
Setelah berpamitan, Lee dan Zoya masuk ke dalam mobil bersama-sama. Keduanya terlihat sama-sama diam tak ingin saling melemparkan pertanyaan. Hubungan yang dijalani kedua insan itu seperti rantai dengan gembok besar tapi kuncinya dibuang ke dalam lautan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang agar bisa fokus karena semalam pria itu kurang tidur. "Zoy, mau makan dulu atau langsung ke rumah sakit?" tanyanya santai mencoba merebut perhatian si gadis remaja.
"Terserah, kemanapun kau pergi. Apa bedanya bagiku?" ucap ketus Zoya dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
Sejauh apa ia berusaha baik-baik saja, nyatanya itu tidak mungkin. Apalagi di hadapan Lee, pria yang telah menodainya tanpa hati. Jeritan nikmat yang bergema trus terngiang di dalam kepala. Rasa sakit nyeri di bawah sana bahkan masih terasa tapi kini harus menerima tanpa keluhan.
Jawaban ketus Zoya, membuat Lee menghela napas kasar. "Ok, kemanapun tidak masalah kan? Kita kembali ke hotel saja."
Hotel? Lee hanya mengancam Zoya agar mau mengungkapkan keinginan hati tanpa harus berdebat tentang pertanyaan sederhana. Ia hanya mau hubungan di mulai dari awal tapi balasan yang didapat justru penolakan. Kesal, geram dan tidak bisa sabar lagi.
Zoya mendengar jelas ajakan Lee bahkan tidak memiliki rasa apapun. Tak ingin ambil pusing, gadis itu menyandarkan tubuh ke belakang. Lalu memejamkan mata, "Kemana tidak? Pesan saja sekalian wine atau sampanye. Bisa juga obat penguat kalau dibutuhkan."
Glek. Apa gadis itu kehilangan akal? Bagaimana bisa justru memberikan saran yang pasti membuatnya tidak akan melepaskan kesempatan sedikitpun. Apa Zoya berpikir, dirinya pria yang menarik ucapan. Entahlah tetapi pernyataan saran itu menjadi keputusan final.
__ADS_1
Perjalanan selama satu jam lebih berakhir begitu mobil memasuki pagar yang terbuka secara otomatis. Bangunan rumah tingkat tiga dengan nuansa cerah seperti langit lazuardi. Tampak satpam membungkuk menyambut kedatangan pemilik rumah tersebut. Tak berlama-lama, Lee meminta Zoya turun.
Langkah kaki keduanya berjalan menyusuri halaman setapak, lalu masuk ke dalam melewati pintu utama. Suara derit pintu yang tertutup bersambut tubuh melayang ke udara yang mengagetkan Zoya. Tatapan mata tak kuasa menahan diri menyelimuti netra pria yang kini menggendongnya.
Lee membawa Zoya ke dalam kamar yang memiliki aroma maskulin. Dimana ruangan luas dengan fasilitas lengkap itu sangat jarang di tempati. Ia tak lupa mengunci pintu agar tak seorangpun bisa mengusik kesenangannya. Tubuh ringan si gadis didudukkan ke tepi ranjang tanpa melepaskan tatapan matanya dari bibir ranum yang menggoda.
Tangan terangkat memegang dagu Zoya, perlahan-lahan mendekati wajah cantik yang kini membalas tatapan matanya. "Setiap ucapanmu bisa menjadi keputusan final. Jangan salahkan aku memberikan keinginan di tambah bonusnya."
Bibir yang menyatu dibiarkan Zoya. Setiap ses4p4n yang Lee lakukan hanya dilakukan dari satu arah tetapi ketika ia mengingat apa yang terjadi semalam. Perlahan mengikuti alur permainan yang justru membuat Lee berhenti menikmati sentuhannya.
Pagutan lembut terasa begitu pelan tetapi justru membekas di hati. Permainan yang baru dimulai semakin seimbang hingga pagutan berakhir saling berebut oksigen dengan deru napas tak karuan. Tangan Lee mengusap bibir basah Zoya yang di sudut bawah terlihat jelas bukti kepemilikannya.
Pria itu benar-benar kehilangan akal dengan membimbing Zoya untuk mengikuti alur permainan ranjang orang dewasa. Zoya sendiri menerima setiap sentuhan Lee dengan maksud dan tujuan lain. Dibiarkannya kedua bukit kemb4rnya dikuasai si iblis hingga suara lenguhan manja yang sengaja dibuat menambah ritme r3m4s4n.
"Ouuh, pleasee, aku gak tahaan ...,"
__ADS_1
Lee melepaskan permainannya sesaat, lalu kembali merengkuh bibir Zoya. Pagutan entah yang keberapa membuat gadis itu semakin belajar cara menyenangkan pria di atas ranjang. Perjalanan cinta baru dimulai, bahkan pria itu tak sadar tengah dimanfaatkan olehnya.
Permainan semakin meningkat hingga Lee berhasil membuat Zoya melepaskan cairan pertama yang memberinya kesempatan untuk menatap rumah si otong tanpa rasa takut. Terlihat sempit tetapi begitu menyatu nanti hanya akan memberikan kenikmatan. Tak ingin berlama-lama, ia mempertemukan dua muara tuk saling bertemu.
Mengingat bagaimana brutalnya semalam, kali ini Lee memakai perasaan bahkan mencoba membuat Zoya relax menikmati pagutan. Di tengah permainan lid4h, sekali hentak menenggelamkan otongnya ke dalam rumah singgah. Rasa perih di punggung dibiarkan tanpa ingin mengeluh.
"Apa sakit?" Lee menatap manik mata Zoya yang meredup, "Bisa aku mulai atau biarkan saja seperti ini?" tanyanya lirih yang menyambar sisa kewarasan si gadis remaja.
Entah keberanian dari mana hingga gadis itu meraup bibir Lee tanpa permisi. Satu gerakan yang membuat kesepakatan tanpa pernyataan. Pergulatan nikmat berbagi peluh membawa keduanya tenggelam dalam kehangatan. Permainan yang memakan waktu tak sedikit hingga suara puas terdengar bergema ke seluruh kamar dengan pelepasan kenangan yang memenuhi rahim si gadis remaja.
"Canduku," Lee mengecup kening Zoya begitu lama tanpa mengubah posisi mereka berdua yang masih tanpa jarak. "Tidurlah! Kita lakukan lagi nanti, jika kamu ingin belajar. Seharusnya bilang saja karena aku dengan senang hati akan memberi pelajaran yang tidak bisa kamu lupakan."
Ia pria dewasa yang tau perbedaan ketika seorang wanita benar-benar menikmati permaian ranjang dan mana yang hanya ingin memancing seberapa hebat pergulatan yang akan dilakukan. Zoya jelas tidak menikmati, apalagi menganggap ia sebagai pasangan yang bisa memberi kenyamanan. Gadis itu hanya berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
Jika tidak karena hal itu, mana mungkin Zoya membiarkannya menyentuh raga meski seujung kuku. Perbedaan yang terlalu kontrak dan gadis itu bukan tipe gadis berkepribadian ganda. Zoya benar-benar mirip Ameera dengan wajah cantik tetapi tatapan mata polos. Kenapa begitu? Ya karena lebih mudah mengikat hubungan meski dengan cara pemaksaan atau penerimaan.
__ADS_1
Seperti Tuan Muda yang mengikat Ameera dengan janji suci, sedangkan ia memilih menggunakan surat perjanjian agar Zoya tidak bisa melarikan diri darinya. Bukan licik tetapi cerdik. Jadi saat ini, ia tahu bahwa si gadis remaja hanya bersikap sebagai boneka.
"Apa maksudmu?" tanya Zoya berpura-pura polos dengan tatapan mata mengerjap tak mengerti.