
Wajah memerah tetapi tatapan mata tak mampu teralihkan dari pemandangan yang tersaji di depan matanya. Bagaimana tidak? Yoshi yang menunduk tak sengaja membuat bagian depannya terpampang jelas berbalut kain hitam berenda. Akal sehat yang menyapa membuat Lee menggelengkan kepala mengalihkan perhatian ke arah lain.
Pria itu berjalan meninggalkan Yoshi untuk kembali membakar ikan yang masih tersisa tiga ekor. "Tuan putri mau tambah ikannya tidak?" tanyanya sedikit mengeraskan suara yang terdengar tercekat menahan diri.
"Tentu saja mau lagi, Ka. Kita ini masa cuma makan ikan? Kakak tidak mau bakar yang lain, gitu?" Yoshi balik tanya berpura-pura santai menunggu makanannya matang.
Obrolan keduanya terus berlanjut selama sepuluh menit hingga sisa ikan sudah di angkat ke atas piring yang lebih besar. Lalu Lee meletakkan piring itu ke atas meja kayu yang ada di tengah kursi bambu seperti dipan meski sudah ditutupi kain lembut dan tebal agar tetap nyaman saat di duduki.
"Aromanya benar-benar lezat, Ka." Rasa tak sabar di hati membuat Yoshi mengangkat tangan kanannya. Lalu menyentuh daging ikan yang masih mengeluarkan asap, seketika rasa panas menyentak niat hati yang menggebu-gebu. "Aduuh, panaas ...,"
Tindakan ceroboh Yoshi membuat Lee meraih tangan gadis itu dan tanpa permisi mengecupnya agar rasa panas bisa berkurang. "Sudah dibilangin jangan buru-buru, kamunya bandel banget."
Perhatian Lee terlihat begitu manis bahkan ia merasa malam semakin lengkap karena kebersamaan mereka. Untuk pertama kalinya ia bersyukur karena sang kakak memberikan satu orang yang bisa menjaga sekaligus menjadi tempat untuk merebut banyak kasih sayang. Apalagi selama tidak dianggap oleh papanya sendiri.
Sesi makan ikan bakar masih berlanjut tapi kali ini Lee tidak membiarkan Yoshi menyentuh makanan dan memilih menyuapi gadis itu. Selain itu cerita anak sekolah menemani malam mereka bersambut suara canda tawa tanpa beban. Semakin malam justru semakin menghangatkan hati dan pikiran.
"Sudah malam, ayo, masuk!" Lee mengulurkan tangan yang disambut Yoshi dengan senang hati. "By the way, kapan kamu balik ke London?"
"Maybe seminggu lagi," jawab Yoshi seadanya tak ingin memikirkan dunia pendidikan sementara waktu.
Lagipula, Lee tidak tahu sampai mana ia belajar di sekolah. Selain menjadi pengawal di Indonesia selama liburan di Bali, tentu pria itu tidak mengetahui apapun tentang privasinya. Kesimpulan jelas langsung pada tujuan karena sang kakak pertama bukan mengutamakan Lee sebagai mata-mata yang selalu mengawasinya selama ini.
Langkah kaki keduanya berjalan beriringan menuju pintu masuk villa hingga tiba-tiba kaki si gadis tak sengaja terantuk batu yang membuat Lee dengan sigap menangkap pinggang Yoshi. Tatapan mata saling beradu menambah debaran di hati, sorot mata yang tampak penuh harap menarik kesadaran Lee.
"Tuan putri, kamu tidak apa-apa?" tanya Lee seraya membantu gadis itu agar bisa berdiri lagi tetapi sayang sepertinya kaki Yoshi terkilir. Sehingga ia mengubah keadaan, dimana tanpa basa-basi menggendong adik sang tuan muda mendekat ke dalam dekapannya.
Nyaman, hanya kata itu yang bisa diucapkan hati dan pikiran dalam pemikiran si gadis remaja. Senyum manis seraya menatap wajah tampan sang pengawal yang selalu sigap di setiap keadaan. Ia merasa pria itu sosok lelaki yang tepat untuk mendapatkan hatinya hanya saja entah harus memulai dari mana.
__ADS_1
Sementara Lee yang khawatir dengan kondisi Yoshi memilih membawa gadis itu langsung masuk ke kamar utama. Kemudian dengan perlahan mendudukkan ke atas ranjang, lalu bergegas mengambil kain yang digunakan untuk membungkus es. Barulah ia kembali bersiap melakukan pertolongan pertama.
Kaki putih mulus yang sengaja ia angkat ke atas lututnya seraya menekankan bungkusan es ke area pergelangan yang terkilir barusan. "Tahan, ya." Pria itu fokus mengobati Yoshi, sedangkan yang diobati santai tanpa merasa khawatir meski sedikitpun.
Lima belas menit kemudian pengobatan berakhir tanpa ada ketegangan di wajah Yoshi dan itu membuat Lee penasaran. Sehingga ia meletakkan kain isi es ke dalam wadah lalu menyingkirkan ke atas meja yang ada di belakang. Kemudian berpindah tempat duduk di sebelah sang tuan putri.
Tangannya memeriksa kening, leher, serta denyut nadi di pergelangan tangan. "Tidak panas, apa kamu ingin sesuatu?"
"Aku?" Yoshi menunjuk ke arahnya sendiri membuat Lee mengangguk, tetapi seulas senyum menjadi penolakan. "Kakak tidak bisa memberikan keinginanku. Pergilah! Aku mau tidur saja."
Apa maksud Yoshi? Bukankah sejak tinggal di Bali, ia selalu berusaha memenuhi semua keinginan gadis itu, lalu keinginan seperti apa lagi yang membuatnya melangkah mundur. Bingung tak memahami arah obrolan si gadis remaja satu itu. Sementara waktu yang semakin larut memang sudah waktunya istirahat.
Langkah kaki pria itu berjalan menyusuri lantai menjauh dari keberadaan Yoshi. Tatapan mata tenang menyambut kegilaan. Kepergian Lee membuat Yoshi turun dari ranjang, lalu mengambil minuman dingin yang tersedia di dalam kulkas. Rasa haus yang melanda menjauhkan diri dari fokus si gadis remaja.
Tanpa sadar ia meneguk minuman alkohol milik Ryan yang biasanya dijadikan simpanan darurat. Sensasi dingin menyamarkan rasa pahit tetapi rasa ingin lagi dan lagi membuat gadis itu terus meneguk minumannya. Langkah kaki yang terasa nyeri diabaikan tapi tubuhnya mulai tak seimbang.
Tiba-tiba ia menyenggol vas bunga yang goyah hingga jatuh menghasilkan suara cukup keras. Suara yang membawa Lee kembali masuk ke kamar. Pria itu menyalakan lampu kamar Yoshi yang memang sudah dimatikan sejak ia keluar dari kamar tersebut. Pandangannya kesana kemari mencari keberadaan adik tuan muda tapi nihil.
Sayup-sayup terdengar suara nyanyian asing yang menarik perhatiannya dari arah balkon. Langkah kaki mengikuti asal suara yang kian mendekat semakin jelas lagu apa yang tengah di nyanyikan oleh si gadis remaja. Gadis yang berbaring di atas kursi panjang seraya mengangkat botol minuman ke arah langit malam.
I needed to lose you to love me
I gave my all and they all know it
Then you tore me down and now it's showing
__ADS_1
In two months, you replaced us
Like it was easy
Made me think I deserved it
In the thick of healing, yeah
We'd always go into it blindly
I needed to lose you to find me
This dancing was killing me softly
I needed to hate you to love me, yeah
Sebait nada lagu asing bergema mengusir keheningan malam. Lee yang berhasil menemukan Yoshi terkejut melihat keadaan gadis itu. Setengah mabuk tetapi yang membuatnya harus tahan banting adalah pemandangan di depan mata semakin terpampang jelas. Hawa panas akibat minuman pastilah penyebab utama pelepasan kain bagian depan.
"Tuan putri, berikan botolnya!" Lee mengulurkan tangan berusaha merebut botol wine yang masih saja di teguk padahal tinggal separuh.
Yoshi memeluk erat botol itu ke dadanya seraya menjulurkan lidah, "Ka Lee jangan nakal ya, ini punya Yoshi. Kalau mau ambil saja di kulkas."
Racauan Yoshi mulai terdengar parau yang membuat Lee berpindah merengkuh tubuh gadis itu dan tanpa permisi menggendongnya lagi hanya untuk masuk ke dalam kamar karena cuaca mulai dingin. Pemberontakan kecil tak membuatnya kewalahan hingga merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang.
"Diamlah! Sekarang waktunya tidur, bukannya minum." Botol di rebut tetapi tarikan tangan Yoshi justru membungkamnya menikmati bibir ranum yang kini berusaha mencari kenikmatan. "Emmpptt ...,"
Tak bisa melepaskan diri karena tangan lain gadis itu menjambak rambutnya semakin membenamkan pagutan yang benar-benar frontal. Yoshi menguasainya karena pengaruh alkohol hingga tanpa sadar bertindak lebih agresif yang membuat adrenalin seorang pria meningkat. Pagutan dilepaskan dengan napas ngos-ngosan.
Ditatapnya bibir basah yang baru saja memaksakan diri mendapatkan kenikmatan, tangannya terangkat mengusap bibir Yoshi. "Gadis nakal," ucapnya tetapi juga merenggut bibir yang sama secara lembut tanpa tuntutan.
Yoshi memejamkan mata menikmati permainan Lee yang lebih santai tetapi juga menuntun hingga tak ingin kalah membalas serangannya menjadi pengulangan rasa. Selama beberapa detik saling meraup kenikmatan tanpa kata hingga tautan dilepaskan bersambut mata saling pandang.
"Tidurlah, kamu sudah dapatkan yang menjadi keinginanmu kan?" tanya Lee mencoba menemukan jawaban dari keinginan Yoshi.
__ADS_1
Seulas senyum nakal menghiasi wajah Yoshi, ia menggeleng pelan membantah kesimpulan Lee atas keinginan hatinya. Ditariknya leher pria yang kini ia kuasai hingga tak ada lagi jarak yang tersisa. "Aku mau ...,"