
Cantik, muda, penuh energi, itulah Zoya tapi Lee juga masih muda, tampan, imut, polos wajahnya. Tatapan mata tak ingin meninggalkan satu sama lain. Kepolosan yang Zoya tunjukkan membuat Lee tersenyum simpul. Percuma juga mempertanyakan ketika jawabannya saja sudah jelas.
Biarlah gadis kecilnya itu melakukan permainan yang sudah menjadi bagian kehidupannya. Jika bukan sekarang belajar dunia lain dari pekerjaannya, maka tidak ada waktu lain lagi. Bagaimanapun keadaan tak selalu berpihak pada harapan dan tujuan yang menjadi tujuan.
Kenyataan yang tidak bisa diubah. Sejak awal menandatangani kesepakatan, ia tahu Zoya hanya ingin memanfaatkan dirinya agar bisa melindungi Ameera. Hanya saja, gadis itu terjebak dalam permainan orang-orang besar. Jika yang masuk hanya satu gadis, kemungkinan akan lebih mudah di atasi tapi jika dua.
Ia rasa menjadi bumerang secara bersamaan, sehingga sisa waktu harus digunakan sebaik mungkin agar Zoya mau memahami dunia yang kini menjadi kehidupannya adalah neraka berbalut kebahagiaan. Disisi lain, ia juga tidak bisa melindungi tanpa ikatan jelas. Maka sebagai ganti menerima kesepakatan yang ditawarkan.
"Sudahlah, kita istirahat saja. Seminggu kedepan, kamu akan tinggal di rumahku dan biarkan jejak milikku hilang dari tubuhmu. Setelah itu, bersiaplah bertemu si biang onar." Lee berniat bangun melepaskan diri tetapi tangan gadis itu masih menahan punggungnya.
Zoya menatap bibir Lee, lalu beralih merangkul leher pria itu. "Bukan seminggu tapi dua minggu, sebagai gantinya. Silahkan ulangi lagi karena setelah hari ini, aku tak ingin di sentuh."
"Seperti keinginanmu, Zoy." jawab Lee lalu merengkuh tubuh gadisnya ke dalam dekapan manja.
__ADS_1
Tekad Zoya sudah bulat, sedangkan Lee yang merasa masih sanggup meladeni kegilaan si gadis remaja dengan senang hati mempersembahkan treatment dewasa. Kali ini, sentuhannya semakin menyiksa Zoya. Tak ada tempat untuk pura-pura menikmati.
Lenguhan manja terus menerus bergema mengetuk gendang telinga tetapi tangan dan bibir enggan melepaskan mainan barunya. Tubuh sang gadis menggeliat tak kuasa menahan permainannya. Tanpa sadar gadis itu larut menikmati hasil dari hukuman yang sebenarnya.
"Ouuuh, stoop ... Jangan lagi ...," racau Zoya dengan tangan mencari pegangan.
Lee tak peduli bahkan terus memporak-porandakan gua yang kini sudah menjadi miliknya. Pria itu hanya ingin memberi sentuhan yang tidak bisa dilupakan bahkan jika suatu hari Zoya berniat bermalam dengan pria lain, maka yang diingat hanya dirinya.
Si benda pipih yang di mode silent. Ketenangan hatinya mendadak hilang begitu mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Laura. Sebenarnya ada apa? Buru-buru ia medial nomor yang bertuliskan Ratu hatiku tetapi hanya terdengar suara dering tanpa jawaban. Kemana istri pertamanya pergi?
Di saat bersamaan tiba-tiba seseorang masuk tanpa permisi, bahkan mengunci pintu kamar ruangan Ameera. Langkah kaki berjalan begitu anggun, semerbak aroma sandalwood menguar menyebar mengusik indra penciuman Ryan. Pria yang duduk di tepi brankar itu berbalik menatap ke arah sumber aroma wangi yang begitu familiar.
"Ratuku, kamu disini?" Ryan berjalan cepat menghampiri Laura yang berpenampilan serba tertutup tapi sebagai suami, tentu ia mengenal istrinya dengan baik.
__ADS_1
Laura melepaskan kacamata menampilkan mata biru nan jernihnya. "Apa aku tidak boleh disini? Aku juga mau jenguk maduku. Bagaimana keadaannya?"
Ryan yang terdiam membuat Laura menyingkirkan tubuh yang menghalangi pandangannya. Di depan sana Ameera terbaring dengan mata terpejam. Wajah yang kini menjadi duri di dalam kehidupannya. Ketika melihat wajah itu, ia merasa menjadi wanita tak sempurna. Kenapa hanya karena satu alasan, rumah tangga dipertaruhkan?
"Bagaimana jika aku yang jadi dia. Apa yang akan kulakukan jika tau hanya menjadi istri pengganti sementara yang hanya dimanfaatkan untuk melahirkan seorang pewaris." Laura terus menatap Ameera bahkan tak berkedip. "Hubby, apa kamu berencana menjadikan dia sebagai madu untuk selamanya?"
"Laura!" tegas Ryan mengingatkan hal yang paling dia benci dalam sebuah hubungan.
Mencintai tanpa syarat adalah rasa tanpa batas. Akan tetapi satu keraguan meski hanya setitik lubang, maka ia tak mengharapkan dapat dipercaya. Namun situasi dan ikatan tentu saja membedakan keputusannya. Sejak kembali bersama Ameera, justru Laura merasa tak aman. Ia tahu itu, tetapi tak akan mengubah cinta dalam waktu singkat.
"Santai saja, aku akan pergi sekarang. Selamat siang, Hubby." pamit Laura dengan suaranya yang lesu, lalu memakai kacamatanya lagi. "Jangan lupa makan, aku permisi."
Kesedihan sang istri tidak bisa dibiarkan, tak bisa pula untuk memberikan luka yang lebih dalam lagi. Tubuh yang berbalik ia rengkuh, "Stay here, Ratuku."
__ADS_1