
Untuk apa mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas pasti akan pulang ke rumah utama. Ia merasa terlalu buru-buru bertanya sampai lupa gadisnya memiliki rasa penasaran yang besar. Sehingga ia mengalihkan dengan senyuman seraya mengusap kepala gadis itu dengan lembut agar tidak khawatir tentang apapun.
Tatapan mata terus berusaha untuk tetap sama tanpa mengurangi sisi lembut yang selalu ia tunjukkan selama liburan bersama. Gadis yang memiliki sifat manja tetapi juga keras kepala. Kebersamaan di antara mereka akan menjadi kehidupan penuh berwarna hingga lupa akan fakta kenyataan tak seindah pelangi di angkasa.
"Ka Lee, senyumanmu itu, tidak akan mengubah pertanyaan yang sudah kamu ajukan." Yoshi membalas tatapan mata kekasih hatinya dengan serius karena ia sadar akan sesuatu. Dimana Lee pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah Ka Lee berniat meninggalkan aku?" Tanya gadis itu hingga tanpa sadar menarik kerah kemeja Lee mengikis jarak di antara mereka berdua.
Pertanyaan Yoshi membuat Lee bungkam. Pria itu terdiam membisu tak bisa mengatakan apa yang kini menjadi isi pikiran dan hatinya. Ia sudah seperti seorang pencuri yang masuk ke rumah orang tanpa permisi, lalu merebut semua harta benda, kemudian pergi begitu saja setelah menikmati semua yang bisa ia nikmati.
Jujur saja tindakannya tidak jauh berbeda dengan para pria brengsek di luar sana. Permasalahannya bukan apa yang akan dia lakukan tapi siapa yang menjadi korban. Kali ini tidak mungkin mempermainkan hati dari adik tuan muda karena jika itu terjadi. Bukan tidak mungkin Ryan Mahendra akan mencarinya meski sampai ke lubang semut sekalipun.
__ADS_1
Selain itu, dirinya tidak memiliki kekuasaan apapun lagi. Andaikan satu perintah dari sang tuan muda menghentikan seluruh akses yang selama ini menjadi keberuntungan dalam hidupnya. Jika mengenai uang dan tempat tinggal masih bisa diusahakan tapi bagaimana dengan keselamatan jiwa?
Siapa yang bisa menjamin? Sadar benar akan posisi yang jelas tidak menguntungkan tetapi jika mengikuti kata hati. Jujur saja ia juga tidak bisa meninggalkan Yoshi setelah apa yang mereka lakukan selama liburan. Apa yang harus dilakukan sekarang?
Satu sisi memiliki istri yang merupakan hasil pemaksaan, sedangkan di sisi lain ada Yoshi. Keduanya gadis itu sama-sama terjebak menjadi lingkaran satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, bagaimana caranya mengatakan fakta dari kenyataan di dalam hidupnya saat ini?
Kegelisahan yang terpancar dari sorot mata Lee semakin membuat Yoshi penasaran hingga menimbulkan getaran rasa tak tenang. Entah kenapa ia merasa kembali ke Jakarta adalah pilihan yang salah. Apa mungkin mimpinya semalam merupakan firasat? Mimpi yang sampai detik ini masih menari di pelupuk matanya.
Suara gemericik air yang mengalir terdengar begitu samar bersambut jeritan pilu dari balik bayangan. Rasa takut membelenggu menguasai hati dan pikiran hingga jiwanya tersentak kembali merengkuh kesadaran di tengah malam dalam kesendirian. Ruangan kamar yang temaram memudahkannya menyesuaikan pandangan ke sekitar.
Tatapan mata memandang menelusuri dari satu sudut ke sudut lainnya tetapi tak menemukan keberadaan Lee di dalam kamarnya. Pria yang selalu menginap bersama mendadak hilang di kala waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Awalnya ia pikir semua itu merupakan kenyataan hingga sentuhan tangan membangun tidur panjangnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkan kamu, kemarilah!" Lee merengkuh tubuh gadis yang masih marah dengan wajah pias menatap sendu ke arahnya. "Yoshi Angela, aku sudah janji akan selalu membahagiakanmu. Apa kamu meragukan aku?"
Sebagai seorang wanita pasti mengutamakan feeling karena setiap intuisi bisa menjadi petunjuk agar tetap waspada. "Aku hanya butuh bukti dan bukan sekedar janji. Ka Lee tahu apa yang harus dilakukan begitu kita sampai di mansion Ka Ryan. Iya bukan?"
Bukan hanya tau tapi sudah paham dan bisa membayangkan bagaimana reaksi dari Tuan Muda atas perbuatan mereka berdua. Satu yang menjadi perhatiannya adalah apakah kakak dari Yoshi berkata jujur tentang pernikahan ia dan Zoya? Jika mengenai Zoya sendiri, ia tahu, gadis itu memilih diam demi tujuan yang pasti menunggunya sebagai permulaan.
Obrolan tidak bisa diteruskan karena mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Pak Supir bergegas keluar memeriksa dan kembali hanya untuk mengatakan bahwa ban depan dan belakang tertusuk paku jalanan. Sementara ban cadangan hanya satu sehingga harus memanggil tukang bengkel langganan.
"Ka Lee, kita tunggu di danau saja, yuk!" Yoshi menarik tangan Lee yang berdiri di sebelahnya.
Langkah kaki kedua insan itu berjalan beriringan dengan tangan saling menggengam. Suasana di sekitar tempat mobilnya yang mogok terdapat danau dengan warna air jernih menenangkan. Siapapun yang lewat bisa sejenak melepaskan penat dari perjalanan panjang atau sekedar duduk sambil menikmati cemilan dan juga minuman ringan.
__ADS_1
Lima belas menit telah berlalu. Kini Lee membenarkan posisi kepala Yoshi yang bersandar di dada seraya mengamati wajah gadis itu lebih seksama, "Apa yang harus aku lakukan tentangmu? Yoshi Angela."