
Rasa lelah setelah melakukan perjalanan panjang, membuat Yoshi memilih bergegas membersihkan diri. Gadis itu merasa risih dengan bau asap jalanan sebab mobil yang ia pesan tiba-tiba mengalami mogok sehingga terpaksa menunggu di luar seraya menikmati es kelapa muda bercampur dengan potongan buah.
Sementara di bawah Arvind sedang melakukan panggilan telepon. Pria muda itu diam menyimak penjelasan para bodyguard yang menjaga Yoshi selama di LN. Ia tidak ingin ada kata kecolongan lagi. Apalagi mengingat adiknya saat ini sudah memiliki hak untuk memutuskan mau pergi kemana dengan siapa tanpa meminta persetujuan dari keluarga.
"Jika kalian menutupi sesuatu dariku, awas saja!" Ditutupnya panggilan secara sepihak, lalu beralih ke nomor lain yang memang harus tahu akan kepulangan sang adik tersayang. "Afternoon, Mom. Kalian lagi apa?"
"Ouh, okay. Ar cuma mau bilang kalau adek ada di Indonesia, jadi sebaiknya Mommy pulang ke rumah. Ya udah Ar tutup teleponnya." Arvind menghela napas kasar, lalu menyambar gelas yang masih menyisakan setengah jus jeruk miliknya.
Entah kenapa ia merasa tidak tenang setiap kali tahu jawaban sepele dari sang mama ketika tahu Yoshi kembali pulang. Terkadang heran, bukankah mereka itu satu keluarga? Lalu kenapa terbentang jarak yang membuat ikatan darah merenggang. Padahal sang adik sangat menghormati ibu mereka berdua.
"Tuan Muda, maaf ini ada paket untuk Anda." Seorang bodyguard dari luar datang menghampiri Arvind yang duduk seorang diri di kursi meja makan.
Pria dewasa setengah paruh baya membawa kotak kado berwarna merah yang tampak seperti apel ranum. Paket itu mengalihkan perhatian Arvind.Kotak kado yang sama seperti hadiah sebelum-sebelumnya. Siapa yang iseng memberikan hadiah selama beberapa bulan terakhir untuknya itu?
"Pak, langsung taruh di gudang saja! Aku tidak minat lihat isinya," ujar Arvind membuat si bodyguard menganggukkan kepala, lalu melenggangkan kaki ke arah lain. "Bi, untuk malam ini siapkan makan malam menu makanan favorit Nona Yoshi."
"Siap, Tuan Muda." jawab para pelayan yang masih berdiri berjejer menunggu majikannya selesai makan.
Setelah memberikan perintah. Arvind beranjak dari tempatnya. Pria muda itu bukan kembali ke kamar melainkan pergi menuju ruang kerja. Kedatangan sang adik harus diawasi, jadi sudah diputuskan akan bekerja dari rumah saja. Meski untuk itu harus seharian duduk berdiam diri di depan layar monitor.
Sementara di sisi lain, Ameera baru saja masuk ke dalam taxi yang sudah dipesankan. Tidak ada lambaian tangan yang mengantarkan kepergiannya tetapi jauh di lubuk hati wanita itu menyadari akan kesalahan pengkhianatan terhadap status yang kini menjadi kehidupan nyatanya. Hanya saja semua terjadi atas keinginan hati.
__ADS_1
"Nona tidak apa-apa?" Pak supir yang tidak sengaja melihat pelanggannya menangis dalam diam ikut merasa khawatir.
Perhatian tulus seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya. Sudah lama tidak ada yang memperhatikan ia sebagai manusia normal. "Gapapa kok, Pak. Cuma seneng aja bisa ketemu temen lama tadi."
"Owalah, alhamdulillah kalau gitu, Non. Kirain bapak, non ini lagi kecewa." timpal Pak Supir membuat Ameera menggelengkan kepala pelan seraya menghapus air mata penyesalan.
Apa yang sudah terjadi, ia tidak bisa mengubahnya. Akan tetapi janji yang baru saja diucapkan, bagaimana? Bibirnya benar-benar tidak mau diam hingga memberikan harapan yang pasti bisa menghancurkan hubungan ia dan Ryan. Lelah memikirkan semua masalah yang kini semakin bertambah.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa sinar mentari berganti bintang menghiasi sang lazuardi. Kerlap-kerlip yang tampak samar karena kalah dengan gemerlap lampu jalanan. Akan tetapi di tengah keramaian hanya ada kesunyian tanpa ada akhir.
"Ayo, masuk! Mau sampai kapan duduk di pinggir jalan?" tanya pria muda yang berdiri bersandar di depan mobilnya seraya menatap gadis remaja yang duduk berselonjor di pinggir trotoar.
"Yoshi! Jangan aneh-aneh kamu, ya. Kakak mana yang biarin adik sendiri masuk ke klub? Jangan ...,"
Penolakan yang dilakukan Arvind tak ditanggapi. Gadis itu justru menutup kedua telinga menggunakan tangan sambil berdendang tak karuan membuat kakaknya menghela napas panjang. Langkah kaki pria itu berjalan menghampiri Yoshi, kemudian melepaskan tangan kedua tangan sang adik hingga saling berhadapan.
"Dek, klub bukan tempat gadis baik. Kasih tau kakak alasanmu mau kesana untuk apa!" tegas Arvind tak ingin basa-basi atas permintaan Yoshi yang menurutnya tidak masuk akal.
Awal keluar mansion mengatakan ingin menikmati udara malam suasana kota Jakarta tapi begitu di luar tiba-tiba meminta diantarkan ke sebuah klub yang ternama bahkan menjadi klub langganan ia sendiri. Jika mengatakan alasan yang jelas masih bisa dipertimbangkan tetapi adiknya justru meminta diturunkan ke jalan semakin menambah geram hati.
Diam membisu menjadi andalan Yoshi. Melihat keras kepala yang sudah mulai mengakar, Arvind tanpa permisi menggendong tubuh gadis itu tanpa peduli tangan yang meronta memukul dada. Suara penolakan di abaikan hingga ia berhasil memaksa masuk adiknya masuk ke dalam mobil. Tak lupa menutup pintu yang sengaja ditahan dari luar.
__ADS_1
Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya sesaat, ia mengambil si benda pipih dari dalam saku. Lalu menerima panggilan yang ternyata dari mamanya sendiri. "Halo, Mom."
Entah apa jawaban dari seberang tapi suara deru mesin mobil menyita perhatiannya. Pria muda itu tersentak mengingat kunci mobil masih ada di dalam yang bersambut turunnya jendela kaca serta lambaian tangan sang adik yang sudah duduk siap menginjakkan gas. Tatapan mata saling terpaut berharap mau mengurungkan niat.
"Papay, Ka Arvind." pamit Yoshi lalu menginjak gas hingga mobil melaju meninggalkan kakaknya yang mengumpat di jalanan.
Dari arah kaca spion terlihat jelas Arvind kelimpungan akibat ulahnya tapi semua itu salah kakaknya sendiri. Coba kalau langsung nurut anterin ke klub, sudah pasti tidak ada drama penolakan, apalagi pelarian. Hanya saja ia baru belajar menyetir sehingga tidak menambah kecepatan karena sadar bisa mengakibatkan kecelakaan jalanan.
Maafin aku, Ka. Disini yang bisa bertindak bukan cuma Ka Ryan. Sampai kapan keluarga kita di atur papa? Pria yang tidak peduli dengan putrinya sendiri. Andai kakak tahu, jika kekacauan keluarga kita hanya satu orang yang bertanggung jawab dan itu papa kita berdua.~ucap hati Yoshi meratapi kemalangan hidup keluarganya.
Sebagai seorang putri tunggal dari tiga bersaudara. Ia merasa sangat bahagia, dulu tidak ada yang terpisah sampai Papa dan Bunda pertama mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua dari cucu tertua keluarga Mahendra. Saat itu, ia masih terlalu dini untuk melakukan sesuatu tapi sekarang setidaknya sudah lebih dewasa.
Sebagai seorang anak yang diberkati kemampuan mengingat lebih baik dari manusia normal. Gadis itu telah menyimpan kenangan lama yang merupakan sebuah rahasia kelam dari sang papa tercinta. Tuan Clark Mahmood, suami dari nyonya Clarissa Mahendra. Semua bermula pada saat bermain petak umpet bersama kedua kakaknya.
Ia yang bersembunyi di dalam lemari kamar mandi di kamar kedua orang tuanya secara tidak sengaja mendengar obrolan serius sang papa. Pria yang tidak menyadari keberadaannya di dalam ruangan sama. Pendengaran tajam membuat setiap kata yang keluar dari bibir papanya terdengar begitu jelas.
"Good job karena kalian sudah sabotase rem mobil adik iparku. Sekarang lakukan pekerjaan terakhir, buat kecelakaan itu semakin tragis dengan jatuh ke dalam jurang. Bila perlu ke laut pun dipersilahkan tapi ingat ya, pastikan terlihat seperti kecelakaan murni. Santai saja bayaran kalian double jika jasad kedua orang bodoh itu sampai masuk ke liang kubur." Tuan Clark menjelaskan detail rencana pembunuhannya melalui tangan orang lain.
"Okey, sampai jumpa di klub Metrolite." sambung pria itu menyudahi panggilan, lalu pergi berlalu meninggalkan kamar mandi membuat Yoshi yang membekap mulutnya sendiri menangis dalam diam.
Rasa sakit menyayat emosi yang membuat gadis itu selalu menganggap dirinya sebagai putri seorang pembunuh bukan pebisnis. Sudah beberapa tahun berlalu tapi nyatanya air mata tetap jatuh membasahi kedua pipinya. "Maafin, papaku ya, Ka Ryan. Aku janji akan memberikan keadilan untuk kematian papa dan bunda dengan caraku sendiri."
__ADS_1