
Hari itu, Axel masuk ke kampus setelah beberapa hari bolos. Dia langsung menghampiri Davin dan Varo dua sahabatnya yang sedang asik mengobrol di bangku taman.
Axel menyapa temanya dengan salam tinju yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda. Ada yang aneh dari tatapan dua pria itu, seolah sedang meledek Axel tanpa perlu berbicara.
"Kemana saja kamu? Lama tidak masuk kampus," tanya Davin.
"Biasa lah, malas," sahut Axel santai.
"Malas atau berduka?" Ledek Varo.
"Maksud kamu apa?" Axel sedikit tersinggung. Terlebih dua pria itu saling menyenggol kan bahu. Jelas sekali kalau keduanya sedang meledeknya secara tidak langsung.
"Alah, semua teman disini sudah tau kok kalo mantan kekasihmu dinikahi oleh Ayahmu," celetuk Davin.
Pria berambut cepak itu sama sekali tidak memiliki rasa sungkan pada temannya, seolah dia tidak takut kalau Axel akan tersinggung dengan ocehannya. Padahal, dia tau bagaimana Axel. Mereka sudah berteman lebih dari tiga tahun.
"Tau dari mana kalian gosip seperti itu?" Axel terkaget kaget. Semua karena dia sangat menyimpan rapat berita itu agar tidak keluar dari lingkungan rumahnya. Tapi apa yang terjadi? Gosip buruk memang mudah menyebar.
"Ada deh," Davin dan Varo saling mengedipkan mata.
Axel merasa kesal karena menjadi bahan ledekan teman temannya. Sekalipun apa yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran. Semua karena Ayahnya yang tidak tau diri, nama baik Axel di kampus jadi tercemar.
Kenapa dia tidak menikah dengan janda yang seumuran saja, atau menikah dengan perawan tua. Kalaupun mau menikahi gadis muda, kenapa harus dengan mantannya? Rasa benci di hati Axel untuk Ayahnya sudah sampai ke ubun-ubun, andai saja dia sudah bisa mencari uang sendiri, pasti dia akan pergi dari rumah.
Tapi jodoh manusia tidak ada yang tau, jika Tuhan sudah menghendaki tidak akan ada yang bisa menolak atau menghalangi jalannya jodoh seseorang.
"Sudahlah Axel, jangan murung seperti itu. Wanita di dunia banyak, apa lagi wajahmu sangat tampan. Ada banyak wanita yang mengantri ingin mendapatkan cintamu, Jesika misalnya," tutur Varo panjang lebar.
Bukannya menghibur, ucapan Varo malah membuat Axel jadi semakin tersinggung.
"Dua pria itu mana tau soal patah hati, tidak bisa move on dan sebagainya. Tertarik pada lawan jenis saja tidak!" Maki Axel dalam hati.
__ADS_1
Tak mau terpancing emosi, Axel beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Davin dan Varo tanpa sepatah kata pun. Sementara dua pria itu hanya saling menatap dan menggelengkan kepala saja.
Axel memang mudah tersinggung, pikirannya selalu saja buruk pada orang lain. Mungkin karena itu dia tidak memiliki banyak teman, hanya beberapa orang saja yang mau berteman dengannya.
"Tak disangka ya, pesona Axel kalah oleh Ayahnya sendiri," ucap Varo.
"Tentu saja kalah, Pak Agus banyak uangnya, sementara Axel masih menyusu pada Pak Agus. Nenek nenek juga pasti akan lebih memilih Pak Agus dari pada Axel, apa lagi gadis muda," sambung Davin.
***
Axel melangkah menyusuri sebuah lorong kampus yang sempit, pikirannya seperti sedang dipanggang oleh kobaran api. Tidak ada kesempatan untuk berpikir dengan jernih di sana, hanya bisa mengikuti ego saja.
Saat sedang asik dengan kemelut yang yang melingkupi jiwa raganya, tiba tiba Axel menabrak seseorang.
Brugh....
Bunyi tabrakan itu begitu keras, membuat beberapa buku yang tengah di tenteng oleh si wanita jatuh berhamburan ke lantai.
"Tidak apa apa, lain kali hati hati ya!" Jesika mengangkat wajahnya dan menyunggingkan senyum manis.
Jesika adalah wanita yang cukup populer di kampus. Dia cantik, pintar dan seksi. Sudah menjadi rahasia umum kalau gadis itu menyukai Axel, karena dia selalu menolak pernyataan cinta dari teman kampusnya yang lain hanya untuk Axel.
Satu satunya alasan yang membuat Axel mengabaikan Jesika adalah Dinda. Kini, Dinda sudah menjadi milik orang lain. Tidak ada alasan lagi bagi Axel untuk mengabaikan barang bagus seperti wanita itu.
Jesika sangat enak diajak mengobrol, lumayan dijadikan teman untuk menghabiskan waktu luang. Axel berniat mendekati Jesika balik, dia membutuhkan pelarian cinta untuk mengobati hatinya yang terluka walaupun hanya sedikit.
"Kebetulan sekali kita bertemu, aku sedang mencari mu," celetuk Axel.
"Benarkah?" Jesika tersenyum malu.
"Aku ingin meminta nomor ponselmu,"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memberikannya untukmu,"
Jesika mengambil pulpen di dalam tasnya, dia menulis beberapa angka pada selembar kertas dan memberikannya pada Axel. Axel menerima kertas itu, menatapnya beberapa saat lalu memasukannya ke dalam saku kemejanya.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Jesika saat ini, dia merasa sangat senang dan berbunga bunga. Pria yang dia cintai akhirnya mau memulai komunikasi dengannya. Padahal, selama ini Axel selalu mengabaikannya, seolah olah dia tidak pernah ada di muka bumi ini.
Mungkinkah, Dewi Fortuna sedang berpihak pada Jesika? Andai saja wanita itu tau niat buruk seorang Axel padanya, dia pasti tidak akan pernah mau untuk di dekati.
"Terimakasih, aku akan menghubungi kamu nanti," Axel mengedipkan matanya sebelah.
"Sama sama, aku akan selalu menunggu telfon darimu," Jesika mengayunkan kakinya seperti seperti seorang penari yang mau memulai gerakannya.
"Apa kamu ada waktu luang besok?" Tanya Axel.
"Ada, memangnya kenapa?" Jesika penasaran.
"Aku ingin mengajakmu jalan ke luar," sahut Axel.
"Aku mau diajak jalan olehmu, kapanpun dan kemanapun," Jesika terlihat begitu sangat bersemangat.
"Benarkah? Kalau begitu, tunggu kabar dariku ya!" Axel mengukir senyum.
"Oke."
Axel melangkah pergi, Jesika terus memandangi pria itu hingga bayangannya tidak bisa dijangkau kedua matanya lagi.
***
Jesika pergi ke perpustakaan, dia menemui seorang temannya disana. Namanya Rachel, dia saudara perempuan itu
Bersambung...
__ADS_1