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Senyuman di wajah Zoya perlahan hilang memudar bak ditelan awan bersambut tautan alis saling bersinggungan. Tatapan mata terpatri pada kertas yang merupakan hasil dari laporannya. Seketika ia mengingat sesuatu yang pasti menjadi pemikiran negatif gadis itu.


Tak ingin ada masalah apalagi kecurigaan dari hal sepele. Wanita berjas putih itu beranjak meninggalkan tempatnya, lalu menghampiri tempat penyimpanan tinta. "Aku pikir pasti adik memikirkan tentang warna dari hasil laporan. Iya kan?"


"Sebenarnya saya lupa untuk meminta petugas rumah sakit menyediakan tinta hitam yang memang sudah habis sejak dua hari lalu. Jadi selama itu juga semua laporan tetap menggunakan tinta yang ada di dalam ruangan. Meski hanya ada warna merah saja."


Penjelasan si dokter membuat Zoya menghela napas lega. Meski hati gadis itu masih merasa khawatir dan cemas tetap saja semua terlihat lebih baik. "Terima kasih, kalau begitu saya permisi dan terima kasih untuk bantuannya. Semoga dokter tidak keberatan dengan permintaan saya seperti yang sudah kita sepakati."


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Gadis itu benar-benar meninggalkan ruangan si dokter yang juga kembali merasa tenang karena sudah melakukan tugas yang diberikan. Tak lupa untuk mengirim pesan pada seseorang menjelaskan apa yang sudah dilakukan. Laporan dari hasil laporan memang asli tetapi semua itu hanyalah karena perintah seseorang yang membuat permintaan Zoya bisa dikabulkan.


"Aku mimpi apa? Sampai harus terjebak diantara keluarga yang saling tusuk-menusuk seperti tidak menyayangi satu sama lain." Dokter itu hanya bisa beristighfar dengan situasi keluarga pasien yang benar-benar membuatnya harus bersikap bahkan berusaha untuk memainkan drama singkat.


Sementara itu langkah kakinya terus menapaki lorong rumah sakit. Ia bahkan sengaja meminta izin untuk melakukan hal lain kepada kakaknya. "Aku harus pulang."

__ADS_1


__ADS_2