Befawa, Incorrect Marriage

Befawa, Incorrect Marriage
Part 37#Rumah Sakit


__ADS_3

Kegelisahan di wajah Ameera tampak begitu jelas. Apalagi selama termenung selama hampir sepuluh menit sampai tidak mendengarkan jawaban dari Dokter Sashi yang menjelaskan tentang program kehamilan dari proses inseminasi buatan. Pikiran sang istri tengah jalan-jalan entah sampai dimana.


"Kita pasti pulang, Istriku, hanya saja, aku mau memastikan beberapa hal seputar kehamilan mu yang bisa dikatakan baru awal bulan. Aku akan berbicara dengan Dokter Sashi sebentar lagi, apa kamu mau tetap disini atau menunggu di luar? Zoya pasti menemanimu." Ryan berusaha membujuk istrinya agar sedikit lebih bersabar.


Dua pilihan dari Ryan, membuat Ameera berpamitan meninggalkan ruangan. Saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk mendengarkan penjelasan apapun. Sehingga akan lebih baik melangkah mundur, ia juga tidak mau sang suami semakin curiga karena sikapnya yang tidak seperti biasa.


Tanpa Ameera sadari, kepergiannya menarik senyum simpul dari bibir pria yang kini menatap serius ke arah dokter Sashi. Keduanya tampak santai melepaskan tegangan setelah melakukan sedikit sandiwara dalam tahap perencanaan fase kedua. Memang benar hasil laporan menyatakan keadaan pasien normal.


Namun hasil dari laporan yang sebenarnya, bukanlah hamil karena inseminasi buatan. Melainkan program bayi tabung yang sudah melewati tahap observasi dan pembuahan. Semua seperti yang diharapkan oleh Ryan dan Laura. Akan tetapi untuk perawatan selama kehamilan, maka pasutri itu harus terbang ke negara lain.


"Apakah Tuan siap untuk melanjutkannya di rumah sakit yang sudah ditentukan?" Dokter Sashi mengambil surat perjanjian dari laci atas, lalu diletakkan ke atas meja. "Formulir yang Anda perlukan, Tuan muda."


Sejenak dibiarkannya Ryan memeriksa surat perjanjian tanpa harus menjelaskan. Sudah tentu pria itu memahami setiap pasal yang tertera tanpa tirai penghalang. Obrolan yang masih berlangsung hanya mereka berdua dan Allah yang tahu. Sementara di luar, Ameera duduk menunggu kembali termenung memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Di tengah lamunan tiba-tiba ada tangan yang meletakkan sebuah boneka di panda di pangkuannya. Boneka mata besar yang imut dan menggemaskan berbulu lembut nan terasa ketika bersentuhan dengan tangan. Bingung siapa yang memberi boneka, lalu ia mendongak menoleh kesana kemari.


Kebingungan yang melanda terbungkam ketika tatapan mata terpatri pada seorang pria yang duduk di bangku lain dengan kepala tertutup topi, serta memakai kacamata hitam. Ia sadar, pria itu adalah orang yang kini mengusik bahkan memenuhi pikirannya.


Jujur saja, dirinya tidak menyangka bahwa pria itu akan datang menemuinya di rumah sakit. Padahal setelah hari itu, mereka tak sekalipun ada komunikasi. Lalu apa alasan yang membawa langkah sang pengusik pikiran menampakkan diri di hadapannya?

__ADS_1



Apakah ada hal penting yang ingin dibicarakan atau hanya sekedar menyapa? Kebingungan hati bersambut isyarat tangan yang membuatnya paham. Kemudian memeriksa boneka panda yang ia pangku. Ternyata ada secarik kertas yang terselip di genggaman tangan si panda.



Melihat itu, Ameera segera mengambil, lalu membacanya hingga tau maksud kedatangan dari Yoseph yang ingin bertemu dengannya secara khusus. Tempat dan waktu sudah ditetapkan hanya saja ia tidak bisa pergi mengingat pengawasan para bodyguard milik suaminya.



Selain itu, ia tak ingin lagi melakukan kesalahan yang lebih dari sebelumnya. Langkah kaki pria itu pergi beranjak dari sekitarnya menghantarkan kegelisahan antara menyetujui atau menolak tanpa berpikir ulang. Dilema hingga ia ingat akan kehamilannya yang pertama.


Maaf, Ka, tapi aku ingin fokus dengan keluargaku bukan dengan masa lalu di antara kita.~batin Ameera yang berdiri meletakkan boneka panda ke sisi lain bangku, lalu ia berjalan kembali mendekati ruangan Dokter Sashi.


Tindakan wanita itu tak luput dari pandangan Yoseph yang memang masih mengawasi gadisnya dari jarak jauh. Tangannya menggenggam erat mencoba melepaskan emosi yang sulit ia redam. Ameera tidak tahu, jika selama beberapa malam ia terus kepikiran keadaan gadis impiannya.


Namun ia juga sadar, jika ada pertemuan, maka kemungkinan kesalahan kedua bisa terulang. Sudah pasti Ameera tidak ingin mengulangi apapun yang terjadi di antara mereka. Akan tetapi pertemuan yang ia inginkan bukan untuk dirinya saja karena ia ingin membuat wanita itu sadar akan sesuatu yang baru saja ia ketahui.


__ADS_1


Sayangnya mungkin cara yang ia ambil tidaklah tepat dengan keadaan yang semakin rumit. Sehingga niat hati hanya tinggal kenangan. Langkah kaki bersiap ingin meninggalkan tempatnya berdiri tapi tiba-tiba ada yang menusuk lehernya dari arah belakang, lalu penutup kepala membutakan pandangan. Sayup-sayup suara seketika menghilang tanpa jejak kepemilikan.


Apa yang terjadi? Ia tak bisa mengingat lagi, selain kehampaan yang menyapa tetapi di balik pilar seorang gadis melihat semua itu meski hanya diam dengan tangan sibuk menahan ponsel yang masih merekam.


"Aku tidak tahu, kamu itu siapa, tapi sepertinya salah mengganggu orang sampai-sampai ada yang berniat menculikmu. Semoga saja kamu selamat." ucapnya mendoakan Yoseph yang memang dibawa pergi oleh beberapa orang dengan pakaian preman.


Kekacauan di dunia ini selalu saling berkaitan antara satu orang ke orang lain atau dari satu kelompok ke kelompok lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Tidak ada yang hidup bersinggungan tetapi tak semua saling berkaitan karena memang manusia itu selalu unik dengan segala pemikiran dan juga perasaan.


"Akhirnya, aku pulang!" Seruan semangat seraya merentangkan kedua tangan yang keluar dari jendela mobil menikmati semilir angin yang berembus menerpa wajah serta meriapkan helaian rambut panjangnya.


Namun tiba-tiba ada tangan yang menariknya hingga kembali masuk ke dalam mobil. Gerakan cepat itu membuat kepalanya terantuk mencium dada kekar yang terasa cukup sakit meski tak seberapa. Heran saja karena tidak ada kata permisi yang membuat ia bersiap.


"Ish, Kakak ini, sakit tau." Keluhnya mengusap kening seraya memajukan bibir hingga lima senti.


Diusapnya wajah yang kini merajok dengan menatap manik mata yang selalu berbinar ceria, "Kamu tahu berbahaya melakukan hal tadi! Bukan begitu caramu untuk menyenangkan diri. Bagaimana jika ada mobil yang lewat atau kendaraan lain, siapa yang akan bertanggung jawab?" Tentu ia khawatir akan tindakan gadis itu yang masih saja sembarangan.


"Ada kakak ini, lagian bukan main tarik gitu juga caranya mengingatkan. Kakak bisa pakai kode gitu, masa dikira aku ini nggak bisa buat jaga diri, sih." timpalnya dengan nada lebih manja, membuat sang pria hanya bisa menggelengkan kepala pasrah tak ingin meneruskan perdebatan.


Namun perlakuan manis si pria menambah bunga-bunga di hati gadisnya yang kian mencapai puncak kebahagiaan dalam rasa di setiap ujung kerinduan. Tatapan mata saling terpatri dengan hujan kasih sayang yang membuat siapapun enggan memisahkan diri dari pelukan sang kekasih hati.

__ADS_1


Akan tetapi ia tak menyadari dunia sangatlah kejam hingga tak peduli akan rasa yang terpendam dalam diam. Keheningan di antara keduanya mendadak buyar ketika satu pertanyaan mengalihkan perhatian. Sadar akan kata yang menerobos masuk ke gendang telinganya.


"Kemana kita akan pulang?" Si pria bertanya dengan suara pelan tetapi masih terdengar jelas yang membuat gadisnya mengernyit menaikkan alis karena pertanyaan itu terdengar berselimut keraguan.


__ADS_2